
Happy Reading
Beberapa hari setelah kejadian di mana Arkan dan Farel bertemu di Singapore, kini pria itu benar-benar mantap untuk melamar Ciara kembali. Kali ini tentu saja berbeda jauh dari lamaran yang dulu. Tentu dengan mengantongi izin dari kedua orang tua Ciara.
Ditangan Arkan sudah ada kotak segi empat kecil beludru berwarna merah, pasti semua juga sudah tahu kotak apa itu. Arkan tidak melunturkan senyumnya sejak tadi, dia terus berjalan ke dalam ke sebuah lorong yang di mana Ciara sudah menantinya di sana.
Mungkin biasanya si lelaki yang menunggu, dan si perempuan mendatangi nya, tapi kali ini Arkan memang sudah membuat kejutan untuk Ciara.
Di sisi lain.
"Om, kok bunganya layu? Kalau mau membeli bunga hidup itu harus yang seger, ini pasti sudah dipetik sejak kemarin," omel Ciara pada Ferry.
"Ya, namanya juga kurang pengalaman, tapi sepertinya itu udah cukup bagus kok kalau ditaruh di meja," Ferry mengambil bunga mawar merah itu dan ditaruh di dalam vas bunga yang ada di atas meja makan bundar itu.
Rencananya Ciara ingin memberikan kejutan pada Lia, karena hari ini adalah ulang tahun wanita yang seumuran dengan ibunya itu.
Dia menyiapkan makan malam spesial untuk Ferry dan Lia, Ciara juga sudah mengatur dekorasinya.
Ting!
Ciara membuka pesan dari Tante Lia yang mengatakan jika dia sudah ada di lobi dan akan masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke rooftop.
"Om, ini tante Lia udah hampir sampai, sebaiknya Om Ferry siap-siap buat nyambut kedatangan nya dan kasih kejutan buat Tante Lia," ucap Ciara menarik lengan Ferry dan menyuruhnya untuk segera duduk kursi yang sudah disediakan untuk makan malam romantis nantinya.
"Iya, Cia, tapi ini Om mau ke toilet dulu, kebelet, kamu duduk di kursi ini dulu, ya!" Ferry menekan pundak Ciara agar duduk di kursi yang menghadap ke depan.
Ciara ingin protes, tapi tidak jadi karena Ferry sudah menghilang begitu saja.
"Duh, Om Ferry gimana sih, nanti kejutannya gak jadi kalau sampai terlambat!"
Ciara mengambil ponselnya dan menulis pesan untuk Tante Lia.
"Bentar ya, Tante! Jalannya boleh lama kok, nggak usah tergesa-gesa!"
Saat Ciara memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya, tiba-tiba ada sebuah tangan yang terulur di depannya. Yang lebih mengejutkan lagi ada sebuah kotak kecil beludru berwarna merah di telapak nya.
Ciara menoleh dan terkejut ketika bibirnya menempel pada pipi seorang pria yang tidak lain adalah Arkan.
__ADS_1
"Aakk!! Arkan!!" Pria itu langsung menjauhkan diri karena teriakan Ciara yang begitu memekik telinga.
"Kok malah teriak?"
"Kenapa kamu ada di sini?" Ciara berdiri dari duduknya.
Arkan hanya senyum-senyum saja, padahal asliku dia sudah deg-degan setengah mati.
"Tente Lia mana? Kan ini kejutan buat tante Lia, tapi kok malah kamu yang ada disini?"
"Tante Lia sama Om Ferry ada kok, tuh mereka ada di sana," Arkan menunjuk ke belakang Ciara dan di sana memang sudah ada Ferry dan Lia yang melambaikan tangan ke arah Ciara dan Arkan.
"Loh, kok Tante Lia ...!"
"ARKAN!! Semangat!" seru Lia menyemangati Arkan yang sudah siap untuk melamar Ciara kembali.
"Tante, ini sebenarnya ada apa?"
Ferry hanya tersenyum memperlihatkan gigi-gigi nya sambil merekam mereka lewat kamera digital.
"Ini kejutan buat kamu, sayang!" Seru Tante Lia.
Arkan langsung berlutut dihadapan Ciara, menatap wajah wanita yang masih terlihat terkejut itu dengan tatapan sendu.
Arkan membuka kontak beludru merah itu dan memperlihatkan cincin cantik yang tidak asing di mata Ciara.
Cincin nikahnya dulu.
