MENGEJAR ILUSI

MENGEJAR ILUSI
PERTEMUAN DENGANNYA


__ADS_3

..."Aku tidak pernah menyangka bahwa pertemuan yang kuanggap awal pertemanan yang baik ini justru berakhir pada rasa kagum yang tumbuh menjadi cinta kemudian berakhir dengan luka."...


...~Anindya...


***


Udara siang ini terasa sangat panas. Matahari bersinar begitu terik. Anindya berjalan sendirian di tengah sepinya perkampungan. Wajar, jam segini para penghuninya sedang sibuk mengais rezeki. Gadis itu baru saja pulang dari kampusnya. Seperti biasa, dia pulang berjalan kaki sendirian menyusuri kota metropolitan.


Anindya menoleh ke belakang, ia merasa ada orang yang tengah mengikutinya. Gadis itu bergidik ngeri membayangkan dua preman pasar yang ia temui kemarin tengah mengikutinya. Tidak! Anindya membuang jauh pikiran negatifnya itu. Dia mempercepat langkahnya agar segera sampai di rumah dan bisa beristirahat sebentar sebelum berangkat kerja nanti sore.


“Aw!” pekiknya ketika seseorang menarik tangannya dengan kasar. Napasnya tersendat, keringat dingin menjalar dari seluruh tubuhnya. Ketakutannya menjadi nyata. Tiga orang bertubuh besar itu, menghadang jalannya. “Jadi ini anak bau kencur yang berani melawan kita kemarin?” ucap salah seorang dari mereka.


“Wajahnya lumayan, tubuhnya juga. Bagaimana kalau kita nikmati bersama,” lanjutnya sembari mendekati Anindya. Jantung gadis itu berdegup kencang. Tiga pria bertubuh besar itu semakin mendekati dirinya, memojokkannya ke tembok. Gadis itu menutupi wajah dengan tangannya. Takut.


Bugh! Satu pukulan mendarat tepat di wajah pria yang hampir saja melecehkan Anindya. Bugh! Satu pukulan lagi mendarat di wajah salah satu temannya.


“Argh! Beraninya kamu menggangguku!” sentak salah satu dari mereka. Anindya mengintip di balik jemarinya. Seorang laki-laki seumuran dengannya, berdiri tepat di hadapannya.


“Harusnya kalian malu! Berlaku seperti itu kepada perempuan! Dasar preman nggak punya otak!” balas laki-laki itu tak mau kalah. Salah satu preman itu mengangkat tangannya, hendak menghajar laki-laki itu. Namun, dengan cekatan laki-laki itu menghindar, membuat preman itu tersungkur tepat di hadapan Anindya. Gadis itu tak kunjung diam. Ia mengambil sebuah balok kayu yang berada di dekatnya, dengan sigap gadis itu membantu menghadapi ketiga preman itu hingga mereka kalah dan melarikan diri dari sana.


“Dasar banci!” Laki-laki itu berteriak. Anindya mengembuskan napasnya, mencoba menetralkan detak jantungnya. Gadis itu menatap laki-laki yang ada di sebelahnya. Sebuah senyum tercetak di bibir manisnya, “Terima kasih,” ucapnya.


“Ya, sama-sama, siapa namamu?” tanya laki-laki itu.


“Lia Anindya Wulandari, panggil saja aku Anindya,” jawab Anindya sembari membenarkan rambutnya.


“Nama yang indah. Perkenalkan aku Bagaskara Adi Wijaya. Kamu bisa memanggilku Bagaskara. Aku mahasiswa S2 jurusan sastra Indonesia di Universitas Bina Bangsa,” laki-laki itu memperkenalkan dirinya.


Anindya tersenyum lembut. “Ah iya. Kita satu kampus ternyata. Aku mahasiswa S1 jurusan sastra Indonesia.”


“Oh, ya? Ah, aku tidak menyangka gadis berpenampilan sepertimu masuk ke universitas Bina Bangsa.”


“Apa maksudmu?” tanya Anindya. Gadis itu merasa tidak terima dengan pernyataan Bagaskara yang terdengar ambigu.


“Maksudku, aku tidak percaya gadis dengan penampilan pandai sepertimu masuk ke Unnversitas Bina Bangsa, aku yakin jelas kamu mendapatkan banyak sekali tawaran untuk bisa mengikuti pertukaran pelajar.” Bagaskara menjelaskan maksud dari ucapannya. Ia tahu hanya dari sorot matanya, bahwa gadis di hadapannya ini adalah gadis yang pintar. Ralat, bukan hanya pintar tapi sangat pintar dan cerdas.


“Oh, begitu. Iya, kamu benar, tapi aku tidak bisa meninggalkan keluargaku. Bisa melanjutkan pendidikan di Unniversitas Bina Bangsa tanpa mengeluarkan biaya saja aku merasa sudah sangat beruntung,” ucapnya. Bagaskara tersenyum kepada Anindya. Sorot matanya menatap lembut gadis di hadapannya ini. “Kamu menarik.” Sebuah kalimat  lolos begitu saja dari mulut Bagaskara.


