
“Jangan pernah kembali, sebab aku tak ingin merasakan luka yang sama lagi.”
-Lia Anindya Wulandari-
***
Teng! Teng! Teng!
Jam dinding berdenting menunjukkan waktu telah memasuki pukul 13.00 WIB. Anindya mengembuskan napasnya kasar. Sesaat kemudian, gadis itu melakukan gerakan peregangan otot. Ternyata, duduk di hadapan monitor selama berjam-jam sembari mengerjakan tugas akhir membuat tubuhnya terasa pegal. Tak lama setelah melakukan rileksasi, gadis itu dengan segera membereskan barang-barangnya. Pergi ke taman kampus dan melanjutkan tugasnya di sana adalah tujuan Anindya saat ini.
“Aduh!” Anindya berteriak cukup kencang saat kepalanya m,embentur punggung seseorang yang tengah berdiri di dekat pintu perpustakaan. Namun, sesaat kemudian gadis itu berkata, “Maaf, Chan. Aku tidak melihatnya. Hehe.”
Anindya mengembuskan napasnya pelan. Gadis itu bersyukur jika orang yang ditabraknya adalah Chandra, sahabatnya sendiri. Setidaknya, dia tak perlu menanggung malu karena kecerobohan kali ini.
“Tak apa. Tapi, lain kali hati-hati, ya, Puan,” ujar Chandra tersenyum.
“Iya. Sekali lagi maafkan aku, Chan. Aku ini memang ceroboh.” Anindya merutuki kebodohannya kali ini. Bagaimana tidak, ini sudah kesekian kalinya dia bertabrakan dengan seseorang, dan yang paling memalukan adalah teriakannya yang tidak bisa terkontrol.
“Kamu mau ke mana, Nin?” tanya Chandra.
“Taman kampus. Aku mau melanjutkan proposalku di sana. Kamu mau ikut?” Anindya menjawab sembari menawari Chandra. Ya, jika bisa mengajak teman, kenapa harus sendirian?
Chandra menggeleng pelan, “Tidak. Aku masuk kerja jam 2.”
Raut Anindya seketika berubah menjadi lesu. Dari sekian banyak sahabatnya, hanya Chandra lah yang paling susah diajak bertemu sekadar berbincang. Padahal, sebelum menjadi seorang mahasiswa, laki-laki itu yang paling dekat dengan Anindya setelah Rizky. Namun, segalanya berubah saat Chandra memutuskan bekerja sembari kuliah.
“Huft, baiklah. Tak apa,” ujar Anindya mencoba memaklumi.
“Jangan sedih begitu, kita bisa mengobrol lain waktu, Nin. Ngomong-ngomong, semangat untuk tugas akhirnya, Nin.” Laki-laki itu mencoba menghibur Anindya.
“Baiklah. Semangat juga untukmu. Aku pergi dulu.” Setelah mengucapkan itu, Anindya tersenyum dan berlalu dari sana.
Chandra menatap punggung gadis itu iba. Laki-laki itu paham, jika jalan hidup Anindya tidaklah mudah. Meski gadis itu tak menceritakan apapun padanya, tapi dia tahu jika saat ini Anindya sedang berada di fase terberatnya.
***
Semilir angin berembus lembut. Dedaunan bergoyang mengikuti irama yang dinyanyikan anila. Seperti yang sudah direncanakan oleh Anindya, gadis itu kini berada di taman kampus. Pemandangan hijau yang disuguhkan, membuat gadis itu merasa nyaman. Anindya memilih bangku dengan meja bulat yang terbuat dari kayu dengan desain pepohonan. Entahlah, apapun yang berhubungan dengan alam seperti ini, membuatnya merasa tenang dan senang.
__ADS_1
Anindya membuka kembali dokumen yang sempat dia close tadi. Diiringi lagu-lagu yang mengalir dari earphone yang dia kenakan, gadis itu kembali fokus pada layar monitor di hadapannya. Anindya bahkan tidak menyadari jika Rifki tengah duduk di depannya sembari memandangi wajah serius gadis itu.
