
“Entah bagaimana caranya, kamu menjelma aksara dan menjadi objek dari setiap bait puisiku.”
-Bagasakara Adi Wijaya-
***
^^^Nona,^^^
^^^kau seolah datang membelah dadaku^^^
^^^dada yang mana bila dibelah ia lemah, bila dipisah ia kalah, pun bila dibanting ia patah^^^
^^^dada yang mana akan menyebut namamu, membayang senyummu, pun menyimpan rindumu^^^
^^^dada yang mana akan menjadi sandar bagi tangismu, menampung air matamu pun menghisap duka-dukamu^^^
^^^dada yang tak akan pernah berhenti merindumu juga mencintaimu.^^^
^^^Nona, ^^^
^^^belai-belai lembut dari tawamu tak akan berhenti mendebarkan jantungku^^^
^^^jantung yang mana akan selalu menyebut namamu^^^
^^^sampai detaknya berhenti; ^^^
^^^mati.^^^
^^^Ya, ^^^
^^^hanya untukmu, akan kubelah dada ini^^^
^^^sekadar bukti bila namamu telah melekat dan akan selalu melekat,^^^
^^^Nona Manis.^^^
^^^Bagaskara Adi Wijaya^^^
Tik ... tik ... tik.
Hujan dengan berani jatuh ke bumi. Perlahan tetesnya menyingkirkan ulasan senyum mentari. Aroma ptrikor menyeruak, memberikan ketenangan sejenak. Bagaskara tersenyum lembut menatap aksara yang baru dirangkainya. Entah bagaimana, laki-,laki itu mendadak ingin menuliskan puisi romantis saat wajah Anindya membayangi pikirannya. Gairah untuk menjadikan gadis itu objek dalam tulisannya, seolah tak bisa dia tahan.
“Ah, sial! Kenapa aku kepikiran gadis itu terus!” Bagaskara mengusap rambutnya kasar. Laki-laki itu merasa frustasi sekaligus bingung dengan dirinya sendiri. Tak bisa dielakkan, akhir-akhir ini dia sering melamunkan Anindya. Gadis itu seolah tak ingin lepas dari pikiran Bagaskara.
“Apa jangan-jangan aku benar-benar jatuh cinta pada gadis itu? Ah, tidak! Tidak mungkin! Tidak mungkin aku jatuh cinta pada penjaga kasir kafe itu! Ah, sial! Kenapa aku jadi kalah begini?” gumam Bagaskara.
Bagaskara mengembuskan napasnya kasar. Tak lama kemudian, laki-laki itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kedai. Menurutnya, kedai kopi ini cukup menarik. Dengan dekorasi outdoor bernuansa alam dan beberapa miniatur yang mendukung, kedai ini terlihat estetis. Belum lagi suasananya yang cukup tenang dan mendukungnya untuk menyelesaikan naskahnya. Sepertinya, kedai ini akan jadi salah satu kedai kopi favorit Bagaskara.
“Hai, Bagaskara. Kita bertemu lagi. Boleh aku bergabung denganmu?”
Bagaskara tersadar dari lamunannya, laki-laki itu segera mendongakkan kepalanya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Anindya ada di hadapannnya. “Panjang umurmu, Nin,” batinnya.
__ADS_1
“Bagaskara! Aku mengganggumu?” tanya Anindya merasa tak enak.
“Ah, tidak, Nin. Aku hanya terkejut kamu ada di sini. Silakan duduk, Nona Manis,” ujar Bagaskara.
Mendengar itu, Anindya dengan segera duduk di kursi yang berada di seberang Bagaskara. Tangan gadis itu melambai, memberi sinyal kepada pelayan kafe untuk datang kepadanya. Tak lama kemudian, salah seorang pelayan datang menghampiri meja mereka.
“Satu gelas cappucino hangat dan satu porsi cheesecake,” pesan Anindya. Pelayan itu segera mencatat pesanan Anindya kemudian berlalu dari sana.
“Jangan menatapku begitu, Bagaskara. Aku tidak akan memintamu membayar makananku. Tenang saja!” ujar Anindya.
Lagi, dan lagi, Bagaskara tersentak. Laki-laki itu kembali merasa kepergok telah memandangi Anindya. Sebenarnya, Bagaskara sendiri tak bisa mengelak jika penampilan Anindya hari ini cukup mempesona, sedikit berbeda dari biasanya. Gadis itu mengenakan celana jeans berwarna hitam, kaos putih bertuliskan newyork, dan rambut yang dikuncir satu. Sangat sederhana, tapi entah mengapa berhasil membuat Bagaskara terpesona. Apalagi senyum sumringah yang menghiasi wajah gadis itu, seolah menambah kesan manis untuknya.
“Bagaskara, kamu melamun? Kenapa? Apa kehadiranku mengganggumu?” tanya Anindya. Jika boleh jujur, dalam hati gadis itu merasa tak enak pada Bagaskara. Entah bagaimana, dia merasa telah mengganggu ketenangan Bagaskara.
“Ah tidak, Nona. Aku hanya ... em ....” Ucapan Bagaskara terpotong ketika menatap matanya. Laki-laki itu tiba-tiba merasa gugup saat berhadapan dengan Anindya seperti ini.
“Kamu sangat manis, Nin,” jawab Bagaskara keceplosan.
