
"Assalamualaikum!" suara salam dari depan terdengar lantang. Heliza segera membersihkan diri dan menyelesaikan rasa mual dengan membuang di kamar mandi. Namun bukan makanan yang dia muntahkan, tapi rasa mual ini menimbulkan liur yang banyak dan pada akhirnya keluar cairan kuning yang pahit. Setelah itu rasa mual agak reda.
"Ya, Allah, kenapa ini?" tanyanya berbisik.
"Assalamualaikum! Teh, Teteh di dalam?" ulangnya sembari memanggil nama Heliza. Heliza segera ke kamar mandi dan mengeringkan wajahnya yang tadi sempat dibasuhnya.
Heliza menuju pintu dan membalas salam. "Wa'alaikumsalam," sahutnya seraya membuka pintu. "Ibu, masuk Bu?" ujarnya sedikit terkejut lalu mempersilahkan masuk.
"Teh, mana Yazid?" Bu Aryani melihat rumah anak menantunya ke sekeliling.
"Kak Yazid ada panggilan dari Komandannya Bu. Katanya sih sebentar," ujarnya terdengar lemas.
"Teh, kok sepertinya sedang tidak sehat. Wajah Teteh pucat dan terlihat lemas?" heran Bu Aryani sembari mendekati Heliza dan meraba keningnya.
"Tidak tahu ini, Bu. Dari semalam badan rasanya tidak enak dan mual terus, sepertinya Eliza masuk angin," jawab Heliza.
"Badannya sih tidak panas, atau jangan-jangan Teteh sedang hamil?" ujar Bu Aryani membuat Heliza sedikit tersentak.
"Hamil?" herannya. Bu Aryani mengangguk.
"Ya sudah, Teteh duduklah dulu si sofa, ibu ambilkan minum lemon tea hangat, ya, supaya mualnya hilang." Bu Aryani bergegas ke dapur berniat mengambilkan segelas lemon tea hangat.
Tidak berapa lama Bu Aryani tergopoh menghampiri Heliza dengan membawa secangkir lemon tea hangat.
"Teh, coba diminum lemon tea hangatnya. Ini bisa menghilangkan rasa mual," ujar Bu Aryani sembari menyodorkan secangkir lemon tea ke hadapan Heliza.
"Terimakasih, Bu," ujarnya sembari menyeruput lemon tea hangat buatan mertuanya. Beberapa menit kemudian, Heliza merasakan rasa mualnya sedikit reda.
__ADS_1
"Bagaimana, Teh, apakah mualnya sudah reda?"
"Iya, Bu, lumayan."
"Kebetulan ibu bawa makanan, tadi ibu sengaja masak banyak. Ibu bikin soto Bandung, masih hangat. Teteh, makanlah dulu selagi hangat," ujar Bu Aryani seraya buru-buru ke dapur mengambilkan Heliza soto Bandung buatannya.
"Bu, tidak perlu repot-repot. Biarkan Heliza yang ambil," cegahnya seraya menyusul Ibu mertuanya ke dapur.
"Duduklah, dan makan soto Bandungnya, ini masih hangat. Lagi mual begini enaknya makan yang hangat-hangat," ujarnya lagi dan menyiapkan semangkok soto Bandung di hadapan Heliza.
Heliza menikmati soto Bandung buatan mertuanya. Rasanya sungguh benar-benar enak dan segar.
"Ibu juga makan dong, Bu. Kok hanya melihat saja." Heliza menawari Ibu mertuanya makan juga. Bu Aryani menggeleng.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak, Bu. Soto Bandungnya enak banget," puji Heliza sembari membawa mangkok bekasnya ke wastafel kemudian dicuci. Namun tidak berapa lama dari itu, tiba-tiba Heliza merasa mual dan berlari terbirit ke kamar mandi.
Bu Aryani merasa khawatir dengan keadaan Heliza yang seperti menandakan orang hamil. Cepat-cepat Bu Aryani menghubungi Yazid dan melaporkan kejadian yang dilihatnya.