“Nona Lia Anindya Wulandari, boleh aku meminta waktumu sebentar?” Rifki mulai memberanikan diri untuk berbicara. Suara laki-laki itu terdengar penuh penyesalan dan pengharapan. Ya, memang benar, saat ini dia tengah dilanda penyesalan dan pengharapan yang sangat amat dalam.
Anindya melepas earphone yang dia kenakan. Kemudian, gadis itu mendongakkan kepalanya. Raut wajahnya seketika berubah ketika mendapati seseorang yang mengganggunya adalah Rifki, sosok yang dia coba lupakan akhir-akhir ini.
Anindya mengembuskan napasnya pelan, “Kenapa kamu ke mari? Kamu tidak lihat aku sedang sibuk? Lebih baik kamu pergi dan temui kekasihmu itu!” ujar gadis itu ketus.
“Aku ingin berbicara denganmu, Anindya. Sekali saja, kumohon.” Mata Rifki mulai berkaca-kaca. Laki-laki itu sungguh berharap Anindya akan mendengarkannya, bahkan menerimanya kembali kali ini.
“Rifki, aku ini sudah mahasiswa semester akhir. Aku harus mengerjakan proposal dan tugas akhirku. Kamu tahu, kamu sudah menggangguku!” Nada tidak suka terdengar dari ucapan Anindya. Bukan apa-apa, gadis itu hanya malas berurusan dengan laki-laki di hadapannya.
“Sebentar saja, Anindya. Please,” ujar Rifki memohon.
Anindya kembali mengembuskan napasnya kasar, kemudian mengangguk ragu. “Baiklah. Tapi aku tak punya banyak waktu untukmu.” Mendengar itu, Rifki tersenyum senang.
“Aku sungguh menyesal pernah berselingkuh darimu, bahkan meninggalkanmu. Sekarang, aku sadar, jika kamu adalah perempuan yang baik, kamu satu-satunya perempuan yang bisa menerimaku apa adanya. Sungguh, Nin, aku menyesal telah meninggalkanmu. Aku ingin kembali kepadamu. Aku mohon, Nin, maafkan aku dan kembalilah kepadaku,” ujar Rifki memohon.
Anindya tersenyum. “Hahaha. Apa katamu tadi? Menyesal? Kembali? Tidak! Aku tidak akan pernah melakukan kebodohan itu. Aku pernah menjadi yang paling bodoh untuk dirimu, tapi sekarang tidak lagi. Memaafkan? Aku sudah memaafkanmu, tapi untuk kembali padamu, maaf aku tidak bisa, Rifki.”
Rifki menatap mata Anindya dalam. Laki-laki itu sudah menduga, Anindya akan menolaknya. Ya, dia sadar, dia telah melakukan banyak kesalahan. Dia bahkan telah menyakiti Anindya berulang kali. Kehadiran gadis itu tak pernah dihargai olehnya, bahkan tak jarang bila dia hanya memanfaatkan Anindya.
“Sekali saja, Anindya. Aku ingin memperbaiki kesalahanku.” Setelah hening beberapa saat, suara laki-laki itu kembali terdengar. Penyesalan dan rasa bersalah tersirat dari nada suaranya yang melemah, tak biasa. “Tak ada yang bisa menerimaku dan mengertiku sebaik kamu, Nin.” Lagi dan lagi, laki-laki itu memohon. Air mata mulai mengambang membasahi wajahnya. Sungguh, dia benar-benar menyesal telah menyakiti gadis sebaik Anindya.
Anindya tersenyum. Perlahan, jemari tangannya terarah untuk menghapus air mata Rifki. Kemudian gadis itu berkata, “Rif, bukannya aku tidak mau kembali kepadamu, hanya saja aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak bisa menyakiti diriku lagi. Aku tahu kamu bisa berubah, tapi kamu pun manusia. Bagaimana jika kamu khilaf dan melukaiku lagi?”
