Mengejar Cinta Mantan Kekasih

Mengejar Cinta Mantan Kekasih
Bab 12 Terpaksa Menerima Lamaran


__ADS_3

"Eliza, ingin bicara dulu dengan Bapak dan Ibu," ajak Heliza seraya bangkit dari kursi menuju ruang belakang. Pak Hanafi dan Bu Hira sedikit tidak enak dengan tamunya melihat sikap Heliza seperti ini. Keduanya lantas pamit dulu pada keluarga Yazid untuk berbicara pada Heliza.



"Mohon maaf, kami pamit sebentar. Sepertinya anak gadis kami masih kaget atas kedatangan Nak Yazid yang ingin melamarnya. Jadi sepertinya dia harus kami beri pengertian dulu. Kemungkinan, anak gadis kami menyangka pembicaraan Nak Yazid dua minggu yang lalu itu main-main, makanya Eliza shock saat kalian benar-benar datang," alasan Bu Hira yang diangguki Pak Hanafi. Kedua orang tua itu kemudian berpamitan dan meninggalkan tamunya untuk beberapa saat.



Pak Hanafi dan Bu Hira menuju kamar Heliza karena anak gadisnya langsung mengurung diri di kamar. Saat kedua orang tuanya masuk, Heliza sedang duduk termenung dengan muka kusut menghadap jendela.



Bu Hira meraih pundak Heliza dan duduk di samping anaknya di tepi ranjang, sementara Pak Hanafi berdiri di muka pintu dengan pintu yang sedikit diberi celah.



"El, kenapa mengajak kami meninggalkan tamu. Ada apa? Tidak enak meninggalkan tamu yang mempunyai niat baik lho. Ayo, kita kembali le ruang tamu dan hadapi keluarga Nak Yazid dengan berani," bujuk Bu Hira sembari mengelus bahu Heliza sayang.



"Bu, Pak, kenapa Ibu dan Bapak sebegitu bahagianya atas kedatangan mereka? Hanya karena anaknya ingin melamar Heliza yang tiba-tiba, lantas Ibu dan Bapak senang dan menerima begitu saja. Bahkan Ibu dan Bapak belum kenal dekat dengan mereka, tapi Ibu dan Bapak sudah seperti setuju saja dengan lamaran mereka. Padahal semua keputusan ada di Eliza." Heliza mengeluarkan semua unek-uneknya di hadapan kedua orang tuanya. Rasa kecewa saat dulu ditinggal menikah oleh Yazid kini menari-nari kembali di pelupuk mata.



"Betul, Nak, semua keputusan memang ada padamu. Kami menyerahkan sepenuhnya padamu. Bapak sama Ibu tidak akan menyetujui jika kamu tidak setuju. Bapak dan Ibu hanya senang dan bahagia bahwa anak gadis kami ada yang memperhatikan dan ingin melamar, kami sebatas bahagia dan senang saja, itu artinya anak gadis kami masih ada laki-laki yang mengharapkan cintanya. Masalah kami yang menurutmu seperti setuju dengan lamaran mereka, kami memang setuju karena melihat sikap Nak Yazid yang secara gentlemen datang membawa orang tuanya ke rumah kita untuk melamar kamu. Dan ada satu poin yang paling penting di sini, kita sebagai tuan rumah yang kedatangan tamu, siapapun itu dan apapun tujuannya, maka kita sebagai tuan rumah harus berusaha menyambut tamunya dengan baik, dan jangan diberi sikap yang tidak mengenakan," tutur Pak Hanafi panjang lebar mirip seorang alim ulama memberi nasehat.


__ADS_1


"Eliza paham, Pak. Bukan maksud Eliza tidak ingin bersikap sopan pada tamu seperti yang Bapak bicarakan tadi. Tapi, Eliza merasa shock ditodong seperti ini. Eliza belum siap Pak."


Heliza memberi alasan kenapa dirinya bersikap demikian dan mengajak kedua orang tuanya meninggalkan tamunya di depan.


"Bapak juga paham sikap kamu, Nak. Tapi, alangkah lebih baiknya hadapi tamu kita dengan sikap yang baik, biar saat pulang nanti tamu kita tidak membicarakan kita yang tidak-tidak," bujuk Pak Hanafi pada anak gadisnya yang terlihat masih merengut.



