
Dua hari berlalu setelah kedatangan kedua mertuanya ke rumah, Heliza sangat gelisah menanti kedatangan Yazid yang entah kapan. Sementara HPnya yang dulu selalu krang kring menghubunginya, kini sepi. Yazid tidak pernah lagi menghubunginya. Entahlah, mungkin di tempat dia bertugas sinyal HP sedang buruk sehingga tidak bisa menghubungi Heliza.
Sementara itu di tempat lain. Yazid nampak bahagia, karena hari ini tugas dia selesai dan akan kembali ke kesatuannya. Kebahagiaannya bukan tanpa alasan, sebab setelah ini dia akan segera menjemput Heliza di rumah mertuanya. Yazid berharap, kali ini Heliza mau dibawanya pulang dan merajut kembali rumah tangga yang sempat renggang gara-gara keegoisan masing-masing.
Tiba di rumah, Yazid segera membersihkan diri. Lalu ke rumah orang tuanya sejenak, karena saat tadi dia tiba di rumah, rumah orang tuanya nampak sepi seperti tidak ada penghuni.
"Assalamualaikum!" salamnya lantang. Tidak berapa lama ucapan salamnya langsung dijawab. Yazid pikir tidak ada orang.
"Waalaikumsalam. Kak Yazid, kirain siapa? Kakak sudah pulang, ya? Wahhhh mana dong oleh-olehnya buat Kiana?" sambut adik perempuannya antusias. Selain menyambut Kakaknya, dia juga tidak lupa menanyakan oleh-oleh.
"Kakak tidak bawa oleh-oleh Ki, Kakak kerja bukan jalan-jalan," kilah Yazid sembari masuk ke dalam rumah orang tuanya.
"Bapak dan Ibu mana, Ki? Kok sepi?"
"Bapak ngantar Ibu belanja ke pasar," jawabnya sembari mengikuti Kakaknya ke dalam.
"Waktu itu, Bapak dan Ibu pergi ke rumah mertua Kakak, tidak?" selidik Yazid penasaran.
"Pergi.Tapi, Teh Heliza belum mau diajak pulang. Sepertinya dia maunya Kakak yang jemput langsung. Memangnya antara kalian ada apa sih Kak, nikah baru saja sepuluh bulan sudah Kakak buat minggat? Harusnya kalian itu sibuk memberikan kami anggota keluarga baru, bukan sibuk saling marahan," ucap Kiana diakhiri protes.
"Kamu tahu apa masalah rumah tangga Kakak? Rumah tangga itu wajar-wajar saja ada masalah, sebab masalah itu biasanya untuk menguji sampai di mana kita sanggup bertahan dan mempertahankan."
"Kak Yazid ini hanya teori, prakteknya malah keok duluan, harusnya istri merajuk itu dibujuk sampai luluh, ini malah dibiarin," olok Kiana sambil beranjak meninggalkan Yazid yang terbengong sendiri di ruang tengah.
Sore menjelang, Yazid melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 15.45 menit. Rencananya dia hari ini akan ke rumah mertuanya menjemput Heliza istrinya. Yazid menunggu waktu tepat ke angka empat sore, sebab jam segitu Heliza baru bubaran kerja. Namun tidak diduga sebelumnya, tiba-tiba hujan turun sangat lebat. Yazid terkejut, sebab tadi cuaca kalau tidak salah sangat cerah.
"Wahhh, pasti Heliza kehujanan kalau pulang naik motor, sebaiknya aku jemput biar sekalian memberinya surprise," bisiknya menyusun rencana.
Yazid memutuskan menjemput Heliza langsung ke tempat kerjanya dengan menggunakan mobil. Biasanya jam segini dia baru bubaran, dan jika turun hujan, Heliza pasti menunggu hujan reda di emperan swalayan.
__ADS_1
Mobil Yazid keluar dari gerbang, dan menyusuri jalanan yang kini diguyur hujan yang lumayan deras. Tepat di belokan simpang empat, dia sengaja berhenti sejenak untuk membeli dua kuntum bunga mawar dan sebatang coklat favorit Heliza. Dulu semasa pacaran Heliza sangat menyukai coklat itu. Dan biasanya Yazid memberikannya bersama dua kuntum mawar putih yang wangi.
Mobil Yazid kembali melaju membelah hujan menuju swalayan tempat Heliza bekerja. Tiba di parkiran swalayan, Yazid segera memarkirkan mobilnya lalu dengan cepat dia menuju emper swalayan yang dulu sempat ditempati Heliza berteduh saat menunggu hujan reda.
Saat mendekati emper swalayan, Yazid sudah mendapati Heliza. Akan tetapi Heliza tidak sendiri, dia bersama salah seorang temannya yang sesama Supervisor di swalayan itu. Heliza dan pria sepantarannya tengah asik makan es krim sambil berdiri. Diiringi canda tawa seakan tidak ada beban yang dirasakan Heliza.
