
...“Sudah cukup untuk semua luka. Sudah cukup untuk semua air mata. Pergilah! Aku punya hak untuk tertawa.”...
...~Lia Anindya Wulandari~...
...~0~0~...
Hari Minggu. Hari libur yang disukai semua orang. Begitu juga dengan Anindya. Kali ini, gadis itu memilih untuk menghabiskan waktu liburnya di rumah, melanjutkan naskah-naskahnya yang terbengkalai karena kesibukannya. Memang, menjadi seorang mahasiswa yang juga bekerja, bukanlah hal yang mudah. Apalagi menjelang semester akhir seperti ini. Anindya hampir saja tidak punya waktu untuk sekedar membaca buku atau menikmati senja. Bahkan gadis itu tidak punya waktu untuk berbicara dengan ibunya, sekedar menanyakan kabar. Waktunya habis untuk mengerjakan tugas-tugas dan bekerja.
Anindya tersenyum menatap layar laptopnya. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa kembali berkencan dengan naskahnya. Ia berharap, tidak ada yang akan mengganggunya kali ini. Jemarinya dengan lihai menari di atas keyboard, merangkai abjad menjadi sebuah kalimat yang indah.
“Argh! Lepaskan saya!” Sebuah suara berhasil mengalihkan fokus Anindya. Itu adalah suara ibunya. Tanpa pikir panjang, gadis itu segera beranjak keluar dari kamarnya. Tidak lagi peduli pada sekumpulan ide yang berlarian di otaknya.
Brak!! Anindya menendang kursi meja makan yang berada tepat di depan kamarnya. Emosinya meluap-luap melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Bagaimana tidak, seorang gadis yang sangat ia kenal sebagai adik tirinya kini sedang berusaha menyeret ibunya. Tangan Anindya mengepal kuat. Amarahnya membara melihat apa yang dilakukan gadis itu.
“Lepaskan ibuku, Bodoh!” pinta Anindya.
Yolanda, adik tiri Anindya itu, dengan segera melepaskan Rita. Tubuhnya bergetar hebat saat Anindya berjalan mendekatinya. Takut. Itulah yang dirasakan oleh gadis itu sekarang.
Plak! Sebuah tamparan mendarat di wajah cantik gadis itu. Sejak lama, Anindya berusaha bersabar menghadapi kelakuan Yolanda yang memang sangat tidak tahu sopan santun itu. Sudah lama ia menahan keinginan untukn menampar dan menghabisi wajah gadis yang menjadi alasan keluarganya hancur karena kebaikan yang ditanamkan Rita sejak kecil. Namun, tidak untuk kali ini. Gadis itu sudah keterlaluan,
Yolanda menyentuh pipinya yang terasa memanas karena tamparan Anindya yang cukup keras. Gadis itu menunduk. Bukan malu, tapi takut
.
“Dasar gadis bodoh! Apa ibumu yang gila harta itu tidak mengajarimu sopan santun? Apa hanya harta dan uang saja yang ia berikan padamu selama ini? Bahkan aku yang sudah muak dengan kedua orang tuamu saja masih berusaha menahan amarahku agar tidak sampai melakukan hal bodoh seperti ini! Tapi kamu, yang hanya menumpang, berani sekali kamu menyentuh ibuku seperti itu!” teriak Anindya dengan suara yang sangat keras. Ia tidak peduli lagi pada tetangga yang akan mendengar pertengkarannya dengan adik tirinya. Sudah cukup ia bersabar dan menerima segalanya selama ini.
“Ya Tuhan ...! Ada apa ini?!” tanya Bram yang baru saja keluar dari kamarnya karena mendengar teriakan Anindya.
“Anin, kamu apakan anak saya?!” sentak Salma, ibu tirinya yang juga ikut keluar dari kamar.
Anindya mengeluarkan sunggingnya. Gadis itu menatap tajam Yolanda yang ketakutan. “Ternyata ibu dan anak sama saja, ya? Haha! Bagaimana aku bisa lupa, kalau kalian sama-sama bodoh! Anaknya melakukan kesalahan dan ibunya tanpa malu bertanya, apa yang sudah aku lakukan pada anak bodohnya itu, sungguh drama yang indah,” ujar gadis itu meremehkan.
Mendengar istri dan anaknya direndahkan, Bram mengeram. Tangan pria itu terangkat hendak menampar Anindya, tapi sayangnya tangan Anindya dengan cepat menahan tangan pria itu.
__ADS_1
“Dasar pria bodoh!” umpat gadis itu sembari melempar tangan ayahnya.
“Anindya! Jangan lewat batasan, Kamu! Aku ini ayahmu!” ingat Bram.
“Ayah? Benarkah? Ayah seperti apa yang membiarkan anak-anaknya terlantar, sedangkan dia hidup di sebuah gedung mewah? Ayah seperti apa yang membiarkan anaknya kelaparan, sedangkan dia makan dengan kenyang? Ayah seperti apa, yang membiarkan anaknya bekerja keras demi bisa hidup, sedangkan dia malah menghidupi dua manusia hina yang tidak punya hubungan darah dengannya? Jawab aku, Yah! Ayah seperti apa? Tanyakan sama diri ayah sendiri! Pantaskah ayah disebut sebagai ayahku?” tanya Anindya.
Bahu Anindya bergetar hebat. Semua rasa sakit yang ia tahan selama ini, semua kalimat yang berusaha ia tahan agar tidak keluar dari mulutnya, dan semua penghianatan seorang ayah yang berusaha ia maafkan, kini segalanya terungkap. Di satu sisi gadis itu merasa bersalah dengan apa yang ia ucapkan pada Bram, karena bagaimanapun juga ia masih sangat menyayangi ayahnya itu. Namun, di sisi lain ia merasa sangat lega, karena apa yang selama ini ia tahan berhasil ia ungkapkan.
