MENGEJAR ILUSI

MENGEJAR ILUSI
BERCERITA DENGAN BAGASKARA


__ADS_3

“Aku adalah orang yang enggan menceritakan masalah-masalahku kepada siapapun, tapi entah mengapa denganmu aku tak pernah ragu untuk itu.”


-Lia Anindya Wulandari-


***


Pagi ini, sinar mentari cukup hangat. Setiap cahayanya mengintip dari celah-celah jendela rumah kecil itu. Namun, sepertinya kehangatan dari sang mentari pagi ini tak berlaku bagi penghuni rumah itu. Suasana dingin dan penuh kebencian masih terasa dalam lingkaran meja makan yang sederhana, dengan menu yang sederhana pula. Tak ada satupun yang membuka suaranya, bahkan untuk sekadar saling sapa.


Itulah yang dirasakan oleh Anindya dan keluarganya sekarang. Semenjak kehadiran Bram dan keluarga tirinya, gadis itu tak lagi mampu merasakan hangatnya keluarga. Bahkan, untuk tersenyum acap kali mereka bertemu saja dia enggan. Entahlah, bukan tak mau memaafkan, hanya saja luka itu masih menganga.


“Aku berangkat dulu. Ada acara.” Kali ini, Anindya berkata cukup ketus. Setelah meneguk segelas air putih dan bersalaman pada Rita yang duduk di sebelahnya, gadis itu langsung bangkit dari duduknya. Tak peduli pada tatapan Bram yang menatapnya marah.


“Lain kali ajari anakmu itu tata krama. Di sini ada saya dan istri saya. Tidak bisakah dia bersikap sopan kepada kami?!” sentak Bram pada Rita.


Mendengar itu, Anindya yang sudah sampai di ruang tengah berbalik menuju ruang makan. Dengan amarah yang menggebu, gadis itu berkata, “Jangan sekali-sekali berbicara kasar pada ibu saya! Ingat kalian bertiga hanya numpang di sini. Saya bisa mengusir kalian kapanpun saya mau!”


“Sudah. Sudah. Anin, jangan terlalu kasar kepada mereka. Mereka juga keluarga kita, Nak,” ujar Rita melerai perdebatan mantan suami dan anaknya itu.


“Aku enggak peduli, Bu. Mereka bukan majikan di rumah ini. Mereka harus sadar diri sebelum menuntut apapun dariku.” Setelah mengucapkan itu, Anindya langsung berbalik arah. Gadis itu pergi dengan membanting pintu tanpa peduli sedikitpun pada Bram yang berteriak marah. Baginya, tak ada yang lebih penting selain harga diri Rita dan keluarganya. Pria yang sudah mencampakkan mereka, tidak berhak meminta apapun dari mereka.


***


Kafe dekat kampus Bina Bangsa merupakan salah satu tempat yang menjadi sasaran anak-anak muda untuk menghabiskan hari Minggunya. Begitu juga dengan Anindya. Kali ini, gadis itu memilih menghabiskan waktunya untuk menikmati kopi sembari menyelesaikan naskah-naskahnya. Suasana kafe yang kondusif, tampaknya sangat mendukung kegiatan Anindya siang ini.


“Hai, Anin. Sepertinya kataku di taman semalam jika kita berjodoh adalah benar. Buktinya, sekarang tanpa janji kita bertemu lagi.” Suara dari Bagaskara berhasil membuat Anindya mendongakkan kepalanya. Gadis itu tersenyum sangat manis, bahkan berhasil membuat jantung Bagaskara berdegup kencang hanya karena senyumannya.


“Bolehkah aku mengisi tempat duduk yang kosong ini, Nona?” tanya Bagaskara lembut.


Anindya mengangguk, “Silakan, Bagaskara. Tidak ada yang menempatinya.” Setelah mengucapkan itu, Anindya kembali fokus pada benda hitam yang dinamai laptop di hadapannya. Gadis itu seolah tenggelam pada tumpukan naskah yang tengah dia kerjakan


.

__ADS_1


“Jika boleh aku bertanya, maka aku ingin mempertanyakan sesuatu hal kepadamu, Nin,” ujar Bagaskara.


“Tunggu. Sedikit lagi. Aku akan selesaikan naskahku, baru kita bisa mengobrol dengan leluasa,” jawab Anindya.


“Nah, sudah.” Anindya menutup laptopnya kemudian mendongakkan kepalanya. Gadis itu mendapati Bagaskara yang tengah asik melamun sembari memperhatikan dirinya, membuatnya salah tingkah. Entahlah, jantungnya berdebar cukup kencang tiap kali ditatap seperti ini oleh Bagaskara.


