
...“Kamu seperti punya magnet yang menarikku untuk selalu mendekatimu.”...
...-Daffa Agem Revandra-...
***
Suasana siang ini cukup panas. Matahari bersinar terik dengan debu-debu yang berterbangan. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat Anindya dan beberapa remaja yang tergabung dalam komunitas sastra untuk menyosialisasikan pentingnya literasi pada anak-anak SMP dan SMA siang ini. Mereka tampak antusias menjelaskan sekaligus menjawab pertanyaan dari anak-anak yang aktif. Keringat yang bercucuran membasahi almamater mereka pun seolah tidak menjadi penghalang bagi acara mereka siang ini.
Dari arah kejauhan, dua bola mata hitam legam itu terus mengamati gerak-gerik dari Anindya. Mulai dari cara gadis itu berbicara, menjelaskan, sampai menjawab pertanyaan, semuanya tak luput dari tatapan bola mata itu. Entahlah, banyak orang di sana, tapi hanya Anindya yang mampu menarik perhatiannya.
“Apa yang sedang kamu perhatikan, Daf?” tanya seseorang sembari menepuk bahu pemilik bola mata hitam legam yang tak lain adalah Daffa.
“Lihatlah gadis itu, dia sangat manis dan menarik,” ujarnya sembari menunjuk Anindya yang tengah bercanda dengan salah satu peserta sosialisasi.
“Jangan katakan kamu mengincarnya karena dia mirip Jelita,” ungkap Devan; teman Daffa.
Deg.
Daffa terdiam. Jelita. Lagi, dia harus mendengar nama yang selama ini sedang dia lupakan. Nama dari seorang gadis di masa lalunya. Gadis yang pernah memberinya kehidupan setelah dibunuh oleh kenyataan. Gadis yang pernah menjadi jiwanya sebelum gadis itu pergi menemui Tuhan.
“Maaf, maksudku bukan begitu. Tapi ....” Ucapan Devan terpotong saat Daffa menepuk bahu sahabatnya itu pelan. Laki-laki itu tersenyum miris, lalu terkekeh. Jujur saja, dia belum bisa menerima kepergian Jelita sepenuhnya.
“Tak apa. Aku tahu, kamu tak ingin aku mempermainkan wanita. Tenang, aku tidak akan mempermainkan dia. Tapi, maaf. Aku sungguh tertarik pada gadis itu, apalagi senyumnya. Sangat manis,” ujar Daffa sembari menatap Anindya penuh arti.
“Sepertinya acara sudah selesai. Aku mau ke sana dulu,” lanjutnya.
...***...
“Huft, akhirnya selesai juga.” Begitulah kalimat yang diucapkan Anindya sembari mendudukkan dirinya di tikar bekas sosialisasi yang belum digulung. Dari raut wajahnya, gadis itu tampak lelah. Bagaimana tidak, seluruh peserta yang mengikuti sosialisasi ini sangat aktif, ditambah dengan cuaca yang panas. Tentu saja membuatnya lelah.
__ADS_1
“Iya, Nin. Syukurlah acara kita kali ini lancar,” sahut Kirana, salah satu temannya.
“Benar. Ini acara sosialisasi pertama komunitas kita yang banyak peminatnya. Kamu hebat, Nin!” timpal temannya yang lain.
Kini, mereka duduk melingkar sembari menghabiskan konsumsi yang sudah disediakan. Suasana seperti inilah yang sangat Anindya suka dari komunitasnya. Kebersamaan. Meski panas matahari siap membuat kulit mereka hitam legam, tapi hal itu tidak menjadi pembatas bagi mereka untuk kumpul bersama.
“Permisi. Boleh saya bergabung?” Seperti yang sudah dia katakan pada Devan, kini Daffa tengah menghampiri gadis itu.
Anindya tersenyum, “Silakan.”
“Iya, silakan. Duduk saja. Siapa tahu kamu tertarik untuk bergabung bersama kita, bukan?” sahut salah satu anggota komunitas itu.
Daffa tersenyum senang. Laki-laki itu segera mengambil posisi di dekat Anindya. Tatapan matanya sedari tadi tidak luput dari Anindya. Setiap gerak-gerik gadis itu diperhatikannya. Sial! Ternyata Devan benar. Anindya sangat mirip dengan Jelita; masa lalunya.
“Sial! Gadis ini memiliki maghnet yang kuat untuk menarik perhatianku, dan ... ah, sialan! Kenapa dia sangat mirip dengan Jelita?" batin Daffa.
Anindya terdiam. Gadis itu tahu jika laki-laki yang baru saja datang itu tengah memerhatikannya, bahkan mungkin tengah mengincarnya. Entah apa yang dipikirkan oleh laki-laki itu. Namun, dia tahu pasti ada sesuatu yang laki-laki itu inginkan darinya.
