Mengejar Cinta Mantan Kekasih

Mengejar Cinta Mantan Kekasih
Bab 21 Pertengkaran Pertama Setelah Pernikahan


__ADS_3

"Kami pamit, ya, assalamualaikum!" ucap Yazid berpamitan pada orang tuanya juga adik-adiknya. Tidak lupa mencium tangan medua orang tuanya. Hal ini dilakukan juga oleh Heliza, mencium tangan kedua mertuanya. Sekilas memang tidak terjadi pergolakan batin di dalam hati Heliza. Dia tetap memperlihatkan sikap hormat pada kedua mertuanya.



Yazid dan Heliza berjalan beriringan menuju rumahnya yang hanya terbentang jaran beberapa meter dari rumah mertuanya. Heliza masuk lebih dulu, semetara Yazid menutup dulu gerbang rumah.



Heliza langsung bergegas menuju kamar dan kamar mandi, karena dia belum menjalankan sholat Isya. Sedangkan Yazid sudah sholat Isya di Mesjid dekat rumah bersama Pak Angga.



Melihat Heliza keluar dari kamar mandi, Yazid yakin Heliza mau melaksanakan sholat Isya. Sementara itu Yazid ke kamar mandi untuk gosok gigi sebelum tidur.



Setelah keluar kamar mandi, Yazid melihat Heliza sudah mengakhiri sholatnya. Dia sedang berdoa kini. Yazid sebenarnya sudah gregetan ingin menyampaikan unek-uneknya perihal sikap Heliza tadi di dapur Ibunya.



Heliza mengakhiri doanya dan melipat mukena, lalu disimpannya mukena itu di atas lemari. Heliza menghampiri meja rias, dengan maksud akan mencuci mukanya sebelum tidur. Yazid mengamati semua gerak-gerik Heliza, memang Yazid akui Heliza begitu cantik dan pandai merawat diri. Bahkan setelah putus darinya setelah Yazid dijodohkan, Heliza semakin cantik dan bening. Sempat beberapa kali bertemu Heliza. Namun Heliza selalu menghindarinya.



Heliza kini sudah menaiki ranjang, melihat Yazid yang belum ada di kamar, Heliza merasa heran. Padahal tadi ada, mungkin Yazid sedang ambil minum ke dapur. Tidak berapa lama pintu kamar berbunyi dan Yazid masuk kamar. Dia menatap Heliza yang sudah ada di ranjang. Dan ini saat yang tepat bagi Yazid bicara sebelum tidur.



"Kak, ngapain berdiri dekat pintu? Memangnya Kakak tidak akan tidur gitu?" Tanya Heliza sambil membenahi tubuhnya untuk berbaring.



"Aku ingin bicara sebentar denganmu El," ucap Yazid sembari menghampiri Heliza, Sejenak Heliza merengut heran, apa yang mau dibicarakan suaminya menjelang malam begini? Benak Heliza dipenuhi tanya.


__ADS_1


"Aku hanya ada sedikit unek-unek perihal ucapan kamu tadi di dapur Ibu, saat kamu mencuci di wastafel," ucap Yazid mencoba mengingatkan Heliza terkait ucapannya tadi.



"Yang mana, ya, Kak?" tanyanya sembari merebahkan badannya dan sesekali melihat HPnya.



"Ucapan kamu yang aku tawari toge,"


"Ohhhh itu, memangnya kenapa sih Kak, ada yang salah dengan omongan aku? Kan benar aku tidak akan bisa hamil dulu karena sekarang aku minum pil KB. Lagipula salahnya di mana? Cuma bilang belum tentu orang tua Kakak menerima cucu dari aku, kan?"



"Iya, tapi semua omonganmu terdengar jelas sama Ibu yang pada saat itu sedang mengambil air di dispenser. Ibu jadi serba salah dan merasa berdosa saat aku lihat, Ibu langsung pergi ke dalam setelah mendengar omongan kamu," ungkap Yazid.



"Ohhhh didengar oleh Ibu! Ya, tidak apa-apa dong Kak terdengar oleh Ibu, orang itu kenyataan kok," kilah Heliza tanpa dosa.




"Mereka bisa bersikap seperti itu karena sempat kehilangan menantu yang pada awalnya sangat disayangi dan disanjungnya, lalu hilang karena perselingkuhan yang dilakukannya. Dan sekarang menyesal karena menantu kesayangannya berkhianat, iya, kan?" ucap Heliza menantang sampai membuat kepala Yazid sakit.



