
Hujan lebat di sore itu belum reda, semua orang termasuk Yazid dan Heliza masih berdiri di emperan swalayan, menunggu hujan reda.
Heliza masih menyeruput kopinya, tatapan matanya tajam ke depan, namun entah apa yang dia lihat. Hanya samar. Tentang kisah masa lalu yang baginya sangat menyakitkan, kini muncul kembali menari-nari. Saat dirinya menerima penolakan dari keluarga Yazid enam tahun yang lalu.
Demi bakti pada ibunya yang saat itu sedang sakit, Yazid akhirnya menerima perjodohan dengan seseorang yang lebih tinggi tingkatan derajatnya dibanding dirinya. Kala itu, Heliza hanya seorang karyawan magang di sebuah perusahaan kecil yang gajinya tidak seberapa. Hal ini dipandang sebelah mata oleh orang tuanya Yazid. Sehingga pada akhirnya Yazid terpaksa menerima perjodohan dengan gadis pilihan orang tuanya yang sama seprofesi dengan Yazid yakni Tentara.
"Aku minta maaf, Hel. Demi Tuhan ini demi baktiku pada Ibu yang saat ini sedang sakit," alasan Yazid kala itu. Heliza pergi dengan deraian air mata, tak terkira sakitnya hati Heliza saat itu.
**
Gadis yang masih selalu di hatinya ini, masih asyik dengan satu cup kopi late dalam genggamannya. Sesekali dengan muka yang datar ia seruput sembari tatapan matanya samar ke depan.
Yazid melihat heran dengan Heliza, sejak kapan gadis cantik di sampingnya ini suka kopi? Hati Yazid bertanya-tanya. Minumnya sambil berdiri dengan cueknya. Jauh beda dengan Heliza yang dulu dia kenal.
"Tidak baik lho minum sambil berdiri. Masih ada banyak meja kosong untuk kita duduk, lebih baik kita duduk di sana, sekalian kita pesan makan. Kamu pasti lapar kan?" ujar Yazid menegur Heliza dengan halus. Heliza mengkerutkan kening tanda tidak suka. Dia mengibas tangannya tanda menolak ajakan Yazid.
"Jangan pegang-pegang, aku bukan muhrim kamu," cegah Heliza sambil menepis tangan Yazid.
"Maaf," ujar Yazid sembari mengangkat kedua tangannya. Heliza memejamkan matanya kesal. Dengan segera dia beranjak dan berlari menuju parkiran motor. Sepertinya Heliza tidak mau berlama-lama berada di dekat Yazid, buktinya hujan lebat saja dia terjang.
"Heliza!" panggil Yazid seraya mengejar Heliza yang kini bermandikan hujan. Heliza tidak menghiraukan Yazid yang mengejarnya, dia terus merangsek hujan dan keluar dari parkiran Swalayan Delima. Yazid tidak tinggal diam, dia menuju mobilnya dan mengejar motor Heliza yang kini melaju membelah hujan.
"Hel, sebegitu marahnya kamu sama aku. Aku ingin minta maaf sama kamu atas salahku dahulu. Demi menghindari aku, kamu rela menerobos hujan yang lebat," ujar Yazid dibalik kemudi.
__ADS_1
Yazid masih belum menyerah mengikuti motor Heliza, namun saat di belokan menuju arah rumah Heliza, tiba-tiba motor Heliza terjatuh. Sepertinya motor Heliza terjerembab pada jalan yang berlubang. Yazid segera menghentikan mobilnya lalu turun dan berusaha menolong Heliza.
Heliza tidak bisa bergerak, rupanya motornya menimpa kaki kirinya sehingga tubuh Heliza terkapar dengan tangan kanan menahan badan motor. Yazid segera mengangkat motor Heliza. Saat Yazid berusaha mengangkat motor Heliza, beberapa orang penghuni ruko menghampiri dan ikut membantu.
Motor Heliza berhasil di angkat, kini giliran Heliza yang Yazid angkat.
"Pak, saya minta tolong, bawa motor gadis ini ke bengkel Bapak. Perbaiki jika ada yang rusak. Nanti saat hujan reda saya ambil motornya berserta ongkosnya," ucap Yazid pada salah satu penolong yang kebetulan pemilik bengkel di pinggir jalan tersebut.
