Mengejar Cinta Mantan Kekasih

Mengejar Cinta Mantan Kekasih
Bab 18 Menginap di Rumah Orang Tua Heliza


__ADS_3

"Kak nanti kita nginap di rumah Ibu dan Bapak ya, aku sudah kangen. Sudah sebulan aku tidak nengok mereka, mungpung hari ini aku pulang siang, Kakak juga libur." Heliza merengek meminta Yazid ke rumah orang tuanya, sudah sebulan mereka tidak menengok Ibu dan Bapaknya Heliza.



"Tapi, Sayang, Ibu sekarang sedang sakit. Dadanya kambuh lagi. Aku takut kenapa-kenapa jika kita pergi dan nginap di rumah orang tua kamu. Sabar, ya. Besok atau lusa jika Ibu sudah baikan kita pasti pergi ke sana dan nginap di sana," bujuk Yazid. Heliza tidak terima dia kesal dan mendilak, lalu beranjak dari ruang tamu meninggalkan Yazid.



Yazid ikut bangkit dan mengikuti Heliza ke kamar. Dilihatnya sang istri tengah berbaring menghadap tembok. Yazid naik ranjang dan ikut berbaring di sisi Heliza dan merangkulnya.



"Aku bukan tidak mau ke rumah Ibu dan Bapak, tapi aku mohon jangan hari ini. Ibu sedang sakit. Jika kita meninggalkan Ibu di saat sedang sakit, tidak enak. Sabar, ya, sayang," bujuk Yazid lagi seraya mencium rambut Heliza yang wangi. Heliza serentak menghindar dan menoleh tidak suka.



"Dulu saat meminta Kakak untuk menikah dengan perempuan lain dan menjodohkan, Ibu sedang sakit yang sama juga, kan? Dan Ibu bilang anggap saja itu permintaan yang terakhir. Sekarang Kakak tidak mau diajak ke rumah orang tuaku karena Ibu sedang sakit. Buktinya, Ibu sampai sekarang masih sehat dan panjang umur. Jadi, jangan jadikan sakit Ibu alasan sebagai sesuatu yang dianggap pertanda terakhir seperti yang pernah Ibu lakukan dulu sama Kakak," protes Heliza mengungkit masa lalu saat Yazid diminta menikah dengan gadis pilihan orang tuanya, yang pada saat itu Ibu Aryani sedang sakit dan meminta Yazid menerima perjodohan sebagai permintaan terakhirnya.



Yazid tersentak dengan ucapan Heliza yang mengungkit kembali masa lalu. Yazid tahu sakit hati Heliza masih belum sembuh, tapi jika diungkit terus maka luka itu akan terus menganga.



"Sayang, aku mohon jangan terus ungkit masa lalu, sebab ini akan membuat lukamu menganga dan tidak sembuh. Sekarang ada aku di sampingmu, percayalah aku akan selalu berusaha menebus kesalahanku," sergah Yazid meredam emosi Heliza.



"Omong kosong," balas Heliza seraya berjingkat meninggalkan Yazid.



Yazid geleng-geleng kepala, namun tak pelak dia berdiri dan melihat Heliza menuju halaman belakang. Dia tahu apa yang Heliza lakukan di sana, merenung dan menangis menumpahkan kesedihan dan ketidakpuasannya.



Yazid menghembuskan nafasnya kasar, dia bukan tidak ingin membuat hati Heliza senang, akan tetapi ingin membuat Heliza paham dan bersabar sedikit. Akan tetapi Heliza bukan paham dan bersabar, dia malah menumpahkan segala amarahnya dengan menangis.



Yazid sebenarnya paham sikap Heliza seperti itu adalah bentuk protesnya karena luka masa lalu, dan Yazid sangat paham akan hal itu.


"Luka masa lalu yang ditorehkan kami terlanjur bersarang di dadamu, sehingga kamu belum bisa melupakannya. Tapi aku janji suatu saat aku akan membuatmu lupa akan luka itu," tekad Yazid sungguh-sungguh.

__ADS_1


Yazid menghampiri Heliza ke taman belakang, di sana sang istri yang baru genap satu bulan dia nikahi terlihat masih menangis.



"Sayang, sudah ya, nangisnya. Sekarang kita jadi ke rumah Ibu dan nginap di sana. Aku minta maaf atas sikapku tadi," ucap Yazid sambil meraih tangan Heliza dan menariknya. Biarlah untuk kali ini dia masih mengalah demi meraih hati Heliza.



Akhirnya Yazid membawa Heliza ke rumah orang tuanya. Terlebih Heliza memang sudah sebulan belum menengok kedua orang tuanya.



Di rumah kedua orang tuanya sikap Heliza sangat ceria dan bahagia. Kedua orang tua Heliza juga memperlakukan Yazid bak anak kandung. Mereka memperlihatkan rasa sayang yang tulus pada Yazid menantunya.



