Mengejar Cinta Mantan Kekasih

Mengejar Cinta Mantan Kekasih
Bab 31 Bertemu Mantan


__ADS_3

Heliza keluar dari parkiran swalayan dan melajukan motornya membelah pekatnya senja yang mulai disesaki semburat lembayung senja. Di sana, masih di emperan toko seorang lelaki bertubuh tegap memandang sendu Heliza.


"Seandainya aku tidak ke Papua, kamu pasti sudah milik aku Hel. Sebenarnya aku kecewa, tapi mengingat siapa lelaki yang menjadi suamimu, aku hanya bisa berdoa semoga kamu bahagia," tuturnya lirih diiringi rasa sedih yang merasuki dadanya.


Tadi saat HPnya berbunyi dan panggilan dari seseorang yang tidak Irfan kenal menghubungi. Irfan menerima panggilan telpon itu. Dan di situlah terkuak siapa sebenarnya yang menghubungi. Ternyata Yazid, yang merupakan Kakak letting di kesatuannya. Dan yang paling menohok dadanya ternyata Yazid adalah suami dari kekasihnya yang dulu sempat dia tinggalkan tugas ke Papua.



"Apakah kamu kenal dengan nomer ini 0881234567890? Tadi pagi kamu pernah menghubunginya, kan? Dan berkirim pesan WA. Perkenalkan saya Yazid Regana, saya sebenarnya suami sahnya Heliza Hanafiah, kami sudah menikah selama satu tahun. Untuk itu, saya mohon pengertian kamu supaya tidak menghubungi istri saya lagi. Jika ada kesempatan kita bisa silaturahmi kopi darat." Begitu pesan WA yang dikirimkan Yazid suami sah dari Heliza.



"Bang Yazid, dia Kakak lettingku. Mana mungkin aku bisa mendapatkan Heliza lagi kalau dia sudah menikah dengan yang lain yang ternyata suaminya adalah Kakak lettingku. Beruntung sekali Bang Yazid, setelah dia berpisah dengan istrinya tiba-tiba dia menikah lagi, dengan kekasihku lagi," batin Irfan sangat terpukul. Namun di sini Irfan dipaksa harus ikhlas walau kesedihan menggelayuti dadanya.


**


Heliza tiba di depan rumah dan turun sejenak dari motor untuk membuka pagar rumah. Tidak terduga mobil Yazid juga sampai dan kini berada tepat di belakang motor Heliza.


"Kak Yazid," serunya sembari melihat ke arah Yazid. Batinnya heran, darimana Yazid pergi.



"Kakak dari mana?" tanyanya sebelum motornya di masukkan ke dalam. Yazid belum menjawab, dia masih menunggu Heliza memasukkan dulu motornya. Kemudian Heliza memasuki halaman rumah disusul Yazid.



Yazid memarkirkan mobilnya dengan benar, setelah itu dia mengikuti Heliza dari belakang. Heliza langsung ke dapur dan membuka kantong kresek yang berisi es krim, yang tadi dibelinya banyak. Dua wadah dia simpan di kulkas, satu wadah lagi di meja untuk disantapnya.



Yazid mengikuti dan duduk di meja sembari menyodorkan sebuah kantong kresek berisi makanan. Heliza sepertinya tidak tertarik dengan kresek bawaan Yazid, dia lebih tertarik dengan es krimnya.



Heliza berdiri lalu mengambil satu piring kecil dan sendoknya, lalu menuangkan es krim itu sebagian ke piring kecil dan disodorkannya ke arah Yazid.



"Kakak mau?" sodornya di depan Yazid tanpa menunggu persetujuan. Yazid meraih piring itu lalu didiamkan, kemudian tatap matanya tajan ke arah Heliza dan memperhatikan Heliza makan es krim.


__ADS_1


"Sayang, yang tadi pagi WA kamu siapa?" tanya Yazid tiba-tiba. Sejenak Heliza menghentikan aktivitasnya menyuapkan es krim. Heliza mengerutkan keningnya tidak paham.



"Adakah yang WA selain aku tadi pagi?" selidik Yazid lagi menggali kejujuran Heliza.


"Kenapa Kakak seakan menyelidiki aku?"


"Tidak, hanya ingin tahu."



"Iya, tadi pagi ada yang WA aku, tapi baru aku baca tadi setelah bubaran kerja. Aku tidak mau bahas. Lebih baik Kakak bahas topik lain," ucapnya dingin sembari melanjutkan kembali makan es krimnya.



