MENGEJAR ILUSI

MENGEJAR ILUSI
SENYUM SENJA


__ADS_3

“Jika aku diizinkan untuk mencinta, maka senyum senjalah yang akan kucinta dengan setia, dan jika aku diizinkan untuk meminta, maka merekalah yang kuminta untuk tetap bersama.”


~Anindya


~0~0~


“Aku sebentar lagi sidang skripsi,” celetuk seorang laki-laki sembari mencomot kentang goreng milik Anindya. Sedangkan sang empunya hanya meliriknya sekilas, kemudian kembali fokus kepada layar monitor di depannya. Ramainya suasana kafe dengan interior klasik ini, sama sekali tidak mengganggu konsentrasinya dalam mengerjakan naskah.


“Wish keren! Doakan aku segera menyusul, ya!” sahut seorang gadis berambut pirang yang duduk di samping Anindya. Laki-laki itu hanya tersenyum dan mengangguk, kemudian kembali mencomot kentang goreng milik Anindya. Kali ini gadis itu tidak menghiraukan kelakuan laki-laki yang duduk berhadapan dengannya itu. Toh, gadis itu juga tidak seberapa suka kentang goreng.


“Nin! Lihat dong! Kentang gorengmu bisa dihabiskan oleh Rizky jika kamu tidak memakannya. Lihat saja, kamu baru makan satu, tapi dia sudah menghabiskan setengah,” adu Alleta yang sedari tadi diam. Tidak seperti biasanya, gadis itu hanya menjawab dengan anggukan kepala, seolah enggan membuka suaranya. Matanya masih tertuju pada layar laptop yang menampilkan tumpukan naskah. Membuat semua manusia yang duduk satu nomor meja dengannya itu mengernyitkan dahinya, bingung. Anindya adalah sosok yang ceria dan banyak bicara, dan diamnya gadis itu menandakan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.


“Apa yang membuatmu mendadak jadi pendiam seperti ini, Nin?” tanya Azura, gadis berambut pirang yang duduk di sebelah Anindya.


“Iya, Nin. Apa masalahmu dengan Rifki kemarin masih mengganggumu?” tanya Chandra juga.  Merasa diserbu oleh teman-temannya, gadis itu segera menutup laptopnya. Matanya menatap satu per satu temannya yang juga serius menatapnya, seperti seseorang yang tengah menunggu kepastian darinya. Sebuah ide jail tiba-tiba muncul dalam benaknya. Gadis itu mengembuskan napasnya pelan, “Mmm ..., sebenarnya, aku ....” Gadis itu memotong ucapannya dengan sengaja.


“Aku ....”


‘Kamu kenapa, Nin?” celetuk seorang gadis yang duduk di sebelah Alleta.


“Aku ...”

__ADS_1


“Ciee nungguin!” serunya sembari menggelakkan tawana. Membuat semua temannya mendengkus sebal. Bagaimana tidak? Mereka sudah lama-lama menunggu jawaban, tapi gadis itu malah mempermainkan mereka. Sungguh! Jika saja Anindya bukan sahabat mereka, mungkin kini gadis itu tidak akan bernapas lagi.


“Hahaha! Maaf, aku baik-baik saja, kok. Aku hanya sedang menyelesaikan naskahku,” ujar Anindya sambil mencomot pisang keju milik Alleta. Membuat gadis itu mendelikkan matanya, “Heh! Pisang kejuku!” serunya.


“Minta satu.” Anindya memasukkan pisang keju itu ke dalam mulutnya kemudian menyeruput cappucino yang esnya sudah meleleh.


“Sudah, kamu pacaran saja sama Rizky! Sama-sama tukang habisin makanan orang.” Rizky dan Anindya yang sedang minum, spontan tersedak. Untung saja, mereka tidak kehilangan nyawa seperti berita di televisi. Memang sepertinya Anindya harus memasang saringan di mulut Alleta yang asal bicara itu. Sebenarnya, Anindya tidak akan mempermasalahkan candaan Alleta barusan, jika Rizky tidak tengah menyimpan perasaan untuknya. Gadis itu hanya takut menyakiti hati Rizky lebih dari ini.


“Lain kali bicaramu hati-hati, Ta! Bisa jadi kamu yang suka Rizky nanti!” sahut gadis yang duduk di sebelahny, tak lain adalah Sheila.


“Tahu tuh, suka banget jodoh-jodohin Anin sama Rizky. Kayaknya memang kamu yang suka Rizky deh,” ujar Azura menambahkan.


