MENGEJAR ILUSI

MENGEJAR ILUSI
12. DAFFA AGEM REVANDRA


__ADS_3

...“Hai, Gadis Manis, sepertinya mata indahmu itu telah menyihirku, dan memaksaku untuk mencintaimu dalam sekejap.”...


...-Daffa Agem Revandra-...


***


Kala matahari perlahan menepi di ufuk barat, diiringi semilir angin yang berembus lembut, bersamaan dengan itulah Anindya menduduki salah satu kursi taman kota. Seperti biasa, gadis itu memilih menikmati senja sebelum berangkat menuju ke kafe tempat dia kerja. Sejenak, otaknya mengintruksi tangan gadis itu untuk memainkan gitar yang sengaja dia bawa. Hingga detik-detik berikutnya, terdengar melodi-melodi indah yang dimainkan Anindya.


“Burung, sampaikan nada pilu. Angin, terbangkan rasa sedih. Jemput bahagia di harinya, berikan dia hidup.” Suara Anindya terdengar cukup merdu. Siapapun yang mendengarnya, sudah pasti akan larut dalam nyanyian gadis itu.


“Tuhan, terserah pada-Mu, aku ikut mau-Mu, Tuhan. Kucatat semua ceritaku dalam harianku.” Anindya terus melanjutkan lagunya. Gadis itu seperti larut dalam melodi yang tengah dia mainkan. Dia bahkan tidak menyadari, jika seorang laki-laki tengah memperhatikannya. Dari tatapan laki-laki itu, sepertinya dia terpesona oleh nyanyian Anindya.


“Keren!” Laki-laki itu bertepuk tangan saat Anindya menyelesaikan lagunya. Sedetik kemudian, dia melangkahkan kakinya mendekati Anindya. Sedangkan Anindya, gadis itu tersenyum hanya tersenyum kikuk.


“Nyanyian yang luar biasa untuk penikmat senja sepertimu, Nona,” puji laki-laki.


Anindya tersenyum, “Terima kasih,” ujarnya.


“Ehem, bolehkah kita berkenalan, Nona?” tanya laki-laki itu.


Anindya meletakkan gitarnya, kemudian mengangguk. “Silakan.”


Jika kalian berpikir bahwa Anindya adalah gadis murahan yang dengan mudah menerima laki-laki, kalian salah. Anindya hanyalah sosok yang supel dan mudah berteman. Gadis itu tak pernah membatasi pertemanannya dengan alasan apapun. Selalu ramah dan baik hati pada siapapun adalah prinsip hidupnya.



“Ah, syukurlah. Kukira kamu akan menolakku, Nona,” ujar laki-laki itu.



“Perkenalkan, namaku Daffa Agem Revandra, kamu boleh memanggilku Daffa. Aku mahasiswa S1 jurusan psikologis, Universitas Bina Bangsa.” Laki-laki itu melanjutkan kalimatnya. Salah satu tangannya terulur untuk menjabat tangan Anindya.



Anindya tersenyum, kemudian menerima jabatan laki-laki itu. “Aku Lia Anindya Wulandari, kamu boleh memanggilku Anin. Aku mahasiswa semester akhir jurusan sastra Indonesia.”



“Ah, kukira kamu lebih muda dariku, Nona. Wajahmu masih seperti gadis berumur 19 tahun!” seru laki-laki bernama Daffa itu.



Anindya tertawa cukup keras mendengarnya. Suara tawanya yang merdu, berhasil menyihir Daffa untuk beberapa saat. Laki-laki itu bahkan tidak berkedip saat memandang wajah Anindya yang menurutnya cukup manis. Ralat, bukan cukup manis tapi sangat manis.



“Hahaha! Kamu benar, aku memang gadis berusia 19 tahun, hanya saja aku melalui fase pendidikan yang lebih cepat dari anak-anak lainnya,” jelas Anindya.



“Jadi, kamu tidak lebih tua dariku?” tanya Daffa saat kesadarannya telah kembali.



Anindya menggeleng, “Tidak, Daf. Aku masih sangat muda.”


