
Aku sudah menghafal sedikit nama anak panti yang bermain bersamaku. Mereka sangat bersemangat saat kuajak untuk bermain bersama.
"Kakak seperti kakak cowok kami. Dia juga selalu mengajak kami main." Kata Ica salah satu anak panti usianya sekitar 9 tahun.
"Benarkah kalian punya kakak?"
"Iya umur kakak kami sama seperti kakak Dinda." Jawab Ciko umur nya di bawah Ica.
"Kakak kalian cewek atau cowok?"
"Kakak kami cowok." Kata anak-anak tersebut secara serentak. "Iya kakak kami sayang sekali sama kami. Dia juga selalu membawa kami hadiah." Kata mereka dengan menggebu-gebu seolah-olah kakak mereka itu adalah seorang superhero.
"Wah beruntung sekali kalian punya kakak yang baik." Kataku ingin menyenangkan hati anak-anak.
"Siapa nama kakak kalian?"
"Namanya kak L_"
"Dinda ayo pulang." Ajakan mama yang tiba-tiba saja membuat anak-anak berhenti bicara.
"Ya sudah, lain kali baru kita lanjut main lagi. Mama kakak sudah memanggil. Kakak harus pulang sekarang. Kapan-kapan kakak akan mampir di sini lagi."
__ADS_1
"Kakak kapan ke sini lagi?" Semua anak-anak panti berkumpul melingkari ku. Mereka kelihatan sedih saat aku ingin pamit pulang.
"Kakak nggak bisa janji. Tapi kakak pasti akan datang lagi."
"Benarkah? Biar nanti kami beritahukan kepada kakak kami."
"Terserah kalian."
"Dadah kak. Sampai ketemu lagi." Kata mereka dengan raut wajah yang sedih karena kepergian ku. Tetapi suster membuat mereka mengerti. Mobil kami meninggalkan perkarangan panti asuhan mulia.
"Mama ngomongin apa saja di dalam lama sekali?"
"Seru sih ma, meskipun rata-rata di situ anak kecil semua tapi aku sangat terhibur dengan tingkah lucu mereka."
"Oh iya ma aku mau tanya."
"Tanya apa?"
"Itu ma, aku dengar dari adik-adik di panti katanya mereka punya seorang kakak yang seumuran aku? Benarkah itu ma?"
"Oh itu, iya ada. Itu anaknya pak James, dia merupakan salah satu penyumbang terbesar di panti itu. Papa sama mama sudah sering ketemu sama pak James, dia juga rekan bisnis papa. Tapi kalau anaknya kami belum pernah ketemu. Anaknya memang sering ke tempat itu."
__ADS_1
"Aku kira dia anak panti juga yang mungkin di angkat jadi anaknya pak James."
"Kalau yang seperti itu mama kurang tahu. Tapi kenapa kamu tanya?"
"Aku penasaran saja sih ma,"
Kami berdua mama melanjutkan bercerita dengan topik yang berbeda sampai tiba di rumah. Aku masuk ke dalam kamar ku setelah pamit pada mama.
Kira-kira apa yang akan aku lakukan sambil menunggu tiga hari lagi ya.
Aku tiba-tiba saja teringat pada Leo. Apa aku coba chat Leo saja? Sudah seminggu lebih aku mendiami Leo. Tapi nggak ada chatan dari nya juga. Mungkin dia marah sama aku. Karena aku mendiami nya seperti itu.
Aku mengambil handphone ku yang ada dalam tas.
Aku: Hai Leo apa kabar?
........
Nggak dilihat nya. Dia sama sekali tidak membaca pesan dari ku. Apa dia masih marah ya sama aku. Mungkin dia sakit hati karena aku menolaknya. Biarkan saja deh mungkin dia lagi membutuhkan waktu sendiri.
Aku tunggu saja dia balas pesan ku. Tapi kalau di sekolah dia marah dan nggak mau menegurku ya biarkan saja. Aku juga nggak peduli. Aku juga nggak bakalan menegurnya.
__ADS_1