Mengejar Cinta Mantan Kekasih

Mengejar Cinta Mantan Kekasih
Bab 28 Haidah Setahun Pernikahan


__ADS_3

"Dandan yang cantik, ya! Tapi jangan menor dan seksi, sebab kita akan jalan keluar. Nanti habis Isya, kamu aku jemput. Jangan heran kenapa aku tidak ada saat kamu pulang kerja, aku ada misi sebentar. I love you," tulis Yazid di secarik kertas yang ditempel di dinding cermin.



"Ihhhh apa-apaan Kak Yazid ini. Sudah ada Hp tinggal WA saja, susah-susah amat ditulis di kertas," gerutunya. "Dandan yang cantik, mau apa ya?" herannya bertanya dalam hati.



Isya telah berkumandang. Setelah sholat Isya, Heliza segera menepati amanah Yazid suaminya, bersiap-siap dan berias, meskipun dia masih bingung sebenarnya mau diajak kemana?



Dengan gerakan cepat dan lihai, Heliza merias wajahnya yang dasarnya memang sudah ayu. Dipoles sedikit dengan skincare, cushion tipis-tipis dan seoles lipstik red ruby memerahi bibirnya menjadi lebih berisi dan menggoda. Sejenak Heliza genit di depan cermin, mematut diri dan tersenyum sendiri. Sepertinya dia begitu bahagia dan puas dengan hasil riasan minimalisnya malam ini.



"Assalamualaikum!" Tiba-tiba Yazid sudah berada di belakang Heliza, merangkul pinggang Heliza dan mencium pipinya sehingga Heliza terkejut.



"Kak Yazid, kenapa Kakak bikin Eliza kaget? Kalau mau ucapkan salam, harusnya sejak tadi di depan pintu," gerutunya protes.



"Ya, ampun, Sayang. Kamu bikin aku gemas. Malam ini kamu dandan sangat cantik," ujarnya memuji seraya mengusap-usap perut Heliza.



"Jadi kapan nih kita perginya, apakah Kakak akan terus mengelus perut aku ini?" hindarnya seraya melepaskan tangan Yazid yang sejak tadi mengelus perutnya.



"Sekaranglah Sayang. Kalau begitu, ayo sekarang kita pergi," ajaknya seraya menarik tangan Heliza.



"Tasnya belum," ujarnya menahan tarikan tangan Yazid, sebab tasnya belum dikenakan Heliza. Heliza dan Yazid berjalan beriringan menuju mobil.



"Sebenarnya mau kemana sih, Kak?" Heliza penasaran saat pintu mobil dibukakan Yazid.


"Rahasia, nanti juga kamu tahu," tukasnya sembari tersenyum. Heliza memasang muka cemberut karena tidak suka dibikin penasaran.



"Ini mau kemana sih Kak, kok tidak sampai-sampai?" protes Heliza kesal, sebab sudah setengah jam mobil Yazid masih di jalan dan belum berhenti. Yang Heliza heran, mobil Yazid kini malah menuju Bandung. Bisa jadi Yazid ada tugas dari Komandannya. Heliza hanya bisa menduga-duga tanpa mau bertanya.



"Kita akan ke Bandung ke kawasan Dago," ujarnya.


"Kakak kenapa harus ajak Eliza jika ada perintah dari atasan?" duga Heliza tidak suka. Yazid tidak menjawab, dia hanya mesem sambil fokus ke kemudi. Lima menit kemudian Yazid membelokkan mobilnya ke sebuah kafe di kawasan Dago yang bentuknya seperti villa. Heliza, masih menduga bahwa Yazid mengajaknya hanya untuk menemaninya tugas.

__ADS_1



Mobil Yazid berhenti tepat di depan villa. Yazid turun lalu membuka pintu mobil untuk Heliza.


"Silahkan Tuan Putri!" Yazid mempersilahkan Heliza turun layaknya di karpet merah sebuah pagelaran. Heliza masih biasa dan tidak menganggap hal ini istimewa.



"Ayo, duduklah," ajaknya pada sebuah meja yang sudah dihias sedemikian rupa. Ada lilin yang sudah menyala di tengahnya. Heliza heran ada sebenarnya denga Yazid hari ini.



Tidak berapa lama, terdengar sebuah instrumen musik klasik yang romantis sehingga menyentuh hati. Namun Heliza masih belum menduga bahwa ini bagian dari surprise Yazid dalam rangka merayakan satu tahun pernikahan.



Bersamaan dengan itu, tiba-tiba pelayan kafe berdatangan menyajikan sebuah hidangan makan malam romantis lengkap dengan menu pembuka dan penutupnya. Sejenak Heliza menatap apa-apa yang disajikan pelayan. Sebuah menu mewah yang selama ini belum pernah Heliza rasakan ada di sana. Hati Heliza bertanya-tanya, ada apa ini?



Musik romantis masih diperdengarkan, kali ini Yazid membawa Heliza berdiri dan meraih pinggang Heliza menghadapkan tubuhnya ke hadapannya. Heliza tersipu malu, sejenak dia menunduk menyimpan malu. Yazid gemas melihat Heliza malu tidak seperti biasanya.



"Ada apa sih Kak, kenapa mesti begini?" Heliza memberanikan diri bertanya dengan situasi yang tidak biasa ini.



