Mengejar Cinta Mantan Kekasih

Mengejar Cinta Mantan Kekasih
Bab 23 Perdebatan


__ADS_3

Heliza langsung ke dapur untuk menghilangkan rasa haus yang dia rasakan sepanjang jalan tadi. Yazid melihat pergerakan Heliza yang minum hampir dua gelas. Yazid menghampiri dengan penuh rasa bersalah. Jika tahu Heliza haus begini, mungkin tadi saat di jalan dia mampir dulu ke warung atau swalayan untuk membeli air mineral. Namun Heliza tidak bicara, jadi Yazid tidak tahu.


"Sayang, kenapa tadi tidak bilang bahwa kamu haus? Coba kalau ngomong, pasti aku belikan minum di warung atau swalayan?"


"Aku maunya di sini, bukan tadi di sana," jawab Heliza seraya beranjak. Namun sebelum beranjak Yazid berhasil menahan lengan Heliza. Tubuh Heliza tertahan dan berhasil diraih Yazid sehingga mereka berdekatan.


"Kakak lepaskan dong, aku mau buka baju dan ke kamar mandi, gerah," alasannya seraya berontak. Sebelum Yazid melepaskan tubuh Heliza, sebuah kecupan berhasil dia labuhkan di bibir Heliza. Heliza tersentak kaget karena dia sedang tidak siap.


Heliza berhasil lepas dari pelukan Yazid dan segera menuju kamar. Dia buru-buru ke kamar mandi, menggosok gigi sebelum tidur. Keluar kamar mandi Yazid sudah siap di ranjang lalu menatap Heliza ingin. Heliza sudah tidak bisa menolak lagi kalau sudah melihat Yazid cuma bercelana boxer.


"Sayang, sini aku bantu buka dressnya," ujar Yazid tidak menunggu lagi. Dia langsung membuka perlahan risleting dress yang dipakai Heliza.


"Tidak, biar aku saja Kak," tolak Heliza. Namun semua sia-sia sebab Yazid sudah berhasil membuka risletingnya dan mulai membukanya lembut. Akhirnya Yazid berhasil membuka dress Heliza dengan lancar tanpa halangan. Setelah itu dengan gerakan cepat Yazid meraih pinggang Heliza lalu di bawanya ke atas ranjang.


Yazid tersenyum bahagia saat Heliza kini berhasil diraih dan dibaringkannya. Ditatapnya Heliza dengan intens dengan sunggingan senyum yang mendamba. Akhirnya malam ini tanpa penolakan, Yazid dan Heliza berhasil melakukan pertautan yang sudah hampir seminggu tidak Yazid dapatkan dari Heliza.


Waktupun berjalan cepat, hampir 10 bulan sudah usia pernikahan Heliza dan Yazid. Namun Yazid dan Heliza belum juga dikarunia anak. Dan sejak Heliza memberikan madu alami yang dia beli dari temannya Hena, Ibu Aryani sang mertua tidak lagi mengeluh sakit di dada kiri. Tahu akan hal itu, Heliza kembali membelikan madu alami untuk mertuanya. Alhamdulillah penyakit jantung yang dideranya sudah tidak kambuh lagi. Bu Aryani meyakini semua itu berkat pertolongan dari Allah melalui Heliza.

__ADS_1


Sejak saat itu dan selanjutnya perhatian Bu Aryani begitu besar untuk Heliza. Bahkan untuk menarik perhatian Heliza, Bu Aryani selalu menyempatkan memasak makanan kesukaan Heliza. Heliza tidak ubahnya dimanjakan, saking ingin meraih simpati menantunya yang masih kaku dalam bersikap dengannya.


Hari ini Yazid kedatangan Bu Aryani yang sengaja datang untuk memberikan serantang makanan favorit Yazid dan Heliza. Tumis kacang buncis, semur jengkol, sambal pete, lalapan dan ikan nila bakar. Semuanya kesukaan anak dan menantunya. Kedatangan Bu Aryani disambut bahagia.


Yazid dan Heliza segera meraih rantang yang dibawa Bu Aryani untuk segera dinikmatinya.


"Ayo, Teh, makan sekarang saja mungpung masih hangat," desak Bu Aryani yang merubah panggilan Heliza menjadi Teteh. Bukan apa-apa, ikan bakar nilanya jika sudah dingin maka kurang nikmat, begitu alasannya.


Akhirnya Yazid dan Heliza membuka rantang makanan yang Bu Aryani berikan. Semuanya memang makanan favorit Yazid dan Heliza. Tanpa lama lagi Heliza dan Yazid menyantap makanan yang dikirim Bu Aryani dengan lahap.


