
“Dan lagi aku dibuat patah oleh kenyataan.”
~Anindya
~0~0~
Malam ini mata rembulan begitu sayu. Ia tak berseri-seri seperti biasanya. Gelegar petir telah membuatnya ketakutan, hingga bersembunyi di balik gelapnya awan. Kini, Anindya tengah berada di ruang tamu rumahnya. Hari ini gadis itu libur. Sudah dua jam ini, gadis itu menghabiskan waktunya di hadapan monitornya. Ya, gadis itu tengah mengerjakan tumpukan naskah. Entah sengaja atau tidak, gadis itu terlihat sibuk akhir-akhir ini, apalagi setelah hari di mana hubungannya dan Rifki berakhir. Sebenarnya, ia sangat ingin memaafkan laki-laki itu dan berteman baik dengannya, tapi rasa sakitnya telah mengalahkan logika baiknya itu.
Suara ketukan pintu membuat gadis itu mengalihkan perhatian dari laptopnya sembari mendengkus sebal, “Siapa yang bertamu malam-malam dan hujan-hujan seperti ini, tidak sopan sekali!” gerutunya sembari berjalan ke arah pintu.
“Ka-kalian?” ujar gadis itu. Napasnya tercekat, denyut jantungnya seolah berhenti berpacu, dadanya sesak, melihat tiga orang tengah berdiri di depan pintu rumahnya. Matanya menyorotkan amarah dan luka yang telah ia pendam bertahun-tahun. Bagaimana tidak, yang baru saja mengetuk pintu adalah Bram, ayah Anindya yang kini datang bersama istri dan seorang anaknya. Gadis itu tidak menyangka, setelah memberi penderitaan kepada keluarganya, mereka kembali muncul di hadapan gadis itu.
“Mau apa kalian ke sini?” tanya gadis itu dengan nada ketus. Tangannya sudah mengepal seperti orang yang hendak melayangkan tinju kepada mereka. “Kenapa diam?! Ada perlu apa yang membawa kalian ke gubuk yang pernah kalian hina ini?! Apa perlu saya panggilkan Kak Rafi untuk menanggapi kedatangan tamu tidak diundang ini?” lanjutnya masih dengan nada marah.
“Kami datang untuk tinggal di sini, Nak. Papa bangkrut,” jawab laki-laki berusia 50 tahun itu. Anindya sontak tertawa mendengarnya. Sebuah seringai muncul, tatapannya meremehkan kepada mereka bertiga, “Bagaimana mungkin saya mengizinkan kalian tinggal di sini, sedangkan saat saya dan keluarga saya menderita, kalian malah menambah penderitaan itu?!” ujarnya. Suara Anindya mungkin begitu keras, hingga dua penghuni rumah yang tadinya terlelap sampai terbangun dan entah sejak kapan mereka ada di belakang gadis manis itu.
“Apa kalian tidak malu, atau memang tidak punya malu, sampai-sampai datang ke tempat yang pernah kalian hina ini?’ tanya Anindya lagi. Jujur saja, ia sudah muak dengan drama yang terjadi di keluarganya. Ibunya, orang yang paling menderita karena drama itu, membuatnya semakin malas jika harus menerima mereka di rumahnya. Anindya tidak ingin mengatakan hal yang menyakiti ayahnya, tapi ia juga tidak ingin keluarganya terutama ibunya yang sudah tidak terikat apapun dengan ayahnya, diperlakukan seperti budak oleh ayahnya.
“Anin, jangan berkata seperti itu, Nak! Ingat, dia tetap ayahmu!” ujar Rita yang tengah berdiri di belakang Anindya. Tangannya memegang dan mengelus bahu gadis itu, mencoba menenangkan kemarahan anaknya. Rita tahu dengan baik, seperti apa marahnya Anindya saat ini.
“Jika mereka hanya ingin tinggal di sini, ibu enggak keberatan, Nak. Ibu tidak masalah jika mereka ingin numpang sampai mereka dapat tempat tinggal yang layak,” lanjut wanita yang sudah mulai ringkih itu. Mendengar itu Anindya memelototkan matanya dan menatap ke arah laki-laki yang berada di belakang ibunya, membuat laki-laki itu hanya mengangkat bahunya. “Gak! Kalaupun Ibu mengizinkan mereka tinggal di sini, aku gak akan kasih izin itu!” tolak gadis itu.
