MENGEJAR ILUSI

MENGEJAR ILUSI
15. SERPIHAN LUKA


__ADS_3

“Meski tak kutunjukkan, serpihan luka itu masih ada, dan selalu ada.”


-Lia Anindya Wulandari-


***


Teng ... teng ... teng ....


Jam dinding berdenting tiga kali, pertanda jam telah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Anindya merebahkan dirinya di kasur. Mata gadis menatap kosong langit-langit dari kamar sederhana miliknya. Bayang-bayang luka yang ditorehkan Bram kembali muncul dalam benak Anindya. Jika boleh jujur, sebenarnya gadis itu lelah dengan hidupnya. Dia lelah dengan segala rasa sakitnya, dan segala cobaan yang terus menghujamnya.



Mata gadis itu beralih menatap boneka yang senantiasa duduk manis di tepi ranjang. Jika diingat-ingat, sebelum perpisahan yang menyakitkan itu terjadi, Bram sangat menyayangi dirinya. Pria itu bahkan selalu menuruti apapun yang dimintanya.



Tes.


Sebutir air mata jatuh begitu saja. Rasanya begitu sakit saat mengingat segalanya. Terkadang, Anindya bertanya-tanya, apa sebenarnya salahnya? Mengapa dia harus mengalami ketidakadilan seperti ini? Mengapa takdirnya tak bisa sama seperti takdir teman-temannya? Sakit, lelah, ingin menyerah, itulah yang dirasakan oleh Anindya tiap kali mengingat semua luka di masa lalu. Luka yang kerap ditutupinya, dan luka yang kerap dia abaikan.



“Jika saja nasibku sama seperti mereka, aku pasti sangat bersyukur, Tuhan,” gumam Anindya di sela isak tangisnya.



Ya. Gadis itu berandai-andai. Tak bisa dipungkiri, Anindya sangat merindukan keluarga yang harmonis. Setiap kali melihat anak-anak yang tertawa bersama kedua orang tuanya, hati gadis itu selalu saja seperti terkoyak, teriris, dan tertusuk. Diungkap maupun tidak, gadis itu sangat merindukan keberadaan Bram. Jujur saja, dia sangat ingin keluarganya kembali seperti dulu, dia sangat ingin tertawa bersama ayahnya seperti sedia kala, bahkan jika boleh mengharap, maka pengharapan Anindya hanyalah satu setiap waktunya; keluarganya kembali menjadi keluarga harmonis yang begitu dicintainya.



“Huft, apa-apaan, Nin! Jangan seperti ini!” Anindya menghapus air matanya kasar. Gadis itu benci setiap kali berada pada saat seperti ini. Dia benci waktu kosong yang selalu saja menimbulkan air mata dari luka-luka di masa lalunya. Menyebalkan



“Enggak, Nin! Kamu enggak boleh begini. Kamu harus ikhlas!” ujar Anindya pada dirinya sendiri. Namun, meski demikian, air mata tetap saja turun membasahi wajahnya. Huft, memang benar kata semua orang, sekuat apapun kita mengelak luka, dia akan tetap sama dan pada porsinya. Luka tak akan pernah berhenti memberikan rasa sakit, kecuali kita bisa ikhlas untuk menerimanya.


__ADS_1


Anindya mengambil napas panjang. Sekali lagi, gadis itu mengusap air matanya kasar, kemudian bangkit dari tidurnya dan beranjak menuju meja belajarnya. Ya, mengerjakan tugas akhir yang masih menggantung sepertinya lebih baik daripada terdiam dan memikirkan masa lalu. Begitulah yang ada di pikiran gadis itu sekarang.


***


“Ibu yakin enggak apa-apa?” Suara Anindya terdengar khawatir kali ini. Bagaimana tidak? Pagi ini Rita sudah muntah dua kali, semalam juga wanita itu sempat pingsan. Hal ini tentu saja membuat Anindya merasa cemas dengan kondisi ibunya. Jika saja dia bisa memilih, sudah pasti gadis itu memilih untuk libur saja hari ini. Namun, takdir sedang tidak berpihak kepadanya. Hari ini atasannya tidak memberinya izin cuti dengan alasan tidak ada karyawan yang mampu menjadi penggantinya.



“Ibu baik-baik saja, Nak. Ibu hanya telat makan kemarin, makanya asam lambung ibu naik. Kamu boleh berangkat sekarang, nanti kamu terlambat, lho,” jawab Rita pelan.


