Mengejar Cinta Mantan Kekasih

Mengejar Cinta Mantan Kekasih
Bab 24 Perdebatan 2 (Ingin Bercerai)


__ADS_3

Bu Aryani pulang membawa penyesalan sekaligus kesedihan. Sementara Heliza masih duduk di sofa dengan rasa bersalah, karena Yazid tadi mempersalahkan atas ucapannya.



Yazid mengejar Ibunya dan memanggilnya. "Bu, maafkan ucapan Heliza tadi jika menyinggung hati Ibu. Mungkin dia keceplosan," ujar Yazid merasa bersalah atas apa yang diucapkan Heliza tadi.



"Tidak apa-apa, Zid. Jangan kamu pikirkan. Ibu tidak tersinggung kok. Ibu pulang, ya. Bilang istrimu, Ibu minta maaf," ucap Bu Aryani sembari berlalu. Yazid tidak bisa apa-apa, dia menatap kepergian Ibunya dengan rasa bersalah.



Yazid membalikkan badannya dan kembali menuju sofa yang masih ada Heliza. Dia menatap Heliza dan akan menegurnya sekali lagi tentang ucapannya tadi.



"Kenapa kamu tadi ungkit masa lalu Ibu? Kan Ibu sekarang sudah menyesalinya dan minta maaf sama kamu. Bahkan Ibu dan Bapak, berusaha meraih hatimu dan menyayangimu dengan tulus. Tapi kenapa kamu sampai kini masih mengungkit kesalahan Ibu. Apakah kamu masih belum puas melampiaskan rasa kesalmu pada Ibu?" ucap Yazid tegas. Kali ini Yazid harus bersikap tegas pada Heliza, karena bagaimanapun Heliza istrinya yang masih harus dididik sikap dan tingkah lakunya supaya jangan salah.



"Jadi sekarang Kakak menyalahkan aku? Aku keceplosan Kak, lagipula kenapa Kakak menyuruh aku berhenti bekerja sedangkan aku masih senang dengan pekerjaan aku?" ujar Heliza balik menyalahkan Yazid.



"Aku tadi tidak menyuruhmu berhenti bekerja, tapi kalau mau program hamil alangkah baiknya berhenti bekerja supaya program hamilnya fokus."



"Kenapa juga harus menyarankan berhenti bekerja, sementara orang lain saja banyak yang hamil saat kerja? Dan mereka tidak kenapa-kenapa, mereka baik-baik saja." Heliza berdiri dan bergegas menuju kamar. Yazid mengikuti dan masih ada hal yang ingin disampaikan pada Heliza.



"Aku hanya tidak ingin kamu ungkit lagi kesalahan Ibu dimasa lalu. Tidakkah kamu lihat Ibu dan Bapak kini sudah berusaha menyayangimu tulus? Aku percaya kamu sebenarnya berhati baik dan bersih. Aku berharap rasa kecewa dimasa lalu jangan menjadikan hatimu yang bersih malah menjadi kotor," peringat Yazid membuat Heliza mendongak dan balik menyalak.



"Kakak ini hanya bisa menggurui tapi tidak bisa merasakan apa yang aku rasakan. Kakak hanya enaknya saja, mendapatkan aku dengan mudah tanpa halangan dan perintang setelah semua kepedihan yang Kakak alami. Jadi sebelum bicara harusnya Kakak berempati sama aku, jangan pandainya menggurui. Aku juga punya hati dan perasaan, aku hanya manusia biasa yang tidak luput dari salah. Tentang ucapan aku tadi yang mengungkit kesalahan Ibu dimasa lalu, aku tahu aku salah dan aku keceplosan. Tapi jangan bisanya Kakak mengatakan, jangan sampai hati yang bersih menjadi kotor karena kecewa di masa lalu. Melupakan itu tidak mudah Kak, dan aku sakit ketika harus mengingatnya kembali," tutur Heliza panjang lebar sembari menangis. Kini kesedihannya tidak tertahan lagi. Semua unek-uneknya dia tumpahkan saat ini di depan Yazid.

__ADS_1



"El, bukan begitu maksudku," cegah Yazid yang melihat Heliza akan keluar kamar.



"Kakak tidak mengerti perasaanku, padahal usia pernikahan kita baru sepuluh bulan. Tapi setelah dipikir-pikir, tidak ada pengorbanan Kakak yang diberikan sama aku. Kakak tidak pernah memahami perasaan aku," tukasnya seraya berdiri dan menuju pintu keluar. Heliza berlari dan segera mencegat ojek menuju rumah orang tuanya. Heliza pergi dengan membawa rasa kecewa.



