
Setelah mendengar suara Leo di luar suster Magdalena datang menghampiri Leo. "Sayang, kenapa berdiri di situ, mari masuk." Teriak suster Magdalena dari ambang pintu. Leo berjalan mendekat lalu memeluk suster Magdalena. Ia mengganggap suster Magdalena seperti ibu kandung nya sendiri. Ia merasakan kenyamanan bila bersama dengan suster Magdalena seakan-akan beban yang selama ini di pikulnya akhirnya menghilang. Suster Magdalena memandang wajah Leo yang sedikit lebam dan kepalanya yang di perban. "Ada apa sayang? Kenapa lagi dengan wajah dan kepalamu." Kata suster Magdalena dengan suara yang sedikit sendu. "Apa ini ulah ayahmu lagi?" Leo hanya terdiam dan itu menjawab semua pertanyaan dari suster Magdalena. "Seandainya bu Gita masih hidup, suster yakin dia tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi sama kamu."
"Tetapi mama Gita meninggal karena aku bu. Seandainya aku yang..."
"Sudah cukup sayang. Itu bukan salah mu. bu Gita meninggal itu sudah kehendak maha Kuasa. Dan berhenti menyalahkan dirimu."
Suster Magdalena memeluk Leo sekali lagi, berusaha menguatkan dirinya.
"Apa kamu sudah makan?" Leo menggelengkan kepala mengatakan kalau ia belum makan sama sekali. "Ya sudah, sekarang ibu buatkan kamu makanan." Suster Magdalena berjalan menuju dapur untuk membuatkan leo makanan.
Anak-anak kembali mendekati Leo.
"Kak Leo.. " Semuanya berlari mmengerumuni Leo. Mereka memeluk kakak mereka itu. Leo mencium kening adiknya satu persatu karena itu sudah menjadi kebiasaan nya menyapa adik-adiknya. Leo memangku kiara si bontot di panti asuhan tersebut.
"Kakak tadi kami bermain dengan seorang kakak cewek."
"Iya kak usianya seperti kakak juga."
"Oh jadi kalian mau pamer punya kakak baru. Ya sudah kakak nggak akan main sama kalian lagi biar kalian memanggil kakak baru kalian itu." Kata Leo bermaksud mengoda adik-adiknya dengan berpura-pura ngambek. "Yaaaaaaaa." Mereka tidak menerima pernyataan Leo tersebut.
"Bukan begitu maksud kami kakak Leo. Kakak tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Kami sangat menyayangi kakak Leo." Leo tersenyum melihat wajah anak-anak yang sedikit cemberut serta usaha mereka membujuk Leo.
__ADS_1
"Iya, iya kakak cuma bercanda." Kata Leo sambil tertawa. Anak-anak memasang wajah kesal mereka. Sekarang gantian mereka yang ngambek tetapi benar-benar ngambek.
"Kakak minta maaf ya," kata Leo dengan tulus.
Anak-anak memang tidak bisa marah dengan Leo karena Leo adalah seorang kakak yang amat mereka sayang.
"Ada yang mau main sama kakak?" Anak-anak berlomba-lomba mengangkat tangan dengan tinggi agar bisa bermain dengan Leo.
"Oke kalau gitu kita semua bermain bola bersama-sama. Kakak juga ingin mendengar cerita kalian tentang kakak baru itu."
"Oh iya kak Leo, kakak itu cantik sekali. Dia juga baik sama kami. Tadi kami main bersamanya."
"Kami lupa menanyakan namanya kak. Kami hanya memanggilnya kakak."
"Kalian ini, masa nggak menanyakan siapa namanya."
"Pasti kakaknya kecewa sama kalian dan dia nggak bakal ke sini lagi."
Anak-anak memasang wajah cemberut lagi.
"Itu kak, kalau nggak salah tadi aku dengar mamanya manggil dinda."
__ADS_1
Dinda, nama yang mirip dengan orang yang ia sukai. Semenjak ayahnya menghancurkan HP miliknya, Leo tidak bisa lagi menghubungi Dinda. Dan kartu miliknya kemungkinan juga rusak karena sang ayah menginjak-injak kartu tersebut di depan matanya. Padahal ia berencana ingin meminta maaf pada Dinda. Ia tidak mungkin ke rumah Dinda dengan kondisinya yang lebam seperti itu. Ia tidak ingin Dinda khawatir melihat dirinya. Mungkin jalan satu-satunya adalah menunggu hari libur ini berakhir. Ia akan langsung meminta maaf pada Dinda dan menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.
Leo sebenarnya sudah memiliki perasaan pada Dinda sewaktu mereka masih kecil. Pertemuan pertama Leo dan Dinda pertama kali adalah di sebuah taman. Saat itu ibunya Leo, bu Gita meninggal dan sang ayah mengusirnya dan tidak mengizinkannya untuk mengikuti kremasi bu Gita.
Leo yang begitu takut dengan kemarahan pak James berlari ke taman di saat hujan lebat terjadi. Umur Leo kisaran 7 tahunan. Ia menangis sejadi-jadinya karena mengingat penolakan pak James yang terang-terangan di depan tamu yang datang. Ia bisa melihat bagaimana ekpresi dan cara pandang mereka terhadap dirinya. Untuk anak usia seperti itu tentu saja akan merasakan ketakutan dan kengerian. Bahkan itu telah menjadi salah satu hal terburuk bagi hidupnya.
Di taman, Leo duduk sambil menangis dengan kedua tangan merangkul kakinya untuk menyembunyikan wajah di dalam rangkulan tersebut.
"Huuuu... " Isakan Leo tidak terlalu keras karena ia berusaha menahannya.
"Kakak cenapa?" Seorang gadis kecil yang usianya mungkin sekitar 4 atau 5 tahun berjalan mendekati Leo kecil.
"kaka cenapa angis. Kaka kan lebih besal dali Dinda." Kata Dinda kecil sambil mengelus kepala Leo. Berusaha menghentikan tangisannya layaknya orang dewasa yang tahu cara menghibur seseorang.
Leo mengangkat wajahnya, memperhatikan wajah imut Dinda yang tersenyum padanya.
"Kamu siapa? Di mana orang tuamu?" Tanya Leo menghentikan tangisannya dan megusap sisa air mata bening yang tertinggal di pipinya.
"Olangtua Dinda agi di dalam. Ental lagi kelual."
Dinda kecil lalu mengambil Posisi duduk tepat di samping Leo kecil.
__ADS_1