MENGEJAR ILUSI

MENGEJAR ILUSI
KEMBALI BERTEMU


__ADS_3

"Di prespektif jalanan kota, di sanalah kita kembali bertemu, kembali menatap dan kembali bercanda, meski hanya sebatas teman."


~Anindya Wulandari


~0~0~


Siang ini matahari sepertinya sedang galak-galaknya. Teriknya menyengat setiap lapisan di bumi ini. Hawa panas berembus pelan, menyapu debu-debu jalanan, mengangkatnya naik membentuk gumpalan kelabu di atas awan. Asap rokok dan polusi udara membuat suasana semakin memanas. Dari ujung prespektif jalan raya, seorang gadis tengah asyik membuat jemarinya menari di atas keyboard laptopnya. Gadis itu tak lain adalah Anindya.


"Anin!" panggil seorang gadis yang baru saja tiba. Anindya mendongakkan kepalanya lalu tersenyum menatap gadis itu, "Hai, Alleta! Duduklah!" pinta Anindya pada gadis itu. Dengan sigap gadis itu duduk di hadapan kursi Anindya, tangannya mencomot kentang goreng milik Anindya, kemudian memakannya. Anindya hanya geleng-geleng melihat kelakuan sahabatnya yang tidak kunjung berubah. Sejenak, tatapannya kembali jatuh pada monitor laptopnya. Dengan segera gadis itu kembali memainkan nada-nada keyboard dengan jemarinya. Merangkai kata demi kata hingga menjadi sebait aksara. Alleta menatap heran kepada sahabatnya, Anindya memang gila menulis tapi sahabatnya itu tidak pernah mengabaikan orang yang tengah bersamanya demi sebuah tulisan.


"Kamu ada masalah, Nin?" tanya Alleta tepat pada sasarannya.


Anindya menggeleng, "Bukan masalah besar," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. Alleta mengernyitkan dahinya. Sudah jelas dari raut muka Anindya bahwa gadis itu tengah menyembunyikan sesuatu.


"Mungkin kamu lupa, Nin, kalau sahabatmu ini kuliah di jurusan psikolog, jadi jangan berbohong kepadaku!" ujar Alleta sembari mencomot kentang goreng milik Anindya dan memakannya.


Anindya mendongakkan kepalanya seraya mengembuskan napasnya pelan. Ia lupa bahwa yang sedang duduk di hadapannya adalah mahasiswa jurusan psikolog yang telah memasuki semester 4. Sangat mustahil baginya untuk membohongi gadis di hadapannya ini.


"Jadi, kenapa?" tanya Alleta.


"Aku putus sama Rifki," jawab Anindya lemah. Matanya menyorot kosong ke arah prespektif kota, "Lagi dan lagi aku memergokinya bersama perempuan lain yang jauh lebih cantik dariku. Entah siapa dia, aku juga tidak tahu. Yang pasti, kepercayaanku sudah hancur untuknya," lanjutnya sembari menyesap cappucinonya. "Kemarin malam sepulang kerja aku bertemu dia, dan dia sedang memayungi seorang perempuan. Aku gak tahu apa salahku, Ta? Sampai dia tega berkhianat seperti ini kepadaku."


Setetes bulir kembali jatuh membasahi wajah gadis cantik ini. Kenangannya bersama Rifki kembali berputar. Setiap tawanya, setiap canda mereka, setiap bujuk rayu dan segala hal yang membuatnya merasa menjadi seseorang paling bahagia, semuanya masih terekam jelas dalam loker ingatan. Meski semuanya hanya tipu daya dan berakhir di luka yang sama. Jujur saja, dalam hati kecilnya Anindya masih sangat mencintai laki-laki itu.


Mendengar itu, Alleta langsung mengambil posisi di samping Anindya. Dengan cekatan ia mengulurkan tangannya, merengkuh sekaligus mengelus pundak Anindya yang tengah rapuh. Alleta tahu benar apa yang Anindya rasakan, sebab ia juga sempat merasakannya. Bedanya, Alleta hanya merasakan itu sekali, sedangkan Anindya berkali-kali.


"Aku capek, Ta. Aku capek terus-terusan disakiti sama Rifki," ujar Anindya di tengah isak tangisnya yang semakin keras.


