Mengubah Cinta Masa Lalu

Mengubah Cinta Masa Lalu
45


__ADS_3

"Apa jangan-jangan kamu masih mengingat ejekan kakakmu di telepon yang mengatakan kalau kamu bertambah gemuk?" Tanya papa.


"Mana ada, ngapain juga aku tersinggung sama omongan mas Dino. Lagian aku baru kepikiran tadi kok buat diet. Mama dan papa tenang saja, diet ku ini bukan diet yang berat. Aku tetap makan nasi tetapi dalam porsi yang sedikit."


"Malas kami berdebat sama kamu, asalkan kamu nggak sakit saja." Kata mama.


Aku, mama dan papa menyantap makanan kami. Aku lebih dulu selesai karena porsi makanku yang sedikit. Sebenarnya diet ini kujalankan tiba-tiba karena tadi saat memilih pakaian yang akan aku kenalan saat mau jalan sama loly dan sita, semuanya mulai sesak di badanku. Untuk saja ada pakaian yang ukurannya lebih besar sedikit dan belum pernah kupakai. Ternyata baju itu malahan muat di tubuhku.


"Ma, pa aku duluan ya. Aku mau istirahat."


Kataku sambil mencium pipi mama sama papa sebelum kembali ke kamar. Tinggal seminggu lagi dan liburan akan berakhir. "Hoah, ngantuk sekali. Rasanya pengen tidur."


Aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku. Mataku perlahan-lahan terpejam. Dan kini dunia mimpi menemani tidur malamku.


. ....


Hari ini adalah hari dimana aku harus menemani mama untuk berbelanja lagi. Dan tepat di hari ini aku bertemu Lex. "Ayo sayang, mama buru-buru nih" Kata mama saat melihat ku bengong di luar mobil.


"Ma, aku nggak usah ikut ya, aku pengen istirahat, capek."


"Emangnya kamu kenapa? Sakit?" Tanya mama khawatir.


"Nggak ma, aku cuma sedikit lelah saja."


"Ya sudah, kamu istirahat saja.Mama berangkat dulu ya sayang."

__ADS_1


"Baik ma." Pak Jodi dan mama berangkat. Aku terus memperhatikan sampai mobil mereka hilang dari pandangan ku.


"Pokoknya hari ini aku nggak mau bertemu dengannya lagi. Biarkan saja dia ketabrak. Kan itu bukan urusan ku." Aku kembali ke dalam rumah, lalu mengambil remot TV untuk menonton acara yang kusukai.


Namun entah kenapa hatiku tiba-tiba gusar, penuh rasa khawatir. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa semua akan baik-baik saja namun hati kecil ini tetap tak tenang.


Bayangan Lex yang tertabrak mobil dan mati mengenaskan muncul dalam pikiran ku.


"Ya Tuhan, kirim orang lain saja jangan aku. Aku tidak ingin menyelamatkannya."


Tetapi tubuhku bergerak dengan sendirinya, berjalan ke arah kamar untuk bersiap-siap. Aku hanya mencuci muka karena seharusnya hari ini aku menemani mama ke mol dan menolong Lex di sana. Aku segera turun setelah selesai bersiap. Taksi yang ku pesan sebelum cuci muka juga telah datang.


"Pak jalan, " Kataku di saat tubuhku sudah berada di dalam mobil.


Dalam perjalanan aku memikirkan kembali kenapa aku tetap tidak pada pendirian ku. Aku sudah memutuskan untuk tidak terikat pada Lex tetapi aku malah melanggarnya.


"Pak bisakah kita tiba jam 10.15 di molnya, soalnya saya ada urusan."


"Kalau itu saya nggak jamin nona, asal kita nggak kena arus macet saja kita mungkin sampai lebih cepat." Jawab bapak sopirnya.


Namun syukurlah kami tiba 10.19 menit, namun wajah pak sopir tersebut menunjukkan rasa bersalah karena aku memintanya untuk tiba 15 menit.


"Maaf nona, ini bahkan sudah lewat dari 15 menit. Padahal saya sudah semaksimal mungkin."


"Nggak apa-apa pak. Ini uangnya."

__ADS_1


Setelah taksi tersebut pergi, aku segera berlari memutar gedung karena tempat kejadian yang sebenarnya ada di sisi kiri sedangkan aku di kanannya. Benar saja saat aku sampai, Lex berjalan ke arah jalan untuk mengambil mainan keponakan nya yang bergelindingan ke jalan. Keponakan nya terus menangis dan meminta Lex untuk mengambil nya. Lex datang bersama kakak sepupunya berserta suami kakaknya , dengan anak mereka yang usianya sekitar 3 tahunan lebih.


"aman, boya"


"Sabar ya, paman akan ambilkan Jojo nggak boleh nangis oke."


Saat Lex berjalan ke tengah jalan tanpa memperhatikan sekitar nya dan hanya berfokus pada bola itu, mobil hitam muncul dari belakangnya. Bruk....


Aku menarik tubuh Lex sekuat tenaga ke tepi jalan dan kaki kami tersandung dan jatuh di rerumputan. Semua orang yang terkejut dengan bunyi tadi berlari ke arah kami untuk memastikan keadaan kami. Sang pemilik mobil berhenti lalu meneriakkan umpatan kesalnya.


"Kalau mau mati jangan di depan mobil saya, saya tidak mau berurusan dengan polisi karena kalian. Kalian tuh sudah dewasa harusnya tahu peraturan jalan, bukannya asal nongol di depan jalan."


Setelah selesai mengomel, ia pergi.


"Apa kalian baik-baik saja?" Tanya seorang ibu yang kebetulan berada di dekat kami. "Kami baik-baik saja." Jawabku. Semua orang yang tadinya berkumpul kini berkurang satu persatu.


Kakak Lex berlari ke arah kami lalu menanyakan keadaan kami.


Tanganku terasa perih karena lecet akibat tergores di aspal. Tetapi sekarang yang ku pikiran kan adalah pergi dari tempat itu.


"Makasih ya telah menyelamatkan saya."


"Nggak apa-apa itu hanya spontan saja."


"Kamu terluka, biar saya bantu mengobati nya, " tawar kakak Sonya, sepupu Lex.

__ADS_1


"Nggak usah, saya lagi buru-buru. Saya pergi dulu." Kataku lalu dengan cepat meninggalkan mereka.


__ADS_2