"Hari apa? Hari Sabtu, kan?" Heliza masih belum paham maksud Yazid.



"Satu tahun yang lalu aku pernah meminang seorang gadis, melegalkannya menjadi pendamping hidupku. Dan hari ini adalah satu tahun itu telah berlalu, dan aku rasanya ingin mengulang kembali masa itu dengan mengenang satu tahun pernikahan kita. Happy first wedding annyversary, honey, you are the one and only," ungkap Yazid berkaca-kaca seraya menatap lekat wajah Heliza penuh haru.



Heliza nampak terkejut. Dia baru sadar bahwa hari ini satu tahun pernikahannya bersama Yazid. Saking sibuknya bekerja, Heliza benar-benar tidak ingat akan hari pernikahannya.



"Apakah kamu tidak ingat akan hari pernikahan kita, Sayang?" tanya Yazid penasaran.


"Aku lupa dan tidak ingat, Kak. Aku hanya tahu bahwa kita bulan ini sudah satu tahun," alasannya sembari tersenyum.



"Jadi semua ini Kakak yang buat?" Yazid mengangguk seraya menyematkan rambut Heliza di sela telinga.



"Aku minta maaf, mungkin selama setahun aku jadi suami belum bisa jadi suami yang baik buat kamu, dan belum bisa bahagiakan kamu. Dan aku mohon maaf, jika aku sebagai suami banyak kekurangannya dan egois," ucap Yazid mengungkapkan segala isi hatinya selama setahun bersama Heliza.


__ADS_1


"Coba, Sayang, kamu ungkapkan apa yang menjadi unek-unekmu selama setahun ini?" tanya Yazid ingin tahu. Sejenak Heliza termenung, begitu banyak yang sudah terjadi dan dia lewati selama setahun ini. Suka maupun duka telah dia rasakan.



Heliza mendongak dan menatap wajah Yazid. "Banyak Kak yang aku rasakan selama setahun ini bersama Kakak. Tapi aku malas mengungkapkannya, karena jika diungkapkan hanya akan menambah lagi rasa sakit di hati. Lebih baik tidak usah diungkap, sebab aku juga sedang mencoba melupakan masa lalu supaya tidak menyakitiku lagi jika diingat," tuturnya terdengar sendu. Yazid buru-buru mengalihkan pembicaraan ke topik lain, sebab dia tahu dibagian ini Heliza sepertinya sensitif.



"Ok, alangkah lebih baiknya kita nikmati dinner kita malam ini. Seandainya dinner kita malam ini tidak sesuai harapanmu, aku minta maaf," ucap Yazid hati-hati.



"Wahhhh, ini makan malam teristimewa yang pernah aku lewati, Kak. Ini melebihi khayalanku, dan ini luar biasa," serunya antusias. Yazid tahu Heliza belum pernah makan di kafe dengan menu mewah seperti ini. Dan dia pun sama tidak pernah makan dengan sengaja ke tempat mewah seperti ini kecuali pernah diajak Komandannya pada satu acara ulang tahun orang tuanya.



Melihat Heliza sebahagia itu saat menatap sajian mewah di atas meja dinnernya, Yazid ikut senang, sebab Heliza kini bisa tersenyum.



Makan malam romantis itu benar-benar seru bagi Yazid, sebab tidak hentinya Heliza berguman betapa lezatnya hidangan di atas meja dinnernya ini. Dari mulai makanan pembuka sampai penutup tidak bersisa disapu bersih oleh Heliza. Yazid tersenyum bahagia melihat Heliza begitu menikmati dinnernya kali ini.



"*Sebahagia itu istriku. Tanpa jaim dan pura-pura malu dia menikmati hidangan ini dengan sangat lahap dan dinikmati*," batin Yazid.



Setelah dinner malam ini selesai, Yazid berdiri lalu menghampiri Heliza. Heliza nampak heran. Namun tidak berani protes.



"Ada hadiah kecil buat kamu." Sebuah gelang emas entah berapa gram akan disematkan di tangan Heliza oleh Yazid. Heliza seketika kaget dan tidak percaya apa yang dilakukan Yazid atas tangannya.



"Apa ini Kak, gelang emas?" Heliza nampak bahagia dan terharu. Sudah lama dia mengidamkan sebuah gelang, dan kini disematkan oleh Yazid ke tangannya, sebuah gelang emas yang motifnya rantai dengan pengaitnya berbentuk love. Tidak cukup di situ, Yazid juga mengeluarkan sebuah cincin emas dan disematkan di jari manis Heliza di sebelah cincin pernikahannya.



"Kak, ini tidak salah?" ujarnya sembari mencium gelang dan cincin di jarinya. Inilah barang berharga pertama selain mas kawin setelah pernikahannya sama Yazid.



Heliza senang sekali mendapat hadiah gelang dan cincin emas ini. Dia sangat berterimakasih karena Yazid memberikan yang dia ingin selama ini.



"Terimakasih Kak hadiah annyversarynya sangat bagus dan aku suka," ucapnya seraya menarik tangan Yazid dan diciumnya dengan mata yang berkaca-kaca.



Yazid juga sangat senang melihat Heliza realita dan bahagia apa adanya seperti ini. Semoga kebahagiaan Heliza ini merembet pada kebahagiaan yang lain.

__ADS_1


__ADS_2