
"Ada apa datang kemari?" Heliza bertanya dengan mimik tegas, tubuhnya masih berdiri menatap ke arah Yazid dengan malas. Yazid membalas dengan senyuman terbaiknya. Senyuman yang mampu menghanyutkan sendi-sendi tubuh Heliza. Namun itu dulu, kini Heliza tidak pernah berharap senyuman itu menghanyutkan lagi sendi-sendi tubuhnya. Baginya Yazid sudah bukan siapa-siapanya lagi sejak dia menikah.
"Aku mangantarkan motormu yang tadi dititip di bengkel. Sekarang kondisinya sudah baik," jawab Yazid santai.
"Ya sudah, cuma mau ngantar motor saja, kan? Jadi, semuanya berapa biaya bengkelnya?" tanya Heliza masih berdiri dengan muka tegas.
"Ehhh, kok tamunya tidak diambilkan minum? Ayo, El, ambilkan minum dulu untuk tamunya. Masa dibiarkan nganggur begini?" Pak Hanafi tiba-tiba menghampiri padahal sebetulnya Heliza sudah ingin mengusir Yazid.
"Ayo, Nak, kenapa masih berdiri di sana? Tidak baik lho, tamunya sudah datang dan berbaik hati mengantarkan motornya, masa tidak disuguhi air minum," desak Pak Hanafi membuat Heliza terpaksa beranjak ke dapur dan membuatkan Yazid dan Bapaknya minuman.
Samar-samar terdengar obrolan dari ruang tamu begitu akrabnya. Saat Heliza berjalan dari dapur menuju ruang tamu sambil menenteng baki berisikan dua buah gelas minuman, obrolan seru itu masih terdengar berlanjut. Kadang diselingi gelak tawa. Entah apa yang mereka obrolkan.
Heliza meletakkan baki di atas meja sembari menyodorkan gelas berisi minuman itu di hadapan Yazid dan Pak Hanafi.
"Silahkan di minum, Nak Yazid. Maaf hanya air doang," ujar Pak Hanafi mempersilahkan minum pada Yazid dengan ramah. Yazid merasa tersanjung diberi sikap sehangat itu oleh Bapaknya Heliza.
"Terimakasih, Pak. Ini sudah cukup kok. Terlebih jika minuman ini adalah buatan anak Bapak, bisa jadi ini minuman yang sangat spesial," balas Yazid membuat Heliza muak mendengarnya. Heliza tidak suka Yazid cari muka di hadapan Bapaknya. Dengan kesal dia meninggalkan Yazid ditemani Bapaknya, toh ngobrol pun mereka sepertinya nyambung.
Yazid melihat Heliza pergi denga muka yang kesal. Hati Yazid bersorak, dia sebetulnya sengaja ingin membuat Heliza sampai terngiang-ngiang ucapannya tadi jika Yazid sudah kembali nanti.
Yazid nampak menyeruput teh yang disuguhkan Heliza untuk dirinya. Rasanya tawar seperti apa yang disukainya selama ini, sebab dia tidak pernah terlalu suka minum teh manis, alasannya suka tidak enak di mulut setelah beberapa saat meminumnya.
"Kenapa Heliza tahu banget kesukaanku, teh hangat tawar yang sangat menyegarkan tenggoroakan. Sungguh nikmat sekali," puji Yazid memuji teh suguhan Heliza untuknya yang sesuai harapannya.
__ADS_1
Sementara Heliza yang kini sudah ditemani Ibunya di ruang tengah, nampak tersenyum puas dengan hasil pekerjaannya. Dia sengaja tadi tidak membubuhkan gula ke dalam gelas milik Yazid. Heliza ingin Yazid merasakan betapa hati Heliza tawar saat dulu ditinggalkan menikah. Namun sangkaan Heliza salah, rupanya Yazid sangat menikmati teh tawar hangat buatan dirinya.
"Nak Yazid ini sebenarnya sudah berkeluarga atau masih lajang?" Di sela-sela obrolannya tiba-tiba terselip pertanyaan seperti itu dari Pak Hanafi. Heliza langsung memasang telinganya untuk mendengarkan penjelasan lelaki yang kini berada hadap-hadapan dengan Bapaknya.
Heliza ingin tahu apa yang akan dikatakan lelaki itu tentang statusnya kepada Bapaknya. Dan lagi, siapa yang mau anaknya disosori laki-laki beristri dan sudah punya anak pula?