Semua menghabiskan makannya dengan porsi besar, sebab tidak dipungkiri masakan Bu Aryani memang mantap dan lezat tidak ada tandingan.


"Pernikahan kalian sebentar lagi menuju satu tahun. Ibu bahagia melihat kalian selalu bersama. Dan kebersamaan kalian ini bertahan sampai sekarang bukan tidak ada masalah atau mulus saja. Tapi karena kalian berpegang teguh pada cinta, walaupun ada sedikit perselisihan di antara kalian. Akan tetapi kalian masih bisa bertahan sampai saat ini dan ini yang Ibu mau. Kalian selalu bersama, Ibu bahagia," ucap Bu Aryani panjang lebar dengan mata yang berkaca-kaca.


Heliza dan Yazid saling pandang, mereka paham akan perasaan Bu Aryani.


"Kebahagiaan kalian yang sudah berjalan sepuluh bulan ini, tentu akan lengkap dengan kehadiran anak. Ibu sepertinya sudah ingin menimang cucu dari kalian. Ibu menantikan cucu dari menantu Ibu, Heliza. Ibu ingin menimang lagi cucu, Nak. Ibu sudah tua dan sudah waktunya bermain dengan cucu. Kiranya Teh Heliza mengerti perasaan Ibu. Ibu sudah tidak bisa bermain-main lagi dengan Zindar dan Kiana sebab mereka sudah pada sibuk dengan kegiatannya masing-masing sehingga tidak ada waktu bersama ibu lagi," lanjut Bu Aryanai nampak sedih.

__ADS_1


"Kami paham Bu akan perasaan Ibu yang kesepian. Nantilah Bu, kita akan merencanakan kehamilan dan memberi cucu buat Ibu. Iya, kan, Sayang?" ujar Yazid membesarkan hati Bu Aryani yang sedih, lalu beralih menatap Heliza.


"Iya, Kak, Insya Allah. Mungkin nanti tepat pernikahan kita setahun, kita akan program hamil," respon Heliza positif diimbuhi senyum.


"Kalau bisa alangkah baiknya kamu berhenti kerja, Sayang, biar tambah fokus program hamilnya," balas Yazid penuh senyum. Heliza tiba-tiba mengerutkan keningnya setelah mendengar ucapan Yazid barusan. Dia mau program hamil bukan berarti mau berhenti dengan pekerjaan.


"Lho, kok, berhenti kerja? Aku mau program hamil bukan berarti harus berhenti kerja lho, Kak. Banyak kok teman kerja aku yang hamil tapi tetap kerja dan tidak berhenti. Ini kenapa Kakak malah nyuruh aku berhenti kerja? Pekerjaan ini dulu aku dapatkan dengan susah payah supaya diakui orang-orang bahwa aku bukan anak magang lagi, dan akhirnya setahun kemudian aku benar-benar jadi pegawai bukan magang lagi. Bukankah dulu, aku kehilangan Kakak karena melihat aku yang hanya seorang anak magang?" ucap Heliza lantang dan penuh emosi.


Yazid dan Bu Aryani terkejut dan saling tatap. Mereka tidak menduga ucapan Yazid akan berakhir seperti ini. Heliza yang emosi, ucapannya malah mengungkit kembali masa lalu, dan ini jelas mengungkit kembali perlakuan Bu Aryani dulu. Tapi Bu Aryani tidak menduga bahwa Heliza akan mengungkit masa lalu.


"Sayang, kenapa kamu mengungkit masa lalu? Itu sudah berlalu dan Ibu kini menyesalinya dan berusaha memperbaiki semua dan berusaha menyayangi kamu tulus. Tapi kenapa kamu masih mengungkitnya?" sergah Yazid berdiri dan menatap Heliza dengan kesal.


"Aku hanya bicara apa adanya Kak. Aku mau program hamil tapi bukan berarti berhenti bekerja seperti yang Kakak bilang," ucap Heliza lemah dan menunduk seperti merasa


"Sudah, sudah, kalian jangan berdebat lagi. Lagipula di sini yang salah memang Ibu. Ibu minta maaf, ya, Teh," ucap Bu Aryani sambil berdiri dengan muka sendu.


"Ibu pamit, ya. Ibu mohon kalian jangan bertengkar. Assalamualaikum!" ucap Bu Aryani berpamitan dan bergegas menuju pintu tanpa menunggu lama.

__ADS_1


Bersambung. Jangan lupa bagi yang masih punya vote kasih untuk karya saya ya, masih minim pembacanya. Terimakasih.


__ADS_2