Mengejar Cinta Mantan Kekasih

Mengejar Cinta Mantan Kekasih
Bab 26 Saling Memaafkan


__ADS_3

Pak Angga dan Bu Aryani disambut baik oleh Pak Hanafi dan Bu Hira, meskipun kedua orang tua Heliza sudah mengetahui cerita masa lalu antara Heliza dan kedua orang tua Yazid.



"Kami minta maaf pada Pak Angga dan Bu Hira, mungkin sikap Teh Heliza seperti ini terhadap kami disebabkan dosa masa lalu kami yang pernah memisahkan cinta antara Teh Heliza dan Yazid, anak kami. Kami sungguh menyesali perbuatan kami di masa lalu. Kami terima apapun sikap yang diberikan Teh Heliza terhadap kami. Apapun," tegas Pak Angga memohon maaf sambil duduk di bawah kaki Pak Hanafi dengan tiba-tiba.



Pak Hanafi dan Bu Hira jelas sangat terkejut melihat sikap Pak Angga dan Bu Aryani yang memperlihatkan sikap berdosanya dengan duduk di bawah kaki Pak Angga.



"Stop, Pak. Hentikan sikap Bapak ini. Jangan seperti ini. Bangkitlah!" tegas Pak Hanafi seraya meraih tubuh Pak Angga dan mengembalikan tubuhnya ke sofa.


"Semua orang punya kesalahan baik dimasa lalu maupun dimasa sekarang. Dan kesalahan setiap orang itu beda porsi dan jenisnya. Ada kesalahan ringan ada juga kesalahan berat. Kesalahan ringan pada sesama manusia baiknya diselesaikan di dunia dengan individunya selagi masih ada di dunia. Ada juga masalah berat yang hanya dengan Allahlah harus dipertanggungjawabkan baik itu di dunia maupun di akhirat kelak." Pak Hanafi menjeda sejenak bicaranya.


"Kesalahan Bapak dan Ibu pada anak kami menurut cerita versi kalian, adalah termasuk ringan dan urusannya masih bisa diselesaikan di dunia, bahkan sesama individu masih bisa saling bertemu dan saling memaafkan secara langsung." Pak Hanafi melanjutkan bicaranya dengan penuh bijaksana. Kedua besannya seperti mendapat angin segar dengan kebaikan hati Pak Hanafi, sungguh sangat lapang hati Pak Hanafi untuk memaafkan.



Namun yang masih jadi pikiran Pak Angga dan Bu Aryani adalah Heliza. Sikap Heliza padanya yang masih menyimpan perasaan tidak suka karena dosa di masa lalu itu.



"Eh, ngomong-ngomong dari sejak kedatangan kalian kemari, kenapa Nak Yazidnya tidak kelihatan? Apakah masih di luar? tanya Pak Hanafi heran sembari melihat ke luar pintu.



"Kebetulan Yazid sudah tiga hari ada dinas luar kota dengan Komandannya. Dia hanya berpesan kepada kami untuk menjaga silaturahmi dengan besan dan menantu kami tentunya. Dan kalau tidak keberatan, kami juga mau bawa Teh Heliza pulang. Kami juga sangat kehilangan, bukan cuma Yazid saja sebagai suami. Sebab kami sudah sangat menyayangi Teh Heliza seperti kami menyayangi anak kami sendiri," terang Bu Aryani.


__ADS_1


Heliza yang mendengar dari kamarnya mendadak lega, rupanya Yazid tidak datang karena dia ada dinas di luar kota. Pantas saja dia tidak menghubungi.



"Ohhh seperti itu? Pantas saja Nak Yazid tidak kelihatan, saya pikir masih diluar," seru Pak Hanafi.


"Bu, panggil Heliza. Ini ada mertuanya masa dibiarkan," titah Pak Hanafi pada istrinya. Bu Hira segera merespon. Sejak tadi juga dia bermaksud memanggil anaknya. Namun keasikan menghadapi kedua besannya, jadi lupa memanggil Heliza.



Bu Hira segera menuju kamar anak semata wayangnya dan mengetuk pintu. "El, boleh Ibu masuk?" ijin Bu Hira sebelum masuk. Tanpa menunggu persetujuan Heliza, Bu Hira membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci. Bu Hira mendapati anaknya duduk terpekur di atas ranjang.