Wajah Alleta sudah dipastikan memerah seperti kepiting rebus sekarang. Tembakan teman-temannya itu adalah benar, jika ia sedang memendam rasanya pada laki-laki yang bernotabe sebagai kakak kelasnya sewaktu SMA  itu. Oh ya, sebenarnya mereka seumuran, hanya saja otak emas Rizky dan Anin yang membuat mereka berada di tingkat teratas. Rizky sudah hendak sidang skripsi dan Anindya sudah duduk di semester 7. Tidak lama lagi, gadis itu akan menyusul Rizky mendapatkan gelar sarjananya.


“Ya jelas saja memerah! Namanya juga orang yang sedang jatuh cinta, kenapa tidak?” ujar Anindya menimpali. Semua temannya tertawa, kecuali Alleta yang kesal setengah mati dengan wajah memerah karena malu. Anindya tersenyum di sela tawanya, ia bersyukur atas anugrah Tuhan berupa teman-teman yang sangat menyayanginya ini. Jika dia diizinkan untuk meminta, maka ia hanya akan meminta Tuhan menjaga hubungannya dengan teman-temannya sampai maut datang dan memisahkan mereka.


~0~0~


Memandang jalanan dari prespektif kedai kopi adalah hal yang paling disukai oleh Anindya. Apalagi sore ini cuaca begitu cerah, gadis itu mengulas senyumnya. Ia yakin ia bisa menikmati senyum senja dari kedai kopi tempatnya bekerja sore ini. Semenjak hari di mana ia bertemu dengan temannya, gadis itu merasa sedikit tenang. Tidak uring-uringan seperti hari pertama ayahnya menumpang hidup di rumahnya.


Suasana kedai kopi tempatnya bekerja kali ini cukup sepi. Membuat gadis itu sedikit leluasa. Anindya mengeluarkan pena dan buku harian dari tasnya. Mata gadis itu tertuju pada matahari yang perlahan terbenam. Sebuah wajah terbayang dalam pikirannya, ialah wajah laki-laki yang selalu saja berhasil menarik perhatiannya. Siapa lagi jika bukan Bagaskara. Laki-laki yang menolongnya dari preman-preman biadab, laki-laki yang menemuinya di kedai kopi ini dan laki-laki yang memujinya di taman waktu itu.

__ADS_1


“Hai! Sepertinya benar katamu jika senja itu indah, seperti tulisan-tulisan dalam buku harianmu itu.” Suara berat membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. Napasnya seperti tercekat saat ia menyadari sosok yang baru saja ia lamunkan, kini ada di hadapannya.


“A-ada yang bisa kubantu?” tanya gadis itu sedikit terbata.


“Tidak, Anindya.”


“Lalu untuk apa kamu ke sini, Bagaskara? Ini jam kerjaku.”


“Aku di sini sejak kamu belum berada di sini. Aku ke sini untuk menikmati secangkir kopi dan mencari inspirasi tadi, dan tidak sengaja aku memperhatikanmu yang sepertinya sedang asyik memperhatikan senja,” jawab laki-laki itu.


Anindya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. “Memandang senja dari prespektif kedai kopi ini adalah hobiku,” ujar gadis itu.


“Kamu tahu, Bagaskara? Senja adalah anugrah terindah Tuhan untuk umat-Nya. Jingga yang tenang, adalah candu yang memaksa kita untuk terus mensyukuri pemberian Tuhan,” lanjutnya.


Anindya tersenyum lembut, “Senja adalah gambaran dari hidup bahwa bahagia itu tidak selamanya ada, ia akan lenyap dalam gelap, seperti malam yang memakan senja. Namun, keesokan harinya senja akan kembali datang dan menyapa. Kamu tahu artinya?” tanya Anindya, laki-laki itu menggeleng pelan.


“Artinya, hidup ini adalah perputaran, Bagaskara. Bahagia dan duka adalah perputaran, seperti senja yang datang sesaat kemudian digantikan dengan malam, kemudian datangnya pagi yang menyinari.” Gadis itu tersenyum. Senyumnya sangat tulus, membuat darah Bagaskara berdesir. Entah mengapa, mendengarkan gadis itu berbicara membuatnya senang. Padahal, ia sendiri sering mendengarkan kata-kata bijak, tapi kata-kata bijak Anindya barusan, terasa  begitu tulus dan sesuai dengan apa yang telah ia lalui.


***


Bersambung ....

__ADS_1


Terima kasih sudah mau mampir🖤


Salam sayang🖤


__ADS_2