Mengubah Cinta Masa Lalu

Mengubah Cinta Masa Lalu
25


__ADS_3

"Gimana Ly? Apa yang rusak." Kami terpaksa berhenti di tengah jalan. Nggak tahu kenapa motor mas Devan tiba-tiba mati. Loly juga mencoba menghidupkan nya beberapa kali, tapi tetap saja nggak nyala.


"Mana di sini nggak ada bengkel." Loly mulai kesal.


Motor kami berhenti di sekitar area hutan. Mungkin sekitar 50 meter di depan baru kami bisa menemukan rumah warga.


"Sepertinya kamu pesan taksi saja ya Dinda, aku harus membawa motor ini ke bengkel dulu."


"Nggak, aku bakal nungguin kamu. Kalau nggak kita dorong motor ini ke depan siapa tahu ada bengkel. Lagian aku nggak mungkin ninggalin kamu sendiri di sini."


"Tapi perumahan warga masih jauh ini ke depan. Aku nggak apa-apa kok. Mendingan kamu telepon taksi ya," Loly berusaha membujuk.


"Aku akan menelpon kakakku dulu. Kamu pesan saja taksi." Aku tetap menggeleng kan kepalaku mengatakan kalau aku tidak mau.


Saat Loly masih berbicara dengan kakaknya, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan kami. Seorang pria dengan jas hitamnya keluar dari dalam mobil. Karena di area sekitar situ gelap jadi kami nggak begitu jelas melihat wajahnya.


"Kalian berdua kenapa bisa ada di sini." Suaranya sangat familiar, ternyata itu Leo. Aku mengetahuinya karena saat dirinya mulai mendekat wajahnya baru semakin keliatan jelas.


"Leo?"


Aku dan Loly menatapnya bingung. Apalagi penampilan nya seperti seorang pengusaha.


"Kenapa motornya?"


"Nggak tahu, tiba-tiba saja mati."


"Kamu sudah periksa apa masalahnya?" Tanya Leo pada Loly.


"Aku cuma tahu bawa saja, selebihnya aku mana tahu."


Leo menyuruh sopirnya keluar untuk memeriksa masalah pada motor tersebut.


"Sepertinya bensinnya habis Tuan."

__ADS_1


"Oh iya, tadi mas Devan menyuruhku untuk mengisi bensinnya dulu saat menjemputmu, tapi aku lupa." Kata loly sambil memukul pelan keningnya.


"Pak, coba periksa di belakang bagasi siapa tahu ada bensin!"


"Sang sopir dengan sigap melakukan perintah bosnya itu. Ia kembali mendekat dengan membawa sebotol bensin.


" Ada tuan, tapi hanya segini saja."


"Ya sudah pakai saja itu, nanti kalau ketemu pon bensin baru di isi lagi."


Sang sopir mengisi semua bensinnya dan mencoba menyalakan motornya. Dan akhirnya motor tersebut hidup kembali.


"Loly sebaiknya kamu kembali saja ke tempat tadi. Aku akan mencari taksi buat mengantarku pulang."


"Tapi kan aku..."


"Nggak apa-apa, aku akan memesan taksi. Kasihan mas Devan sama sita menunggu."


"Kenapa lihat aku begitu, lagian kamu yakin masih ada taksi di jam segini?" Aku merasa dilema antara menolak atau menerima tawaran nya.


"Aku nggak bakal ngelakuin hal yang aneh-aneh kok. Aku juga sudah pernah ke rumahmu kan." Setelah berpikir matang-matang aku akhirnya menerima ajakan Leo.


"Baiklah kalau begitu."


"Ingat ya, jangan macam sama sahabat ku. Pokoknya antar dia sampai ke tempat tujuan dengan selamat." Kata Loly dengan nada ancaman serta penuh penekanan. Leo hanya membalasnya dengan tersenyum.


Aku dan Leo duduk di bangku belakang, sedangkan sang sopir sendirian di depan.


Aku memberanikan diri untuk berbicara karena merasa nggak nyaman sama keadaan yang sunyi tersebut.


"Kamu dari mana?" Leo melirik ku sebentar lalu melihat ke arah depan.


"Ada urusan di luar."

__ADS_1


"Kamu terlihat seperti seorang pengusaha." Kataku sambil melihat penampilan Leo.


"Memang aku seorang CEO di perusahaan ku." Jawab Leo dengan sombongnya.


"Wah kamu hebat sekali, masih muda tapi bisa menjadi seorang CEO. Tapi kenapa kamu bisa ditahan?" Leo tidak menjawab pertanyaan dari ku.


"Lalu bagaimana cara kamu membagi waktu antara kerjaan sama sekolah?" Jiwa penasaran ku saat ini seperti nya sedang merontah-rontah.


"Kamu ini kecil-kecil cerewet juga yah."


Aku begitu kesal mendengar nya mengataiku kecil.


"Kecil? Emangnya kamu sudah dewasa?"


"Memang, umurku sekarang sudah 20 tahun. Dan kamu masih 17 tahun. Artinya kamu lebih kecil dari aku."


"Siapa bilang, meskipun umur mu lebih tua dariku, tapi sekarang kita seangkatan jadi tetap saja sama."


"Berbeda." Suara Leo penuh penekanan.


"Sama..." Aku meninggikan suaraku tidak mau kalah.


"Kamu lebih pendek dari aku." Mengesalkan, tadi katain aku kecil sekarang pendek. Ya aku akui tinggiku 159 tapi kan itu bukan salahku. Mentang-mentang tingginya sama seperti kakakku seenaknya dia memperlakukan aku. Makin sesak rasanya berada dalam mobil ini.


"Pak berhenti di sini!"


"Kenapa berhenti disini? Rumahmu masih jauh."


"Ah, nggak apa-apa aku cari taksi saja." Si sopir menghentikan mobilnya. Aku membuka pintu mobil, saat hendak keluar Leo menarik tangan ku dengan kuat sehingga aku tidak bisa menyeimbangkan badanku dan jatuh ke dalam pelukannya.


"Tenangkanlah dirimu. Aku akan mengantarmu oke. Jadi sekarang duduk dengan diam." Aku hanya terdiam tanpa mengajaknya bicara lagi. Sungguh saat dia berbicara wajah kami berdekatan dan entah kenapa hatiku terasa deg-degan. Dan caranya berbicara barusan juga begitu lembut di telinga ku. Wajahku sekarang semerah tomat matang.


"Jalan pak!"

__ADS_1


__ADS_2