
Seminggu sudah setelah kepergian mas Dino ke Amerika. Tetapi dalam seminggu itu mas Dino selalu melakukan video call dengan keluarga.
Aktivitas kami pun tetap berjalan seperti biasanya.
Aku ke perpustakaan setelah jam pelajaran pertama selesai karena ada tugas sejarah yang harus aku kerjakan. Aku meminta Loly dan Sasa untuk menemaniku tetapi katanya mereka ingin membeli jajanan di kantin terlebih dahulu dan akan menyusulku kemudian. Di perpustakaan cukup sepi mungkin bisa kuhitung dengan jari siswa yang ada di dalam sana, mereka duduk saling berjauhan. Aku mengambil kartu masuk ke bu Naya pengurus perpustakaan, lalu mencari tempat duduk di lorong ke tiga yang sulit dijangkau oleh bu Naya. Sedangkan siswa yang lain berada di lorong pertama, jarak tempat duduk mereka lumayan dekat sehingga kalau mereka ribut, bu Naya akan langsung menegur mereka. Ruangan ini juga cukup luas dan di batasi dengan lemari-lemari buku yang sangat tinggi.Buku-buku di dalam juga beraneka ragam, ada novel, majalah, resep masakan, dan sebagainya. Hal ini dilakukan untuk menambah literasi para siswa. Aku memilih buku sejarah terlebih dahulu dan mengatur posisi duduk di tempat yang telah aku tandai.
Aku membaca setiap halaman dan mencocokkan dengan soal yang di berikan pak Denis. Sudah lima menit aku menunggu, tetapi Sita dan Loly belum muncul juga. Apa mungkin mereka lupa karena keasyikan ngobrol di kantin. Aku melihat jam di dinding waktu istirahat masih 15 menit lagi. Aku juga telah selesai mengerjakan soal sejarah. Aku mengembalikan buku itu pada tempatnya dan memutuskan untuk keluar namun saat akan mencapai pintu tiba-tiba saja tubuhku menabrak seseorang dengan keras. Aku sempat terjatuh begitupun dengan orang itu. Aku segera bangun dan membersihkan rok ku yang kotor lalu mengulurkan tanganku untuk membantu orang itu.
"Ia menerima uluran tanganku."
"Makasih ya..." Suara yang sangat familiar bagiku. Saat wajah kami bertemu aku segera menarik tanganku dengan cepat sehingga membuat nya tersentak kaget. Itu karena orang yang sedang aku tolong saat ini adalah Alice. Selingkuhan suamiku. Orang yang tersenyum di saat-saat terakhir ku. Wajah Alice masih begitu polos. Ia juga masih mengenakan kacamata lamanya. Iya, karena Alice tahu berdandan saat kami kelas dua SMA. Itu pun karena aku mengatakan kalau dia tidak cocok memakai kacamata dan akan menutup matanya yang cantik.
Dan dengan begitu bodoh nya aku membelikannya perlengkapan make up sehingga ia mulai belajar mempercantik diri. Tapi kenapa harus secepat ini kami bertemu. Alice menatapku kebingungan saat aku melangkah mundur untuk menjauhinya karena saat itu dia tidak mengenal siapa aku.
"Kamu kenapa?" Aku menghentikan tangan Alice yang akan menyentuhku.
"Maaf, saya buru-buru."
"Hei.. tunggu." Aku tidak mempedulikan panggilannya.
__ADS_1
Saat ini yang kupikirkan adalah menjauh darinya. Aku berhenti di taman di samping gedung kelas yang sepi. Jarang sekali anak-anak datang ke tempat ini. Ada sebuah bangku panjang yang terpampang di taman itu. Aku duduk di bangku itu dan kini aku menangis sejadi-jadinya. Melihat wajahnya membuatku mengingat kembali bagaimana dia merebut Lex dari ku. Dan mereka mengkhianati aku dari SMA, meskipun kadang aku terkadang cemburu tetapi aku tidak pernah curiga sedikit pun. Aku tertegun saat seseorang menyodorkan sebuah sapu tangan di depan wajahku. Aku mengangkat wajahku untuk memastikan siapa orang itu.
"Leo?"
"Kenapa ya setiap kali bertemu aku selalu melihatmu menangis." Aku menerima sapu tangan itu dan membersihkan wajahku yang sudah sangat kacau.
"Kau tahu jika kau terus menangis orang-orang akan datang dan berkerumun di sini melihatmu karena suara tangisanmu itu sangat besar."
"Kenapa kamu bisa ada di sini? Kamu pasti mengikuti aku."
"Untuk apa aku mengikuti mu. Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu bisa ke sini dan mengganggu istirahat siangku."
"Aku sedang tidur tadi, tapi tangisan mu itu menggangguku."
Entah kenapa hari ini Leo lebih banyak bicara dan mengomel. Padahal dia pasti hanya mengatakan iya, tidak, apa. Kalau nggak berbicara pakai ekspresi wajahnya.
Tanpa sadar aku menertawakan dirinya.
"Tadi nangis sekarang dia malah ketawa. Jangan-jangan kamu sudah gila."
__ADS_1
"Aku nggak gila ya, aku hanya lucu saja. Biasanya kalau aku bertanya padamu pasti jawaban mu begini, Apa....tidak...iya...baiklah...oke. Kataku sambil mencontohkan dirinya.
" Suka-suka aku lah. Dasar cengeng."
Lonceng tanda berakhirnya istirahat pertama berbunyi aku segera bangun dan meninggalkan Leo. Tapi sebelum itu aku membersihkan wajahku dengan benar agar tidak terlihat habis menangis. Teman-teman ternyata sudah masuk semua berarti aku dan Leo yang terakhir masuk. Tetapi seperti nya Leo belum masuk.
"Kamu dari mana?"
"Aku dari perpustakaan." Kataku berbohong.
"Kami sudah mencarimu disana tapi tidak ada."
"Kalian sendiri yang lama, mungkin saat kalian masuk aku sudah keluar."
"Lalu tugasmu sudah selesai?" Aku memukul keningku mengingat kalau aku melupakan buku tugas sejarah ku.
"Aku lupa sepertinya tadi ketinggalan di perpustakaan. Aku pergi mengambilnya dulu ya."
Saat aku hendak berdiri Sita menghentikan aku.
__ADS_1
"Nanti saja kita cari sama-sama. Ibu Bunga di depan pintu tuh." Aku melihat di depan pintu dan benar kata Sita. Aku mengurungkan niatku dan duduk kembali. Leo juga masuk bersama dengan bu Bunga lalu berjalan ke tempatnya. Mata kami saling bertemu. Ia menggerakkan bibirnya seperti mengatakan sesuatu. "Cengeng."