MENGEJAR ILUSI

MENGEJAR ILUSI
17. Bagaskara Lagi


__ADS_3

...“Sialnya, semakin hari kita semakin dekat, semakin kerap dipertemukan tanpa sengaja, dan semakin itu jugalah kita terperangkap dalam perasaan yang mungkin saja bisa disebut cinta.”...


...-Lia Anindya Wulandari-...


***


Jalanan yang padat dengan asap yang mengepul ke atas, merupakan sebuah pemandangan yang tak asing ditemui pada siang hari di Kota Jakarta. Namun, hal ini sama sekali tidak menghalangi keinginan Anindya untuk pergi ke perpustakaan kota. Gadis yang mendapat predikat sebagai perempuan manis itu terus melangkahkan kakinya menuju sebuah bangunan yang terletak di sisi taman kota. Seperti biasanya, bangunan tersebut terlihat sepi pengunjung.


“Sepi lagi. Huft. Pantas saja angka literasi di Indonesia sangat rendah, perpustakaan saja sepi begini,” gerutu Anindya ketika sampai di depan bangunan itu.


Setelah mengecek ponselnya yang sedari tadi berbunyi karena grup kampus, gadis itu segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam perpustakaan tersebut. Mata Anindya menelisik setiap sudut ruangan berdekorasi putih itu. Rasanya, gadis itu lupa kapan terakhir kali dirinya masuk ke dalam ruangan ini. Huft, kesibukan memang terkadang menyebalkan.



Seolah tersadar dari lamunannya, Anindya berjalan menuju rak buku yang menampilkan jajaran novel-novel favoritnya. Gadis itu tersenyum simpul ketika menemukan salah satu novel yang tengah dia incar. Tanpa berpikir panjang, gadis itu segera menarik novel itu dari rak.


“Aduh!” keluh Anindya ketika merasa punggungnya menabrak sesuatu. Tak lama kemudian, gadis itu memutar badannya. Sedetik, dua detik, Anindya terdiam melihat siapa yang berada di belakangnya.



“Kamu lagi, kamu lagi, kenapa sih kamu selalu muncul di hadapanku dan menabrakku?” gerutu Anindya pada laki-laki yang masih cengo di belakangnya.


“Menyebalkan sekali jadi laki-laki.” Mendengarnya, laki-laki yang tak lain adalah Bagaskara itu melotot. Bisa-bisanya, gadis manis di hadapannya ini menggerutu padahal gadis itu sendiri yang menabraknya.


“Jangan melihatku seperti itu!” ujar Anindya dengan nada judes.


Bagaskara semakin tidak paham dengan gadis di hadapannya. Semenjak mereka kenal sampai sekarang, baru pertama kali dia melihat gadis itu menggerutu seperti ini, bahkan saat laki-laki itu membantunya mengerjakan tugas akhir, Anindya tampak tenang dan kalem, seperti biasanya. Sangat berbeda dengan hari ini, gadis itu yang menabraknya, tapi gadis itu juga yang menggerutu sebal. Huft, meresahkan.


“Heh, kamu tidak mendengarku, Bagaskara?!” Suara Anindya membuat kesadaran Bagaskara kembali. Laki-laki itu membuang napasnya kasar.


“Aku dengar, Anin. Maafkan aku sudah berdiri di belakangmu,” ujar Bagaskara tulus.

__ADS_1


Anindya hanya mengangguk. Kemudian, tanpa berbicara lagi, gadis itu pergi menuju ke arah tempat peminjaman buku. Hal ini, tentu saja membuat Bagaskara melongo. Tidak seperti biasanya Anindya begini. Huft, sudahlah. Mungkin dia benar-benar kedatangan tamu.


Bagaskara kembali membuang napasnya kasar. Daripada pusing memikirkan Anindya yang aneh kali ini, laki-laki itu memutuskan untuk melanjutkan tujuannya datang ke perpustakaan kota. Ya, mencari buku puisi dari penyair terkenal yang sudah lama dia incar.


***


“Huft, panas sekali.” Gadis manis itu mengibaskan tangannya ke wajah, bertujuan mengurangi rasa gerah. Namun, nihil. Matahari sepertinya tengah ganas siang ini. Saking ganasnya, AC yang berada di kafe tempat Anindya duduk sekarang seolah tak berfungsi.


“Permisi, Nona. Ini pesanannya,” ujar Chandra sembari menyuguhkan es cappucino yang telah dipesan Anindya.


“Hus! Diamlah, Chandra. Jangan menggangguku, aku sedang kepanasan,” balas Anindya sembari menyeruput es cappucinonya.


Chandra mengernyitkan dahinya. Ada yang berbeda dari Anindya. Biasanya, gadis ini selalu menjawab ucapannya dengan ramah. Namun, kali ini berbeda. Gadis itu bersikap ketus dan menganggap bahwa dia sudah mengganggu gadis itu.