“Ekhem, Bagaskara. Apa yang mau kamu tanyakan tadi?” Anindya mencoba memecah keheningan dan kecanggungan di antara mereka. Gadis itu tak kuasa menahan rona di pipinya tiap kali terjebak dalam keheningan bersama Bagaskara.


“Ah, iya. Maaf, aku melamun tadi.” Bagaskara menyeruput kopinya, kemudian melanjutkan kalimatnya, “Aku ingin menanyakan sesuatu, tapi kuharap kamu tidak tersinggung dengan pertanyaanku ini, Anindya.”


Anindya mengernyitkan dahinya bingung. “Apa itu?” tanyanya.


Bagaskara mengembuskan napasnya pelan, lalu mulai bertanya, “Maaf, Anin. Apa yang memotivasimu untuk masuk ke dalam dunia kepenulisan? Maksudku, kenapa kamu memilih menulis? Adakah masalah berat yang memaksamu menulis?”


Anindya tersenyum. Ini bukan kali pertama dia mendapatkan pertanyaan seperti ini. Pertanyaan yang memaksanya mengalihkan pembicaraan sebab enggan menjawab. Namun, entah mengapa kali ini gadis itu seolah ingin menjawab pertanyaan dari Bagaskara. Entah bagaimana, rasanya dia ingin menceritakan segalanya pada Bagaskara.


“Hei, Anin, mengapa melamun? Apakah aku salah berkata? Jika iya, tolong maafkan aku. Aku hanya ingin tahu,” ujar Bagaskara sembari menepuk bahu Anindya.


Anindya tersentak. Seketika, gadis itu tersadar dari lamunannya kemudian berkata, “Tidak, Bagaskara. Tidak ada yang salah. Namun, jika aku menjawabnya, apakah kamu mau mendengarkan seluruh ceritaku? Jika tidak, maka aku tidak akan menjawabnya.”


Mendengar itu, Anindya tersipu malu. Bagaimana tidak, Bagaskara selalu saja berkata manis dan memujinya seperti ini. Dan, lihatlah! Hati gadis itu berbunga-bunga hanya karena dipanggil cantik oleh Bagaskara.


“Anindya Wulandari! Aku tahu aku tampan, tapi tak perlu seperti itu menatapku!” Kali ini, suara Bagaskara kembali menyeret Anindya ke alam sadarnya. Gadis itu kembali merutuki kebodohannya. Sudah berapa kali dia melamun di depan Bagaskara seperti ini? Oh, Tuhan! Memalukan!


“Ah, maaf. Akan kuceritakan segalanya.” Anindya menyeruput cappucino yang tinggal setengah hingga habis.


“Kamu tahu, Bagaskara? Hidup ini kerap tak adil pada beberapa umat. Dan mungkin aku salah satunya. Kamu tahu, Bagaskara? Tuhan memberi sebagian orang kehidupan yang bahagia dan sebagian lainnya diberi kekuatan untuk menghadapi hujaman.” Suara Anindya mulai terdengar. Bagaskara memperhatikan gadis itu dengan serius. Setiap kata yang keluar dari mulut Anindya dengan mudah dicerna olehnya.


“Jika kamu ingin tahu apa alasanku untuk menulis, maka akan kuceritakan secara singkat mengenai hidupku. Sebab, jika aku menceritakan segalanya, kamu akan bosan mendengarnya,” ujar Anindya sesaat setelah hening.


“Mengapa begitu?” tanya Bagaskara.

__ADS_1


“Terlalu panjang.” Anindya menjawab singkat. Setelah mendengar itu, Bagaskara mengangguk setuju. “Baiklah. Ceritakan saja, Nona,” ujarnya.


Anindya mengembuskan napasnya pelan. Sejenak, mata gadis itu menerawang. Ingatan-ingatan pedih mengenai masa lalunya mulai terbayang. Semua rasa sakit dan penderitaan yang dialaminya kembali datang. Rasanya, ingin dia menangis saat ini juga. Namun, gadis itu sadar, jika air mata yang menetes tak akan berguna sekarang.


“Singkat saja, aku menulis karena merasakan sakit yang mungkin tidak dirasakan oleh orang lain. Aku menulis untuk meluapkan emosiku, menyehatkan mentalku dan melampiaskan air mataku. Aku menulis untuk diriku dan aku menulis untuk mengurangi lukaku. Aku tahu, menulis tak akan bisa menyembuhkanku dari sakit yang menggebu, tapi dengan menulis aku bisa mencurahkan segala deritaku tanpa harus menyakiti orang lain.”


