
...“Kamu cantik, tapi sayang mini attitude.”...
...~Anindya...
...~0~0~...
Semilir angin berembus lembut, menggoyangkan dedaunan yang masih setia di batang pohon itu. Burung-burung bernyanyi merdu, sesekali menari mengikuti irama angin. Anindya masih terdiam di tempatnya, menatap kagum senja yang mulai datang dari balik jendela kasir, sedangkan Bagaskara, laki-laki itu masih setia berdiri di sebelah meja kasir sembari memperhatikan setiap inci wajah Anindya. Bagi Bagaskara, Anindya adalah sosok yang sempurna. Bulu mata lentik, leher jenjang yang mulus, hidung mancung, bibir ranum merah jambu ditambah dengan dua lesung di pipi chubbynya. Manis.
“Bagaskara!” Suara seseorang tiba-tiba membuyarkan lamunan laki-laki itu. Perempuan dengan postur tubuh yang sempurna juga penampilan yang kekinian tengah berdiri tepat di depan meja kasir. Wajahnya dipoles make up tipis yang menambah kesan classy dan cantik. Membuat Anindya merasa insecure hanya dengan menatapnya.
“Hai, Diva! Sedang apa kamu di sini?” tanya Bagaskara pada perempuan cantik yang tak lain adalah Diva Amelia, teman sefakultasnya.
“Aku sedang ingin ngopi saja, kamu sendiri?” Perempuan itu mengeluarkan senyum manisnya, senyum yang mungkin akan membuat siapa saja jatuh cinta. Anindya yang mulai merasa canggung dengan suasana seperti ini langsung berkata, “Maaf, jika tidak ada yang bisa saya bantu, kalian boleh duduk di kursi yang sudah disediakan. Maaf, bukan maksud saya mengusir hanya saja pelanggan lain sudah mengantre untuk membayar.”
“Ah iya benar! Bagaskara mari kita duduk sambil ngopi dan sejenak berbincang-bincang, daripada kamu harus di sini berdiri di samping kasir, tidak ada gunanya, bukan? Lagi pula tidak ada yang menarik di sini,” ujar perempuan itu, sembari memberikan tatapan menghina kepada Anindya yang tengah melayani pelanggan.
__ADS_1
“Memang tidak ada yang menarik di sini, ini hanya kasir tempat membayar bukan mall tempat anak orang kaya menghabiskan uang kedua orang tuanya.” Aninyda bersuara dengan sarkas tanpa mengalihkan tatapannya dari layar komputer berisi daftar harga di hadapannya. Sadar arau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, gadis itu telah mengibarkan bendera perangnya dengan Diva. Perempuan itu menatap Anindya tajam kemudian menyeret Bagaskara menjauh dari kasir.
~0~0~
Semakin larut, suasana kafe semakin ramai. Pengunjung semakin berdatangan. Anindya sendiri masih sibuk melayani setiap pengunjung yang datang. Sedangkan Bagaskara, laki-laki itu masih setia menemani perempuan itu di kafe ini, Ya, mungkin benar ketika seseorang memiliki daya tarik, maka seindah apapun orang lain akan tetap buruk di matanya. Seperti saat ini, Bagaskara masih setia menatap ke arah Anindya, entah apa yang membuatnya tidak ingin lepas dari gadis yang baru ia kenal itu sampai mengabaikan gadis yang asik mengoceh di depannya itu.
“Bagaskara! Kamu mendengarku ‘kan?” tanya Diva yang merasa diabaikan oleh Bagaskara.
“Iya, aku dengar.” Laki-laki itu menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari Anindya, membuat perempuan yang duduk di hadapannya itu terpaksa mengikuti arah pandangan Bagaskara. Matanya menatap tajam ke arah Anindya yang tengah sibuk melayani pelanggan dengan seuntai senyum manisnya. “Aku harap seleramu tidak turun, Bagaskara,” ujar Diva yang entah mengapa sangat menohok.
Bagaskara menatap tajam gadis yang duduk di hadapannya. Inilah sisi dari Diva yang ia benci. Suka mencaci dengan keterlaluan terhadap orang lain, apalagi orang itu tidak pernah punya masalah dengannya sebelumnya.
