
Aku, Loly dan Sita mencari buku di setiap sudut perpustakaan. Tapi tak kunjung menemukan nya.
"Emangnya tadi kamu taruh di mana?"
"Tadi aku duduk di sini tapi bukunya nggak ada."
"Kalau kamu taruh di sini mungkin tanpa sengaja anak-anak lain membawanya. Dan kalau pun jatuh pasti jatuh nya nggak terlalu jauh." Kata Sita sambil mengintip di bawah kolong meja."
"Coba kamu ingat baik-baik mungkin kamu lupanya di tempat lain." Kata Loly.
Aku coba mengingat terakhir kali buku itu ku pegang. "Oh iya Alice."
"Alice?? Siapa?"
"Nggak bukan itu maksud ku, tadi aku menabrak seseorang dan buku itu jatuh, aku takut dia membawanya."
"Ya sudah kita cari orang itu." Ajak Loly.
Mencari Alice? Melihat mukanya saja aku malas meskipun aku yakin kalau aku bakal ketemu dengan dia lagi tapi untuk saat ini aku tidak ingin berurusan dengan dirinya.
"Nggak usah deh." Aku mencoba membuat alasan.
"Emangnya kamu mau tulis ulang?"
"Nggak apa-apa deh. Aku akan tulis ulang. Lagian tugas nya lusa baru di serahkan"
"Iya tapi...."
"Ada apa ini ribut-ribut?" Sita berhenti berbicara karena bu Naya memotong pembicaraan kami.
"Kalian tahu tidak peraturan perpustakaan."
Bu Naya menunjuk sebuah poster dengan huruf kapital diperbesar "DILARANG RIBUT"
"Dari tadi saya mendengar suara kalian. Datang kesini bukannya baca buku malah ngobrol." Kami bertiga tertunduk malu.
"Kalau kalian nggak ada urusan di sini sebaiknya kalian keluar." Aduh bisa-bisa nya kami di tegur seperti ini. Aku melihat sekitar dan semua mata tertuju pada kami.
__ADS_1
"Begini bu, kami sedang mencari buku tugas yang kelupaan tapi saat saya ke meja yang saya duduki bukunya sudah tidak ada."
"Emangnya siapa namamu?"
"Dinda bu."
"Dinda? Ikuti saya!" Kami bertiga berjalan mengikuti langkah bu Naya ke mejanya. Bu Naya mengambil sebuah buku dari dalam lemari dan itu adalah bukuku. Bu Naya lalu memberikan buku itu padaku. "Ini kan bukumu?"
"Iya bu ini buku saya. Makasih bu." Bu Naya hanya mengangguk.
"Tadi ada seorang siswi yang menitipkan nya ke ibu. Katanya dia menemukan buku itu di depan pintu perpustakaan. Lain kali jangan teledor."
"Maaf bu, makasih. Kami permisi dulu." Kami bertiga meninggalkan perpustakaan tersebut.
"Untung orang itu punya ide cemerlang, menyerahkan buku mu itu ke bu Naya. Jadi kita nggak perlu repot-repot mencari orang yang menabrak mu tadi. Dan kamu juga nggak jadi tulis ulang." Benar kata Sita, untung saja Alice tidak membawa buku ku.
Aku melambaikan tangan kepada Loly dan Sita saat mobil yang di bawa pak Jodi pergi meninggalkan halaman sekolah.
Aku segera turun saat mobil tiba di perkarangan rumah. Pak Jodi kembali ke kantor.
"Siang Ma, " Aku menghampiri mama yang sedang duduk di ruang tamu mengotak ngatik HP nya. Aku mencium kedua pipi mama sebagai bentuk sayangku padanya.
"Sama pak Jodi ma, setelah mengantarku pak Jodi kembali ke kantor."
"Oh gitu." Mama mengangguk paham.
"Ya sudah ma, aku ke atas dulu ya." Aku berjalan melewati anak tangga menuju kamarku. Aku segera mengganti pakaian seragam dengan pakaian rumahku. Aku berbaring sebentar sambil membuka isi HP ku. Bunyi panggilan masuk mengagetkan ku. Aku menatap nama di layar HP tersebut sambil tersenyum.
"Ada apa?"
"Kamu mau ikut kita nggak?"
"Kemana?"
"Kami berniat mengajakmu ke acara pameran seni lukis. Kebetulan kakakku juga memamerkan kesenian nya."
Aku hampir lupa kalau hari ini adalah acara pameran seni. Kak Devan, kakaknya Loly merupakan seorang pelukis yang sangat jago.
__ADS_1
"Gimana?" Terdengar suara dari seberang telepon yang menunggu jawaban ku.
"Tapi seperti nya mamaku nggak izinin aku keluar malam." Dulu aku sempat meminta izin sama mama dan pada, tapi mereka melarang ku.
"Oh begitu, ya sudah nggak apa-apa kok...Sampai jumpa besok di sek...."
"Eh tunggu... tunggu!" Aku menghentikan Loly yang hendak memutuskan panggilannya.
"Kamu bisa nggak jemput aku."
"Emangnya kamu yakin mama sama papamu izinkan?"
"Kamu datang saja."
"Baiklah, aku akan meminjam motor kakakku untuk menjemput mu."
"Tapi aku punya permintaan."
"Apa?"
"Motor nya kamu parkir agak jauh dari rumahku ya."
"Iya, nanti sekitar jam setengah 8 aku akan datang menjemputmu."
Aku turun ke bawah setelah Loly mematikan telepon nya.
"Kamu kenapa lama?"
"Itu ma tadi ada temanku nelpon."
"Ow..." Aku masih berdiri mematung menghadap mama. Aku ingin meminta izin sebenarnya, siapa tahu di kehidupan ini mama memberiku izin.
"Kamu nggak makan?"
"Makan kok ma."
"Lalu kenapa masih berdiri di situ?"
__ADS_1
"Itu ma, sebenarnya ada yang ingin aku katakan." Aku memasang wajah memelas.
"Ada apa katakan saja, mama akan mendengarkan." Kata mama sambil menghentikan aktivitasnya. Mama menaruh hpnya di samping sofa.