__ADS_1
“Ibu tidak pernah mengajari anak-anak Ibu menjadi sosok yang jahat dan pendendam, Nak. Ibu bukan orang kaya yang bisa memberimu uang dan harta, tapi Ibu bisa memberimu ilmu yang akan membuatmu selamat dalam hidup. Harta bisa saja habis, tapi kebaikan hati akan selalu kekal. Izinkan mereka tinggal di sini, masih ada satu kamar yang kosong ‘kan? Biar mereka bertiga tinggal di sana,” ujar Rita. Anindya tidak menjawab lagi nasihat ibunya itu, gadis itu langsung masuk dan menyambar laptopnya, kemudian menutup pintu kamarnya dengan keras.
“Luka lama belum sembuh, dan sekarang kalian menambahnya lagi. Ingat! Ibu memberi izin kalian tinggal di sini bukan berarti kalian bebas menguasai rumah ini!” sentak Rafi kepada ayah dan ibu tirinya. Sebenarnya, laki-laki itu tidak masalah dengan kedatangan mereka, tapi melihat luka dan kemarahan Anindya, membuat laki-laki itu menjadi kalap. Ia adalah yang terdekat dengan Anindya, ia adalah orang yang paling tidak bisa melihat adiknya itu menangis.
~0~0~
Malam-malam kelam. Hujan turun dengan deras di luar sana, sama seperti air mata Anindya yang entah sejak kapan sudah memoles wajah cantik gadis itu. Suara tangisnya tidak terdengar jelas, karena teredam suara hujan dan suara petir yang menggelegar. Ditatapnya nanar, boneka yang berada di sisi ranjangnya. Boneka itu adalah kesayangannya, tapi entah mengapa rasanya gadis itu ingin membakarnya. Begitu sakit rasanya, melihat ayahnya dan keluarga tirinya berada di rumahnya.
“Jangan menangis, Nin. Kita sama-sama sakit di sini.” Sebuah suara membuat Anindya menoleh. Rafi, kakaknya tengah berdiri di sisi pintu kamarnya. Mata laki-laki yang kini menjadi tulang punggung keluatga itu menatapnya sayu. Luka dan sakit yang sama terpampang jelas di sana. Anindya mengembuskan napasnya kasar, sejak dulu ingin rasanya ia mengutuk semesta yang terus-menerus membuatnya terluka.
“Kakak tahu, Nin, kamu tidak ingin mereka di sini, begitu juga dengan kakak, tapi ....”
“Tapi kenapa Kakak diam saja?! Kalau Kakak tahu itu menyakiti Anin, kenapa Kakak enggak melawan Ibu?! Kenapa Kakak enggak bertindak?” tanya gadis itu. Suara seraknya telah beradu dengan rintik yang begitu deras malam ini.
“Tidurlah! Lupakan semua yang terjadi malam ini, anggap tidak ada mereka di sini. Kakak gak mau kamu sampai sakit karena ini!” pinta Rafi dengan nada yang tak terbantah. Anindya dengan segera merebahkan dirinya di ranjang, kemudian mencoba memejamkan matanya. Sedangkan Rafi, laki-laki itu hanya tersenyum, menunggu Anindya benar-benar terlelap.
“Kakak sayang kamu, Nin, dan Kakak gak akan biarin mereka menyakiti kamu lagi,” ujarnya, kemudian keluar dari kamar Anindya.
~0~0~
Pagi ini, matahari melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan bulan semalam. Sinarnya redup, malu-malu ia bersembunyi di balik gelapnya awan. Anindya menatap betapa kacaunya gadis itu pagi ini. Matanya masih saja sayu dengan garis hitam sebagai hiasannya. Ya, gadis itu menangis semalaman. Ia tidak benar-benar tidur, setelah Rafi keluar dari kamarnya gadis itu menangis hingga pukul 03.00 WIB, barulah ia memejamkan matanya.