“Iya. Itu saya,” jawab Daffa singkat.
Mata laki-laki itu masih belum lepas dari Anindya. Membuat beberapa teman komunitas Anindya berbisik mengenai laki-laki itu. Namun, dia tidak peduli. Saat ini dia hanya ingin memerhatikan Anindya dari dekat.
“Bagaimana aku bisa mengalihkan pandanganku darimu, Nin? Biarpun orang di sekitar berbisik tentangku. Namun, sungguh. Aku tak mampu mengalihkan pandanganku. Kamu terlampau menarik perhatianku, Gadis Manis,” pikir Daffa.
Baru saja laki-laki itu hendak membuka suara untuk berbicara dengan Anindya, seseorang yang tak lain adalah Devan menghampirinya. Laki-laki itu sontak menatap Devan tajam.
“Sorry, mengganggu. Daf, kita harus pulang sekarang, adikmu masuk rumah sakit,” ujar Devan dengan napas ngos-ngosan.
Daffa mengembuskan napasnya pelan. Setelah berpamitan l;aki-laki itu bangkit dari duduknya. Baiklah, sepertinya takdir tidak berpihak kepadanya kali ini. Dia tidak diizinkan untuk kenal Anindya lebih dekat. Namun, tak apa. Lain waktu dia akan menemui gadis itu lagi. Pasti.
__ADS_1
***
Hujan yang menghiasi kota Jakarta semenjak sore tadi, mulai menyisakan gerimis. Namun, udara dingin masih setia berembus di tengah padatnya kota metropolitan ini. Salah satu kafe dengan desain modern tampak ramai pengunjung. Di sinilah Anindya sekarang. Salah satu kursi yang dekat dengan jendela menjadi tempat pilihannya di kafe ini. Seperti biasa, gadis manis itu fokus pada layar monitor yang menampilkan deretan abjad yang telah dirangakainya. Jari-jari gadis itu dengan lihai menari di atas keyboard, mengetik kata demi kata hingga terbentuk sebuah kalimat. Gadis itu bahkan tak terganggu dengan suasana kafe yang mulai ramai.
“Permisi, boleh aku bergabung denganmu, Nona?”
Suara yang terdengar tak asing itu berhasil membuat Anindya mendongakkan kepalanya. Gadis itu melotot kaget ketika mendapati Daffa berdiri di hadapannya. Namun, sejenak kemudian, gadis itu tersenyum sembari mengangguk.
“Sendiri saja, Nona?” tanya Daffa setelah memesan minuman dan beberapa makanan kepada pelayan.
Anindya mengangguk, “Iya. Aku kesulitan berkonsentrasi di rumah, jadi aku memutuskan ke sini,” jawab Anindya sembari menutup laptopnya.
Setelahnya, tidak ada percakapan di antara mereka. Anindya sibuk memasukkan laptop ke dalam tasnya, sedangkan Daffa sibuk memandangi gadis itu. Ah, sial! Gadis itu sangat cantik. Apalagi dengan baju bebas seperti ini. Rambut yang biasanya dikuncir satu, kini dibiarkan terurai dengan sebuah bando di kepalanya.
Daffa terdiam. Hanya dengan memandangi Anindya seperti ini, dia seolah kembali terseret ke dalam masa lalunya. Seketika bayangan wajah Jelita menghampiri benak laki-laki tersebut. Tawanya, senyumnya, tingkahnya, sial! Semua yang ada pada gadis itu seolah melekat juga pada diri Anindya.
"Mungkin benar. Dia adalah orang yang dikirim Tuhan untuk menggantikan Jelita," pikir Daffa.
“Daf, kenapa kamu melihatku begitu?” Anindya mulai membuka suaranya. Jujur saja, dia risi diperhatikan seperti itu oleh Daffa. Entahlah, gadis itu bahkan selalu merasa risi dengan kehadiran Daffa. Jika saja dia tidak punya hati, mungkin dia sudah mengusir Daffa.
“Ah, tidak. Maafkan aku. Aku hanya ....” Ucapan Daffa terpotong ketika seorang laki-laki yang tak lain adalah Bagaskara menghampiri mereka.
Daffa melempar tatapan tajam pada laki-laki itu sebagai tanda tidak suka. Tangannya sudah mengepal kuat. Kedatangan Bagaskara benar-benar mengganggunya. Jika saja dia tidak sedang duduk di hadapan Anindya, mungkin dia sudah menghabisi Bagaskara dengan sisi hitam yang tersembunyi dalam diri laki-laki itu.
...***...
bersambung ....
thanks for reading🖤
__ADS_1
sorry part ini agak gaje soalnya authornya lagi mood down buat nulis hehe