Mengubah Cinta Masa Lalu

Mengubah Cinta Masa Lalu
41(Pov Leo)


__ADS_3

"Apakah namamu Dinda?" Tanya Leo pada Dinda kecil yang menjawabnya dengan sebuah anggukan.


"Iya, nama kakak capa?"


"Namaku Leo. Sebaiknya kamu segera masuk nanti orang tuamu khawatir dan mencarimu."


"Aku nggak mau, mama cama papa pasti lagi belbicala cama teman-temannya. Lagian di dalam agak sedikit aneh."


"Aneh kenapa?" Leo penasaran dengan perkataan Dinda kecil yang terlihat memasang wajah polosnya.


"Ini lahasia. Cini kuping kakak, bial Dinda bisikin."


Leo hanya mendengar dan mengikuti permintaan Dinda.


Dinda berbisik di tepi telinga Leo.


"Olang-olang di dalam pada menangis dengan cedih. Caat Dinda tanya cama mama dan papa mereka hanya diam aja. Wajah papa cama mama juga keliatan cedih."


Ternyata Dinda belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi, karena ia datang hanya mengikuti orang tuanya tanpa tahu apa-apa.


"Kamu pernah kehilangan sesuatu nggak seperti hewan kesayanganmu mati atau mainanmu hilang"


"Pelna, tapi kenapa kaka malah mengatakan hal lain?"


"Sekarang kakak ingin kamu menjawab dulu pertanyaan kakak."


"Uhmm....." Dinda kecil berpikir sejenak.


"Dinda pelna punya doggy, namanya ben. Tapi kata mama bennya halus tidul untuk celama-lamanya kalena ben cakit." Kata Dinda sambil menunduk sedih.


"Dinda melasa cangat cedih kalena halus kehilangan ben. Padahal ben adalah teman Dinda."


Tambah Dinda.


"Itulah yang saat ini mereka rasakan. Sama seperti Dinda yang kehilangan ben."


"Benalkah? Dinda cadi melasa belsalah.Apa kakak Leo juga kehilangan?"

__ADS_1


Leo tertunduk mendengar pertanyaan yang diberikan Dinda.


"Kakak kehilangan semuanya. Kakak tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini." Tanpa sadar Leo menangis di depan Dinda.


Dinda yang melihat kesedihan Leo segera memberikan pelukan hangat pada Leo yang sontak membuat Leo kaget karena itu terjadi begitu saja.


"Kata mama kalau ada yang nangis halus di beli pelukan hangat. Kakak jangan nangis lagi oke. Kakak tidak sendilian kok. Ada Dinda di sini. Dinda akan menemani kakak Leo."


Leo membalas pelukan hangat dinda. Ia tersentuh akan perkataan Dinda yang dapat menghiburnya.


"Makasih Dinda."


Dinda mengelus kepala Leo untuk menenangkannya seolah-olah ia adalah seorang kakak sedangkan Leo adalah adiknya. Padahal yang sebenarnya adalah Leo lebih tua dari nya.


"Dinda, dinda."


Suara ayah dan ibu Dinda memanggil namanya. Sepertinya mereka memang mencari Dinda.


"Kakak, Dinda halus kembali cekalang. Mama dan papa Dinda cepeltinya mencali Dinda."


"Iya sebaiknya kamu segera kembali, mereka juga sangat khawatir padamu."


"Iya sana,"


"Uhmm... Kakak Leo mau nggak jadi teman Dinda?"


"Iya kakak dan Dinda sudah berteman sekarang. Ayo sana." Dinda melompat kegirangan mendengar perkataan dari Leo. Dinda akhirnya keluar dari tempat persembunyian nya dan Leo. Ia menghampiri kedua orang tuanya.


"Sayang kamu dari mana saja? Kami sangat mengkhawatirkan dirimu." Kata sang ayah lalu menggendong tubuh Dinda yang mungil.


"Iya sayang, kalau mau main di luar bilang dulu sama mama. Biar mama temani kamu."


"Maaf Papa, mama kalena dinda membuat kalian khawatir."


"Kamu di mana tadi saat kami mencarimu."


"Tadi dinda cama teman balu dinda. Dia cedang belcedih. Dinda menghibulnya, cepelti kata mama."

__ADS_1


"Benarkah, anak mama ini memang sangat pintar. Dia tidak lupa semua ajaran mama."


"Ya sudah sebaiknya kita pamit pulang sekarang."


"Iya mas,"


Dinda dan kedua orangtua nya kembali ke dalam untuk pamit.


Leo merasa iri melihat kehangatan dan kasih sayang yang diberikan kedua orang tua Dinda kepadanya.


"Seandainya aku mempunyai orang tua yang seperti mereka. Mungkin sekarang aku tidak menderita. Mama, kenapa mama pergi tinggalkan aku. Aku sangat merindukan mama."


Sungguh kenangan pilu yang di dapat Leo. Ia begitu menderita saat itu dan dunianya seakan-akan menjadi gelap tiba-tiba saja. Namun Dinda datang memberikan sebuah lentera kecil untuk menyingkirkan kegelapan itu. Memberikan ia sedikit harapan untuk bertahan. "Makasih Dinda telah menjadi malaikat penolongku. Meskipun waktu itu adalah sebuah kenangan masa kecil. Tetapi aku akan terus mengingatnya sampai aku mati. Meskipun aku tahu kamu mungkin sudah tidak lagi mengingat ku."


Suster Magdalena memanggil Leo untuk makan, sedangkan anak-anak itu tetap melanjutkan permainan mereka tanpa Leo.


Leo mengambil posisi duduk di meja makan sedangkan suster duduk di kursi depan menghadap dirinya.


"Suster tidak makan?"


"Kami semua sudah makan. Kamu lanjut saja makan. Suster tetap akan menemanimu jadi nggak usah khawatir."


"Berapa lama kalian libur nya."


"Mungkin tersisa dua minggu lagi suster." Jelas Leo sambil mengunyah makanan nya.


"Kamu nggak keluar sama teman, hitung-hitung menikmati liburan mu."


"Libur sendirian mana enak suster."


"Kalau kamu merasa bosan sendiri, kamu tinggal mengajak teman-temanmu kan."


"Mereka semua pada sibuk. Lagian aku juga nggak bisa menelpon mereka karena HP dan kartu ku rusak." Tanpa dijelaskan pun suster sudah tahu siapa yang merusaknya.


"Lalu pekerjaan mu."


"Ayah sudah melarang ku untuk tidak terlibat dalam perusahaan nya. Katanya sih sebgai hukuman. Tapi aku lebih senang kalau santai begini. Aku juga tidak perlu memikirkan tentang masalah apapun yang terjadi di perusahaan tersebut."

__ADS_1


"Suster boleh nggak hari ini aku tidur di sini dulu."


"Boleh sayang. Ini kan juga rumahmu."


__ADS_2