__ADS_1
“Hidup adalah tentang datang dan pergi, Rif. Oleh karena itu, kamu pun harus belajar untuk ikhlas. Mungkin, sekarang kamu merasa tidak ada yang bisa menerimamu sebaik diriku, tapi kamu harus percaya pada Tuhan, suatu saat akan ada perempuan yang bisa menerimamu lebih baik dariku. Saat ini, kamu hanya perlu ikhlas, anggap saja semua ini hukumanmu,” lanjut Anindya.
Rifki menghela napasnya pelan. Dadanya terasa sakit mendengar setiap tutur kata yang keluar dari mulut Anindya. Ditolak oleh orang yang pernah dengan gigih memperjuangkanmu adalah sebuah rasa sakit yang luar biasa. Rasanya, kamu seperti kehilangan harapan untuk memaafkan dirimu sendiri. Bahkan, untuk memperbaiki diri saja, rasanya seperti tak mampu.
“Izinkan aku memperbaiki kesalahanku, Nin. Aku mohon, kembalilah padaku.” Lagi, lagi, dan lagi. Rifki memohon kepada Anindya. Dia benar-benar menyesal sekaligus malu. Dia benar-benar ingin memperbaiki kesalahannya dan membahagiakan Anindya.
“Tidak, Rifki. Perbaiki semua kesalahanmu tanpa kembali padaku. Ubah dirimu menjadi lebih baik. Lagi pula, kita ini masih muda. Lebih baik kamu fokus pada karir dan pendidikanmu. Jika berjodoh, kita pasti akan kembali dipersatukan,” ujar Anindya dengan suara beratnya.
“Kamu hanya perlu ikhlas.” Anindya menutup kalimatnya dengan berat hati. Sebab, sesungguhnya dia pun ingin kembali pada Rifki, tapi semua luka yang pernah diberikan laki-laki itu seolah menahan dirinya untuk kembali.
“Baiklah, Nin. Kalau memang itu keputusan terakhirmu, tapi kita masih bisa jadi teman, ‘kan?” tanya Rifki dengan suara serak karena menangis.
Anindya dengan berat hati mengangguk. Gadis itu tahu, tidak mudah berteman dan berdamai dengan masa lalu. Apalagi jika masih ada sedikit benih cinta untuk seseorang dari masa lalu itu. Namun, gadis itu juga tahu, semakin dirinya membenci masa lalunya, akan semakin berat pula baginya menjalani kehidupan. Lebih baik memaafkan, berdamai kemudian berteman, daripada harus memaksakan diri untuk melupakan.
“Terima kasih, Nin. Ah, maaf aku mengganggumu. Aku pergi dulu, ya. Semangat mengerjakan tugas akhir, Nona Li,” ujar Rifki.
Anindya mengangguk, lalu tersenyum miris. Hatinya berdesir hebat setiap kali Rifki memanggilnya menggunakan panggilan kesayangan yang kerap mereka gunakan saat masih berpacaran. Ah, sudahlah! Dirinya harus memulai hidup barunya, tanpa kehadiran Rifki sebagai kekasihnya.
Sesaat kemudian, Rifki mematap Anindya tulus. Kemudian, laki-laki itu berbalik dan pergi dari sana. Meninggalkan Anindya yang tengah dilema.
Anindya menatap kepergian Rifki dengan matanya yang nanar. Tanpa sadar, air mata yang sedari tadi dia tahan, luruh membasahi wajah. Memang benar, ikhlas itu mudah diucap, tapi sulit diterapkan. Itulah yang kini tengah dirasakan Anindya.
“Ah, sial! Kenapa aku harus menangis? Bukankah aku yang memilih untuk tidak kembali padanya? Tidak, Anin, kamu harus ikhlas dan memulai hidupmu. Jangan goyah, jangan menyakiti dirimu sendiri dengan kembali padanya. Ayo, Anin, kamu bisa!” gumam Anindya sembari menghapus air matanya.
***
bersambung ....
mohon maaf slow update
thanks for reading
__ADS_1