Mengejar Cinta Mantan Kekasih

Mengejar Cinta Mantan Kekasih
Bab 25 Kedatangan Mertua


__ADS_3

"Apa yang kamu katakan, Sayang? Bercerai? Hanya perdebatan kecil di rumah, kenapa kamu bilang ingin bercerai? Bu, saya minta tolong Bu, saya tidak mau bercerai dengan Heliza. Saya sangat mencintainya."Yazid memohon di depan Ibunya Heliza dengan tubuh berjongkok.



Rupanya Heliza telah menceritakan semua masa lalu yang pernah terjadi di antara dirinya dan Yazid serta keluarganya. Bahwa lelaki dimasa lalunya yang pernah menyakitinya adalah Yazid. Heliza menjelaskan sejelas-jelasnya pada Bu Hira Ibunya, sehingga Bu Hira menjadi sangat paham kenapa Heliza bisa bersikap seperti itu.



Menurut kesimpulan Bu Hira, sebetulnya Heliza sudah tidak mau mengungkit bahkan mengingat masa lalu itu. Namun dirinya belum bisa melupakan kejadian itu sepenuhnya, jadi saar Heliza mengingat akan kejadian itu, maka dia akan merasa sedih dan melampiaskan semuanya dengan sikap ketus dan akhirnya mengungkit di depan orang yang pernah menyakitinya.



Bu Hira untuk sementara harus bisa menenangkan Heliza dari semua bayangan masa lalu. Sepertinya Heliza memang sedikit trauma jika terkenang masa lalu yang menyakitkan baginya itu.



"Sekarang, biarkan dulu Eliza di sini di rumah ibu untuk beberapa hari ke depan


Biar ibu yang mencoba memberikan pengertian dan menenangkannya dari rasa trauma masa lalu. Kalian berdua harus saling introspeksi diri, jangan saling menyalahkan satu sama lain. Jika Heliza keras kepala, maka dia tidak bisa dilawan dengan keras lagi. Tapi percayalah, Heliza anak yang baik. Ibu yakin di sini Ibu dan Bapak mampu memberikan pengertian pada Eliza. Eliza hanya butuh sandaran dan ketenangan." Bu Hira akhirnya memberikan sebuah keputusan yang diharapkan baik untuk kedua belah pihak, yakni membiarkan Heliza tinggal beberapa hari di rumahnya untuk diberi pengertian dan ketenangan.


Yazidpun setuju dengan keputusan Bu Hira, mertuanya. Dia untuk sementara akan membiarkan Heliza di rumah orang tuanya untuk introspeksi diri dan mencari ketenangan. Siapa tahu dengan diberi pengertian oleh Ibunya, Heliza bisa segera tenang dan melupakan trauma masal lalu.



Begitu pula dengan Yazid, dia akan berusaha introspeksi diri dan memperbaiki sikapnya pada Heliza yang mungkin terlalu kasar bagi Heliza.


__ADS_1


"Kalau begitu, saya pulang dulu, Bu. Titip sebentar Eliza. Jika dia sudah tenang, saya akan segera menjemputnya," ucap Yazid berpamitan dan berpesan menitipkan sebentar Heliza.



"Sayang, aku pulang, ya. Kamu baik-baik di rumah Ibu. Aku akan selalu mencintaimu," pungkasnya sebelum Yazid melangkahkan kakinya dari rumah orang tua Heliza.



"Assalamualaikum!" Yazid mengucapkan salam dan segera menyalakan motornya lalu melaju menuju jalan ke rumahnya.



Seperginya Yazid, Bu Hira meraih pundak Heliza dengan penuh kasih sayang.




"Sekarang, El harus berusaha menanamkan sifat pemaaf meskipun itu sulit. Lupakan semua masa lalu yang menyakitkan, lagipula kalau ibu perhatikan mertuamu sangat perhatian dan menyayangi kamu. Berusahalah El untuk berlapang dada. Jadikan masa lalu pembelajaran buat kita di masa depan," pungkasnya lagi membuat Heliza perlahan sedikit tenang.