“Eh, maksudku … begini. Banyak orang mengejar ambisi untuk bisa kuliah di luar negeri. Entah itu mengejar ilmunya atau mengejar statusnya. Mereka bahkan menghalalkan segala cara untuk meraihnya, tapi kamu malah menolaknya dan memilih kuliah di Indonesia,” jelasnya.


“Oh, tidak seperti itu, Bagaskara. Aku bukan manusia berambisi yang harus mencapai segalanya. Sedari kecil aku diajarkan untuk menjadi sosok yang selalu mensyukuri apapun yang Tuhan beri. Mau sedikit atau banyak, mau nikmat atau sakit aku tetap harus mensyukuri dan menjalaninya dengan ikhlas. Itulah yang diajarkan ibuku kepadaku,” ucap Anindya sembari tersenyum mengingat kata-kata ibunya.

__ADS_1


“Oh, begitu ya. Eh ngomong-ngomong, aku harus pergi. Aku ada urusan, lain waktu kita bicara lebih banyak.”


“Iya. Aku juga harus segera pulang. Ibuku sendirian di rumah. Sekali lagi terima kasih sudah menolongku,” ujar Anindya.


“Sama-sama. Senang bisa bertemu denganmu.” Setelah mengucapkan itu, Bagaskara pergi meninggalkan Anindya yang mematung sendirian. Sedikit rasa kagum muncul dalam hati kecil Anindya. Pembawaan Bagaskara dan caranya berbicara membuatnya terpesona pada laki-laki itu.


***


Sore ini langit mendung. Gemuruh petir terdengar. Semesta memberi tanda hujan akan turun. Semilir angin berhembus lembut, membelai pepohonan membuatnya menari. Rintik mulai turun, membasahi setiap jengkal bumi. Bagaskara menatap jengah benda kotak di hadapannya, idenya bubar. Lihat saja, dia bahkan belum mengetik satu kata pun.


“Argh!” Bagaskara mengeram frustasi. Laki-laki itu mengacak-acak rambutnya, hal yang sering ia lakukan saat buntu ide.


Bagaskara mengembuskan napasnya kasar, kemudian menutup laptopnya. Laki-laki itu menyambar dompet dan kunci mobilnya. Seperti biasa, ia akan keluar untuk mencari inspirasi. Entah itu ke café dekat rumahnya, atau sekedar keliling kompleks untuk merefresh otaknya.


“Mau ke mana kamu?” tanya seorang wanita paruh baya, yang tak lain adalah ibu Bagaskara. Wanita itu tengah duduk di ruang keluarga sembari meminum segelas teh hangat.


“Mau keluar, Ma. Cari inspirasi,” jawab laki-laki itu. Lidya menggeleng. “Di luar hujan, Sayang. Tunggu sampai hujan reda sembari istirahatkan tubuhmu. Mama tahu kamu sedang mengejar deadline, tapi tubuhmu juga butuh istirahat, Nak,” ucapnya.


“Aku ‘kan naik mobil, Ma. Jadi enggak bakalan kehujanan juga.”


“Ya, mama tahu, tapi hujan-hujan begini lebih baik kamu istirahat,” ucap Lidya, masih mencoba menasehati anaknya.


“Kamu ini, ya sudah tapi jangan pulang malam-malam.”


Bagaskara mengangguk, “Enggak pulang malam kok, Ma. Palingan juga pulang pagi,” ucapnya. Lidya memelototkan matanya. “Haha …, aku bercanda, Ma. Enggak sampai maghrib, kok.”


“Ya sudah kalau begitu, hati-hati.” K


Mendapat izin dari mamanya, laki-laki itu tersenyum, “Siap, Komandan!” serunya sembari meletakkan tangannya di kepala, seperti orang yang hormat.


***


Langit begitu gelap. Kilat menghasiasi gumpalan abu-abu. Rintik membasahi setiap inci kota metropolitan ini. Aroma petrikor menyeruak, menciptakan kesejukan dipadu dengan angin yang berembus sedikit kencang. Sebuah taksi berhenti tepat di depan sebuah bangunan bertuliskan ‘COFFEE CUP’. Tak lama kemudian, seorang gadis cantik berseragam layaknya seorang pelayan cafe turun dari taksi tersebut sembari menutupi kepalanya dengan tas kulit agar tidak kehujanan. Kemudian, dengan setengah berlari, gadis itu masuk ke dalam cafe.


”Anindya, tumben sekali kamu sudah datang. Bukankah hari ini kamu sift malam?” tanya seorang laki-laki yang baru saja melayani pembeli.


“Iya, tidak apa-apa, aku hanya ingin menghabiskan waktu untuk ngopi dan mengerjakan naskah novelku di sini. Selepas maghrib nanti baru aku akan berjaga di kasir,” jawab Anindya.


“Oh begitu, baiklah kalau begitu kamu mau pesan apa? Akan aku buatkan.”


“Seperti biasa, segelas cappucino cukup untuk menemaniku mengerjakan naskah novelku.”

__ADS_1


“Baiklah, tunggu di meja biasanya, akan segera aku buatkan.”