Bagaskara terdiam. Kali ini, apa yang diucapkan Anindya cukup membuatnya berpikir keras. Sakit, air mata, luka dan obat. Laki-laki itu bahkan tak paham apa maksud dari setiap kata itu. Bukan tak pernah merasakannya, hanya saja dia lebih memilih tidak peduli pada segalanya.


“Kamu pasti bingung apa maksudku.” Tebakan Anindya tepat pada sasaran. Sesaat berikutnya, gadis itu tersenyum tulus lalu berkata, “Bagaskara, setiap manusia pasti punya luka dan setiap yang punya luka pasti memiliki cara untuk mengobatinya. Mudahnya, aku menulis untuk mengurangi dan mengobati sedikit luka-lukaku. Meski tak akan sembuh seutuhnya, setidaknya luka-luka itu mengering dan berkurang sakitnya.”


Sesaat Bagaskara ternganga mendengar penuturan gadis itu. Ternyata benar, setiap penulis pasti punya kisah yang tersembunyi di balik tulisannya. Itulah yang bisa dia simpulkan dari Anindya. Gadis itu telah mengalami banyak hal yang membuatnya jatuh, terluka, menangis bahkan menderita berkali-kali dan menulis adalah caranya mengobati luka itu.


“Baiklah, tapi mengapa kamu memilih menulis sebagai obatmu? Mengapa kamu tidak memilih membalas semua rasa sakitmu kepada orang lain?” Kali ini, Bagaskara bertanya tidak untuk tahu jawabannya. Namun, untuk mengetahui seberapa besar hati Anindya.


Anindya kembali tersenyum, “Sebab orang yang bijak akan sembuh tanpa melukai orang lain. Bisa membalaskan rasa sakit itu keren, tapi bisa memaafkan orang-orang yang menyakiti kita, itu hebat, Bagaskara,” jawab Anindya sembari menatap mata Bagaskara lekat-lekat.


Sesaat kemudian, gadis itu kembali berkata, “Jika kita tahu bagaimana rasanya sakit, mengapa kita harus balik menyakiti? Jika kita tahu setiap manusia pasti punya luka, mengapa kita harus menambah luka orang lain? Bagaskara, jika kita percaya Tuhan kita pasti akan percaya pada semua rencana-Nya. Kita pasti yakin jika siapapun yang menyakiti kita pasti akan tersakiti pada waktunya. Kita tidak perlu mengotori tangan kita untuk menyakiti orang lain. Sebab, kita pun tahu, Tuhan tidak akan membuat pendosa lolos dari karmanya.”


“Jadi, intinya aku tidak ingin menyakiti orang lain demi kesembuhan dari luka-lukaku. Aku tidak ingin membuat orang lain meneteskan air mata demi menghapus air mataku. Sebab, aku sendiri pun paham, mengobati luka dan tersenyum setelah terluka itu tak mudah.” Anindya tersenyum simpul setelah mengakhiri kalimatnya. Entah mengapa berbicara pada Bagaskara membuatnya merasa lega. Setidaknya, untuk beberapa saat.


Bagaskara ternganga. Untuk pertama kalinya, laki-laki itu dibuat kagum oleh seorang perempuan. Entah dari mana asalnya, laki-laki itu memiliki keyakinan jika Anindya adalah sosok yang sangat tulus. Laki-laki itu bahkan merasa malu pada Anindya. Bagaimana tidak, untuk pertama kalinya dia bertemu pada gadis sebaik Anindya. Gadis yang menurutnya tidak egois, tidak pula bodoh.


“Ekhem, jangan melihatku seperti itu, Bagaskara. Kutahu aku cantik,” goda Anindya.


“Ah, sial! Aku sedang mendalami ceritamu dan kamu merusak imajinasiku.”


“Hahaha, maaf. Aku bercanda.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Anindya tertawa lepas. Bebannya seolah hilang saat bersama Bagaskara seperti ini.


Bagaskara tersenyum menatap Anindya. Entah mengapa, dia merasa jika Anindya sangat cantik dan manis saat tertawa lepas seperti ini. Laki-laki itu bahkan terpesona oleh setiap apa yang ada pada diri Anindya. Apakah dia mulai tertarik pada gadis itu? Atau, rasa dalam hatinya yang sempat mati, kini kembali hidup karena gadis itu? Bagaskara menggeleng pelan. Tidak! Ini tidak mungkin. Tidak mungkin dia jatuh hati pada gadis yang bahkan tidak dikenalnya secara baik seperti Anindya.


***

__ADS_1


bersambung ....


see you soon di next part🖤


__ADS_2