Mengejar Cinta Mantan Kekasih

Mengejar Cinta Mantan Kekasih
Bab 7 Benci dan Cinta Muncul Kembali


__ADS_3

Yazid berdiri penuh senyum sesaat setelah berhasil mengantarkan Heliza ke rumahnya. Tadi saat tangannya berhasil menyentuh tangan Heliza, ada getaran yang bergejolak di dalam dadanya yang bergelora. Getaran cinta itu benar-benar masih ada dan besar untuk Heliza. Yazid bertekad untuk mengejar kembali cinta itu, meski gadis yang bernama Heliza itu kini memperlihatkan rasa benci pada dirinya.



"Biasanya rasa benci itu akan berubah cinta. Jika kamu masih menyimpan benci, itu artinya rasa cinta masih tertakar di dalam hatimu. Tunggu aku, Sayang. Aku akan mengejarmu sampai bisa kembali mendapatkan cintamu yang dulu kandas."


***


Heliza memasuki kamarnya dengan baju yang basah. Sisa kena hujan tadi rupanya cukup membuatnya menggigil. Bukan basah lagi tapi becek. Belum lagi luka di lutut dan dengkulnya yang terasa perih. Langkah kaki Heliza yang pincang dengan baju yang basah tidak luput dari pantauan sang Ibu.



Bu Hira melangkah mengekori Heliza menuju kamarnya dengan mata risau. "El, bajumu basah dan kakimu pincang, kenapa?" Bu Hira masuk dan menggapai anakknya. Heliza belum menyahut, dia segera mengganti baju kerjanya yang basah dengan handuk, kemudian segera beranjak ke kamar mandi.



"Eliza ke kamar mandi dulu, Bu. Tadi kena hujan dan kaki Eliza terkilir kena aspal," alasannya sembari masuk kamar mandi. Bu Hira geleng kepala, bukan alasan itu yang tadi dia lihat. Di depan rumahnya Heliza tadi jelas diantar seseorang yang wajahnya familiar bagi Bu Hira. Anak semata wayangnya ini sejak putus cinta kurang lebih lima tahun yang lalu, tidak pernah terlihat lagi jalan atau mengenalkan laki-laki ke rumah sebagai kekasih atau temannya.



Heliza keluar kamar mandi dengan handuk melilit di kepala. Jalannya masih sedikit pincang menuju kamar.



"Terus lelaki muda tadi siapa, ibu seperti pernah melihatnya, tapi lupa lagi. Dia yang mengantarmu, kan, pulang?" Heliza terdiam, gerak tangannya terhenti ketika dia mencoba mencari baju tidurnya di lemari. Namun dia tidak menjawab, sangat berat baginya mengatakan yang sebenarnya pada Ibunya tentang lelaki yang mengantarnya tadi.



"Sukur-sukur Ibu sudah lupa dengan lelaki tadi," harapnya dalam hati.


__ADS_1


"El, siapa lelaki tadi? Apakah itu pacar baru kamu? Coba kenalkan pada ibu dan bapak, sepertinya kami sudah ingin bermenantu," ujar Bu Hira tidak sabar dengan harapan dalam hatinya.



"Hanya teman, Bu. Bukan siapa-siapa," sangkal Heliza murung. Dia kini kembali mengubek lemari mencari barang lain untuk dipakainya.



"Sepertinya kamu tidak jujur, apakah ada yang kamu sembunyikan?" selidik Bu Hira merasa curiga dengan perubahan sikap anak gadisnya ini. Bu Hira mendadak sedih dengan nasib anaknya ini, sudah lima tahun lebih Heliza selalu menutup diri dari laki-laki, sejak dia putus dari kekasihnya dulu karena ditinggal menikah. Bahkan sudah beberapa kali sempat akan dijodohkan, namun Heliza tidak pernah mau. Alasannya masih trauma dekat dengan laki-laki.



"El, jangan membiarkan trauma itu terus bersarang di dalam hatimu. Lupakan lelaki itu, dia sudah bahagia dan bisa melupakanmu. Sekarang giliran kamu yang harus bahagia, bahkan harusnya sejak dulu kamu bahagia dan melupakan lelaki itu. Bangkitlah, Nak. Jangan biarkan dirimu terpuruk dan membiarkan hatimu lebih lama kosong," peringat Bu Hira sembari mendekati Heliza dan mengusap tangannya. Setelah itu Bu Hira keluar kamar anaknya dan membiarkan Heliza sendiri.