"Ayo, Nak. Ajak suamimu makan. Ada makanan kesukaan kalian, semur jengkol dan sayur lodeh serta sambal ikan teri sudah menunggu di meja makan," ucap Bu Hira memberi tahu Heliza supaya segera membawa Yazid makan ke meja makan.



Heliza segera berdiri dan mengajak Yazid menuju meja makan. Sepertinya apa yang dikatakan Bu Hira benar, di meja makan sudah tersaji berbagai makanan favorit Yazid.



Dan saat di rumah orang tua Heliza, sikap Heliza sungguh ceria dan bahagia serta melayani Yazid dengan suka cita. Berbeda saat di rumahnya, Heliza selalu murung dan tidak bersemangat. Mungkin Heliza harus sering-sering dibawa ke rumah orang tuanya biar selalu bahagia.




"*Rumah Ibu dan Bapak, Kak Yazid, dekat tinggal jalan kaki, kenapa kita harus nginap*?" alasannya tempo hari jika diajak nginap di rumah kedua orang tuanya. Benar juga sih apa kata Heliza, rumahnya dengan rumah kedua orang tuanya dekat hanya terhalang beberapa meter saja.



"El, kapan kalian akan memberi kami cucu? Jangan ditunda, kami sudah ingin menimang cucu. Apalagi kami di sini cuma berdua sejak kalian menikah," ujar Bu Hira mempertanyakan kehamilan Heliza.



"Nanti, Bu. El belum siap untuk saat ini. Terlebih kita berdua masih baru dan masih ingin menikmati masa pacaran dulu," kilah Heliza sembari tersenyum.



"Ibu doakan kamu cepat isi, biar kami segera menimang cucu," harapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iya, Bu. Doakan saja supaya kami bisa segera dikasih momongan. Saya juga sudah ingin memiliki anak supaya hidup kami lengkap," sambung Yazid berharap.


Setelah beberapa jam menghabiskan waktu bercengkrama dengan orang tua Heliza, Yazid dan Heliza beranjak ke kamar untuk istirahat. Waktu pun sudah menunjukkan jam sembilan malam.



Mereka berdua memasuki kamar yang dulu ditempati Heliza. Suasananya masih sama seperti sebelum Heliza dibawa pindah oleh Yazid.


Yazid tiba-tiba memeluk Heliza dari belakang, mencumbu dan bergelayut manja di leher Heliza. Heliza kegelian dan menepis-nepis tangan kekar suaminya. Tidak menunggu lama Yazid mengangkat tubuh Heliza dan membawanya ke atas kasur.


Mereka tersenyum bersama karena merasakan rasa yang sama, yaitu menginginkan berlayar di dalam surga dunia.



"Sayang, benar kata Ibu, kamu jangan menunda untuk punya momongan, kita bikin saja sekarang ya," ujar Yazid sembari mengusap perut rata Heliza yang sesekali diremasnya.



"Aku belum siap untuk hamil sekarang Kak, kita nikmati saja hubungan kita ini berdua dulu sebelum nanti kita merencanakan punya anak," ujar Heliza menolak halus.



"Aku sudah tidak sabar menimang lagi seorang anak, inginnya setelah kehilangan kemarin diganti lagi dengan cepat oleh Allah, supaya kesepian dan kesedihan kehilangan Ghani bisa terobati," keluh Yazid tidak sadar bahwa ucapannya sedikit menyentuh hati Heliza.



"Kalau begitu, kehadiranku tidak berarti apa-apa di mata kamu, Kak," ujar Heliza seraya menepis lengan Yazid dan membelakanginya. Yazid tersentak menyadari Heliza merajuk dan membelakanginya.



"Sayang, bukan begitu maksudku. Aku bahagia, sangat bahagia memiliki kamu. Jangan disalah artikan perkataan aku tadi," ujar Yazid seraya memeluk Heliza dan menggodanya.



Walau Heliza berusaha menepis, namun Yazid terus menggodanya. Sebab jika Yazid mendiamkan Heliza, alamat dirinya malam ini hanya puas memeluk guling. Yazid tidak menyerah dan akhirnya dia berhasil menguasai Heliza yang lama-lama menyerah dengan godaan Yazid.



"Kak, jangan berisik. Ingat di sini rumah Bapak dan Ibu," peringat Heliza khawatir suara Yazid terdengar keluar.



"Kamu yang jangan berisik, Sayang. Suaramu itu lebih keras dari aku," ujar Yazid balik mengingatkan Heliza dengan cara membungkam bibir Heliza dengan ciuman yang bergelora.

__ADS_1



Dan malam itu menjadi malam yang panas antara keduanya. Malam yang membuat keduanya hanyut dalam suasana romatis dan indah.


__ADS_2