__ADS_1
Gadis itu mengembuskan napasnya pelan, mencoba mengurangi sedikit beban yang merusak suasana hatinya. Dengan cekatan tangannya mengemasi laptop dan barang-barang yang akan dibawanya. Hari ini dia sudah ada janji dengan teman-temannya untuk bertemu di kafe tempatnya bekerja. Sekali lagi gadis itu menatap pantulan dirinya di depan cermin. Anindya mengeram kesal dengan penampilannya yang sangat jauh dari dirinya. Teman-temannya pasti menyerbunya dengan seribu satu pertanyaan jika ia tidak memperbaiki penampilannya hari ini.
Anindya memutar keras otaknya untuk berfikir. Pasalnya, ia tidak pandai dalam menggunakan make up. Lagi dan lagi, gadis itu mengembuskan napasnya, kemudian menyambar bedak dan lip cream yang ada di meja riasnya. “Baiklah, ini lebih baik,” gumamnya setelah memoles wajahnya dengan bedak dan lip cream. Setelah merasa puas, gadis itu segera keluar dari kamarnya.
“Selamat pagi, Bu! Selamat pagi, Kak!” sapanya dengan senyum yang dibuat-buat untuk menutupi lukanya, meski begitu Rafi dan Rita tahu apa yang tersemat di balik senyum gadis itu.
“Kamu tidak menyapaku, Nin?” tanya laki-laki yang tengah ikut sarapan di sana. Anindya menatap sinis ke arahnya, “Maaf, siapa anda? Apakah benalu perlu di sapa? Saya rasa tidak,” ucap gadis itu, kemudian berjalan ke arah Rafi. Gadis itu mengalungkan tangannya dengan manja ke leher Rafi, yang tengah duduk di meja makan.
Tatapan matanya jatuh pada gadis berusia 17 tahun yang duduk tepat di depan Rafi, membuat laki-laki itu mengerti maksud adiknya. “Kenapa? Ada yang kamu butuhkan lagi? Kalau sekarang Kakak gak bisa kasih, belum gajian nih, dompetnya sudah nangis,” tanya laki-laki itu. Anindya menggeleng, “Nyebelin! Masa iya, aku datang ke Kakak cuma karena uang sih?! Aku tuh kangen sama Kakak! Dasar gak peka!” gerutunya tanpa mempedulikan tiga manusia yang menatapnya iri. “Pantas jomlo!” lanjutnya membuat mata laki-laki itu mendelik. Selalu saja begitu.
“Gak usah bawa-bawa status! Sudah sana, katanya ada janji ketemuan sama teman kamu, nanti terlambat!” pinta Rafi pada adiknya yang masih bermanja-manja itu. Anindya mencabik kesal mendengar pengusiran Rafi, “Ah! Kakak gak seru! Pantas jomlo!” ujarnya kembali membuat laki-laki itu mengeram kesal. Bagaimana tidak? Semua orang menganggap adiknya adalah sosok yang mandiri dan pintar, tapi baginya adiknya adalah gadis yang manja dan menyebalkan. Meski begitu, laki-laki itu tetap menyayangi adik semata wayangnya itu.
“Sudahlah! Aku sudah terlambat. Aku mau berangkat dulu,” pamit Anindya sembari menyalami tangan Rita, “Ibu kalau ada tikus langsung telepon Anin, ya! Nanti aku pulang bawain racunnya sekalian,” ujar gadis itu pedas.
“Hus, jangan terlalu benci, gak baik, Nak.” Rita tersenyum dan memeluk anaknya. Ia tahu, bahwa semua senyum dan canda anaknya itu adalah pura-pura. Anak perempuannya itu tengah menanggung beban dan luka yang begitu dalam di usia mudanya. Ia bahkan tidak tahu, bagaimana cara meringankan beban berat yang tengah ditanggung anakn perempuannya itu. Wanita itu, hanya bisa mendoakan, agar anaknya mampu bangkit dan mengangkat tinggi derajat keluarga mereka.
“Di bahu ini, banyak beban yang kamu tanggung, di hati ini banyak rasa sakit yang kamu pendam. Maafkan Ibu yang tidak bisa berbuat lebih untukmu, Nak,” batin wanita itu sembari melepas pelukannya dan mengusap wajah cantik putrinya.
~0~0~
Bersambung ....
__ADS_1
Terima kasih sudah mau mampir
Salam sayang🖤