
Remang cahaya rembulan berteman akrab dengan kemilau bintang. Angin berbisik lembut, membelai rambut seorang gadis berparas cantik yang sedang duduk di teras rumahnya. Matanya menatap sayu ke awang-awang. Suasana hatinya tak menentu. Seperti biasa, gadis itu merasakan ada yang ganjal dalam hidupnya.
Lia Anindya Wulandari, atau biasa dipanggil Anindya. Gadis berusia 19 tahun yang kini bernotabe sebagai mahasiswa S1 jurusan sastra Indonesia.
“Sedang apa kamu di sini, Anin?” tanya seorang wanita paruh baya. Langkah kakinya terseok mendekati Anindya. Sebut saja namanya Rita, ibu kandung Anindya.
“Ibu kok belum tidur,” ucap Anindya sembari bangkit dari duduknya. Ia mendekati ibunya dan mendudukkan ibunya di kursi yang tadi ia duduki.
Wanita itu menggeleng, “ibu tidak bisa tidur, Nak.”
“Ibu harus tidur. Ini sudah malam, Bu.”
__ADS_1
“Kamu tahu ini sudah malam, ‘kan? Kalau begitu kenapa kamu sendiri belum tidur, Nak?” tanya Rita.
“A … aku, aku sedang menunggu kakak, Bu,” jawab Anindya, sedikit berbohong pada ibunya.
Rita menatap putrinya. Mata sayunya seolah berkata jangan berbohong kepada Anindya.
“Ibu paham apa yang kamu pikirkan, Anin. Masalah kita memang sangat berat, Nak. Tapi kita tidak boleh menyerah. Apapun yang terjadi, Anin, kita harus menghadapinya. Jangan menyalahkan siapapun atas apapun. Semua yang terjadi adalah takdirnya, Nak. Kamu harus bisa menerimanya dengan ikhlas, sembari berusaha agar hidupmu menjadi lebih baik,” ujar Rita. Anindya menunduk mendengar kata-kata ibunya. Selama ini, gadis itu banyak mengeluh dan menyalahkan orang lain. Padahal, dia tahu bahwa segala yang terjadi adalah takdir. Takdir yang telah tertulis untuk hidupnya
Anindya mengangguk, “Iya, Bu.” Gadis itu beranjak dari tempatnya. Membantu Rita berdiri kemudian memapahnya masuk ke dalam rumah.
***
__ADS_1
Anindya menatap sekeliling kamarnya. Mungkin, kamar yang sekarang ia tempati tidaklah sebesar dan semewah kamarnya yang dulu. Ia hanya tinggal di sebuah kontrakan kecil. Mata cokelat gadis itu menatap sebuah foto yang terpajang di kamarnya. Foto yang membuatnya terperosok ke dalam lubang kerinduan. Bukan hanya rindu, tapi juga benci. Mata gadis itu beralih pada sebuah boneka yang terpajang di sisi kasurnya. Itu adalah satu-satunya barang kenangan dari ayahnya, yang sampai saat ini masih ia jaga.
Bulir kembali memoles wajah gadis itu. Tidak ada yang tahu, tidak ada yang mengerti, mengenai luka yang tersemat dalam hatinya. Hanya dia yang tahu. Tidak ada yang paham, bahwa di balik Anindya yang selalu tertawa, ada tangis yang ia sembunyikan. Melihat kondisi ibunya, gadis itu bertekad tidak ingin menjadi wanita yang lemah. Begitupun dengan Rafi, kakaknya yang selalu pulang larut malam, hanya demi mengais sesuap nasi untuknya dan ibunya.
Anindya menyeka air matanya, “kenapa semuanya berubah, Yah? Kenapa ayah meninggalkan kami? Apa salah kami, Yah?” gumam gadis itu.
“Aku enggak tahu, Yah. Tapi ayah harus tahu. Aku selalu sayang ayah, meskipun sekarang setengah perasaan itu berubah menjadi benci.”
Gadis itu berjalan menuju kasurnya. Kedua tangannya erat memeluk boneka pemberian ayahnya. Air mata yang disekanya, kembali jatuh memoles pipinya. Kali ini, Anindya tidak berminat menghapus air matanya. Ia ingin membiarkan tangisnya tumpah tanpa suara dalam tidurnya.
*****
__ADS_1
Bersambung ....