Mengejar Cinta Mantan Kekasih

Mengejar Cinta Mantan Kekasih
Bab 22 Bertemu Mantan Di Pernikahan Kawan


__ADS_3

Pertengkaran itu menyisakan sikap dingin Heliza pada Yazid, walaupun demikian Heliza masih melayani keperluan sehari-hari Yazid. Namun tidak dengan nafkah batin. Sudah hampir seminggu Heliza selalu menolak diajak berhubungan, Yazid tahu Heliza masih kesal.



"Sayang, malam ini ada undangan pernikahan dari teman kantor, kita harus hadir. Ini bajunya sudah aku siapin. Nanti kita siap-siap ba'da Isya, ya," ujar Yazid memberitahu. Heliza hanya menoleh. Dia berdiri lalu keluar kamar. Sepertinya Heliza ingin menghindari Yazid. Yazid mendesah kecewa, lagi-lagi sikap Heliza bikin hatinya sesak.



Malam harinya setelah Isya, Yazid menghampiri Heliza yang baru saja menyelesaikan sholatnya. Heliza belum apa-apa, riasan saja masih polos.



"Sayang, ayo, kita siap-siap. Acaranya dimulai jam delapan," ujar Yazid lagi. Mukanya terlihat was-was saat melihat Heliza masih polos.



"Pakailah pakaian couple ini, aku tunggu di ruang tengah, ya," ucap Yazid lagi berharap Heliza memenuhi ucapannya. Heliza diam, dia hanya memandangi dress semata kaki berlengan panjang itu sekilas. Sedangkan Yazid segera keluar.



Setelah Yazid keluar, Heliza meraih dress yang berada di atas ranjang, sebuah senyum terbit. Warna kuning keemasan kesukaannya. Yazid sepertinya tahu apa yang disukainya. Sejenak Heliza melihat jam dinding, ternyata 55 menit lagi menuju jam delapan malam.



Heliza segera mengenakan dress itu, lalu duduk di depan cermin untuk memoles mukanya yang kini sudah bening, karena jerawat yang kemarin mampir sudah hilang. Heliza tidak perlu risau lagi masalah riasan, waktu yang mepet tidak menjadikan dia panik dan keteteran. Karena Heliza sudah pandai dalam bermake up.



Lima belas menit riasannya sudah jadi. Heliza berdiri di depan cermin mematut diri kiri, kanan, juga belakang. Rasanya tampilannya sudah membuat dia merasa puas. Pinggang yang ramping, semakin menggemaskan siapa saja yang melihat. Rambut yang terurai dengan ujungnya di curly, jadi kelihatan sedikit bergelombang. Sempurna sudah dandanan Heliza, cuma butuh waktu 30 menit semuanya selesai.



Heliza iseng memotret dirinya di depan cermin, lalu dia membuka WA dan mengirimkan hasil riasannya malam ini pada Ibunya.


"Bu, malam ini El mau ke kondangan temannya Kak Yazid, apakah dandanan Eliza sudah bagus, menor nggak, Bu?" Pesan WA terkirim dan langsung dibaca. Dan balasan WA dari Ibunya langsung datang.


"Ya ampun El, cantik banget. Dandanannya tidak menor tapi cukup membuat anak Ibu seperti seorang putri. Alangkah bahagianya Nak Yazid mempunyai istri yang pandai berdandan. Kalian hati-hati ya pergi ke kondangannya." Heliza tersenyum mendapat balasan takjub sang Ibu. Lantas Heliza masih mematut diri di cermin.

__ADS_1


Sedangkan Yazid yang sudah setengah jam menunggu di ruang tengah, perlahan menuju kamar, dia khawatir Heliza belum apa-apa. Saat Yazid membuka pintu secara perlahan, nampak Heliza tengah mematut diri di depan cermin dengan riasan dan dress yang sudah siap dia kenalan. Yazid tersenyum puas.



Yazid tidak segera masuk kamar, dia membiarkan sejenak Heliza memoto dirinya di depan cermin. Sepuluh menit kemudian Yazid baru masuk dan pura-pura bertanya apakah Heliza sudah siap atau belum?



"Sayang, sudah siap?" tanyanya menatap Heliza takjub. Heliza sedikit terkejut, lalu dia memamerkan dirinya di depan Yazid tanpa sepatah kata. Yazid mendekat, lalu meraih tangan Heliza.



"Sayang cantik banget," pujinya dengan tatapan kagum. "Kalau sudah siap, ayo, kita pergi," ajaknya sembari menuntun tangan Heliza setelah memperlengkap diri dengan tas dan sepatu yang maching dengan dress.



Mereka memasuki mobil dengan Yazid yang membukakan pintu mobil untuk Heliza. Yazid berharap sepulangnya nanti dari pesta kondangan temannya, ada perubahan yang lebih baik dari Heliza.



