
"Senja yang menyajikan cinta, ternyata tak seindah pertemanan kita.”
-Lia Anindya Wulandari-
***
Semilir angin berembus lirih di pelataran sore ini, seolah membisikkan kata-kata cinta milik semesta. Dedaunan menari dengan gemulai mengikuti irama angin yang merdu. Di ujung sana, si biru mulai memerah. Lembayung jingga yang indah mulai menyapa pengunjung taman kota sore ini. Dari sudut taman kota yang mulai ramai pengunjung, nampak segerombolan anak manusia yang tengah asik bercanda. Tawa yang nyaring menghiasi wajah mereka, canda yang terlontar seolah membawa mereka untuk sejenak melupakan masalah, baik itu tugas kuliah, pekerjaan, dan beban pikiran lainnya
.
“Bagaimana sidang skripsimu kemarin, Ky? Apakah lancar?” tanya Chandra yang baru saja berhenti memainkan gitarnya.
Laki-laki yang sedari tadi terdiam sebab menyimak pembicaraan teman-temannya itu mengangguk, “Tentu. Berkat doa dari kalian, aku berhasil menyelesaikan semuanya dengan sempurna. Minggu depan aku sudah wisuda dan mendapat gelar S. Ked,” jawabnya.
Anindya membelalakkan matanya tak percaya. Sahabatnya itu benar-benar berotak profesor. Bagaimana tidak? Menempuh pendidikan formal hanya 10 tahun, dan menempuh kuliah selama tiga tahun di fakultas kedokteran Universitas Bina Bangsa. Gadis itu merasa bangga sekaligus malu jika melihat dirinya yang hanya mampu menempuh akselerasi di sekolah formal saja.
“Nin, jangan melamun!” Sentakan Azura berhasil membawa Anindya kembali ke alam sadarnya. Gadis itu menggeleng pelan, “Aku enggak ngelamun. Cuma terkejut aja,” elak Anindya sembari menyomot pisang goreng yang dibawa oleh Alletta.
“Terkejut kenapa? Apa karena Rizky sudah menyelesaikan kuliahnya dan kamu belum siap dilamar?” celetuk Alletta menggoda Anindya.
Pletak! Sebuah jitakan mendarat tepat di kepala Alletta. Gadis itu meringis seraya mengelus kepalanya yang terkena jitakan dari Anindya.
“Sakit tahu, Nin!” cerocos Alletta.
“Makanya kalau ngomong jangan asal. Pakai jodoh-jodohin aku sama Rizky segala. Bilang aja kamu yang mau sama dia.” Anindya membalas tak mau kalah. Sebuah pelototan tajam dari Rizky dan Alletta terarah padanya. Namun, gadis itu tak peduli, sebab apa yang dikatakannya barusan adalah sebuah fakta yang sudah menjadi rahasia umum.
“Sudah, sudah! Kalian ini. Kita masih muda, masa depan kita masih panjang. Lagian cuma Rizky yang sudah lulus di antara kita semua. Cuma dia yang berotak profesor. Daripada jodoh-jodohan enggak jelas, mending belajar,” omel Azura yang merasa kesal dengan tingkah sahabat-sahabatnya yang semakin hari semakin absurd.
“Tahu, tuh! Ketahuan banget Alletta udah ngebet sama Rizky,” sahut Sheila.
“Nah, kalau itu aku setuju, Shei!” tambah Chandra.
Rizky menatap wajah teman-temannya datar, kemudian beralih menatap Anindya yang tengah asik memainkan ponselnya. “Bagaimana proposalmu, Nin? Kamu sudah menjelang semester akhir, bukan?” tanyanya.
__ADS_1
Anindya menggeleng, “Aku belum menemukan judul yang tepat untuk skripsiku.” Gadis itu menjawab lemah. Memang benar, masalah yang ia alami akhir-akhir ini membuatnya tidak bisa berpikir. Apalagi keberadaan Bram dan keluarga tirinya di rumah. Sungguh, semuanya sangat mengganggu gadis itu.
“Rizky, kamu tidak bertanya padaku?” celetuk Alletta.
“Enggak. Malas.” Rizky menjawab singkat.
Anindya tak kuasa menahan tawanya melihat raut wajah cemberut milik Alletta. Meski di dalamnya tersirat rasa kasihan pada gadis yang selalu diacuhkan oleh Rizky itu.
“Sabar, ya, Ta. Besok berjuang lagi. Es batumu belum meleleh,” ujar Azura seraya mengelus pundak gadis Alletta.
“Menyebalkan!” cibir Alletta.
Suara gelak tawa mereka terdengar saat raut wajah merajuik milik Alletta. Tak terkecuali dengan Anindya. Gadis itu tertawa lepas, seolah lupa pada apa-apa yang menyakitinya akhir-akhir ini. Memang benar, tidak ada harta terindah dalam kehidupan kecuali persahabatan. Itulah yang dipelajari Anindya kali ini.
***
Suara nyanyian malam yang merdu dengan lihai menggoyangkan dedaunan yang ikut mendesik. Gemerlap bintang yang bermain dengan temaramnya rembulan, seolah menghiasi gelapnya cakrawala yang semakin pekat. Gerombolan anak manusia yang duduk melingkar di taman kota itu masih belum juga beranjak dari tempatnya. Setelah menikmati senja yang memesona, mereka memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan bersama. Sekadar berbicara ringan dengan cemilan yang hampir saja habis.