“Aku bahkan selalu berusaha memaafkan ayah, tapi ayah ..., ayah hanya mendengar suara dua perempuan ini,” ujar Anindya lirih.
Anindya merasa kakinya melemas. Dadanya sesak, mengingat semua yang telah dilakukan oleh ayahnya. Gadis itu limbung ke lantai. Air matanya mengalir begitu deras. Ia tahu, ia sangat berdosa dengan mengeluarkan kata-kata kasar pada Bram, ayahnya. Namun, ia juga lelah dengan segalanya. Ia lelah harus terus bersabar dan menahan kemarahannya. Apalagi setelah pria itu membawa keluarga tirinya untuk menumpang hidup di rumahnya.
Yolanda menutup wajahnya melihat semua ini, begitu juga dengan Salma. Mereka tidak menyangka jika Anindya begitu tersiksa dengan segalanya. Selama ini, mereka berdua hanya memikirkan soal harta, tanpa peduli ke pada keluarga dari gadis yang kini tengah terbakar amarah itu.
~0~0~
“Ada apa ini?” tanya Rafi yang baru saja datang.
“Ada apa, Nin?” tanya Rafi lagi.
Anindya tidak menjawab. Gadis itu langsung berhambur ke dalam pelukan Rafi. Air matanya kembali tumpah di sana. Isak tangisnya terdengar begitu jelas. Rasa sakit dan luka yang ia tahan selama ini, ia tumpahkan di sana. Sebenarnya, ia malu jika harus menangis di hadapan banyak orang seperti ini, tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia sudah tidak sanggup lagi dengan segalanya.
Rafi mengusap punggung adiknya itu dengan penuh kasih sayang. Mencoba memberi gadis itu ketenangan. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi laki-laki itu tahu, jika yang terjadi kembali melukai Anindya.
“Apa kita enggak punya hak buat bahagia, Kak?” tanya gadis itu disela isakannya.
Rafi melepaskan pelukannya, kemudian menghapus air mata gadis itu dengan lembut. “Siapa yang bilang gitu, Nin? Semua orang punya hak buat bahagia.”
“Ceritakan padaku, Nin, apa yang terjadi?” tanya laki-laki itu lagi.
Anindya menatap wajah Rita yang sedari tadi terdiam. Dengan bantuan Rafi, gadis itu bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Rita dengan langkah gontainya.
“Maafin Anin, Bu. Hari ini, aku melewati batasanku sebagai seorang anak. Hari ini aku melupakan semua yang sudah ibu ajarkan padaku,” ujar gadis itu lemah
__ADS_1
Rita memeluk putrinya erat. Mengecup berkali-kali pucuk kepala Anindya. Ia tahu, putrinya itu sedang lemah. setelah merasa Anindya cukup tenang, wanita itu melepas pelukannya
.
“Kamu enggak salah, Nak,” ujar wanita itu.
“Kamu hanya sedang marah,” lanjutnya.
Tatapan Anindya beralih pada Yolanda dan Salma. Matanya kembali menatap tajam dua perempuan itu. Mengingat cara Yolanda memperlakukan ibunya tadi, membuat amarahnya kembali membara.
“Kakak mau tahu apa yang terjadi? Kakak lihat perempuan hina yang memeluk anaknya yang tidak tahu sopan santun itu! Kakak tahu, anaknya itu hampir saja mendorong ibu jika aku tidak datang tepat waktu tadi! Anaknya yang bodoh itu, menyeret ibu saat ibu sedang makan!” seru Anindya.
“Anindya! Saya peringatkan jaga ucapan kamu tentang anak saya!” sentak Salma tak terima anaknya direndahkan seperti itu.
“Jaga sopan santun kamu ke pada istri saya juga, Anindya!” tambah Bram.
Anindya tertawa sumbang. Sungguh, ia muak dengan drama di hadapannya ini. Ia muak dengan pembelaan busuk dari orang-orang di depannya ini. Sungguh! Jika membunuh orang bukanlah sebuah dosa yang besar, mungkin gadis itu sudah membunuh Bram dan dua wanita yang ia anggap sebagai perempuan hina.
“Anindya akan menjaga sopan santunnya, jika kalian tidak melampaui batas,” sahut Rafi tak terima adiknya dipojokkan.
“Tuan Bram, saya ingatkan ini rumah saya, rumah ibu saya dan rumah adik saya. Anda dan dua ****** itu hanya menumpang di sini. Paham?!” teriak Rafi. Laki-laki itu mulai terpancing amarah. Mendengar apa yang diceritakan oleh Anindya dan mengingat apa yang terjadi pada adiknya tadi, membuatnya ingin sekali mengusir tiga manusia ini dari rumahnya.
“Sudah, cukup!” pinta Rita.
“Sudah, cukup! Kita adalah keluarga. Jangan saling menyakiti seperti ini. Pak Bram, Bu Salma, dan kamu Yolanda, lebih baik kalian masuk ke kamar kalian. Tolong, jangan menambah kemarahan anak-anak saya,” lanjutnya.
“Anin, Rafi, sudah cukup, Nak! Jangan bicara apapun yang menyakiti kalian ataupun mereka. Yolanda hanya anak-anak yang belum dewasa. Maafkan dia,” nasihat Rita pada kedua anaknya.
Setelah mendengar itu, Salma, Yolanda dan Bram kembali masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Anindya, gadis itu berusaha menenangkan dirinya. Pagi ini, ia telah melewati banyak hal yang menguras air matanya.
***
Bersambung ....
__ADS_1