"Em ..., maaf. Maksudku, kamu enggak sedang jatuh cinta sama dia ‘kan? Dia itu cuma penjaga kasir di kafe ini, ‘kan siapa tahu dia ada cowok lain gitu.” Gadis berpenampilan highc;*** itu kelabakan dengan tatapan Bagaskara yang hendak membunuhnya. Bagaskara mengeluarkan sunggingnya, “Iya, dia cuma penjaga kasir, tapi dia tahu cara menghargai orang.” Diva mengeram kesal. Sungguh! Pembelaan Bagaskara pada Anindya membuatnya kesal setengah mati. Tanpa berpikir panjang gadis itu mendekati Anindya yang sibuk dengan bukunya, karena kasir sudah sepi.
“Heh! Penjaga kasir, sialan!” Diva menarik buku Anindya kemudian melemparnya, membuat gadis itu menatapnya tajam. “Kamu itu gak usah sok mendekati Bagaskara, ya! Sadar diri, dong!” lanjutnya. Mengetahui meja kasir yang mulai menjadi pusat perhatian, Anindya mengembuskan napasnya pelan, lalu membawa gadis itu keluar dari kafe. Ia tidak ingin ada keributan yang membuat pelanggan kafe tidak nyaman.
__ADS_1
“Ih! Jangan sentuh aku! Tangan kamu kotor!” seru Diva.
“Maaf, tapi jika kamu membuat keributan di kafe dan aku tidak membawamu keluar, maka kamu akan menjadi lebih kotor lagi.” Anindya menatap gadis di hadapannya dengan eskpresi datar. Gadis itu melipat tangannya di depan dada, lalu berkata, “Apa mau kamu sebenarnya? Kenapa tiba-tiba datang seperti tadi? Apa kamu pikir aku akan mendekati kekasihmu itu? Jika iya, maka maaf kamu salah besar. Faktanya aku tidak mencoba mendekatinya, kita baru saja kenal beberapa waktu yang lalu karena dia menolongku.”
“Oh ya? Tapi aku tidak percaya dengan bualanmu itu!” sentak Diva yang mulai dihantui dengan obsesinya. Anindya mengangkat bahunya, “Ya sudah kalau tidak percaya, aku tidak memaksa, yang jelas aku sedang tidak mencoba mendekatinya,” ujar gadis itu dengan rongga yang bergemuruh seolah mengatakan bahwa apa yang ia katakan baru saja itu tidak benar, tapi gadis itu dengan cepat menepis perasaan yang mungkin sudah ia sediakan khusus untuk Bagaskara, apalagi mengetahui jika laki-laki itu memiliki kekasih semacam Diva.
“Ingat ini, ya! Kamu itu cuma pelayan, penjaga kasir dengan penampilan yang buruk, kusam dan jelek! Kamu gak pantas buat dekat apalagi memiliki Bagaskara, karena cuma aku yang cantik ini, yang berhak atas itu!” ujar Diva dengan nada meremehkan.
Anindya tersenyum lembut. Sudah biasa baginya dihina seperti ini, ia juga tidak peduli akan hal itu. Lagi pula anjing tidak akan menggonggong jika mengenali tuannya ‘kan? Gadis itu menatap dari atas hingga bawah penampilan gadis yang ada di hadapannya. Memang benar, jika dibandingkan dengannya, gadis ini sangat jauh. Dia lebih kekinian, highclass dan cantik. Sedangkan Anindya sendiri? Dia hanyalah gadis yang tidak seberapa tahu soal penampilan dan make up.
“Baiklah, aku terima ucapan sampahmu itu. Ya, harus aku akui, kamu cantik bahkan sangat cantik, tapi sayang sekali sepertinya pengetahuan, kecerdasan dan attitudmu tidak secantik wajah dan penampilanmu.” Setelah mengatakan itu, Anindya melengos ke dalam kafe, tidak lagi mempedulikan gadis yang tengah tertutup obsesi dan kesombongannya.
Diva mengeram kesal, sesekali menghentakkan kakinya. Ucapan Anindya begitu sarkas dan menusuk. Kini ia tahu, bahwa Anindya bukan seperti gadis lain yang akan tunduk kepadanya, Anindya adalah gadis yang sulit untuk dibuat tunduk dan memiliki keberanian yang besar. Di dalam otak Diva, perlahan menyusun rencana jahat agar gadis itu tunduk kepadanya bahkan lenyap dari dunia ini.
~0~0~
__ADS_1
Bersambung ....