**


Setibanya Yazid di rumah tanpa membawa Heliza, Yazid menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Kini dia merasa hampa tanpa Heliza. Hanya penyesalan yang ada dalam dadanya terkait ketidaksabarannya dalam menghadapi sikap Heliza yang selalu ketus akibat mengingat masa lalunya yang menyakitkan. Harusnya dia yang sabar dengan segala sikap Heliza yang menurutnya kekanak-kanakan.


Satu minggu berlalu, Heliza masih belum mau pulang ke rumah. Yazid merasa sangat kecewa belum bisa membawa Heliza. Kini, rencana Bu Aryani dan Pak Angga akan turun tangan mengajak menantunya kembali ke rumah anaknya, jika berlarut-larut maka tidak akan baik dilihat masyarakat. Pak Angga dan Bu Aryani bukan ingin ikut campur dalam masalah anak menantunya, melainkan ingin mendamaikan keduanya. Siapa tahu dengan kehadirannya, Heliza mau berubah pikiran dan kembali pada anaknya, Yazid.


__ADS_1


Ba'da Isya, ketukan pintu dan ucapan salam terdengar nyaring ke dalam rumah orang tua Heliza. Bu Hira yang sedang di dapur tersentak, begitu juga dengan Pak Hanafi yang sedang di ruang tengah menikmati secangkir kopi sehabis pulang dari Mesjid.



"Coba, Pak, siapa yang bertamu menjelang malam-malam begini, tidak biasanya?" heran Bu Hira pada Pak Hanafi. Pak Hanafi sedikit mengangkat tubuhnya dan menatap ke arah Bu Hira.



"Bapak juga tidak tahu," kilah Pak Hanafi sama herannya. Namun tidak luput Pak Hanafi berdiri juga dan perlahan menghampiri pintu depan. Semetara Heliza yang baru menyudahi sholat Isya, juga mendengar ketukan dan ucapan salam dari luar. Jantungnya mendadak berdebar, dia berharap itu Yazid yang datang. Dirinya rupanya merindukan Yazid setelah seminggu lamanya dia mendiamkan Yazid baik secara online maupun offline. Namun seminggu berlalu tepatnya hari ini, Yazid ternyata tidak ada menghubunginya kembali. Heliza menduga kalau Yazid marah padanya. Lalu kini, dia merasa merindukan sosok Yazid.



"Apakah itu Kak Yazid? Kalau benar, alangkah bahagianya hatiku. Aku rindu kamu, Kak," bisik Heliza kecil sembari segera melipat mukena yang habis dia pakai.



Sementara itu, Pak Hanafi yang berhasil membuka pintu, nampak tercengang dengan kedatangan kedua besannya yang datang tiba-tiba. Walaupun Pak Hanafi sudah menduga kedatangan mereka pasti terkait keberadaan Heliza, dan pertengkaran antara anak dan menantunya tempo hari sesuai yang diceritakan Heliza pada Bu Hira dan Pak Hanafi.



"Waalaikumsalam. Masuk, Pak, Bu." Pak Hanafi menyambut baik kedatangan kedua besannya dengan ramah sembari mempersilahkan duduk.


"Buuu, Buu! Ada Pak Angga dan Bu Aryani nih," seru Pak A Hanafi memanggil Bu Hira yang masih heran di dapur. Bu Hira langsung berdiri dan sejenak membenarkan dandanannya sedikit awut-awutan. Langkah kaki Bu Hira terdengar oleh Heliza yang masih di kamar. Sayangnya Heliza merasa kecewa sebab Yazid rupanya tidak datang bersama kedua mertuanya.


"Ke mana Kak Yazid, apakah dia tidak merindukan aku?" Pertanyaan itu langsung memenuhi benaknya. Dengan tubuh lunglai dan mata mulai berembun, Heliza kembali membenamkan diri duduk di ranjang dan menangis.


__ADS_1


"*Ke mana kamu, Kak? Apakah kini Kakak yang marah padaku karena aku selama seminggu tidak menghiraukan Kakak baik online maupun offline*?" batin Heliza dipenuhi dugaan buruk.


__ADS_2