"Aku tahu apa yang kamu rasain sekarang, Nin. Aku juga pernah ada di posisimu, tapi kamu gak bisa kaya gini terus, Nin. Kamu harus bangkit dan membuka mata kamu, banyak yang sayang sama kamu dan banyak yang pengen lihat kamu bahagia. Coba sekarang kamu bayangkan, kalau kamu seperti ini, bagaimana nasib ibumu? Bagaimana masa depan kamu? Kamu enggak mau mengecewakan aku, ibumu, kakakmu dan yang lainnya 'kan?" tanya Alleta.


Anindya menggeleng pelan, "Aku enggak mungkin melakukan itu, Ta. Kamu tahu sendiri 'kan? Kalian itu udah seperti hidup dan matiku," jawab Anindya.


"Kalau begitu kamu harus bangkit. Lupakan semua yang udah buat kamu sakit dan mulai awal baru yang akan membuatmu bahagia."


Anindya menghapus air matanya, kemudian mengulas sebuah sungging manis yang dapat membuat semua orang takjub ketika melihatnya. Tekadnya sudah kuat sekarang, dia tidak boleh lemah. Dia harus kuat, untuk dirinya sendiri, untuk keluarganya dan untuk sahabatnya.


"Nah gitu dong senyum!" seru Alleta. "Kalau sedih kayak tadi enggak pantas tahu, Nin! Muka galakmu itu gak pantes buat mellow kayak tadi!" lanjutnya.


"Sialan!" umpat Anindya, kemudian mereka tertawa bersama. Siang ini waktu mereka habis untuk bercanda dan bercengkerama. Hanya dengan sahabatnya seperti inilah, Anindya bisa melupakan segala rasa sakit dan bebannya.


~0~0~

__ADS_1


Sore ini langit cerah. Angin berembus lembut, membisikkan ketenangan. Langit biru semakin berubah menjadi jingga. Taman kota mulai dipenuhi oleh para pujangga yang jatuh cinta pada lambaian senja. Begitupun dengan Bagaskara, laki-laki ini benar-benar exited jika sudah berbicara tentang senja. Dengan secarik kertas dan sebuah pena di tangannya, laki-laki itu menghadap ke ufuk cakrawala. Seulas senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah laki-laki itu. Tanpa dipinta, laki-laki itu memainkan penanya dengan begitu lihai di atas kertas. Menggoresnya, hingga tidak lagi kosong. Merangkai kata demi kata hingga membentuk sebuah bait puisi.


^^^SAPAAN JINGGA^^^


^^^BAGASKARA ADI WIJAYA^^^


^^^Sore ini jingga menyapaku^^^


^^^Melambai di antara birunya langit yang perlahan menghitam^^^


^^^Memberi seringai manis padaku yang tengah menantimu^^^


^^^Jingga ....^^^


^^^Manis wajahmu adalah canduku^^^


^^^Lembut suaramu meski terkadang serak^^^


^^^Layaknya camar yang bernyanyi riang^^^


^^^Meski waktu semakin kelam, tapi tidak denganmu, Jingga^^^


^^^02/10/2020^^^


"Permisi, boleh aku duduk di sini?" tanyanya. Gadis itu hanya mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan kota.


"Menyesap segelas kopi sembari memperhatikan jingga, apakah juga jadi kebiasaanmu, Nin?" tanya Bagaskara lagi. Mendengar namanya dipanggil, gadis itu langsung menoleh ke arah suaranya. Sebuah senyum terukir di wajahnya kala mendapati Bagaskaralah yang kini duduk di sampingnya.


"Iya. Terkadang aku juga menjadikan jingga sebagai objekku dan dia sebagai khayalanku," jawab Anindya. Tangannya menggenggam sebuah buku harian dan pena. Buku itu berisi puisi-puisi milik Anindya.


"Wah! Ternyata tidak hanya aku yang seperti itu! Ini artinya aku tidak aneh seperti yang dikatakan banyak orang 'kan?"


Anindya mengernyitkan dahinya, "Aneh? Tidak! Justru menurutku ini istimewa, Bagaskara! Tidak banyak laki-laki yang jatuh cinta kepada aksara, malah di jaman sekarang ini laki-laki lebih memandang fisik dari pada rangkaian aksara dan kesetiaan yang tertata begitu rapi. Mereka tidak peduli dengan janji dan mengingkarinya, sungguh miris sekali," ujarnya.