“Kamu baik-baik saja, Nin?” tanya Chandra lembut.


“Iya. Aku baik. Sudah, lanjutkan pekerjaanmu. Aku tidak ingin kamu kehilangan pekerjaan hanya karena aku,” jawab Anindya.


Anindya menghela napasnya kasar. Akhir-akhir ini suasana hati gadis itu cukup berantakan. Padahal, dia tidak tengah kedatangan tamu seperti yang ada di pikiran Chandra dan Bagaskara.


Lagi, dan lagi. Anindya membuang napasnya kasar. Tangannya mulai terarah untuk membuka buku yang telah dia pinjam dari perpustakaan tadi. Sejenak kemudian, gadis itu telah fokus pada novel milik penulis ternama yang menjadi asupannya. Bahkan, gadis itu tidak sadar bila Bagaskara sudah duduk di hadapannya.


Bagaskara terdiam. Matanya mengamati Anindya yang tengah fokus dengan buku di hadapannya. Bagaskara tidak munafik, laki-laki terkagum terhadap kecantikan Anindya. Alis tebal, bulu mata lentik, kulit putih, bibir tipis, dan lesung pipi yang menawan. Sungguh perpaduan yang sempurna. Ditambah lagi dengan kecerdasan dan potensi yang dimiliki gadis itu. Bila saja Bagaskara tidak mengingat bahwa Anindya adalah pelayan kafe, dia pasti akan memacari gadis itu.


“Bagaskara!” panggil Anindya.


“Ah, sudah selesai membaca bukunya, Nin?”


“Sudah. Dari tadi malah,” jawab Anindya sembari menyeruput cappucino miliknya.


Bagaskara melotot. “Dari tadi? Itu artinya ....”

__ADS_1


“Iya. Aku sadar saat kamu memandangiku sedari tadi, Bagaskara. Aku bahkan sudah memanggilmu berulang kali, tapi kamu tidak menjawabnya,” sahut Anindya.


Bagaskara ternganga. Wajahnya pasti memerah seperti kepiting rebus akibat menahan malu. Sial! Untuk ke sekian kali, Anindya kembali memergokinya sebab telah memerhatikan gadis itu.


“A-aku ... tidak bermaksud ... em ....” Ucapan Bagaskara terpotong saat Anindya menggelakkan tawanya. Entahlah, wajah merah milik Bagaskara begitu lucu di mata Anindya.


“Diamlah, Nin. Tidak perlu menertawakanku seperti itu!” ucap Bagaskara sebal.


“Hahaha! Maafkan aku, Bagaskara. Tapi, wajahmu itu sangat lucu bagiku,” ujar Anindya di sela tawanya.


Bagaskara mengerucutkan bibirnya. Hal ini membuat Anindya semakin gemas pada laki-laki itu. Entah setan dari mana yang telah merasuki gadis itu hingga dia berani mengarahkan tangannya untuk mencubit pipi Bagaskara. Hal ini tentu saja membuat Bagaskara ternganga. Lagi, dan lagi. Anindya membuat jantungnya berdebar kencang.


“Ups, maafkan aku, Bagaskara. Aku kelepasan,” ujar Anindya.


“Tidak apa, Nona Manis.” Hanya itu yang mampu diucapkan Bagaskara di tengah debar jantungnya yang kencang. Namun, ucapan sederhana disertai dengan panggilan istimewa itu berhasil membuat jantung Anindya berdebar kencang juga.


Sebuah garis tercetak di wajah Anindya. Bagaskara selalu saja berhasil membuatnya bahagia, meski dengan hal yang sederhana. Bahkan, suasana hati yang tadinya buruk, kini menjadi lebih baik hanya karena Bagaskara. Di sisi lain, Bagaskara terpana dengan senyum milik Anindya. Diakui ataupun tidak, gadis itu selalu saja punya pesona yang mampu membuatnya terpikat.


“Sangat manis.” Kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Bagaskara.


Anindya tertegun. Apa dia tidak salah dengar? Seorang dengan latar belakang seperti Bagaskara memujinya sebagai gadis manis, padahal dia hanyalah seorang pelayan kafe.


“Kamu tidak berbohong, Bagaskara?”


“Tentu tidak, Nona. Kamu sangat manis,” puji Bagaskara lagi.


Anindya tersipu malu. Rasanya, seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitiki perutnya. Jantungnya berdebar cukup keras dan napasnya tercekat. Sungguh, Bagaskara selalu saja berhasil membuatnya kehilangan kendali atas dirinya.


...***...


...Bersambung .......

__ADS_1


Hai, All! Aku kembali setelah sekian purnama menghilang di telan bumi. Maaf banget ya, baru bisa up lagi. Kesibukan menghalangiku mempublish tulisan xixixi. Oh iya, maaf juga kalau part kali ini rada absurd. Maklum, authornya lagi mabok KTI. Happy Reading, All. Tunggu part selanjutnya, ya!♡


__ADS_2