
“Lagi dan lagi aku melihat hal yang sama dan merasakan luka yang sama karena ulahmu.”
~Anindya
~0~0~
Angin bergemuruh beriringan dengan petir yang menggelegar. Rintik hujan yang tak kunjung reda, menutup indahnya wajah bulan malam ini. Dingin menusuk raga. Anindya terdiam di pelataran kafe tempatnya bekerja. Waktu sudah menjukkan pukul 22.00, dan kafe sudah tutup semenjak satu jam yang lalu. Namun, hujan yang begitu deras membuat nyalinya menciut untuk menerobosnya sehingga ia memutuskan sampai hujan reda.
Gadis itu berkali-kali melirik ponselnya, berharap Rafi menjawab pesannya dan menjemputnya. Namun, nihil. Kakaknya itu pasti sudah sibuk dengan mimpinya, alias tertidur. Gadis itu mendengkus sebal, sembari berpikir keras bagaimana cara kembali ke rumahnya.
Mata Anindya beralih pada jalanan yang mulai sepi. Rasa takut mulai merasuki dirinya. Bagaimana jika kejadian tadi siang terulang kembali? Siapa yang akan menyelamatkannya? Bagaskara? Laki-laki itu? Gadis itu menggeleng pelan. Tidak! Imajinasinya selalu saja berlebihan. Anindya mendelikkan matanya, ketika sosok yang begitu ia kenal berada di seberang jalan sembari memayungi seorang gadis. Tangannya mengepal, napasnya memburu disertai pikiran buruk yang mulai berkecamuk. Tanpa pikir panjang, gadis itu menerobos hujan dan menghampirinya.
“Rifki!” panggil gadis itu kepada sosok yang tengah memayungi seorang gadis berwajah bule. Ia adalah Rifki, kekasih Anindya.
“Siapa dia?!” tanyanya dengan suara bergetar karena kedinginan.
“Dia ..., em ..., dia ....”
“Siapa, Ki?!” tanya Anindya sekali lagi dengan suara yang lebih keras.
“Ini gak seperti yang kamu pikirkan. Nin,” jawab laki-laki itu.
“Lalu apa lagi, Ki?!” sentak Anindya. “Alasan apa lagi yang akan kamu berikan?” lanjutnya.
Laki-laki itu menghela napasnya, “Dia pacar aku, aku udah sama dia sejak dua bulan yang lalu, dia juga tahu kalau kita masih pacaran. Maaf,” ujarnya jujur.
“Aku gak nyangka kamu sejahat ini, Ki. Aku sadar aku gak sempurna, gak cantik apalagi kaya, tapi gak gini caranya. Oke, kalau ini mau kamu, gak apa-apa, Ki. Hubungan kita berakhir sekarang, terima kasih,” ucap Anindya dengan suara lirih. Gadis itu berlari sekuat tenaganya, tidak peduli pada hunjaman keras dari bulir langit yang berjatuhan. Membiarkan air mata dan lukanya luruh bersama rintik yang jatuh. Kenangan itu, luka itu dan bayangan itu, lagi dan lagi ia harus menerima hal seperti ini. Iya, Anindya sadar bahwa ini salahnya, ia yang terus memberikan kesempatan kepada Rifki bahkan setelah berulang kali menyakitinya. Cintanya terlalu besar, bahkan lebih besar daripada rasa sakitnya.
~0~0~
__ADS_1
Hari telah berganti. Malam telah digantikan dengan pagi. Namun, matahari seo;ah malu menunjukkan dirinya pagi ini. Lihat saja, ia bersembunyi di antara gelapnya mendung. Anindya menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat, matanya sedikit membengkak, karena menangis semalaman. Gadis itu menghela napasnya kasar sembari menggelengkan kepala saat mengetahui dirinya begitu berantakan pagi ini. Dengan cekatan tangannya meraih bedak dan lipthint di meja riasnya, kemudian memoles wajahnya. Setelah dirasa cukup, gadis itu langsung menyambar tasnya dan keluar dari kamarnya.
"Selamat pagi, Bu!" sapanya pada Rita yang tengah meminum obatnya.
"Selamat pagi, tumben sekali sudah siap?" tanyanya.
"Em ..., aku ada kelas pagi. Aku langsung berangkat, ya, Bu. Takut terlambat," ujar Anindya, sembari menyalami tangan Rita.