Tidak berapa lama, mobil sampai di halaman gedung di mana digelarnya acara pernikahan. Suasana mulai ramai dengan para tamu undangan yang berdatangan. Kebanyakan dari mereka adalah teman Yazid sehingga saat berpapasan mereka tidak lupa bertegur sapa dan saling memperkenalkan pasangan masing-masing.



"Iya, Mbak Nurul, ini istri saya," ucap Yazid.


"Wahhh beruntung banget, yang baru ternyata lebih kinclong," bisiknya, entah kenapa.


"Selamat, ya, semoga langgeng sampai jannah," ucapnya seraya menyalami Heliza yang disambut Heliza dengan ramah juga.



"Semoga kalian langgeng dan segera diberi momongan supaya Yazid tidak bersedih lagi," ujarnya sebelum berlalu.



"Terimakasih, Mbak," ucap Heliza tersenyum.

__ADS_1


"Awas Mbak, di sana ada mantannya juga datang di acara pernikahan kawan kita ini. Awasi jangan sampai suaminya meleng lagi," ucapnya memperingati sambil tersenyum.


"Apa-apaan sih Mbak Nurul ini, mana mungkin saya meleng ke perempuan lain apalagi ke mantan. Di pinggir saya sudah ada yang sempurna," tukas Yazid merasa tidak enak. Heliza yang mendengar perkataan teman Yazid yang sepertinya seorang KOWAD, mengarahkan tatapannya menunduk, Yazid menyadari dan langsung memegang tangan Heliza erat. Dia tidak akan melepaskannya, terlebih jika bertemu Nita mantan istrinya yang berkhianat dulu.



"Ayo, Sayang, kita salamin dulu pengantin!" ajak Yazid. Heliza tersenyum dan mengikuti Yazid serta gerak tubuhnya dibuat sangat mesra, terlebih saat mendengar dari temannya Yazid tadi bahwa di pesta pernikahan kawan Yazid ini ada mantan istri Yazid. Heliza akan memperlihatkan kemesraannya dengan Yazid, walaupun dia belum tahu yang mana mantan istrinya Yazid.



Setelah tamu undangan bersalaman dan berfoto sejenak dengan pengantin, tuan rumah mempersilahkan tamu undangan mencicipi hidangan yang ada yang di gelar secara prasmanan.



Yazid dan Heliza berdampingan menuju meja prasmanan. Yazid sigap mengambilkan nasi dan lauk secukupnya untuk Heliza. "Kerupuknya mau nggak, Sayang?" tanya Yazid mesra.



"Mau Kak, satu saja," jawab Heliza diiringi senyum yang manis, membuat Yazid semakin melambung di udara. Interaksi mereka tidak lepas dari perhatian salah satu wanita. Yang melihat cemburu kebersamaan Yazid dan Heliza.



Yazid dan Heliza membawa makanannya ke sebuah meja yang masih kosong. "Sayang di sini," seru Yazid sembari mengangkat kursi untuk Heliza duduk. Mereka makan bersebelahan dengan kawan-kawan Yazid yang lain yang sama-sama bawa pasangannya.



"Aku suapin ya," tawar Yazid. Heliza menggeleng, sebab dia malu jika gelagatnya dilihat orang lain. Di ujung meja sana, mantan Yazid bersama seorang lelaki tengah makan juga.



Yazid dan Heliza menyudahi makannya. Setelah mereka memasukkan amplop ke dalam kotak undangan, merekapun kembali menuju luar gedung untuk pulang. Namun tidak disangka Yazid akan berpapasan dengan Nita dan pasangannya. Yazid tidak menyapa, dia hanya sibuk tersenyum pada teman yang lainnya. Lagipula jauh di lubuk hatinya dia sudah tidak ingin mengenal Nita. Bukan tidak bisa move on, tapi memang dia sudah melupakan dan tidak ingin kenal lagi.



"Kawan-kawan, aku duluan ya," seru Yazid berpamitan pada teman-temannya.


"Hati-hati Zid, jangan sampai bini barunya diembat lagi sama yang lain," balas yang lain tidak sadar bahwa di situ ada Nita dan pasangannya.

__ADS_1


"Tidak akan aku biarkan, ya, sudah kami pulang ya," ujar Yazid sambil memburu mobilnya di parkiran. Dan mobilpun keluar dari halaman gedung lalu melaju dengan sedang di jalanan menuju pulang ke rumahnya. Yazid tersenyum bahagia dengan hari ini, sebab dia bahagia dengan sikap yang ditunjukkan Heliza pada orang-orang.


Jangan lupa votenta bagi yang masih punya.


__ADS_2