
Happy Reading.
Ciara menatap dompet hitam yang terasa asing, mata wanita itu menyipit, mengambil dompet pria yang berada di dalam tasnya itu.
"Ah, ini milik Arkan," gumam wanita itu.
Ciara ingat tadi pagi saat Arkan menjemputnya di rumah sakit, dan dia akan membayar uang parkir, Arkan meminta Ciara mengambilkan uang sepuluh ribu di dalam dompetnya dan meminta untuk menyimpan dompet itu.
Ciara akan mengembalikan dompet itu pada Arka, sepertinya dia akan menghubungi pria itu dulu, menanyakan apakah Arkan ada di apartemen.
Ciara mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Arkan. Namun sampai dering ke-tiga Arkan tidak mengangkatnya.
"Apa aku langsung ke apartemen nya saja ya?" Ciara tidak suka membawa barang yang bukan miliknya, apalagi itu dompet.
Bisa saja nanti Arkan kelabakan mencarinya, bukan?
Ciara memutuskan untuk langsung ke apartemen sebelahnya dan mengetuk pintunya.
Ceklek!
"Siapa?"
"Ar-kan!"
Ciara terkejut menatap orang yang berada di depannya saat ini, seorang wanita yang dulu pernah menjadi sahabatnya. Wanita yang dulu juga pernah sangat menyakitinya, bahkan wanita itu yang telah membuatnya berpisah dari Arkan dan lihatlah sekarang, apa yang dilakukan wanita ini di apartemen Arkan.
"Oh, rupanya kamu Ciara, apa kabar? Sepertinya kamu baik-baik saja ya?" ucap Jihan menatap Ciara dari ujung kaki ke ujung kepala.
Seakan meneliti penampilan Ciara yang saat memakai piyama berbahan kaos itu.
__ADS_1
Sepertinya apa yang dikatakan Doni benar, jika Apartemen Ciara berada di samping apartemen Arkan. Benar-benar wanita tidak tahu malu.
Sedangkan Ciara merasa hatinya di remat sampai hancur, sungguh tidak pernah dia sangka jika wanita yang ada di hadapannya saat ini adalah Jihan.
"Cia, apakah kamu mencari tunanganku? tapi sepertinya Arkan belum pulang atau kamu mau menitipkan pesan padaku, nanti akan aku sampaikan pada Arkan!" Ucap Jihan.
Ciara diam mengamati, dia benar-benar syok saat ini, dia harus bisa menguasai dirinya sendiri ketika mendengar Jihan menyebut bahwa Arkan adalah tunangannya. Sungguh sebenarnya apa yang telah terjadi? jika memang Arkan dan Jihan sudah bertunangan lalu kenapa pria itu memintanya untuk kembali.
Ingin rasanya Ciara tidak percaya, tetapi melihat kenyataan Jihan sedang berada di apartemen Arkan itu sudah membuktikan segalanya. Hancur sudah, rasanya baru semalam dia merasa senang, tapi kenapa sekarang dia dihempaskan begitu saja perasaannya.
Tetapi saat ini Ciara tidak akan menunjukkan bahwa dirinya lemah, jika dulu dia lari dari dua orang itu, sekarang Ciara akan menghadapinya.
"Aku hanya ingin mengembalikan dompet Arkan, tolong berikan pada Arkan," Ciara memberikan dompet berwarna hitam itu dan langsung diambil oleh Jihan.
Ciara pergi begitu saja tanpa berpamitan, dia sudi untuk menatap wajah Jihan lagi. Sungguh saat ini dia tidak akan pernah percaya dengan siapapun.
Lihatlah, Arkan saja bisa menyakitinya lagi dan lagi. Melihat Jihan bisa ada di apartemen Arkan, bukankah hubungan mereka memang sudah sangat jauh.
Sakit sekali, kenapa seperti ini, apakah dia terlalu gampangan hingga dia luluh begitu saja oleh pesona Arkan.
"Aaarrkk! Arkan, kamu jahat!"
Ciara memukul dadanya yang terasa sesak, dia meraung menangisi keadaannya yang begitu menyedihkan. Sungguh Ciara tidak bisa jika harus sakit lagi untuk yang kesekian kalinya.
Bug, bug!
Ciara masih memukul dadanya, dia sampai susah bernafas akibat menangis tersedu-sedu. Kenapa hal seperti ini terjadi lagi. Kenapa?
****
__ADS_1
Arkan berjalan cepat menuju apartemen Ciara, dia masih berusaha menghubungi mantan istrinya itu, namun sampai berulang kali Ciara tidak mengangkat panggilannya.
Arkan tidak tahu apa yang terjadi, tetapi tadi Ciara meneleponnya sampai tiga kali dan dia tidak mengangkat karena ponselnya tertinggal di dalam mobil. Tadi Arkan bary bertemu dengan salah satu kolega yang akan menawarinya ide bisnis.
Namun, sepertinya Arkan akan mengambil sesuatu yang sudah dipersiapkan sejak kemarin di dalam kamarnya dulu.
Ceklek.
Arkan merasa ada yang aneh saat masuk ke dalam apartemen, dia mencium aroma masakan dari dapurnya.
Siapa yang masak di dapurnya? bahkan dia tidak memiliki asisten rumah tangga, kenapa ada yang menggunakan dapurnya untuk memasak.
Lagian siapa yang bisa masuk ke dalam apartemennya?
Arkan langsung menuju dapur di mana terdengar suara bunyi orang memasak disana.
Arkan membelalakkan matanya ketika melihat siapa yang tengah menguasai dapurnya itu.
"Jihan!!"
"Hai, Arkan! kamu sudah pulang?"
"Siapa yang mengizinkan mu masuk ke dalam sini?" tanya Arkan dengan raut wajah yang sudah berubah. Matanya menatap tajam ke arah perempuan itu, benar-benar tidak tahu diri.
"Aku ingin tinggal di sini, bersamamu!"
"PERGI!!" Arkan sungguh muak, dia tidak ingin berurusan dengan wanita itu lagi.
"Tapi ...!"
__ADS_1
"KALAU KAU TIDAK ANGKAT KAKI SEKARANG, AKU AKAN PANGGIL KEAMANAN!"
Bersambung