"Dia mantan kamu?" ungkit Yazid membuat Heliza benar-benar menghentikan makan es krim satu wadah besarnya.



"Kenapa Kakak bahas ini? Kakak mau tahu? Iya, dia memang mantan aku dua tahun yang lalu, tadinya aku pikir dia bisa menggantikan Kakak yang pergi meninggalkan aku karena memilih dijodohkan. Tapi, dia dan Kakak rupanya sama saja. Hanya bisanya memberi harapan palsu.


Tapi cara dia pergi dari hidup Eliza berbeda. Dia pergi tanpa kabar hanya karena alasan sinyal. Dia masih mending dan tidak sesakit ketika ditinggalkan Kak Yazid," tukasnya sembari berlalu meninggalkan Yazid yang terbengong.



"Aku minta maaf Hel, dulu tidak ada maksud untuk melupakanmu. Sekarang setelah aku pulang ternyata kamu sudah milik yang lain, tadinya aku ingin melamar kamu. Tapi ternyata kita bukan jodoh. Jujur, aku kecewa dan sedih. Tapi, setidaknya yang jagain hidup kamu adalah Bang Yazid, aku harap hidupmu bahagia. Aku pamit, ya, Hel. Assalamualaikum," Pesan WA itu dikirim dan telah dibaca oleh Heliza. Tiba-tiba air matanya jatuh deras membasahi pipi. Seperti ada rasa sesak di dada merasakan sakit hati yang dirasakan Irfan.



"Semoga Kak Irfan bahagia, mendapatkan yang lebih baik dari Heliza. Heliza juga minta maaf." Heliza membalas pesan WA dari Irfan dan meletakkan HP itu begitu saja di kasur. Tiba-tiba Yazid sudah ada di belakang dan meraih HP Heliza. Heliza tidak mencegahnya, dia tidak peduli Yazid mengetahui isi WAnya, toh dia tidak berselingkuh.



"Kamu sedih, Sayang. Menyesal tidak berjodoh dengannya?" tanya Yazid menelisik.



Heliza membalikkan badan dan menatap wajah Yazid marah, air matanya semakin deras menetes.


__ADS_1


"Heliza menyesal telah menikah dengan orang mengungkit masa lalu. Seharusnya Eliza tidak kembali pada masa lalu. Dan Eliza tidak suka Kakak mengungkit masa lalu Eliza," ujarnya penuh penekanan.



"Kakak adalah masa laluku, tapi kini ada dimasa depanku. Jadi hiduplah dimasa depanku dan tidak perlu ungkit masa lalu aku yang MENYAKITKAN," tekannya sembari beranjak meninggalkan Yazid.



Yazid tersentak dengan respon keras Heliza. Dirinya juga masa lalu bagi Heliza. Namun kini masa depan bagi Heliza. Dia sadar dia salah, seharusnya dia tidak mengungkit masa lalu Heliza.



"Sayang, aku minta maaf. Aku berjanji tidak akan mengungkit masa lalu lagi. Aku benar-benar minta maaf," ucap Yazid mengikuti Heliza ke kamar sebelah. Di sana Heliza masih menangis, Yazid sadar sebagai masa lalu, dia memang kenangan terburuk bagi Heliza dibandingkan dengan yang dilakukan Irfan.



Sebulan kemudian, setelah kejadian terkuaknya mantan kekasih Heliza sebelum menikah dengannya, yaitu Irfan. Yazid selalu berhati-hati dalam bersikap. Dia banyak mengalah, terlebih sikap Heliza kini berubah dingin. Sepentingnya dan tidak banyak bicara.



"Aduhhh," suara rintihan terdengar dari dalam kamar. Yazid yang berada di dalam kamar mandi penasaran, ada apa dengan Heliza?



"Sayang, kamu kenapa?"


"Perut aku tiba-tiba keram, Kak."


"Keram?" Yazid heran lalu menghampiri Heliza dan meraba perutnya perlahan.



Tangan Yazid meraba menyasar seluruh permukaan perut Heliza. Ketika tangan Yazid mulai menyasar perut Heliza, pada saat itu juga Heliza merasakan perutnya enakan dan seakan semua sakit yang tadi dirasakan sembuh.



"Bagaimana, apakah sudah baikan?"


"Lumayan, Kak," ujarnya sembari menahan tangan Yazid supaya jangan pergi. Entah perasaannya saja atau firasat semata, ketika tangan Yazid meraba seluruh perut Heliza, Yazid merasakan perut Heliza berbeda.


__ADS_1


"*Apakah Heliza sedang hamil*?" batinnya penuh senyum.


__ADS_2