"Ciara, aku memang bukan orang yang sempura, banyak dari dalam diriku yang sudah pernah menyakitimu, aku bahkan membuat kita kehilangan hal yang paling berharga di hidup kita. Aku merasa tidak pantas jika harus bersanding denganmu lagi, karena aku telah banyak melukaimu," Arkan menjeda. Dia mengambil nafas dalam-dalam agat tidak merasa sesak, karena setiap teringat akan calon bayi mereka yang telah pergi karenanya, hal itu benar-benar membuat Arkan down parah.
"Ciara, beberapa waktu yang lalu pernah kita lewati. Banyak yang sudah kita lalui bersama dalam suka maupun duka. Tidak mudah memang, tapi aku selalu heran. Segala kesulitan bagiku seperti tak apa asal itu tentang kamu. Aku mau saja, bila mendapatkan kesulitan yang besar jika itu bersamamu. Tapi, bukankah segala hal di dunia ini selalu diterima dengan konsekuensi? Tidak ada kesulitan yang berdiri sendiri. Kesulitan selalu seiring dengan kebahagian." Kini mata Ciara sudah mulai berkaca-kaca, mengingat bagaimana perjuangan pria ini untuk bisa meluluhkan hati kembali.
"Ciara, berjuta rasa yang tak mampu ku ungkapkan dengan kata-kata. Dengan beribu cara kau selalu membuat ku bahagia. Kau adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan, yang benar-benar kuinginkan hanyalah kau untuk selalu di sini ada untukku. Maukah kau tuk menjadi pilihanku kembali? menjadi yang terakhir dalam hidupku. Maukah kau tuk menjadi yang pertama dan terakhir? Yang selalu ada di saat pagi ku membuka mata, maukah kau membina mahligai rumah tangga kembali bersama dengan pria yang tidak sempurna ini?"
Luruh sudah air mata Ciara, dia menangis dalam diam. Sungguh jika ada yang bertanya bagaimana perasaan Ciara untuk mantan suaminya ini, tentu saja masih begitu cinta.
Arkan adalah cinta pertamanya, dia akui jika begitu sulit untuk menghilangkan rasa itu dihatinya meski sudah sekian bulan. Bohong jika Ciara tidak sakit hati ketika melihat Arkan menangisi kepergiannya dan calon bayinya.
__ADS_1
Ciara juga sakit ketika melihat Arkan tidak bahagia, lalu apakah mereka masih bisa merajut kembali kebahagiaan mereka setelah semua yang dilalui ini.
Arkan masih menunggu jawaban dari sang pujaan, dia siap jika memang Ciara akan melepaskan nya. Memang Arkan tidak menjanjikan kebahagiaan pada Ciara, tapi dia akan lakukan segala hal untuk membuat Ciara bahasa.
Bahagia Arkan bisa hidup jika kebahagiaan nya hanya ada pada Ciara?
"Ayo terima, terima, terima!"
"Ciara, terima Arkan, nanti kalau dia buat kamu sakit hati lagi, kami akan menyembunyikan mu selamat dari Arkan!" Seru Tante Lia dan Om Ferry.
Ciara kembali menatap Arkan yang masih setia berlutut dihadapannya saat ini.
"Kenapa kamu begitu yakin ingin rujuk dengan ku?" Tanya Ciara.
"Karena itu kamu, bukan wanita lain!"
Kali ini Ciara benar-benar terisak, semoga saja kali ini pilihannya tepat dan tidak salah.
"Baiklah, ayo kita rujuk!"
Arkan yang mendengar hal itu langsung bersorak, hingga dia lupa jika cincinnya belum dipasang dijemari manis Ciara.
"Hei, Arkan! Cincinnya!" Seru Om Ferry.
"Nanti aja Om, aku pasang ini dihadapan Papa Farel dan Mama Nada!" Kini Arkan menatap Ciara dalam, tangannya terulur untuk menarik Ciara dalam pelukannya.
"Terima kasih karena telah memberikan ku kesempatan lagi, aku benar-benar mencintaimu, Ciara!"
"Aku juga mencintaimu!"
Arkan menangkup kedua pipi Ciara dan mendaratkan ciuman panjang pada bibir manis itu.
Sepertinya lembaran hidup Arkan dan Ciara akan segera dimulai kembali dengan buku yang baru.
Bersambung.
1 bab lagi tamat ya☺️
__ADS_1