“Ah, aku enggak melamun, Ga. Jangan ngaco!” Anindya mengelak, kemudian menatap Azura, “Ra, temani aku ke kamar mandi, please!” mohon gadis itu sembari mengatupkan kedua tangannya.
Azura menggeleng pelan, “Enggak mau! Nanti pisang cokelatku dihabiskan sama mereka,” tolak gadis itu sembari menunjuk ke arah Raga dan Rizky yang asik mengobrol.
“Ish, ‘kan bisa beli lagi nanti, Ra.” Anindya mencabik kesal. Namun, sedetik kemudian bangkit dari duduknya dan berkata, “Ya udah, aku ke kamar mandi sendiri aja deh. Nitip tas.”
Anak manusia yang terlahir sebagai gadis itu segera berlalu dari sana, tak peduli pada seruan teman-teman yang menakutinya. Jujur saja, Anindya sangat takut dengan kegelapan apalagi dengan hal-hal yang berbau mistis. Dulu, semasa SMA gadis itu pingsan hanya karena ditakut-takuti oleh teman-temannya.
***
Angin malam berdesik lirih di antara pepohonan yang menari. Hawa sejuk menyeruak saat Anindya keluar dari lingkup toilet umum. Mata gadis itu tertuju pada penjual cilok yang memangkal di ujung taman kota. Hasrat ingin mengunyah makanan khas Bandung itu seketika meningkat. Tanpa basa basi lagi, Anindya segera berjalan menghampiri pedagang itu.
Bruk!
“Aduh!” keluhnya saat seorang laki-laki menabraknya. Gadis itu hampir saja terjatuh jika tidak dengan segera menyeimbangkan tubuhnya.
__ADS_1
“Eh, maaf.” Suara laki-laki itu terdengar. Suara itu seperti tidak asing bagi Anindya. Gadis itu mendongakkan kepalanya. Ternyata dugaannya benar. Bagaskaralah yang menabrak dirinya.
“Loh, Anindya! Aku tidak menyangka akan menabrakmu di sini,” ujar Bagaskara.
Anindya tertawa, “Kamu kira aku menyangka jika yang menabrakku adalah kamu, Bagaskara?” tanya gadis itu.
“Tidak. Ah, kalau begitu bisa-bisa kita ini ....” Bagaskara sengaja memotong ucapannya seraya menatap Anindya dengan tatapan yang menggoda, “Jodoh!” serunya.
Anindya tersenyum kikuk. Pipinya sudah memerah seperti kepiting rebus. Ribuan kupu-kupu seperti berterbangan di dalam perutnya, mawar-mawar yang sempat layu seolah kembali mekar di rongga dadanya. Jantung gadis itu berdebar hebat, apalagi saat Bagaskara menatapnya intens seperti ini. Ah, apa ini? Cinta? Benarkah dia mulai jatuh cinta pada Bagaskara yang bahkan belum dikenalnya dengan baik?
Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. Mengingat hubungan terakhirnya yang berakhir miris membuat gadis itu tersadar dari apa yang dia pikirkan. Sekalipun Bagaskara terlihat sangat baik dan berwibawa, tapi tetap saja dia adalah manusia yang kerap munafik, bukan? Bisa saja laki-laki itu memakai topeng, atau mungkin hanya bercanda untuk menyingkirkan rasa canggung.
“Bagaskara!” Suara nyaring seorang gadis terdengar. Anindya mengembuskan napasnya pelan. Bagaimana dia bisa melupakan nenek sihir yang terobsesi pada Bagaskara ini? Bagaimana bisa dia berpikir untuk jatuh cinta pada Bagaskara, sedangkan dia sudah tahu fakta tentang gadis yang bernama Diva Amelia itu?
“Ternyata kamu di sini, Bagaskara. Aku sudah mencarimu ke mana-mana,” ujar gadis itu sembari bergelayut manja di lengan Bagaskara.
“Eh, kamu bukannya pelayan kafe itu, ya? Kok bisa di sini, sih. Ah, iya aku lupa, pelayan sepertimu tentunya enggak punya uang buat menghabiskan weekend ke mall, ya? Kasihan sekali,” cibirnya sembari menatap Anindya.
Anindya tersenyum, “Bukan enggak mampu, tapi malas saja buang-buang uang orang tua. Mulutmu enggak perlu menghakimi, kamu hanya beruntung terlahir dari rahim orang kaya,” jawabnya tak mau kalah.
Bagaskara yang merasa suasana mulai memanas, dengan segera menepis tangan Diva, membuat gadis itu hampir tersungkur ke tanah jika tidak menjaga keseimbangan tubuhnya.
“Maafkan dia, Nin. Mulutnya memang suka kurang ajar.”
Anindya mengangguk, “No problem, Bagaskara. Sudah, ya, aku mau kembali ke teman-temanku dulu. Mereka pasti sudah menungguku.”
Setelah mengucapkan itu, Anindya segera berlalu dari sana. Lupakan soal cilok yang menggugah hasratnya tadi, sebab seleranya sudah hilang setelah melihat Diva. Sekuat tenaga gadis itu meyakinkan dirinya jika dia tidak sedang cemburu. Ya, hanya malas menanggapi tingkah laku dan kesombongan Diva.
***
bersambung
thankyou for reading🖤
__ADS_1