Yazid menarik nafasnya dalam sebelum memulai berbicara. Sebetulnya dia berat jika kini harus menceritakan statusnya yang sebenarnya. Dengan begitu, otomatis kronologis penyebab status barunya tersemat akan terungkap kembali. Terbayang rasa sakit hatinya kehilangan anak dengan cara tragis akan terkenang kembali.
Itu alasan yang membuat dia ragu, jika setiap orang mempertanyakan statusnya kini, bukan dia tidak mau jujur, akan tetapi kepahitan di balik status barunya akan terungkit kembali dan ini sangat menyakitkan baginya.
"Saya kembali lajang setelah beberapa hari yang lalu kehilangan sosok anak yang mengalami kecelakaan tragis karena kelalaian ibunya," ungkap Yazid terdengar sendu. Heliza terbelalak tidak percaya, sebenarnya saat ini ingin rasanya dia berlari ke ruang tamu dan melihat reaksi muka Yazid dan bertanya '*benarkah, ah pasti kamu* *sedang mengarang cerita*'.
"Saya kehilangan anak dan istri sekaligus di hari yang sama. Anak saya meninggalkan saya ke alam baqa untuk selamanya, sedangkan .... " Yazid tidak sanggup melanjutkan ceritanya lebih dalam, sebab bagian ini dia tidak akan sanggup menceritakannya. Biarlah aib mantan istrinya terkubur dalam-dalam.
Pak Hanafi manggut-manggut mencoba memahami ceritanya Yazid.
__ADS_1
"Itu artinya Nak Yazid sudah benar-benar sendiri lagi?" selidik Pak Hanafi meyakinkan? Yazid mengangguk pasti, raut wajahnya diliputi kejujuran yang sendu.
"Saya bertanya seperti tadi, tidak lain hanya ingin melindungi anak saya dari fitnah. Jika Nak Yazid statusnya masih memiliki pasangan dan terlihat jalan dengan anak saya, itu sudah tidak baik. Mulut orang sangat pedas dan berbahaya," ucap Pak Hanafi menjelaskan alasan kenapa dia bertanya tentang status Yazid tadi.
Heliza manarik nafasnya dalam, sejenak dia seakan terbuai dalam cerita Yazid yang kehilangan anaknya dengan cara tragis. "*Jadi, yang bertemu di RSAD waktu itu, adalah sedang menjenguk anaknya yang mengalami kecelakaan*?"
Tidak berapa lama setelah Pak Hanafi ngobrol-ngobrol dengan waktu yang lumayan lama bersama Yazid, akhirnya Yazid memutuskan untuk kembali karena waktu sudah mulai beranjak malam.
Heliza yang dipaksa Ibunya untuk menghampiri, dengan terpaksa menemui Yazid dan terpaksa melepas kepulangan Yazid yang kini sudah siap motornya di depan rumah. Bisa jadi tadi kawannya mengantar motor Yazid sampai depan rumah orang tua Heliza.
"Bu, Pak, saya pamit dulu, ya. Lain kali jika diijinkan saya Insya Allah berkunjung kembali," ucap Yazid percaya diri seraya melihat ke arah Heliza yang mendelik kesal dengan ucapan Yazid.
"Baiklah, Nak Yazid. Boleh saja main-main ke sini. Sering-sering juga boleh jika Nak Yazid mau." Yazid bersorak gembira mendengar Pak Hanafi menyambut gembira tentang keinginanannya jika suatu hari main lagi ke rumah orang tua Heliza.
"Wahhhh, terimakasih banyak Pak. Nanti saya akan sering datang main kemari. Kalau begitu saya pamit dulu. Terimakasih atas sambutan keluarga Bapak. Saya pamit ya, assalamualaikum," ujar Yazid berpamitan tidak lupa mengucapkan salam.
Terakhir Yazid menatap Heliza dan berpamitan juga pada gadis cantik itu. Inginnya berbicara lagi agak lebih lama, namun melihat sikap Heliza yang sepertinya risih dan enggan, Yazid pun paham dan mengalah. Dan kini Yazid benar-benar pulang dengam motornya membawa tubuhnya menjauh dari halaman rumah Pak Hanafi.
__ADS_1
Kepergian Yazid sejenak diantar dengan tatapan sendu. Ada setitik rasa iba, kasihan dan tentunya rasa yang dulu pernah ada, kini tiba-tiba menyelinap hadir. Tapi hanya sedikit.