Mengubah Cinta Masa Lalu

Mengubah Cinta Masa Lalu
31


__ADS_3

"Kapan sih ini selesai? Kamu juga kerjanya gesit dong." Kataku pada Leo sambil merapikan buku. Yah, inilah tugas yang diberikan pak Erik sama kami yaitu menyusun buku di perpustakaan. Hukuman yang sangat jauh dari mata pelajaran nya. Kukira di suruh lari kalau nggak push up berapa kali gitu. Inilah akibatnya kalau punya guru yang lagi kasmaran.


"Kalau kamu kerjanya ngeluh terus, yah nggak bakal selesai. Aku juga malas kali lama-lama di sini. Lagian pak Erik juga mau mencuri perhatian bu Naya malah memanfaatkan kita."


Aku sangat setuju dengan perkataan Leo. Ya, kalau yang namanya mau mendapat perhatian dari seseorang berkorban dan berusaha sendiri, ini malah memanfaatkan kesalahan muridnya.


"Kamu bisa nggak susun buku ini ke rak paling atas?" Tanyaku pada Leo.


"Aku memang tinggi sih, tapi lemari paling atas kurasa aku tak bisa mencapainya."


"Kamu pakai tangga itu." Aku menunjuk pada Leo tangga yang ada di sampingnya yang biasa digunakan untuk menyusun buku di rak lemari yang tertinggi.


"Kurasa berat badanku nggak bisa menampungnya."


"Tapi aku kan pake rok, masa aku naik ke atas sih."


"Kamu saja yang naik, biar aku yang pegangkan. Aku juga nggak akan mengintip kok."


"Siapa yang bakal percaya sama orang yang pernah mengintip."


"Itu aku nggak sengaja, kamu sendiri yang buka tiba-tiba."


"Baiklah, tapi awas ya kalau kamu ngintip lagi."


"Nggak akan." Leo memegang kedua sisi tangga tersebut lalu melihat ke arah lain. Setelah begitu yakin aku menaiki tangga tersebut dengan sebelah tangan kanan ku memangku bukunya.


Aku mengatur buku tersebut satu persatu dengan rapi.


"Leo berikan aku buku yang lainnya juga, tapi tetap jangan melihat ke sini."

__ADS_1


"Bagaimana cara memberikan kamu bukunya kalau aku nggak melihat ke arahmu."


"Pokoknya nggak boleh."


"Lagian kamu nggak telanjang juga kan, kamu kan pakai celana pendek."


"Tetap nggak boleh." Aku tetap pada pendirian ku.


"Ya sudah, ini terima bukunya." Leo memberikan bukunya tanpa melihat ke arahku. Namun saat akan mengambil buku itu kakiku tiba-tiba saja kram entah kenapa. Aku tidak bisa lagi menyeimbangkan badanku.


"Leo aku akan jatuh." Teriakku sesaat sebelum terjatuh. Leo melepaskan pegangan pada tangganya dan berusaha menangkap tubuhku. Aku terjatuh dan tepat berada di atas tubuh Leo.


"Kamu nggak apa-apa?" Suara Leo begitu khawatir.


Aku menatap wajahnya yang saat ini berada dekat dengan wajahku. Denyut jantung kami terdengar saling terpaut satu sama lain. Aku segera bangun dari tubuh Leo. Wajah kami berdua memerah karena malu.


"Ada apa?" Bu Naya mendekati tempat kami. Mungkin karena ia mendengar suara teriakan ku.


"Benarkah? Apa kamu terluka?" Tanya bu Naya sambil memeriksa kakiku serta bagian tubuh lain.


"Nggak luka sama sekali."


"Ya sudah sebaiknya kalian kembali ke kelas. Biar yang bagian atas itu ibu yang lanjutkan. Lagian jam pelajaran pak Erik juga sudah selesai. Ibu sangat berterima kasih atas bantuan kalian."


"Ibu bisa sendiri?"


"Iya bisa kok. Kalian sudah menyelesaikan sebagian besarnya dan tinggal yang di atasnya saja kan?" Aku dan Leo mengangguk serentak.


Kami berdua berjalan ke kelas tanpa sepatah katapun. Aku melihat wajah Leo yang serius memikirkan sesuatu. Bukankah seharusnya aku berterima kasih karena dia telah menolongku. Tapi apa ini, mengeluarkan satu kata saja mulutku seperti mati terkunci.

__ADS_1


Leo mempercepat langkahnya meninggalkan diriku di belakang. Aku berusaha mengejarnya, tetapi jarak langkah kakinya lebih panjang dari ku. Percuma juga ku kejar, Leo sudah berada di depan jauh. Saat aku tiba di kelas, kulihat Leo sudah tidur di atas mejanya.


Loly dan Sita yang melihat kedatangan ku berlari ke arahku.


"Pak Erik kasih hukuman apa ke kalian? Aku ingin bertanya pada Leo tapi wajahnya seperti setrika kusut. Datang-datang langsung seperti itu di mejanya."


"Ah, itu hukumannya nggak berat juga. Kami disuruh membantu bu Naya merapikan buku-buku di perpus."


"Pak Erik itu lagi mencari perhatiannya bu Naya nggak sih?" Tanya Sita.


"Itu sudah basi kali, karena sudah menjadi pembicaraan anak-anak. Orang pak Erik terang-terangan seperti itu."


"Tapi Enak sekali dia, biar di puji sama bu Naya malah menyuruh anak-anak."


"Biarkan saja, lagian hukumannya nggak terlalu berat juga. Kalau di suruh memilih, aku lebih memilih untuk membantu bu Naya daripada harus berolahraga."


"Itu karena fisik kamunya saja yang lemah."


"Iya memang aku lemah, hanya paksa diri saja buat olahraga biar nilai ku nggak dipotong."


"Din...Din...Din." Teriakan terakhir Sita di telinga sungguh mengejutkan ku.


"Ada apa? Gendang telinga ku hampir pecah. Tahu nggak."


"Maaf.... Tapi kamu lagi mikirin apa sih serius begitu?"


"Nggak mikirin apa kok. Aku cuma kurang enak badan saja tiba-tiba."


"Apa? Kita bantuin kamu buat izin ke bu guru ya. Biar nanti kamu pulang duluan."

__ADS_1


"Nggak usah. Aku baik-baik saja."


__ADS_2