Mengejar Cinta Ciara

Mengejar Cinta Ciara
Chapter 27


__ADS_3

Happy Reading.


Salma berjalan cepat menuju rumah sakit Singapore Hospital. Menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam dari bandara Ngurah Rai Bali, wanita yang telah memiliki 2 anak itu benar-benar cemas ketika mendapatkan kabar jika putra pertamanya mengalami kecelakaan.


Padahal suaminya baru terbang ke Amerika semalam, dan dia harus terbang ke Singapore untuk melihat kondisi Kyo yang kabarnya masih belum sadar hingga saat ini.


"Permisi, saya ingin melihat kondisi Kyo, korban kecelakaan siang tadi," tanya Salma pada resepsionis. "Saya ibunya," lanjut Salma.


Akhirnya resepsi itu memberitahukan dimana Kyo dirawat. Sama berjalan dengan cepat untuk melihat keadaan yang masih berada di ruang ICU.


Salma bisa melihat putranya yang yang masih terpejam dan ditopang oleh alat alat medis untuk membuatnya bertahan. Seorang dokter keluar dari ruangan ICU dan melihat Salma yang langsung menjelaskan siapa dirinya pada dokter tersebut.


"Jadi bagaimana kondisi Putra saya dokter?"


"Kondisi pasien sudah stabil dan bisa di pindahkan ke ruang rawat setelah ini," ucap sang dokter.


Akhirnya proses pemindahan Kyo ke ruang perawatan berlangsung tidak lama. Kondisi Kyo belum sadar tapi keadaannya menunjukkan jika semakin stabil.


Di sudut ruangan lain.


Doni mengatakan pada Ciara jika dia akan menanggung semua biaya perawatan, meskipun Ciara mengatakan jika dia baik-baik saja dan boleh pulang esok hari, yang itu artinya biayanya pun tidak begitu mahal, tetapi Doni tetap tidak akan membiarkan Ciara membuatnya menjadi semakin bersalah.


"Arkan, aku ingin bicara dengan Ciara, empat mata," ujar Doni pada putranya.


"Silahkan kalau Ayah ingin bicara, aku tetap akan disini," Arkan kekeh tidak mau pergi, karena dia tahu apa yang akan Ayahnya katakan.

__ADS_1


Ciara bisa melihat jika mantan Ayah mertuanya itu ada hal yang serius yang akan dibicarakan.


"Arkan, keluarlah, aku ingin bicara sama Om Doni," ujar Ciara membuat Arkan terkejut.


"Tapi ...!"


"Arkan, please!" Ciara memohon, membuat Arkan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Akhirnya Arkan keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Ciara dan Ayahnya berdua di dalam sana, meskipun Arkan memiliki firasat yang tidak enak, tetapi dia tidak bisa untuk tidak menuruti permintaan mantan istrinya.


Doni menatap Ciara dengan tatapan datar, tanpa ekspresi apapun yang tidak bisa ditebak oleh Ciara.


"Aku senang jika kamu baik-baik saja," ucap Doni memecah keheningan diantara mereka.


"Iya," jawab Ciara sekadarnya.


"Aku akan mengatakan langsung kepadamu dan aku tidak akan berbahasa-basi," ucap Doni mengalihkan pandangannya, "jauhi Arkan! aku tahu kamu sudah meracuni otaknya agar dia kembali kepadamu, sampai Arkan meninggalkan Indonesia hanya untuk mengejarmu ke Singapura, jadi lebih baik lepaskan dia karena sebentar lagi akan menikah dengan Jihan!"


Ciara hanya diam saja, meskipun dia merasa terkejut dengan ucapan Doni, karena setahunya, Arkan masih menginginkannya bahkan sampai mengejarnya ke sini.


Ciara tidak tahu kalau Arkan sudah akan menikah dengan Jihan, bahkan Ciara mengira awalnya Arkan dan Jihan sudah menikah lama.


"Kenapa Om begitu takut jika saya akan meracuni Arkan agar kembali pada saya? kalau memang Arkan akan menikahi Jihan seharusnya dia tidak ada di Singapura, dan Om tidak perlu sampai meminta seperti itu pada saya," Ciara tersenyum, tidak memiliki beban apapun diwajahnya.


"Jika Om seperti ini, itu sama saja mengatakan kalau Arkan menentang keinginan Om Doni!"

__ADS_1


Doni bungkam, sambil mengepalkan tangannya. Ternyata menggertak Ciara tidak ada gunanya, karena sepertinya wanita itu sekarang jauh lebih kuat daripada yang dulu.


****


Arkan masuk kembali ke ruang rawat Ciara, terkejut melihat Ciara yang memegang pisau buah. Entah kenapa dia merasa de javu, Arkan takut jika Ciara memintanya untuk menjauhi nya lagi. Seperti dulu, ketika awal perpisahan mereka.


"CIARA, jangan! jangan lakukan itu!!! tolong aku tidak sanggup jika harus kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya!!" seru Arkan merebut pisau buah yang dibawa Ciara.


Klontang!


Suara pisau terlempar, membuat Ciara terkejut dan akan memarahi Arkan. Namun, dia urungkan ketika melihat wajah Arkan yang tidak naik saja.


Arkan menangis, matanya memerah. Ciara merasa jantungnya seperti diremat. Sebenarnya apa yang terjadi dengan mantan suaminya itu.


"Jangan Cia, jangan lakukan lagi!" kali ini Arkan memeluk Ciara erat. Merasakan jika yang ada dipelukan nya ini nyata. Bukan hanya mimpi yang selama ini membersamainya, yang di saat dia bangun, Ciara tidak ada, dia telah ditinggal kan oleh Ciara dan calon anaknya.


"Arkan, kamu baik-baik saja?" tanya Ciara. Wanita itu membalas pelukan Arkan yang masih terasa kuat.


"Jangan pergi lagi!" ucap Arkan lirih. Melepaskan pelukannya dan menatap Ciara dengan mata yang berkaca-kaca.


Ciara merasakan sesak di dadanya saat melihat sorot mata Arkan. Ciara akhirnya mengakui jika mereka adalah dua orang bodoh yang sama-sama terluka. Memeluk luka itu terlalu erat hingga tidak membiarkan mereka berdamai dengan masa lalu yang mungkin sudah menggerogoti hati dan jiwanya.


"Aku ada di sini!" jawab Ciara akhirnya.


Dia tidak akan menghiraukan ucapan Doni yang meminta Ciara untuk melepaskan Arkan lagi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2