Bagaskara menatap Anindya dalam. Dia bukan seorang psikolog atau apapun itu. Dia hanyalah seorang penulis dan penyair biasa, tapi dari sorot mata dan nada ucapan gadis itu, Bagaskara tahu bahwa gadis itu tengah rapuh. Entah apa penyebabnya, sorot mata Anindya berbeda dari waktu pertama kali mereka bertemu dan ketika mereka berada di kafe, Anindya jauh lebih ceria tidak seperti saat ini. Mungkin, gadis ini tengah menyembunyikan luka di balik senyumnya, tapi dia gagal melakukan itu di hadapan Bagaskara.


Semilir angin sore membelai lembut pepohonan. Menambah kesan tenang dan sejuk sore ini. Anindya mengalihkan matanya dari tatapan Bagaskara, ia merasa gugup ditatap sedalam itu oleh laki-laki seperti Bagaskara. Gadis itu menunduk, membuka buku hariannya dan mencoba fokus merangkai kata demi kata untuk kesan senja sore ini.


^^^PESAN SENJA UNTUKKU^^^


^^^Lianindya^^^

__ADS_1


^^^Lembayung jingga di ufuk cakrawala melambai pada raga yang hampir saja terkapar^^^


^^^pandangku menyapu pijakan cokelat^^^


^^^Siluet manis beradu di sana^^^


^^^Semilir angin yang berbisik lembut, seolah memeluk erat hati yang enggan bangkit^^^


^^^Dari luka yang sama kian menganga tiap kali mengingatnya^^^


^^^Hingga jingga sendiri memainkan perannya^^^


^^^Bengisnya telaga juga sandiwaranya^^^


^^^Lisan kelu, layaknya camar yang habis suara^^^


^^^Meninggalkan bayangan yang perlahan sirna^^^


^^^Bersama senja yang kian turun lalu menghilang^^^


^^^Seolah memberi pesan, bahwa segalanya fana termasuk cinta manusia^^^


^^^02 OKTOBER 2020^^^


Bagaskara mengintip rangkaian kata Anindya. Sebuah sungging kembali terbit di wajahnya. Rangkaian puisi Anindya benar-benar indah, meski mungkin sebuah luka terselip di dalamnya.


"Puisimu keren," pujinya.


Anindya tersipu malu mendengar pujian itu. Pipinya sudah merah seperti kepiting rebus, bahkan kupu-kupu juga ikut terbang di dalam perutnya. Entah bagaimana bisa, ia sudah sering mendapat pujian seperti ini dari banyak orang, tapi kali ini ia merasa bahwa pujian itu begitu istimewa. Apa karena laki-laki yang memujinya juga istimewa? Anindya menggeleng pelan, menyadari imajinasinya yang liar dan hiperbola. Bahagia saat dipuji itu hal yang sangat biasa.


"Sepertinya melamun juga jadi kebiasaanmu, atau mungkin hobimu?" tanya Bagaskara.


"Tidak! Enak saja! Jika kebanyakan melamun aku bisa kesambet nanti!" jawab Anindya sembari bercanda mencoba mencairkan suasana. Mendengar itu Bagaskara tertawa, ternyata selain pintar menulis, gadis di hadapannya ini juga pandai membuat lelucon. "Ya, siapa tahu, kamu suka melamun kemudian berimajinasi dan menulis," ujar Bagaskara.


"Berimajinasi dan menulis itu benar, tapi tidak dengan melamun!" sanggah Anindya.


"Ya 'kan siapa tahu, selain berteman dengan aksara kamu juga berteman dengan makhluk astral dalam lamunanmu," balas Bagaskara.


"Sembarangan, Kamu!" seru Anindya sembari melempar tatapan galak pada Bagaskara. Melihat itu Bagaskara hanya tertawa. Suara tawanya terdengar begitu merdu di telinga Anindya, membuatnya seketika lupa dengan segala rasa sakitnya.


Sore ini, di penghujung senja yang perlahan turun lalu menghilang, Bagaskara dan Anindya menghabiskan waktu untuk bercengkrama ringan sekaligus bercanda. Sejenak melepaskan beban dan tunggakan naskah mereka. Untuk pertama kalinya, setelah kehancuran keluarganya, Anindya tertawa lepas dan itu karena Bagaskara, laki-laki yang belum lama dikenalnya.

__ADS_1


~0~0~


Bersambung ....


__ADS_2