Daffa mengangguk mengerti. Sejenak, ingatan laki-laki itu membawanya pada masa lalu. Entah bagaimana bisa Daffa berpikir jika Anindya sangat mirip dengan gadis di masa lalunya. Wajah, suara, kepandaian, dan cara berbicara gadis itu benar-benar mirip dengan masa lalunya.

__ADS_1



“Hei, kenapa kamu melamun?” Anindya menepuk pundak laki-laki itu pelan. Seketika Daffa tersentak dan tersadar dari lamunannya. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya pelan, “Tidak, Nin. Aku hanya memikirkan sesuatu yang tidak akan bisa kamu terima jika aku mengungkapnya.”



Anindya mengernyitkan dahinya. Apa maksud ucapan laki-laki itu? Apa dia memikirkan hal-hal tidak senonoh tentang dirinya? Anindya menggeleng pelan. Ah, dia tidak boleh berpikiran buruk mengenai manusia. Mungkin, yang tengah dipikirkan Daffa bukanlah hal-hal tidak senonoh, melainkan hal lain yang akan mengganggunya. Membandingkan dia dengan perempuan lain, misalnya.



“Ehem, Anin, tidakkah kamu ingin bernyanyi lagi? Aku ingin mendengarnya,” ujar Daffa mencoba mengalihkan pembicaraan.



Anindya melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Gadis itu menggeleng pelan. Setengah jam lagi dia harus masuk kerja. Dengan berat hati, Anindya berkata, “Maafkan aku, Daf. Sebentar lagi aku harus masuk kerja. Kita bisa bertemu lain kali. Aku permisi dulu, ya.”



“Ah, baiklah tak apa. Hati-hati, ya, Gadis Manis.” Setelah mendengar itu, Anindya menyambar gitarnya, kemudian pergi dan berlalu dari sana.



Daffa memandang punggung gadis itu dengan mata yang berbinar. Entah bagaimana bisa, hatinya berbunga-bunga hanya dengan menatap wajah Anindya. Laki-laki itu menyadari jika dia jatuh cinta pada Anindya, hanya karena banyak kemiripan antara gadis itu dan masa lalunya.



“Sial! Kenapa kamu sangat mirip dengannya dan membuatku penasaran, Nin?” umpat Daffa.


***


Malam yang mulai petang, dengan bintang yang mulai menghiasi semesta. Sorot-sorot lampu dari beberapa gedung dan bertokoan, mulai menghiasi kaki ibu kota. Anindya terduduk di meja kasir tempatnya bekerja. Sembari menunggu pelanggan, gadis itu menggoreskan pena di atas buku catatan kecil miliknya. Seperti biasa, menulis adalah cara gadis itu menghilangkan kebosanan dan kepenatan.


^^^Bolehkah aku menjelma jadi detak jantungmu,^^^


^^^barangkali aku mampu menjadi bagian dari denyut nadimu^^^


^^^atau ^^^


^^^sekadar menyatu dalam aliran darahmu;^^^


^^^menjadi bagian dari hidupmu,^^^


^^^Tuan.^^^


^^^-Lianindya-^^^


Kira-kira itulah yang berhasil gadis itu tulis dalam buku catatannya. Seuntai puisi singkat yang cukup romantis untuk Bagaskara. Tunggu, untuk Bagaskara? Anindya menggelengkan kepalanya pelan. Bisa-bisanya dia menjadikan Bagaskara sebagai objek puisi romantisnya. Tidak masuk akal!



“Permisi, Nona Manis. Aku ingin membayar pesananku,” ujar seorang laki-laki.


Suara laki-laki itu terdengar tak asing bagi Anindya. Tak menunggu lama, gadis itu mendongakkan kepalanya. Ah, sial! Baru saja dipikirkan sudah menampakkan dirinya.


“Hei, Nona, tidakkah kamu ingin melayani pelangganmu ini?” Suara laki-laki yang tak lain adalah Bagaskara itu kembali terdengar.


__ADS_1


Anindya terkesiap, “Ah , iya terima kasih. Eh, maksudku maaf, Bagaskara.”