Yazid mengejar dan segera menghidupkan mesin motor setelah mengunci pintu rumah. Yazid yakin Heliza akan menuju rumah orang tuanya.



Motor Yazid terus melaju menuju rumah orang tua Heliza yang tidak seberapa jauh. Yazid sengaja memelankan laju motornya karena sebentar lagi dia akan tiba di rumah orang tua Heliza.



Heliza nampak turun dari ojek dan membayar ongkos ojek, lalu menuju teras rumah orang tuanya tanpa mengetuk. Pintu langsung dibuka yang untungnya tidak dikunci. Pintu terbuka dan Heliza langsung mencari Bu Hira sang Ibu.



"Eliza .... kenapa?" Bu Hira terkejut atas kedatangan Heliza yang tiba-tiba dan dalam keadaan menangis. Heliza memeluk Ibunya tanpa bisa berkata-kata, dia menangis menumpahkan kesedihannya yang tidak terkira, berharap setelah menangis di pelukan Ibunya semua perasaan sedih dan kecewa berubah sirna.



Sementara itu, Yazid yang baru masuk ke dalam rumah mertuanya sudah menyaksikan suasana haru antara Heliza dan Ibunya. Yazid menjadi serba salah dan takut, jika gara-gara perdebatan tadi Heliza akan mengadu yang tidak-tidak pada kedua orang tuanya.



Namun Yazid siap jika Heliza mengadukan asal muasal masalahnya sehingga Heliza menangis dan pergi ke rumah orang tuanya. Yazid akan mencoba menjelaskan dan menerima apapun yang dikatakan kedua orang tua Heliza jika itu terjadi.



"Nak Yazid!" Bu Hira menyadari kedatangan menantunya, lalu berusaha mengurai pelukannya pada Heliza dan mengajak Heliza berdiri dan duduk di kursi tamu.


__ADS_1


"Ada apa dengan kalian ini, apa kalian bertengkar?" tanya Bu Hira kepada Yazid, sementara Heliza masih memeluk Ibunya dan sepertinya enggan melihat ke arah Yazid.



"Kami tadi berdebat kecil, Bu, m" ujar Yazid menunduk.


"Itu biasa Nak Yazid. Biarkan Eliza tenang dulu, nanti setelah tenang kita bicara dengan kepala dingin," ujar Bu Hira sembari memberi kode supaya Yazid bisa lebih tenang. Sementara Bu Hira akan menenangkan Heliza sampai dia benar-benar siap diajak bicara.



Yazid keluar rumah menuju teras. Di sana dia menyalakan korek api dan menyesap sebatang rokok untuk sekedar menenangkan diri dan menunggu Heliza tenang.



Sementara di dalam rumah Heliza kini sudah mulai tenang. Bu Hira senang dan mulai mengajak Heliza bicara.



"El, sebenarnya ada apa? Kalian bertengkar kenapa? Kalau ada masalah harus diselesaikan dengan kepala dingin dan baik-baik supaya kalian tidak berdebat berkepanjangan," ujar Bu Hira berusaha memberikan ketenangan.



"Apakah Ibu tahu sebenarnya Eliza memendam rasa kecewa dalam pernikahan ini. Tapi Eliza menutup semua ini dari Ibu dan Bapak. Dan sekarang Eliza sepertinya sudah tidak kuat menahan kekecewaan itu, Bu. Eliza tidak sanggup lagi menjalani pernikahan ini." Heliza menumpahkan semua unek-unek pada Ibunya tentang semua rasa kecewanya.



Untuk sejenak Bu Hira mengkerutkan keningnya mencoba mencerna ucapan Heliza barusan yang masih sulit dipahami.


"Kekecewaan apa Nak? Kenapa sepertinya masalahnya berat?"



"Eliza sepertinya sudah tidak sanggup lagi hidup berumah tangga, Bu. Heliza ingin bercerai saja dari Kak Yazid," tutur Heliza bercucur air mata. Bu Hira sontak terkejut mendengar penuturan Heliza yang bagaikan petir di siang bolong.



"Apa bercerai?" kejut Bu Hira tidak percaya. Yazid yang baru saja masuk dan kebetulan mendengar sama terkejutnya dengan Bu Hira.

__ADS_1



"Bercerai?" Yazid menghampiri Heliza dengan perasaan yang serba salah.


__ADS_2