Mengejar Cinta Mantan Kekasih

Mengejar Cinta Mantan Kekasih
Bab 29 Kapan Hamil?


__ADS_3

Dinner malam ini atas perayaan satu tahun pernikahan mereka, rasanya sukses dan menyisakan bahagia di wajah Heliza. Yazid tidak tahu kebahagiaan Heliza yang sebenarnya adalah apa? Mendapatkan hadiah atau apa? Yang jelas bagi Yazid malam ini Heliza bahagia, itu sudah cukup. Yazid berharap kebahagiaan ini akan berlanjut pada kebahagiaan yang lainnya.



Akhirnya mobil Yazid keluar dari kafe bernuansa villa tersebut. Memasuki kota Bandung yang ternyata jika di malam hari semakin ramai dan padat. Sisi kiri dan kanan jalan berdiri warung tenda yang berdiri bak jamur di musim hujan.



"Sayang, apa mau jalan-jalan dulu di kota Bandung ini?" tanya Yazid melirik Heliza yang tanpa sengaja terlihat sedang fokus dengan gelang emas yang baru saja dia sematkan di tangannya tadi. Yazid terharu melihat istri yang baru genap satu tahun dia nikahi ini, begitu antusias dan bahagianya mendapatkan pemberiannya. Yazid memang baru kali ini bisa memberikan barang yang menurutnya mewah buat Heliza.



"*Aku minta maaf, Sayang, baru bisa berikan hadiah kecil ini buat kamu sekarang. Betapa aku bahagia melihat kamu sebahagia ini mendapatkan gelang itu*," batin Yazid terharu sekaligus merasa sedih sebab baru kali ini bisa memanjakan istrinya dengan barang yang sedikit berharga.



Heliza memang selama ini tidak pernah meminta ini itu. Mungkin gelang ini memang salah satu impiannya, jadi ketika mendapatkannya sikap yang ditunjukkan Heliza begitu antusias.



Tidak terasa mobil yang dijalankan Yazid tiba di depan pagar rumah. Yazid turun sebentar untuk membuka pagar rumah lebar-lebar, setelah itu masuk kembali ke dalam mobil dan memasukkan mobil ke dalam halaman rumah.



Sejenak Heliza diliriknya, rupanya Heliza tertidur. Yazid membiarkan Heliza sampai mobilnya benar-benar masuk ke dalam.



"Sayang, sudah sampai," ujar Yazid sembari menggoyang lembut bahu Heliza. Namun sepertinya Heliza tidak terganggu dengan goyangan lembut Yazid. Yazid mencoba dengan cara lain, yakni mengelus pipinya dengan lembut.



Akhirnya ada pergerakan dari tubuh Heliza, matanya kini mulai mengerjap.


"Sayang, bangun," ujarnya. Heliza menggeliatkan tubuhnya ke kiri dan kanan.


"Sudah di mana ini Kak?" tanyanya serak.


"Ini di depan rumah. Ayolah bangun. Apakah kamu mau aku gendong saja?" ujarnya seraya bersiap turun, kemudian menuju pintu yang diduduki Heliza.



"Ayo." Yazid meraih tangan Heliza dan bersiap akan menggendong Heliza.


"Aku jalan sendiri saja, Kak," tolaknya seraya menuruni mobil. Heliza menuruni mobil lalu segera memburu pintu rumah diikuti Yazid.


Yazid membuka pintu perlahan dan membukanya lebar-lebar. Seketika sebuah kejutan menyambut kedatangan mereka.


"Surprise ...." teriak orang-orang yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah Yazid. Semua orang ada di sana termasuk Bapak dan Ibunya Heliza. Heliza nampak bahagia terutama atas kehadiran Bapak dan Ibunya.

__ADS_1


Heliza langsung memburu pada Ibu dan Bapaknya dan merangkul mereka. Rasa terharu langsung menyeruak dalam dada.



Satu persatu keluarga mertuanya memberikan sebuah ucapan selamat dan kue ucapan annyversary. Di dalamnya ada sebuah tulisan, 'kapan memberi kami anggota keluarga baru?'. Sebuah pertanyaan yang menuntut Heliza harus segera memiliki keturunan.



"*Mereka kompak memintanya*," batin Heliza.



"Potong kuenya, potong kuenya." Teriakan dua keluarga itu saling bersahutan dan saling menyemangati. Heliza akhirnya mengikuti apa yang mereka teriakan dan mulai memotong kue.



Kue pertama untuk suapan pertama, dia berikan pada Yazid lalu kedua orang tuanya dan terakhir pada kedua mertuanya.



