MENGEJAR ILUSI

MENGEJAR ILUSI
TERLUKA KEMBALI


__ADS_3

..."Tak ada luka yang lebih menyakitkan bagi seorang perempuan, kecuali luka yang ditorehkan oleh ayah yang seharusnya menjadi cinta pertamanya.”...


...-Lia Anindya Wulandari-...


...***...


Langit menghitam, malam semakin kelam. Posisi bulan mulai terganti oleh mendung yang cukup gelap. Rintik mulai berjatuhan, diiringi petir yang menyambar. Jam menunjukkan pukul 20.00 WIB. Anindya masih setia duduk di kursi kasir, dan melayani setiap pelanggan yang datang. Wajah manis gadis itu terlihat sedikit lelah, tapi senyumnya sama sekali tidak memudar. Entah efek dari godaan Bagaskara atau memang karena suasana hatinya sedang baik.



“Nin!” Seseorang menepuk bahu Anindya pelan, membuat gadis itu terperanjak kaget. Untung saja, dia tidak mengeluarkan suara layaknya toa masjid dan membuat heboh seisi kafe.



“Ah,. Chandra! Bisa-bisanya kamu mengagetkanku!” omel Anindya setelah pulih dari rasa kagetnya. Gadis itu menghela napasnya sejenak, kemudian berkata lagi, “Kenapa? Kamu belum pulang? Bukannya kamu shift siang hari ini?”



Laki-laki itu tertawa renyah melihat ekspresi Anindya. Andai saja ponselnya tidak mati, mungkin dia sudah mengabadikan wajah gadis itu.



“Hahaha! Ekspresimu lucu sekali, Nin!!”


“Diam! Nyebelin banget!” gerutu Anindya.


“Hahaha. Maafkan aku, Nona Cantik. Tapi sungguh, ekspresimu sangat lucu, Nin. Andai saja kamu tahu betapa tidak terkontrolnya wajahmu, mungkin kamu juga tertawa sepertiku.” Masih dengan tawa yang menggelegar, laki-laki itu berkata. Suasana kafe yang sepi, membuatnya sedikit leluasa tertawa.



“Chandra! Jika kamu datang hanya untuk mengganggu, lebih baik pergi saja! Pulang atau kembali ke dapur sana!” usir Anindya dengan nada geramnya.



“Hahaha, baiklah. Maaf, Nin,” ujar Chandra.


“Huft. Kenapa kamu di sini? Bukannya kamu shift siang hari ini?” tanya Anidnya.



“Aku malas pulang. Lagi pula di rumah juga enggak ngapa-ngapain. Jadi aku memutuskan di kafe saja.”



Setelah jawaban itu, tidak ada lagi suara dari mereka yang terdengar. Anindya sibuk melayani beberapa pembeli yang hendak membayar, sedangkan Chandra sibuk dengan pikirannya. Laki-laki itu bingung, semenjak berbincang dengan satu pelanggan tadi, senyum di wajah Anindya sama sekali tidak memudar. Dia bahkan berpikir jika gadis itu tengah jatuh cinta.



“Aku tahu aku cantik, kamu tidak perlu memperhatikanku seperti itu, Chan,” ujar Anin, setelah melayani beberapa pelanggan.



“Tidak. Aku hanya bingung,” balas Chandra singkat.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Anin.



“Kuperhatikan sejak berbincang dengan pemuda tadi, kamu senyum-senyum sendiri. Ada apakah gerangan, Nona Cantik?” jawab Chandra sekaligus bertanya penuh selidik.



Anindya mengernyitkan dahinya. Gadis itu bingung dengan maksud dari Chandra. Pemuda? Siapa? Bagaskara? Ah, apa benar dia senyum-senyum sendiri semenjak berbincang dengan laki-laki itu? Ah, tidak mungkin! Anindya tahu jika dirinya masih waras untuk senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Apalagi hanya karena Bagaskara.



“Tidak, Chan. Tidak ada apa-apa,” jawab Anin singkat.


“Aku juga tidak senyum-senyum sendiri,” lanjutnya.


Chandra tersenyum miring mendengar jawaban gadis itu. Bagaimana bisa, dia mengelak sedangkan Chandra sudah melihatnya sendiri.



“Kamu jatuh cinta pada dia ‘kan, Nin?” tebak Chandra tepat pada sasaran.



“Heh, enggak! Kamu jangan ngada-ngada!” jawab Anindya.


“Sudahlah, jangan mengelak. Aku tahu, Nona.” Chandra terus menggoda gadis itu, membuatnya lagi dan lagi salah tingkah.




“Gadis yang tengah jatuh cinta memang sayang lucu,” gumam Chandra.


***


Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa, hari pun telah berganti. Anindya menggeliat malas di kursi tempatnya terduduk. Rasanya, baru kemarin dia melalui Senin yang sangat padat. Hari ini, dia sudah kembali bertemu dengan Minggu. Namun, Minggu bagi Anindya berbeda dengan Minggu bagi remaja lainnya. Jika remaja lain menghabiskan Minggu untuk tertidur dan bermalas-malasan, Anindya malah menghabiskan Minggunya untuk menulis naskah dan mengerjakan tugas akhir.


Anindya menyesap kopi yang mulai mendingin, Gadis itu mengeram frustasi. Sekarang dia paham, alasan mahasiswa semester akhir selalu mengeluhkan skripsi. Ternyata mengerjakan skripsi tidaklah semudah menulis novel.



“Sial! Susah sekali!” umpatnya.


“Argh ...! Aku bisa gila lama-lama! Ayolah, Skripsi, kumohon kerja samanya!!” gerutu gadis itu. Anindya mengembuskan napasnya kasar. Jika saja dia tidak ingat harga laptop cukup mahal, mungkin sudah dibantingnya benda persegi panjang yang nangkring di meja belajarnya itu.