"Sayang, ayo, pulang!" ajak Yazid seraya meraih lengan Heliza. Heliza sejenak terkejut dan kaget, refleks tangan Yazid dia tepis dengan keras sebelum benar-benar melihat siapa yang meraih lengannya. Sontak Yazid tersentak dan hampir saja tubuhnya terpental, beruntung kedua kakinya bertumpu begitu kuat. Tubuh Yazid hanya bergoyang saja tidak sampai jatuh.
Setelah kekagetannya hilang, Heliza baru sadar dan melihat dengan teliti siapa yang kini ada di hadapannya. "Kak Yazid!" serunya kaget. Antara senang dan kaget menyatu di sana.
"Benarkah ini Kak Yazid?" Heliza mencoba meyakinkan, benarkah yang kini di hadapannya adalah Yazid, suaminya.
"Siapa, El?" Teman Heliza yang tadi di sampingnya yang merasa dicuekkan menegur Heliza heran.
"Suami? Kamu sudah menikah? Aku pikir belum?" ujarnya kaget dan tidak percaya kalau Heliza sudah menikah.
"Iya, aku sudah menikah. Kamu belum di sini saat aku nikah sepuluh bulan yang lalu," ujar Heliza sembari tubuhnya beralih ke arah Yazid.
"Sayang, kamu masih mau di sini ngobrol dengan teman kamu, atau pulang sekarang sama aku?" tanya Yazid sembari menatap Heliza.
"Itu tergantung Kakak," balas Heliza cuek. Tanpa ba bi bu lagi, Yazid langsung meraih tangan Heliza dan memayunginya dengan payung yang sudah siap, lalu menariknya menuju parkiran tanpa memberi kesempatan Heliza berpamitan pada temannya tadi.
"Kakak jemput aku pakai apa?" tanya Heliza heran masih mengekori Yazid di belakang.
"Aku bawa mobil karena tahu hari hujan," jawabnya tepat di depan mobilnya.
__ADS_1
"Ayo, masuk Tuan Putri yang pemarah," titahnya diselingi canda. Heliza cemberut dikatain begitu, dia tidak suka.
"Kak, tapi motornya bagaimana?" Heliza menahan tubuhnya karena ingat motor dia yang sedang di parkir.
"Biarkan saja, nanti ada orang bengkel yang akan ambil ke rumah," tukas Yazid menenangkan kekhawatiran Heliza. "Masuklah!"
Saat sudah memasuki mobil dan duduk yang rapi serta sabuk pengaman sudah terpasang dengan baik, Yazid perlahan mengambil bunga mawar dan coklat yang disimpan di jok belakang.
"Surprise," serunya seraya menyodorkan dua kuntum bunga mawar yang tengahnya diselipi coklat kesukaan Heliza. Heliza hanya mengkerutkan keningnya heran, dia merasa tidak terkejut.
"Kejutan apa ini Kak?" tanyanya seolah tidak ada apa-apanya pemberian Yazid ini.
"Dulu saat kita masih pacaran, aku selalu memberi kamu kejutan sederhana ini dan kamu selalu bahagia mendapatkannya," ungkapnya sedikit kecewa.
"Kenapa Kakak masih ingat dulu sedangkan kita hidup dimasa sekarang? Apakah Kakak tidak berpikir bahwa Heliza yang sekarang berbeda dengan yang dulu? Coklat dan bunga hanya masa lalu dan jangan pernah diulang lagi, toh PERJAKA Kakak bukan diberikan sama aku. Aku hanya bekas orang, sedangkan aku untuk Kakak bukan bekas orang." Nyessss seketika kalimat demi kalimat yang dilontarkan Heliza begitu menusuk ulu hatinya.
Yazid menyadari, Heliza yang dulu bukan Heliza yang sekarang. Tapi Heliza masih seperti yang dulu, dia mampu menjaga kehormatannya sehingga bisa direnggut oleh Yazid secara sah. Jadi hanya dua kuntum mawar dan coklat itu tidak ada gunanya sama sekali bagi Heliza, dibanding apa yang telah Heliza berikan pada Yazid.
"Mas, Mas, sini dulu!" teriak Heliza pada salah satu pengunjung yang baru keluar dari mobilnya.
"Saya punya dua kuntum mawar dan coklat, kalau Mas mau ini bisa dikasih buat saudaranya. Siapa tahu ada yang suka," ujar Heliza sembari memberikan mawar dan coklat itu pada pengunjung swalayan.
"Wahhh, ini mah kalau dikasih ke pacar sayapun ditolak Mbak. Soalnya pacar saya maunya barang berharga seperti emas atau tas, lebih baik saya makan saja deh, terimakasih ya Mbak," ujar pengunjung itu dibalas senyuman Heliza.
"Terserah Mas saja, mau dimakan juga tidak apa-apa," pungkasnya seraya menutup jendela mobil. Yazid mengusap dadanya melihat gelagat Heliza yang membuat hatinya sedikit tersinggung. Namun Yazid harus bertahan demi meraih hati Heliza kembali. Sebab Yazid tidak tahu sedalam apa dulu Heliza pernah tersakiti oleh sikap keluarganya? Dibanding dengan rasa tersinggung di hatinya oleh sikap Heliza.
__ADS_1