"Kalau lelaki tadi bisa mengantarmu, lantas di mana motormu?" Bu Hira merasa heran dengan keberadaan motor Heliza yang tidak kembali bersama Heliza.




"Baik banget orang itu. Semoga dia sendiri yang mengantarkan motor itu, sebab ibu dan bapak perlu berterimakasih padanya," ucap Bu Hira tersenyum gembira, sikapnya yang ikut murung karena perubahan sikap anaknya kini berubah ceria. Heliza tidak menjawab, dia masih diam dan hanya menunduk.



Cepatlah berpakaian, ibu membuatkanmu sop iga. Rasanya hujan-hujan begini enak makan sop iga hangat-hangat, ibu dan bapak menunggumu di meja," ujar Bu Hira sebelum benar-benar keluar kamar Heliza dan melihat Heliza kembali murung.



Heliza segera berpakaian dan menyisir rambutnya yang panjang. Kini dia duduk di tepi ranjang, bukan segera ke meja makan seperti apa yang diminta Ibunya barusan. Heliza melamunkan kejadian enam tahun yang lalu, juga kejadian yang baru saja terjadi padanya.

__ADS_1



Kebencian dan cinta kini kembali mendadak menyatu di dalam dadanya. Kebencian di masa lalu saat dirinya kecewa oleh Yazid, dan kini Yazid kembali hadir secara tiba-tiba, menolong dirinya saat tadi terjerambab ke dalam kubangan banjir.



Cinta? Untuk cinta rasanya begitu sulit. Kebenciannya terlampau memenuhi dadanya yang sesak. "Tidak mungkin aku mencintai orang yang sudah milik orang lain, meskipun dulu kamu sangat aku cinta. Kini aku membencimu, dan berharap aku tidak lagi bertemu dirimu di dunia manapun," ucapnya menggebu.



Selepas Isya, pintu rumah orang tua Heliza diketuk. Pak Hanafi, bapaknya Heliza yang baru pulang dari masjid segera membukakan pintu. Saat membukakan pintu Pak Hanafi tidak langsung mempersilahkan masuk, dia bertanya pada tamunya yang masih asing bagi Pak Hanafi. Sebab dulu saat Heliza menjalin kasih dengan Yazid, Pak Hanafi tidak sempat bertemu langsung dengan Yazid. Bu Hira saja hanya sekali bertemu dengan Yazid, itupun tidak sengaja saat Heliza ketahuan jalan bersama Yazid. Dan sebelum Heliza benar-benar mengenalkan Yazid pada kedua orang tuanya, Yazid keburu menikah dengan perjodohan dari orang tuanya.



"Waalaikumsalam. Anak ini dengan siapa dan mau bertemu siapa?" balas Pak Hanafi diakhiri sebuah pertanyaan.



"Saya Yazid, Pak. Saya ingin bertemu anak Bapak yang bernama Heliza. Saya ingin mengantarkan sepeda motornya yang tadi sempat terjerembab dalam kubangan banjir. Mungkin lubangnya dalam, jadi mesin motornya mati dan langsung saya titip di bengkel untuk diperbaikinya," ujar Yazid sopan menjelaskan siapa dirinya. Pak Hanafi manggut-manggut memahami cerita Yazid.



"Ya ampun, jadi Nak Yazid ini yang menolong anak kami tadi. Alhamdulillah, Nak. Terimakasih banyak atas bantuannya pada anak kami. Kami merasa berhutang budi dengan kebaikan Nak Yazid. Ayo, mari masuk, di luar dingin sisa hujan sore tadi. Biarlah motornya di parkir di depan rumah dulu." Pak Hanafi mempersilahkan Yazid masuk dan menyambut Yazid dengan gembira.



Sementara Heliza belum menyadari kalau yang bertamu itu adalah Yazid, laki-laki yang kini memenuhi isi kepalanya untuk dibenci.



"Siapa, Pak?" tanyanya sembari menuju ruang tamu. Tiba di ruang tamu, Heliza masih belum menyadari bahwa yang duduk di kursi ruang tamu adalah Yazid, sehingga saat mata Heliza menatap langsung mata Yazid, Heliza seketika terbelalak dan terkejut.

__ADS_1



"Kamu?"


__ADS_2