"El, temui kedua mertua kamu. Mereka sudah meminta maaf pada kami sampai duduk bersujud di kaki Bapak. Kamu keluar dan peluk mereka, meminta maaf dan maafkan juga kesalahan mereka di masa lalu," pinta Bu Hira. Sejenak Heliza nampak tersentak mendengar mertuanya duduk bersujud di kaki Bapaknya demi meminta maaf.




Heliza tiba di ruang tamu dengan dipapah Bu Hira, lalu duduk dekat mertuanya. Serta merta Heliza bersujud di kaki kedua mertuanya meminta maaf atas sikapnya selama ini yang dirasa kurang baik.



"Eliza minta maaf, ya, Bu, Pak. Eliza salah selama ini sering bersikap kurang ramah. Eliza bukan dendam akan masa lalu. Eliza hanya sedang teringat masa lalu itu sehingga Eliza menjadi sedih kembali. Sesungguhnya Eliza ingin melupakan semua kesedihan di masa lalu itu. Eliza sudah berusaha. Dan ketika Eliza terngiang kembali, maka hati Elisa sakit dan Eliza ingin menumpahkannya dengan bersikap kurang ramah. Sekali lagi Eliza minta maaf," urai Eliza penuh penyesalan. Bu Aryani mengangkat tubuh Heliza, lalu memeluknya erat.



"Berdiri, Nak. Tidak ada yang salah dalam sikap Teh Heliza pada kami. Itu wajar dan kami memakluminya. Kami yang harus minta maaf dan dimaafkan. Sekarang kami berdua datang ke sini selain ingin membawa Teteh kembali pulang, kami ingin minta maaf atas kesalahan kami di masa lalu. Semoga Teh Heliza mau memaafkan kesalahan kami, dan kembali pulang," ujar Bu Aryani menyesali perbuatannya di masa lalu.


__ADS_1


"Tidak ada yang benar dan salah di sini. Lebih baik saling memaafkan dan melupakan. Dan yang terpenting saling koreksi diri masing-masing," timpal Pak Hanafi sangat menenangkan.



"Terimakasih banyak Pak Hanafi dan Bu Hira, kalian orang tua yang bijaksana, lapang dada dan pemaaf. Kami jadi malu pada diri kami sendiri yang sering khilaf dan berbuat salah," tukas Pak Angga menunduk malu.



"Ya ampun, jangan merendah, Pak. Sebagai sesama makhluk Tuhan, siapapun termasuk kami berdua tidak luput dari salah dan dosa. Yang terpenting bagi kita adalah saling bergaul dengan baik dan saling memaafkan sesama manusia. Dan kalau sudah saling memaafkan seperti ini, kan dilihatnya enak," seloroh Pak Hanafi diimbuhi senyum bahagia.



"Kalau begitu, apakah Teh Heliza mau pulang bersama kami atau nanti saja dijemput Yazid ke sini?" tanya Bu Aryani menatap Heliza.



"Bukan tidak mau sekarang, Bu. Tapi, Eliza maunya dijemput Kak Yazid langsung saja. Tidak apa-apa, kan Bu, Pak?" tanya Heliza menatap kedua mertuanya. Pak Angga dan Bu Aryani tersenyum tanda setuju.



"Tidak apa-apa, Teh, jika Teteh masih betah di sini. Biar nanti Yazid saja yang jemput langsung ke sini, ya. Kalau begitu, alangkah baiknya kami pulang. Apalagi hari sudah semakin malam. Bukan kami tidak betah. Lain kali kami datang lagi saat senggang, ngobrol ngalor ngidul lagi," ujar Bu Aryani mewakili Pak Angga.



"Iya, tidak apa-apa Pak Angga, Bu Aryani, kami maklum kok. Lain kali giliran kami Insya Allah yang datang ke rumah kalian. Kami minta maaf tidak bisa menyambut kedatangan kalian dengan suguhan yang istimewa," balas Pak Hanafi dengan raut muka yang menyesal karena tidak bisa menyuguhkan suguhan yang baik untuk kedia besannya.



"Kami pulang, ya. Titip menantu kami. Assalamualaikum," pamit Pak Angga dan Bu Aryani beranjak dari ruang tamu setelah bersalaman dan disalamin Heliza.


__ADS_1


Keuda orang tua Heliza juga Heliza mengantar kepergian orang tua Yazid dengan lambaian tangan.


__ADS_2