Prank!


Sebuah suara dari kamar Rita mengalihkan perhatian Anindya. Dengan sigap Anindya bangkit dari duduknya, kemudian segera menuju ke kamar Rita. Dalam hatinya, gadis itu merasa cemas karena kondisi kesehatan Rita yang kian hari kian menurun. Gadis itu bahkan melupakan rasa frustasinya karena tugas akhir.


__ADS_1


Dengan langkah cepat Anindya menuju ke kamar Rita. Gadis itu terbelalak tak percaya ketika mendapati Bram tengah mencengkram dengan kasar tangan Rita. Diiringi dengan amarah yang membakar hatinya, Naura berteriak, “Lepaskan ibu saya, Pria Bodoh!”



“Anindya,” ucap Bram lirih.



Pria itu langsung melepaskan Rita saat tahu Anindya ada di sana. Tatapan matanya menunjukkan rasa takut yang cukup besar. Bagaimana tidak, untuk pertama kalinya, pria itu melihat Anindya semarah ini, bahkan baru pertama kali ini gadis itu menunjuk wajah Bram dengan jarinya.



“Selama ini saya diam saja, tapi sekarang saya tidak bisa diam lagi!” sentak Anindya.



“Nak, tenang. Kuasai dirimu, Nak. Jangan terpancing amarah.” Rita berjalan menuju putri bungsunya itu. Satu tangannya mengelus lembut pundak Anindya, seraya menenangkan gadis itu.



“Tidak, Bu! Dia sudah keterlaluan! Apa yang dia lakukan pada ibu? Lihat, tangan ibu terluka!” ujar Anindya dengan nada yang cukup tinggi. Saking tingginya, Rita sampai kaget. Gadis itu bahkan menepis dengan kasar tangan Rita yang berada di bahunya.



“Tuan Bram, saya sudah muak dengan semua ulah anda dan dua perempuan menjijikkan itu! Saya sebagai pemilik rumah ini, memerintahkan anda untuk membawa keluar dua perempuan kotor itu dari rumah saya. Saya ingin kalian angkat kaki dari rumah ini sebelum matahari terbenam!” Mendengar itu, mata Bram terbelalak. Pria itu tidak menyangka Anindya akan mengusirnya. Hatinya cemas, bingung, bimbang. Akan tinggal di mana dia, istri, dan anaknya setelah ini?



“Nin, apa yang kamu lihat itu tidak sepenuhnya benar. Tolong izinkan saya untuk tetap tinggal di sini, Nin. Saya berjanji akan berubah, saya akan cari kerja. Setelah saya dapat pekerjaan dan punya gaji, saya akan keluar bersama istri dan anak saya. Tapi sebelum itu, izinkan kami ....”



“Cukup!” Anindya memotong ucapan Bram dengan cepat. Kesabarannya benar-benar terkuras. Gadis itu benar-benar muak dengan ulah Bram. Baginya, sudah cukup semua luka yang ditanamkan oleh laki-laki itu.



“Sudah, cukup! Tidak ada tawar menawar, kalian harus keluar dari rumah ini sebelum maghrib!” Setelah mengucapkan itu, Anindya segera membalik badannya dan pergi dari sana. Gadis itu tak lagi mau tahu apalagi peduli pada Bram. Kemarahannya sudah di ujung tanduk. Segala niat untuk memaafkan Bram hilang begitu saja.


***


Jam yang berdenting dan lagu-lagu sedih yang terputar dari ponsel Anindya, kali ini menemani gadis itu menangis. Semenjak pertengkaran dengan Bram tadi, hatinya merasa tak karuan. Dia benar-benar tidak menyangka, ayahnya akan sekejam itu, bahkan pada ibunya yang telah memberi pria itu tempat tinggal. Gadis itu menatap foto yang terpajang di dinding kamar. Foto yang diambil sebelum keluarganya berantakan. Fotonya yang menyisakan sejuta kenangan dan kerinduan.


"Ayah, kenapa ayah selalu mengecewakanku?" tanya gadis itu lirih. Disekanya air mata yang telah membanjiri pipinya. Kemudian dia bermonolog, "Padahal, aku selalu berusaha memaafkan ayah, menerima ayah dan keluarga baru ayah, bahkan aku selalu berusaha menyayangi kalian. Tapi, entah mengapa ayah enggan menyingkirkan ego ayah? Kenapa ayah seolah mengusir semua usahaku untuk memaafkan ayah? Kenapa, Ayah? Kenapa ayah menyakitiku, seolah aku ini tidak berharga?"


Tangis Anindya kembali pecah. Rasanya dia benar-benar terluka. Dadanya begitu sesak dan hatinya begitu pedih. Tidak ada luka yang paling menyakitkan baginya, selain luka yang berasal dari Bram, ayahnya.


"Aku menyayangimu, Ayah. Maafkan sikap kasarku. Aku hanya ingin ayah menyadari segala kesalahan ayah dan berubah. Maaf, Ayah. Aku tidak bisa menunjukkan kasih sayangku dan membiarkan ayah tinggal di sini. Tapi ayah harus tau, aku sangat sayang ayah. Sangat," lanjutnya.


Anindya menyeka air matanya. Sekuat tenaga, dia berusaha tegar menghadapi segala kenyataan yang ada. Ya, dia harus kuat. Setidaknya untuk Rita dan dirinya sendiri. Dia harus menghapus segala duka dan rasa sakitnya. Bagaimanapun ini adalah takdir Tuhan, bukan? Dia harus ikhlas. Ya, harus ikhlas.


***


...Bersambung .......

__ADS_1


thanks for reading🖤


__ADS_2