~0~0~
Waktu berselang begitu cepat, kini denting jarum jam tengah menunjukkan pukul 11.00, Anindya baru saja keluar dari kelasnya sembari menenteng buku di tangannya. Gadis itu merogoh tasnya untuk mencari ponselnya. Brak! Tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang ada di hadapannya. Tubuhnya yang lemas karena tidak makan apapun membuatnya goyah, untung saja laki-laki itu dengan sigap menangkapnya.
"Kamu gak apa-apa, Nin?" tanya laki-laki itu yang tak lain adalah Chandra.
"Aku gak apa-apa, Chan. Terima kasih," jawab Anindya.
"Sama-sama. Ngomong-ngomong sudah selesai kelas 'kan? Bagaimana kalau kita ngopi dulu," tawar Chandra.
Chandra mengernyitkan dahinya. Untuk pertama kalinya Anindya menolak ajakannya, padahal biasanya gadis itu yang mengajaknya untuk ngopi bersama tiga teman yang lain.
"Ada masalah?" tanya Chandra to the point.
Anindya menggeleng pelan, "Gak ada, aku cuma merasa pusing aja."
"Yakin? Rifki sialan itu gak berulah lagi 'kan? Dia gak nyakitin kamu lagi 'kan?" tanya Chandra lagi.
Anindya terkesiap mendengar nama laki-laki itu meluncur begitu saja dari mulut Chandra. Semenjak kejadian semalam, ia tidak mau tahu lagi tentang laki-laki itu.
"Nin, kok diam?!" tanya Chandra lagi.
__ADS_1
Anindya mengembuskan napasnya kasar kemudian menggeleng, "Gak apa-apa."
"Di balik kata gak apa-apa selalu ada apa-apa," ujar Chandra tepat pada sasarannya. Anindya mengembuskan napasnya lagi, "Aku putus sama Rifki semalam," jawabnya jujur.
Chandra membelalakkan matanya, kaget mendengar kabar itu. Ia tahu benar bahwa sahabatnya ini jatuh cinta sampai buta kepada Rifki, "Kok bisa?"
"Bisa, gak usah dibahas aku malas."
"Ya udah kapanpun kamu mau cerita, cerita aja."
Anindya mengangguk, "Terima kasih, aku pergi dulu. Chandra terdiam menatap punggung Anindya yang semakin menjauh. Ia dapat melihat beban dan rasa sakit yang dipikul oleh gadis itu, dan kini laki-laki brengsek bernama Rifki, kembali memberinya luka yang sama, membuat gadis itu semakin jauh dari kata baik-baik saja.
~0~0~
"Anindya!" terdengar suara berat yang memaksa Anindya mendongakkan kepalanya. "Ternyata kamu di sini. Aku dari tadi mencarimu di seluruh penjuru kampus," ucap laki-laki itu.
Anindya menutup laptopnya kasar, moodnya hilang dan rusak hanya karena mendengar suara laki-laki itu. "Apa lagi, sih? Bisa gak jangan ganggu ketenangan orang!" ujar Anindya ketus.
"Aku mau ngobrol sebentar sama kamu, aku mau jelasin semuanya, aku gak mau putus sama kamu," balas laki-laki itu, yang tak lain adalah Rifki.
"Apa lagi yang mau kamu jelasin? Apa lagi yang mau kamu pertahankan di sini? Apa lagi, Ki?" tanya Anindya. Dadanya naik turun menahan emosi. "Sebenarnya kita sudah selesai bahkan jauh hari sebelum kemarin. Kisah kita sudah habis semenjak kamu membawa luka sebagai hadiahku. Sebenarnya, Ki, kisah kita sudah hancur dari dulu, tapi aku yang terlalu bodoh mempertahankan kamu," lanjutnya.
"Kasih aku kesempatan sekali lagi, Nin."
"Kesempatan? Buat ngasih aku luka yang sama lagi? Gak akan, Ki! Aku sudah sering kasih kamu maaf dan kesempatan, dan untuk kali ini enggak lagi!"
Gadis itu dengan cepat memasukkan laptopnya ke dalam tasnya. Kemudian bangkit dari tempatnya, "Aku sudah muak sama kamu!" serunya kemudian pergi meninggalkan laki-laki itu sendirian.
~0~0~
__ADS_1
BERSAMBUNG ....