“Ehem, apa yang kamu butuhkan, Tuan?” tanya Anindya dengan nada puistisnya.



Bagaskara tersenyum, “Seseorang datang ke kasir untuk membayar pesanannya, Nona Manis, but itu tidak berlaku bagi Bagaskara ketika dia berada di Coffee Cup.”



Anindya mengernyitkan dahinya. “Apa maksudmu, Bagaskara?” tanya Anindya.



“Aku datang ke kasir tidak hanya untuk membayar, tapi juga untuk menemui penjaga kasirnya, sekadar melepas rinduku yang menggebu.”


Jawaban Bagaskara berhasil membuat Anindya melongo. Jantung gadis itu berdegup kencang. Rasanya, seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitiki perutnya. Bahkan, mungkin pipi gadis itu memerah.


“Shit!” Anindya mengumpat di dalam hati. Bisa-bisanya laki-laki itu membuatnya salah tingkah, hanya dengan gombalan. Namun, sekuat apapun Anindya mengelak, dia tetap tidak bisa menyembunyikan rasa senang karena telah ucapan Bagaskara.


“Nona, kamu melamun lagi!” sentak Bagaskara.



Anindya terkesiap, kemudian menjawab, “Ah, tidak, Bagaskara! Aku tidak melamun. Aku hanya ....”


“Hanya senang karena aku mengatakan rindu padamu ‘kan, Nona Manis?”


Lagi dan lagi. Anindya dibuat salah tingkah dengan ucapan Bagaskara. Laki-laki itu selalu saja membuat aliran darahnya bergejolak. Ah, sial! Jika begini terus, bagaimana mungkin dia tidak jatuh cinta pada Bagaskara? Jika saja gadis itu tidak ingat dia tengah bekerja, mungkin dia sudah melompat kegirangan di tempat saking senangnya.


“Nah ‘kan, melamun lagi. Sudah kuduga hatimu pasti berbunga-bunga karena ungkapan rinduku.” Suara Bagaskara kembali membawa Anindya dalam alam sadarnya. Gadis itu menggeleng pelan, saat menyadari apa yang baru saja dia pikirkan. Memang menyebalkan!


“Maaf, Bagaskara. Apa saja pesananmu, akan kutotal dan kamu bisa pulang,” ujar Anindya terdengar serius.


“Hanya cappucino kesukaanmu, Nona yang Menggemaskan,” jawab Bagaskara.


Anindya mengangguk. “Lima puluh ribu, Bagaskara.”


“Apa tidak bisa dibayar pakai cinta saja, Nin? Atau mungkin pakai mahar pernikahan kita,” goda Bagaskara.


Anindya melotot mendengarnya. Bahkan, saat dirinya sudah berusaha serius, laki-laki itu masih saja menggodanya. Sungguh menyebalkan, bukan?


“Jangan bercanda!” ketus Anindya.


“Hahaha, maaf. Aku hanya bercanda, Nin.” Setelah mengucapkan itu, Bagaskara segera mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan, kemudian memberikannya pada Anindya yang tampaknya mulai kesal karena ulah Bagaskara.


“Sudah, ya. Aku pulang dulu. Sampai jumpa lain waktu, Nona Manis. Semoga kita berjodoh,” ujar Bagaskara kemudian berlalu dari sana.


Anindya menatap kepergian Bagaskara dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Mata gadis itu berbinar-binar, entah mengapa dia merasa sangat bahagia dengan godaan Bagaskara. Padahal, dia tahu, Bagaskara hanya bercanda. Tidak mungkin laki-laki itu jatuh cinta padanya, apalagi mereka baru saja kenal.


Anindya menggelengkan kepalanya pelan. Sesaat, gadis itu mengembuskan napasnya. Tangannya mulai kembali bergerak untuk menulis sesuatu pada buku catatan yang dia bawa. Sesuatu yang belum pernah dia tulis sebelumnya. Sesuatu yang tak akan pernah dia tunjukkan pada orang lain. Sesuatu mengenai perasaan anehnya pada Bagaskara.


***


bersambung ....

__ADS_1


thanks for reading🖤


__ADS_2