Anindya menatap ibunya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Rasanya, dia tidak ingin meninggalkan Rita sendirian dalam keadaan seperti ini.


“Ibu yakin enggak apa-apa aku tinggal?” Entah sudah ke berapa kalinya Anindya mengajukan pertanyaan itu kepada Rita. Perasaan gadis itu tak karuan. Khawatir, takut kehilangan, dan tidak rela menyatu dalam hati Anindya.


Rita mengangguk lemas, sembari tersenyum dengan bibirnya yang pucat. “Iya, Nak. Ibu baik-baik saja,” ujarnya berusaha meyakinkan Anindya.


“Baiklah, tapi kalau ada apa-apa langsung telepon aku atau kakak ya, Bu,” pesan Anindya.


Rita mengangguk lemah. “Iya, Nak.”


Anindya menggelengkan kepalanya saat sadar dengan apa yang dia pikirkan. Sudahlah, tidak ada gunanya meratapi keadaan. Apapun yang terjadi, sudah terjadi. Nasi sudah jadi bubur. Tidak ada yang bisa diubah, dan tidak ada yang bisa diharapkan. Mau tidak mau dia harus menerima segalanya dan menjalani takdir sebagaimana mestinya.


***


Gemerlap lampu menghiasi kota Jakarta malam ini. Seperti biasa, suara ricuh kendaraan bermotor yang saling beradu terdengar nyaring. Namun, berbeda dengan suasana kota Jakarta yang ramai, suasana kafe tempat kerja Anindya justru sangat sepi. Hanya ada beberapa pengunjung di sana. Entahlah, beberapa hari terakhir ini pelanggan di kafe tersebut menurun drastis tanpa sebab.



Anindya memijat kepalanya pelan. Entah bagaimana bisa, hari ini terasa begitu berat baginya. Padahal, aktivitas di kafe ini tidak sepadat biasanya.



“Nin, kamu baik-baik saja?” tanya Chandra sembari duduk di sisi Anindya.



“Iya, Chan. Aku baik,” jawab Anindya singkat.

__ADS_1


“Namun, kuperhatikan sepertinya kamu sedang tidak baik-baik saja, Nin. Wajahmu pucat dan sedari tadi konsentrasimu menurun.” Ya, benar. Chandra sedari tadi memerhatikan tingkah Anindya. Sikap gadis itu berbeda dari biasanya. Dia tidak tersenyum ramah, tidak menyapa pelanggan dengan penuh semangat, bahkan sudah dua kali gadis itu salah memberi kembalian kepada pelanggan. Sungguh aneh, bukan?


Anindya tersenyum tipis. “Aku baik, terima kasih.”



“Baiklah. Sekarang sudah jam setengah tiga. Sebentar lagi kita bisa pulang. Mungkin, jika kamu butuh teman, aku bisa menemanimu berjalan-jalan di taman sambil menunggu senja datang,” ujar Chandra.



Sebenarnya, Chandra tahu jika Anindya tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Dari perubahan sikap Anindya, laki-laki itu tahu jika Anindya tidak sedang baik-baik saja. Gadis itu sedang berada di fase yang berat, atau mungkin sedang kurang sehat.



“Tidak perlu, Chan. Ibuku sakit. Jadi, aku ingin segera pulang,” tolak Anindya.



Gadis itu kembali menatap kosong ke arah luar. Mengingat kondisi Rita semalam membuat perasaannya kembali khawatir. Rasanya, dia ingin pulang saat ini juga, memastikan sang ibu baik-baik saja.



“Aku ingin pulang sekarang, Chan. Aku khawatir pada ibu. Dia sendirian di rumah.” Suara Anindya terdengar lemas.


“Oh, baiklah. Sekarang aku tahu apa alasanmu terdiam. Baiklah, tak apa. Pulanglah, dan sampaikan salamku pada Tante Rita,” ungkap Chandra lembut.



“Jika kamu butuh teman cerita, maka hubungi saja aku. Jangan lupa, aku masih sahabatmu, Nin,” lanjut Chandra kemudian beranjak dari sana untuk melayani beberapa pengunjung yang datang.


Anindya melirik jam tangannya. Sekarang jam 14.30 WIB. Itu artinya, tiga puluh menit lagi dia bisa pulang. Gadis itu menghela napasnya kasar. Entahlah, tiga puluh menit rasanya seperti tiga puluh tahun. Lama.


***


...Bersambung .......


thanks for reading🖤

__ADS_1


__ADS_2