Anindya tersenyum menatap kepergian laki-laki itu. Gadis itu berjalan ke meja nomor 11 yang entah sejak kapan sudah menjadi tempat favoritenya. Sembari menunggu pesanannya, Anindya mengeluarkan laptopnya. Jemarinya dengan lihai menari di atas keyboardnya. Ya, inilah kegiatan Anindya selain kuliah. Gadis itu bekerja di sebuah cafe sebagai penjaga kasir dan menjadi seorang penulis untuk menambah penghasilannya. Anindya sadar, ia bukan lagi anak orang kaya yang bisa mendapat apapun dengan meminta kepada orang tuanya. Ia harus bekerja keras untuk menyambung hidupnya. Namun, Anindya sangat bersyukur karena Tuhan tidak pernah membiarkan ia kekurangan, bahkan dalam kondisi mendesak, Tuhan selalu memberikan ia jalan untuk mengatasi masalahnya. Mungkin, benar kata orang bahwa mensyukuri hidup adalah salah satu cara untuk bahagia.


“Ini pesananmu, Nona Cantik,” ucap laki-laki tadi sembari menyerahkan segelas cappucino kepada Anindya.


“Ya, terima kasih, Chan. Apa kamu tidak ingin menemaniku di sini?” tanya Anindya. Laki-laki yang diketahui bernama Chandra itu menggeleng, “Maaf, aku banyak pekerjaan, Nin. Lain kali saja,” tolaknya.


“Ya sudah kalau begitu kerja saja. Aku mau melanjutkan naskah ini.”


Chandra hanya mengangguk kemudian tersenyum sembari meninggalkan Anindya yang kembali asik dengan dunianya.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka. Dengan dahi yang mengernyit penuh tanda tanya. “Bukankah itu Anindya? Gadis yang tadi aku temui di jalan?” gumamnya bertanya kepada diri sendiri. Untuk memastikan bahwa gadis itu adalah Anindya, laki-laki itu pun memantapkan kakinya untuk melangkah mendekati gadis itu.


“Permisi, apa aku boleh bergabung denganmu?” tanya laki-laki itu, yang tak lain adalah Bagaskara. Anindya hanya mengangguk sebagai jawabannya. Gadis itu bahkan tidak menoleh untuk sekedar membalas sapaan dari Bagaskara.


“Aku tidak menyangka bahwa kamu juga suka menulis,” ujar Bagaskara sembari mengeluarkan laptopnya.


“Menulis adalah hobiku dan bagiku menulis adalah hidup. Oh ya, aku mengizinkanmu untuk duduk di sini bukan untuk menggangguku,” ucap Anindya tanpa menoleh ke arah Bagaskara. Ia tidak tahu bahwa ia sedang berbicara dengan Bagaskara.


“Aku tahu, Anindya. Tidak ada yang suka diganggu saat menulis apalagi anak sastra Indonesia seperti kita,” kata Bagaskara sembari meminum kopi pesanannya yang baru saja datang. Mendengar hal itu, Anindya langsung mendongakkan kepalanya dan mendapati bahwa yang sedari tadi berbicara dengannya adalah Bagaskara, laki-laki yang tadi siang menolongnya. Gadis itu memukul jidatnya pelan seraya merutuki kebodohannya, atau bisa jadi kebiasaan buruknya ketika sudah berhadapan dengan naskah.


“Maafkan aku. Aku tidak sadar bahwa yang berbicara denganku itu kamu,” ucapnya.


“Hahaha iya tidak masalah, tapi sepertinya kamu harus mengurangi kebiasaan itu. Maksudku, aku juga pecandu aksara sepertimu, tapi aku masih merespon keadaan sekitarku,” ucapnya.


Anindya mengulas senyumnya, “Iya, kamu benar. Kebiasaanku ini sangat bodoh sampai-sampai tidak merespon sekitarku.”


“Bukan bodoh, hanya kurang baik,” sanggah Bagaskara.


“Oh iya ngomong-ngomong kenapa kamu berpakaian seformal ini di kafe?” tanya Bagaskara. Sedari tadi ia terheran dengan penampilan Anindya yang formal.


“Seragam karyawan begini kamu bilang formal! Aku bekerja di sini sebagai kasir. Hari ini aku ambil sift malam, dan sudah jadi kebiasaanku datang ke sini sebelum jam kerja untuk menulis naskah kemudian bekerja.”


Bagaskara tersenyum kepada gadis di hadapannya. Senyum yang sangat manis, bahkan jika senyum itu adalah makanan, mungkin orang bisa terkena diabetes setelah memakannya. Anindya tertegun melihat seulas senyum yang diberikan Bagaskara untuknya. Diam-diam gadis itu mengakui pesona Bagaskara. Meski wajahnya terkesan biasa saja, tapi senyumannya begitu manis.


Tidak ada lagi percakapan di antara mereka setelahnya. Tidak ada suara dari mereka yang terdengar, selain suara jari mereka yang begitu lihai menari di atas keyboard masing-masing. Ya, mungkin mereka sudah sama-sama kembali pada tujuannya yaitu menyelesaikan naskah mereka masing-masing.


***


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2