"Ya, ampun El. Bisa tidak kamu tidak ungkit masa lalu lagi? Aku kini sedang merenda masa depan denganmu. Aku tidak mau kamu berubah seperti ini, ketus dan penuh dendam pada kedua orang tuaku," sergah Yazid sedikit melemah, karena makin dikasari sepertinya Heliza malah semakin pandai membalas ucapannya.



Yazid sangat kecewa dengan sikap Heliza yang kini berubah, dulu lembut dan penyabar serta penyayang, tapi kini baru saja sebulan dinikahinya sepertinya baru kelihatan taringnya. Namun Yazid tidak akan menyerah, dia akan tetap mengejar cinta Heliza sampai wanita di hadapannya ini berubah menjadi Heliza yang lembut, penurut juga tidak pendendam seperti ini. Harus banyak bersabar sepertinya Yazid.


__ADS_1


"Kenapa Kakak menganggap aku pedendam? Kalau aku orang dendaman sudah aku tolak lamaran Kakak saat itu, lalu saat orang tua Kakak datang mengantar Kakak untuk melamar aku yang dadakan itu, sudah kuusir kalian. Bahkan kedua orang tuaku tidak tahu masa lalu kita. Jika aku dendaman, sudah aku ungkapkan siapa sebenarnya orang yang yang telah menyakiti aku enam tahun yang lalu. Kalau aku ungkapkan belum tentu Kakak diterima lamarannya oleh orang tuaku," bela Heliza meradang, dia tidak suka dibilang pedendam oleh Yazid gara-gara sikapnya yang sedikit ketus pada kedua mertuanya.



"Aku tahu, aku minta maaf. Aku hanya tidak ingin kamu bersikap seperti itu pada kedua orang tuaku. Lebih baik perlahan saling lupakan dan saling bebaskan, maka hati kamu akan tenang." Yazid berusaha menenangkan Heliza setelah tadi meradang.



"Perlahan, Kakak bilang. Harusnya Kakak pahami kata perlahan yang Kakak ucapkan barusan. Aku yang pernah tersakiti, tidak mungkin bisa langsung berubah baik dan lupa atas perlakuan kalian dulu. Semua butuh proses, dan itu perlahan seperti apa yang Kakak bilang. Harusnya Kakak berusaha meraih hati aku yang masih terluka, bukannya malah menginginkan aku menjadi menantu yang sempurna." Heliza meradang dan membalas ucapan Yazid yang baginya menyinggung hatinya.



Heliza bangkit dari ranjang, lalu membawa satu bantal dan selimut, membuka pintu dan keluar dari kamar itu. Yazid mengusap dadanya menyesal telah terjadi pertengkaran di malam hari ini. Dia sedih melihat semua ini. Kemudian Yazid menyusul Heliza yang tidur di kamar sebelah.



"Sayang, kenapa tidurnya pindah? Kambali, ya. Maafkan aku karena aku telah menyinggung perasaanmu," bujuk Yazid seraya meraih tubuh Heliza yang bergetar karena menangis.



"Pergi, aku tidak mau tidur sama Kakak lagi. Atau kalau perlu ceraikan saja aku jika Kakak tidak tahan dengan sikap aku yang Kakak anggap pedendam," tukasnya membuat Yazid tercengang.



"Ya ampun, Sayang. Kenapa bicaranya melantur begitu. Aku sampai kapanpun tidak akan pernah menceraikanmu, karena sejak dulu namamu selalu di hati aku," ungkap Yazid sembari mengusap bahu Heliza lembut.



Karena Heliza masih menangis dan tidak mau dibujuk, Yazid akhirnya menyerah dan kembali ke kamarnya. Di dalam kamar ini dia menangis menyesali kenapa dulu menerima permintaan kedua orang tuanya untuk dijodohkan.



Besoknya, suasana dingin masih menyelimuti mereka. Walau demikian Heliza masih mempersiapkan baju kerja Yazid dan sarapannya. Saat Yazid pergi duluan tanpa diterima uluran tangannya, Heliza sejenak merenungi dirinya yang bisa berubah begini.


__ADS_1


"Ya, Allah, kenapa rasa kecewa justru menyesaki dada ini ketika harus berhadapan dengan orang tua Kak Yazid? Sampai kapan aku begini? Padahal aku juga ingin menjadi menantu yang dibanggakan kedua mertuaku. Hilangkan rasa kecewa di dada ini secepatnya ya Allah. Karena hambapun sebenarnya tidak mau seperti ini," doanya. Perlahan tetes air mata mengalir deras di pipinya yang terdapat sedikit jerawat.


__ADS_2