“Eh, maksudku. Em ... anu, kopi ini terlalu manis.”
Melihat Bagaskara gelagapan seperti itu, Anindya menahan tawanya. “Ternyata laki-laki sepertimu bisa gugup juga, ya? Hahaha!”
“Shit!” umpat Bagaskara pelan.
Anindya menghentikan tawanya. Sejenak, mata gadis itu melirik pada sebuah kertas yang tergeletak di meja. Secara tidak langsung, gadis itu membaca puisi yang baru saja dituliskan Bagaskara. Sebuah rasa yang tak ingin diakuinya pun muncul seketika.
“Puisi yang indah,” puji Anindya setelah membaca puisi tersebut.
“Iya. Indah, seperti objek dari puisi ini,” ujar Bagaskara pelan.
“Siapa?”
“Kamu. Lia Anindya Wulandari. Gadis manis yang kutemui di ujung jalan siang itu,” jawab Bagaskara sembari meneguk kopinya.
__ADS_1
Deg!
Anindya terdiam. Angin yang masuk dari celah-celan jendela yang terbuka mengibaskan rambutnya, sesekali membawanya hanyut dalam ucapan Bagaskara. Gadis itu seperti dibawa terbang ke angkasa hanya karena ucapan manis itu. Namun, sesaat kemudian dia tersadar. Luka lamanya belum pulih, dan dirinya tidak boleh membuat luka baru lagi.
“Jangan bercanda, Bagaskara!” ujar Anindya.
Bagaskara menatap gadis itu lembut. Laki-laki itu merasa, dirinya seperti ditarik oleh magnet dari pesona Anindya. Hatinya begejolak, jantungnya berdegup kencang, dan shit dia merasakan seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitiki perutnya.
“Apa aku jatuh cinta pada Anindya? sial! Gadis ini sangat manis, lebih dari manis,” batin Bagaskara. Sejenak kemudian, dia menggelengkan kepala; mencoba membuang semua anggapan jika dirinya mulai jatuh cinta pada Anindya. “Tidak! Tidak mungkin aku mencintai Anindya.”
“Argh!” Bagaskara mengeram frustasi. Dia lupa, bila di hadapannya tengah duduk seorang gadis manis yang baru saja dirayunya. Dia bahkan tak ingat bila kini dia tengah ada di sebuah kafe yang tenang.
“Bagaskara, kamu baik-baik saja ‘kan?” Suara lembut Anindya berhasil membuat Bagaskara tersentak. Tak lama kemudian, laki-laki itu gelagapan; salah tingkah. Bisa-bisanya dia bersikap aneh di depan Anindya. Sial!
“Ah, tidak. Aku baik,” jawab Bagaskara berusaha setenang mungkin.
Anindya mengangguk. “Hm, baiklah. Maaf, aku harus pamit sekarang. Ibuku sedang sakit, dia sendirian di rumah. Aku permisi, ya, Bagaskara.”
Bagaskara tidak menjawab, laki-laki itu hanya menanggapi ucapan Anindya dengan senyuman dan anggukan. Perasaannya masih tak karuan mengingat bagaimana pesona Anindya hari ini. Rasanya, dia seperti ... ah, tidak mungkin!
***
Semilir angin berembus lembut. Petrikor menyeruak; menyusup ke dalam indra penciuman, memberikan ketenangan. Langit menggelap tanpa bintang apalagi rembulan, membuatnya tampak kelam malam ini. Bagaskara terdiam di balkon rumahnya. Matanya menatap kosong ke arah di depannya; membayang setiap inci wajah Anindya yang membuatnya frustasi akhir-akhir ini. Sungguh aneh. Baru dua bulan dia bertemu gadis itu, dan kini dia mulai uring-uringan karena perasaannya yang tidak jelas pada Anindya. Menyebalkan, bukan?
Bagaskara mengembuskan napasnya kasar. Untuk ke sekian kalinya, laki-laki itu mengeram frustasi. Gadis manis bernama Lia Anindya Wulandari itu berhasil membuatnya seperti orang gila.
“Sial! Kenapa wajah gadis itu tidak bisa kutepis!” umpat Bagaskara kesal.
“Damn! Enggak mungkin aku jatuh cinta sama dia!” Bagaskara menggerutu tidak jelas. Dia kesal dengan dirinya sendiri. “Shit! Bisa gila aku kalau lama-lama kayak gini! Huft, sial!”
“Ayolah, Bagaskara! Jangan memikirkan gadis itu dulu! Ingat pendidikanmu, karirmu, orang tuamu, dan ya ... ah, sial!” Bagaskara mengomel tidak jelas. Laki-laki itu mengusap wajahnya kasar. Sedari awal, dirinya telah berprinsip untuk tidak jatuh cinta pada perempuan manapun sebelum dia menyelesaikan pendidikannya. Namun, entah bagaimana setelah bertemu dengan Anindya, prinsip itu perlahan memudar. Ya, sadar tak sadar, laki-laki itu telah jatuh cinta pada pesona Anindya.
Bagaskara mengembuskan napasnya pelan, kemudian meneguk kopi yang isinya mulai mendingin karena udara malam. Laki-laki itu berusaha menetralkan pikirannya, sekaligus membuang jauh bayangan wajah Anindya.
***
bersambung ....
__ADS_1