"Lantas apa yang harus Eliza perbuat, Pak?" Heliza balik bertanya pada Pak Hanafi. Kini ia merasa bingung harus mengambil keputusan apa.



"Dengarkan kata hatimu. Dan ambil apa yang baik menurut kata hatimu. Sebelum mengambil keputusan berdoa dulu sama Yang Maha Kuasa, mohon bimbingannya supaya tidak akan menyesal, " ucap Pak Hanafi memberi sedikit arahan.



"Ayo keluarlah, Nak. Tidak enak jika tamu ditinggal lama-lama seperti ini," ajak Bu Hira menarik lengan Heliza untuk kembali ke ruang tamu.




"Pak, Bu, apa yang harus Eliza lakukan?" Heliza balik bertanya sebelum dia benar-benar menghadapi keluarga Yazid di depam. Sepertinya Heliza bingung, apa keputusan yang harus dia ambil. Kalau mau jujur, rasa cinta pada Yazid memang masih ada dan tertakar di dalam hatinya. Makanya sampai saat ini Eliza masih belum move on dari Yazid, malah kadang rasa benci yang selalu menyelimutinya jika dia kembali teringat akan kenangan bersama Yazid beberpa tahun yang lalu.



"Seperti apa yang bapak katakan tadi. kamu dengarkan kata hatimu dan ambil menurut hatimu baik," saran Pak Hanafi sembari menghampiri Heliza dan mengelus rambutnya. Pak Hanafi di dalam hati sebenarnya sudah ingin mempunyai menantu, maka saat Yazid datang dan mengatakan ingin melamar Heliza, Pak Hanafi dan Bu Hira senang mendengarnya, terlebih saat itu perangai Yazid kelihatan baik.

__ADS_1



Akhirnya atas bujukan Pak Hanafi dan Bu Hira, Heliza kembali ke tengah-tengah keluarga Yazid. Yazid sekilas menatap Heliza yang saat ini masih dilanda kebingungan.



"Maafkan kami Pak Angga dan Bu Aryani, kami tadi tinggal beberapa saat. Maklum kami dan anak gadis kami merasa shock dengan kedatangan keluarga Bapak.



"Tidak apa-apa Pak Hanafi, kami maklum dengan sikap Nak Heliza. Saya paham apa yang dirasakan anak gadis Bapak. Untuk itu supaya mempersingkat waktu, seperti apa yang disampaikan kami tadi diawal bahwa niat kami datang ke rumah Bapak, tidak lain dan tidak bukan adalah ingin melamar anak hadis Bapak yang bernama Heliza Putri. Bagaimana, apakah lamaran dan kedatangan kami diterima, Nak Heliza?" ujar Pak Angga mewakili perasaan Yazid, anaknya.



Heliza menatap kedua wajah orang tuanya bingung. Dia masih mempunyai rasa dua cabang, yakni benci dan cinta. Namun melihat harapan kedua orang tuanya yang mengharapkan ingin segera mempunyai menantu, Heliza sepertinya terpaksa memilih menerima lamaran itu daripada melihat kekecewaan pada kedua orang tuanya.



"Kita lihat saja nanti setelah kita bertunangan, apakah sikapnya benar-benar tulus dan mencintai aku? Jika hanya sebagai pelarian akibat kehilangan dua orang terkasihnya dalam waktu dekat tempo hari, maka aku pastikan aku akan pergi darimu dan aku tidak akan pernah memaafkan kesalahan kamu lagi." Heliza berbicara dengan serius di dalam hatinya sebelum menjatuhkan pilihan.



"Eliza, sebelumnya mohon maaf sebesar-besarnya pada Ibu dan Bapak serta Kak Yazid juga adik-adik dari Kak Yazid, bahwasanya Heliza sudah membuat kalian menunggu. Itu semua karena Heliza masih shock semata karena masib tidak menyangka bahwa kedatangan keluarga Kak Yazid datang dan ingin melamar Eliza," ucap Heliza berbasa-basi sejenak.



Mendengar hal itu kedua orang tua Heliza merasa bahagia Heliza memperlihatkan sopan santunnya di hadapan tamunya. Pak Hanafi sangat bersyukur Heliza bisa mengakui kesalahannya tadi saat meninggalkan tamunya beberapa saat.

__ADS_1



"Eliza, menerima lamaran Kak Yazid," jawab Heliza lantang, padahal hatinya bertentangan karena masih ada benci dan rindu.


__ADS_2