
Happy Reading.
Arkan memandang seorang pria yang masih berbaring lemah di atas ranjang. Pria yang ternyata adalah adik kandungnya se-Ayah yang selama ini tidak diketahui oleh keluarganya.
Setelah perdebatan dengan sang Ayah yang berakhir dengan perginya Doni Irawan karena akan dihajar oleh Arkan saling kesalnya, akhirnya Arkan bisa meredakan emosinya karena rengkuhannya dari Ciara.
Sungguh Arkan begitu benci memiliki Ayah yang seperti itu. Sampai-sampai pria tua itu tidak tahu jika memiliki putra dari rahim wanita lain hingga sebesar ini.
Inilah yang sejak dulu tidak disukai oleh Arkan dari Ayahnya, pria tua itu suka menabur benih saat dia masih belum lahir atau mungkin sebelum kakaknya lahir. Entahlah, Arkan tidak mau tahu tapi kali ini bukti jelas itu sudah ada dan lihatlah pria yang memang ada kemiripan di wajah mereka itu hanya berjarak 1 tahun dengannya, bukankah itu artinya jika sang Ayah menghamili wanita itu saat Ibunya baru saja melahirkannya??
"Arkan, jangan terus menyesali keadaan, semuanya sudah terjadi dan kita hanya bisa menerima dengan ikhlas, Kyo saudara mu, jangan benci dia karena dia tidak tahu apa-apa, bahkan jika ada yang menyalahkan kehadirannya, salahkan kedua orang tuanya!"
Ucapan Ciara membuyarkan lamunan Arkan tentang kebej*t*n sang Ayah, pria itu mengusap wajahnya kasar dan segera mengontrol emosinya.
Arkan menoleh ke arah Ciara yang masih duduk dikursi roda, menatap mata cantik itu dengan lamat. Memang hanya Ciara yang bisa menenangkan hatinya saat ini.
"Iya sayang, maafkan aku, aku tidak membenci Kyo!"
Ciara mendengus mendengar Arkan memanggilnya sayang, sebenarnya Ciara masih belum bisa melupakan perbuatan Arkan di masa lalu. Gara-gara sikap dia yang lebih memilih Jihan, membuatnya jadi kehilangan janinnya.
Kebencian yang dulu pernah ada memang harus segera dihilangkannya, ketika dia tahu bahwa sebenarnya bukan dia saja yang terluka. Tetapi Arkan juga sama terlukanya.
__ADS_1
Arkan memutuskan membawa Ciara keluar dari raung rawat Kyo, malam menyapa mereka dan semilir angin menemani perjalanan mereka melewati koridor rumah sakit.
Ciara meminta Arkan berhenti di sebuah taman yang tidak jauh dari ruang rawatnya. Ciara memang memilih berdamai sekarang. Dia memutuskan untuk memaafkan Arkan dan melepaskan luka lama itu.
"Arkan, aku mau tanya?"
Arkan berjalan ke depan Ciara dan berjongkok dihadapan wanita yang masih dicintainya itu.
Sungguh tidak ada hal yang membahagiakan selain mendapatkan maaf dari Ciara, jalan untuk mencapai tujuannya membuat sang mantan istri jatuh cinta kembali padanya semakin lebar.
"Mau tanya apa?"
"Kenapa dulu kamu lebih memilih mengantarkan Jihan daripada aku? Padahal saat itu kamu sudah berjanji!" tiba-tiba Ciara bertanya hal yang sejak dulu ingin ia tanyakan.
Entah kenapa sekarang pertanyaan itu meluncur begitu saja, padahal dulu hanya sampai ditenggorokan dan tidak bisa keluar. Mungkin saat itu Ciara begitu sakit hati sehingga tidak bisa berucap apa-apa lagi.
Arkan tentu saja terkejut, bahkan saat ini tubuhnya bagai tidak bisa digerakkan. Namun, Arkan harus bisa menjawab dan memberikan penjelasan pada Ciara sebab kenapa dia nekat menemui Jihan dan membantu wanita itu sampai akhirnya takdir membuat mereka terluka.
Arkan menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Kemudian menatap netra coklat itu yang saat ini meminta jawaban darinya.
"Awalnya aku memang sudah akan berhenti mengurus Jihan, tetapi ketika saat itu Miko yang bertugas menjaga Jihan dan mengatakan jika wanita itu terjatuh dan Miko tidak bisa membawanya, saat itu juga aku hanya berpikir akan membantu Miko dan akan mengatakan pada Jihan untuk yang terakhir kalinya kalau aku sudah tidak akan menemuinya lagi, karena aku akan lebih memperioritaskan istriku sendiri, dan setelah itu aku akan langsung kembali padamu, kemudian aku akan mengantarkan periksa dan semuanya akan baik-baik saja, tapi ternyata ...!" Arkan menunduk, menyembunyikan genangan air mata yang sudah ada dipelupuk.
__ADS_1
Ciara mengangkat wajah Arkan dengan kedua tangannya, "aku percaya, kamu juga pasti sakit," Arkan memberanikan diri menatap Ciara.
Tangan Arkan perlahan memegang tangan Ciara yang berada di pipinya. Menggenggamnya erat seperti dulu ketika mereka masih bersama.
"Sayang, maukah kamu kembali, memulai lagi semuanya dari awal, kali ini aku akan membuat mu merasakan cintaku, cinta yang tak pernah padam ketika pertama kali menyebutkan namamu di depan penghulu, dulu sampai sekarang."
Ciara masih diam, apakah ini adalah jala takdir jika mereka memang harus berjodoh?
"Baiklah," jawabnya setelah lima menit terdiam.
****
Malam ini Arkan akan menginap di rumah sakit untuk menemani Ciara, meskipun Om Ferry dan Tante Lia keberatan, tetapi ternyata Ciara yang meminta kedua sahabat Ayah dan ibunya itu istirahat dirumah.
"Awas kalau kamu menyakiti keponakan Om lagi, kalau sampai itu terjadi, Ciara akan ku sembunyikan dan kamu tidak akan bisa menemukan nya sampai kapanpun!" tegas Om Ferry yang mengetahui kisah Ciara dan Arkan.
"Dan Tante akan mengatakan pada Mama mu kalau kamu kecelakaannya agar mereka langsung membawamu kembali ke Bali," sahut Tante Lia.
"Jangan donk Om!"
Bersambung.
__ADS_1