"Teh Eliza, kapan mau memberi kami ponakan yang lucu, aku kan sudah pengen punya ponakan?" celetuk Kiana sembari menghampiri Heliza dan memeluk tangan Heliza. Hubungan Heliza dengan kedua adik Yazid memang baik. Heliza tidak pernah memperlihatkan sikap ketus atau tidak suka pada keduanya, sebab bagi Heliza mereka tidak ikut campur dengan masa lalu antara Heliza dan Kakaknya. Beda dengan sikap yang ditunjukkan pada kedua orang tua Yazid yang kadang ketus dan kurang ramah.



"Iya, kapan dong El, kalian berikan kami cucu? Jujur, Ibu dan Bapak sudah sangat kesepian. Terlebih setelah kalian menikah, kami benar-benar sepi dan tidak ada hiburan," ungkap Bu Hira mendesak Heliza untuk segera memberikan cucu.




"Aamiin."



"Asikkkk, aku sebentar lagi bakal punya keponakan yang lucu," seru Kiana bahagia. Semua yang ada di situ menyambut kebahagiaan yang dirasakan Kiana sembari berharap Heliza segera hamil.


**


Malam semakin larut, setelah kepulangan keluarga Heliza maupun keluarga Yazid, kini rumah terasa sepi. Heliza kini berada di depan cermin, membersihkan mukanya dengan toner. Sementara Yazid masih berada di ruang tengah menerima telpon dari atasannya.



Setelah mukanya bersih, Heliza segera menaiki ranjang dengan gaun tidur yang selutut. Heliza nampak seksi malam ini meskipun malam-malam biasanya dia memang seperti itu.



"Trek," bunyi handle pintu terdengar, pertanda Yazid telah memasuki kamar. Melihat Heliza sudah berada di ranjang, Yazid segera mematikan lampu utama kemudian mengganti dengan lampu yang temaram. Yazid segera menyusul dan menaiki ranjang serta berselimut yang sama.


__ADS_1


Pelukan yang erat langsung ia labuhkan di perut Heliza kemudian diusap-usap perut yang rata itu. Heliza begerak-gerak gelisah.



"Kak, geli tahu," protesnya sembari berubah posisi tidur dan menghadap ke arah Yazid, lalu memeluk Yazid manja. Tumben Heliza manja seperti ini membuat Yazid senang.



"Sayang, jadi kapan mau merealisasikan keinginan keluarga kita? Semua sudah ingin anggota keluarga baru."¢



"Kapan saja Kakak mau," jawab Heliza membuat Yazid penasaran.


"Jadi maksudnya, kamu sudah siap hamil?" tanya Yazid meyakinkan. Heliza mengangguk sembari menelusupkan kepalanya di dada Yazid.



"Sekarang, gimana, Sayang?"


"Tapi dingin,Kak," jawab Heliza seperti ogah-ogahan dan semakin menelusupkan kepalanya di ketiak Yazid. Memang benar cuaca malam ini terasa lebih dingin dari biasanya.



"Nanti aku hangatkan, ya."



Malam semakin larut, kedua insan itu saling berpelukan memberi kehangatan setelah saling menautkan cinta dan kerinduan dalam satu ruang dan rasa. Deru nafas lelah keduanya berbaur, kemudian menjadi irama dalam dekapan malam yang semakin larut.



"*Ya Allah, berikan titipanmu dalam rahim istriku ini. Beri kami kebahagiaan dalam menyambutnya, aamiin*," doa Yazid dalam hati penuh harap.



Pagi menjelang, Heliza terbangun sedikit kesiangan. Mana belum mandi wajib sama sholat Subuh. "Ini gara-gara Kak Yazid. Kenapa juga tadi pas adzan tidak bangunkan aku sekalian," gerutunya kesal karena melihat waktu sudah menunjukkan pukul 5.30 pagi.



Heliza segera mandi lalu sholat Subuh yang hampir habis. Setelah menyudahi sholatnya, tiba-tiba wangi nasi goreng dengan taburan bawang goreng menguar di udara sampai ke kamar.



"Selamat pagi Sayang, maaf tadi tidak aku bangunkan sekalian, habisnya kamu kelihatan sangat lelah. Sebagai amunisi dipagi hari ini, aku sudah siapkan nasi goreng spesial," ujar Yazid penuh cinta.



Heliza menyambutnya dengan senyum bahagia, terlebih dirinya memang sangat lapar dan lemas akibat pertempuran semalam.

__ADS_1


__ADS_2