
Happy Reading.
Ciara membuka matanya perlahan, sedikit mengerjab untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina, "eugh!" Lenguhan keluar dari mulutnya ketika merasakan kepalanya yang masih sakit.
"Ciara, gimana keadaan kamu?" Wanita itu menoleh ketika mendengar suara yang begitu familiar.
Arkan berdiri disampingnya dengan tatapan yang khawatir. Ciara hanya diam tanpa menjawab, wanita itu masih berusaha mengingat apa yang sebelumnya terjadi padanya. Kenapa ada Arkan di tempat itu, tempat yang menurut Ciara adalah rumah sakit, tercium dari aroma obat-obatan yang menusuk hidungnya, serta ruangan yang serba putih itu.
"Ciara, Aku akan panggil dokter!" Arkan memencet tombol untuk memanggil dokter, dia merasa sedikit lega ketika melihat Ciara yang sudah sadar setelah pingsan selama hampir lima jam.
Setelah dokter datang dan memeriksa keadaan Ciara yang dikarenakan shock serta karena masih belum begitu pulih pasca kecelakaan, akhirnya dokter meminta Ciara untuk opname dirumah sakit semalam.
"Aku mau pulang, aku nggak mau dirumah sakit," ujar Ciara lemah.
"Tidak, kamu harus di kasih cairan infus, kondisi kamu masih benar-benar lemah," jawab Arkan mengelus punggung tangan Ciara.
"Kenapa kamu disini?" tanya Ciara dingin.
__ADS_1
Menarik tangannya dari genggaman Arkan. Ada pancaran kekecewaan di mata pria itu tetapi kemudian Arkan berusaha mengendalikan dirinya.
Arkan menghela nafas, tentu saja pria itu paham kenapa Ciara bersikap seperti ini padanya, "tolong Ciara, jangan berdebat dulu, keadaanmu masih belum pulih," ucap Arkan.
Awalnya Ciara diam, dia hanya merasa tidak suka dengan lelaki ini di sampingnya, lelaki yang telah menorehkan luka dihatinya.
Tiba-tiba saja serentetan kejadian tadi saat bersama Jihan terputar kembali di kepala wanita itu. Dimana Jihan yang mengatainya egois, bagaimana bisa Jihan menuduhnya seperti ini.
"Arkan, sebaiknya kamu keluar! jangan temui aku lagi, aku sudah tidak sudi untuk bertemu denganmu! aku tidak mau disebut sebagai orang yang merebut milik orang lain!" ucap Ciara dengan wajah yang datar.
"Tolong dengarkan aku dulu Cia, jangan dengarkan atau percaya dengan kata-kata yang telah diucapkan oleh Jihan! entah dia mengucapkan apa itu, tapi kamu harus tahu jika semua itu tidak benar, semua perkataan yang diucapkan oleh Jihan hanyalah omong kosong!"
Ciara diam saja, dia malas menanggapi Arkan yang sudah sering kali pria itu berbohong padanya. Di masa lalu ataupun sekarang, Arkan selalu membohonginya.
Siapa yang percaya jika ucapan Jihan itu hanyalah omong kosong, kalau kenyataannya Bapaknya Arkan sendiri mengatakan jika mereka akan menikah sebentar lagi.
"Kamu masih saja suka berbohong Arkan, dan sekarang aku tidak akan diam saja seperti dulu, yang setiap aku tahu kebohonganmu aku selalu berakhir dengan menangis dalam diam, tanpa berani mengutarakan atau pun menanyakan kepadamu!"
__ADS_1
Arkan terkesiap, sungguh dia benar-benar tidak tahu jika dirinya telah begitu banyak menyakiti wanitanya itu
"Kamu salah paham, aku dan Jihan sama sekali tidak ada hubungan apapun!" ujar Arkan.
"Oh ya? lalu kenapa dia ada di apartemen mu? Apakah bukti itu kurang cukup untuk mengatakan jika memang kalian itu sebenarnya ada hubungan!" ucap Ciara dengan sinis.
Arkan menggeleng dengan cepat, "tidak tidak!! kamu benar-benar salah paham! Aku bahkan tidak tahu kenapa Jihan bisa berada di apartemenku? aku yakin jika itu ada campur tangan ayahku!"
Ciara hampir goyah, benarkah apa yang diucapkan oleh Arkan itu bukanlah omong kosong. Benarkah jika Pak Doni ada di balik semua ini.
Arkan mengambil tangan Ciara yang bebas dari infus, dia menggenggam begitu kuat seakan takut jika genggaman itu akan terlepas dan Ciara kembali meninggalkan nya.
"Tolong percayalah padaku, aku sayang sama kamu! Aku cinta sama kamu Ciara! Aku ingin kita kembali seperti dulu, tolonglah beri aku kesempatan kedua!"
"Aku tidak bisa kembali pada orang yang telah menorehkan luka terdalam di hatiku!!"
Bersambung
__ADS_1