Tidak berapa lama Yazid datang. Dengan cemas dia menghampiri Ibunya dan bertanya di mana Heliza.
"Alhamdulillah, kamu sudah sampai Zid? Itu istrimu mual-mual terus, jangan-jangan sedang hamil," lapor Bu Aryani.
"Iya, Bu. Kebetulan saat Ibu nelpon, Yazid sudah di jalan menuju pulang." Yazid menghampiri kamar mandi dan mengetuknya.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa? Kamu sakit? Kita ke Dokter, ya!" teriaknya khawatir. Tidak ada jawaban, hanya suara gemericik air yang terdengar di dalam kamar mandi. Tidak lama dari itu Heliza keluar dengan wajah dan mulut yang sudah dibasuh.
"Sayang, ayo siap-siap kita ke Dokter, ya," ajaknya seraya meraih Heliza dan membawanya keluar menuju mobil. Bu Aryani juga sangat cemas dengan menantunya. Ia mengikuti Yazid masuk ke dalam mobil dan ikut ke klinik menemani Heliza diperiksa.
***
Beberapa saat kemudian, Yazid dan Heliza serta Bu Aryani keluar dari Klinik Bersalin Mama dan Anak. Yazid dan Bu Aryani terlihat sangat bahagia, entah apa yang mereka rasakan. Namun berbeda dengan Heliza, perutnya kini seakan mual dan ingin muntah.
"Sabar ya, Sayang, sebentar lagi sampai rumah."
Berita Heliza hamil sampai ke telinga Ibu dan Bapaknya. Ini merupakan suatu kebahagiaan bagi mereka. Sebab ini merupakan cucu pertama bagi mereka maupun bagi Pak Angga dan Bu Aryani.
Sejak Heliza hamil perhatian Ibu dan Bapaknya Yazid bertambah dua kali lipat. Hal ini membuat Heliza sadar dan terharu ternyata kedua mertuanya benar-benar tulus dan telah menyesali perbuatannya dahulu yang pernah memisahkan cintanya bersama Yazid.
"Teh, ini ada rujak beli di pengkolan."
"Teh, kalau yang ini rujak buatan Ibu. Coba rasain enakkan mana rujak buatan ibu sama rujak pengkolan?" Hampir tiap hari perhatian Bu Aryani semakin besar dan ini membuat Heliza semakin terbuka hatinya dan melupakan segala rasa sakit yang pernah dirasakan dahulu.
"Terimakasih ya Allah, sungguh kehamilan ini membawa berkah, kedua mertuaku sungguh-sungguh memperlakukanku dengan baik dan menyesali kejadian dulu yang pernah memisahkan hubungan aku dan Kak Yazid. Dan sekarang aku ikhlas dan memaafkan semua yang pernah terjadi di masa lalu," doa Heliza bahagia. Kini rasa maaf dan keikhlasan memenuhi dadanya.
Sembilan bulan kemudian, Heliza melahirkan bayi laki-laki yang sehat dan tampan perpaduan antara wajah Heliza dan Yazid. Yazid sangat bahagia dengan kelahiran anak pertama dari Heliza.
Kebahagiaan Yazid kini berlimpah bukan saja menyambut kelahiran sang jabang bayi, melainkan sikap Heliza yang sudah berubah terhadap kedua orang tuanya. Sikap ketus dan dingin yang dulu sering ditunjukkan kini tidak ada lagi.
"Terimakasih sayang, sudah memberikan aku kebahagiaan yang tiada terkira. Ternyata kehadiran bayi kita membawa keberkahan dan kebaikan untuk hubungan keluarga kita," ucap Yazid sembari mengecup Heliza dan bayinya silih berganti.
Nb; terimakasih untuk semua pembaca maupun Kakak2 Author yang sudah singgah di karya sederhana ini.
__ADS_1