"Tidak perlu, aku mau pulang saja. Lagipula kakiku tidak kenapa-kenapa," sergah Heliza ketus. Dia memang tidak mau sebenarnya dapat bantuan dari Yazid, laki-laki yang kini berusaha dihindarinya. Tanpa mempedulikan Heliza, Yazid melakukan tugasnya menolong Heliza yang sepertinya kakinya terkilir.
"Pak ini KTP saya, nanti saya datang lagi ke bengkel bapak ya," ujar Yazid sembari memapah tubuh Heliza masuk ke dalam mobil. Heliza yang masih kesal mau tidak mau pasrah saat tubuhnya dipapah Yazid. Heliza terduduk basah kuyup di dalam mobil Yazid sambil sesekali merasakan perihnya kaki yang sakit. Sepertinya dia terkilir.
Basah dari tubuh Heliza maupun Yazid membasahi jok mobil. Tapi Yazid tidak peduli, yang dia pedulikan adalah keselamatan Heliza. Yazid segera turun dan membuka pintu mobil lebar-lebar. Heliza heran apa yang mau Yazid lakukan?
"Sayang, kamu duduknya menyamping ya, lalu kakinya kamu selonjorkan dan luruskan." Yazid memberi intruksi untuk mengarahkan Heliza supaya kakinya selonjor di atsa jok mobil. Heliza nampak ragu, dia hanya mampu meringis menahan rasa sakit di kakinya.
"Buat apa? Kamu mau cari kesempatan dalam kesempitan, kan?" dengus Heliza kesal sembari waspada, dia tidak mau kulitnya disentuh oleh orang yang saat ini dia benci.
__ADS_1
"Aku mohon, Hel, ikuti aku. Aku hanya ingin menolong kamu, ini demi kebaikan kamu," mohon Yazid sembari menatap Heliza yang masih meringis. Heliza tidak menjawab, sesekali dia menarik nafasnya dalam untuk menghadapi Yazid yang masih sangat dia benci. Namun dengan terpaksa karena desakan Yazid dan kakinya yang memang sakit, Heliza mengikuti arahan Yazid menyelonjorkan kakinya di atas jok. Dan Heliza berhasil menyelonjorkan kakinya seperti apa yang Yazid mau.
Yazid melihat Heliza sudah pasrah dengan kakinya, namun raut muka ragu itu kentara. Yazid akan berusaha membuat Heliza percaya padanya bahwa apa yang dilakukannya adalah murni menolong.
"Sayang, aku minta ijin untuk meraba kaki kamu dan menyasar kaki kamu yang terkilir," pinta Yazid memohon. Sekilas Heliza nampak tidak suka dengan ucapan sayang dari Yazid, dia mendilakkan matanya marah.
"Aku mohon jangan katakan sayang lagi, kalau kamu mau bantu, bantu saja. Tidak perlu basa-basi," ujarnya protes dengan raut kesal.
"Ok, aku minta maaf," sesal Yazid dengan raut wajah kecewa.
Dengan perlahan Yazid mencoba meraba kaki Heliza yang terkilir, dia urut dan menyasar perlahan kaki Heliza yang terkilir sehingga sesekali Heliza mengeluarkan jeritan. Rupanya Yazid punya sedikit ilmu tentang menyasar urat, sehingga saat ini ilmunya7 bisa diterapkan untuk menolong Heliza.
Lima belas menit kemudian kaki Heliza sepertinya sudah lumayan mendingan, meskipun untuk dipakai jalan masih terasa sakit. Karena efek terkilir masih ada.
"Bagaimana, apakah kaki kamu sudah agak mendingan?" Yazid menatap wajah Heliza yang cantik namun menahan raut sakit.
"Lumayan mendingan. Sepertinya sekarang sudah agak ringan dibanding tadi," jawab Heliza sembari kembali duduk dengan benar di jok mobil dengan pandangan ke depan. Raut wajah datarnya masih jelas terlihat.
"Terimakasih, tapi, ini bagaimana jok mobilnya basah?" Heliza merasa tidak enak dengan keadaan jok mobil Yazid yang kini basah.
"Sudah, tidak apa-apa. Nanti bisa dikeringkan dengan airgun." Heliza menundukkan kepalanya menyimpan rasa malu. Bagaimanapun juga dia kini telah berhutang budi sama Yazid
__ADS_1