Mengubah Cinta Masa Lalu

Mengubah Cinta Masa Lalu
28


__ADS_3

Hari ini aku dan Leo piket kelas, sebenarnya bersama Tami. Hanya saja dia sakit jadi tinggal kami berdua. Anak-anak sudah membagi piket kelas tiga minggu sebelumnya dan itu pun dengan undian. Aku sempat meminta Loly dan Sita menungguku tetapi mereka tidak bisa karena ada urusan.


"Ya sudah lah, apa yang mesti aku takutkan coba."


Aku mengambil sapu dan membersihkan ruangan itu dari setiap sudut. Leo tadi keluar sebentar ingin mengambil alat pel di ruangan perlengkapan.


"Leo lama sekali, sudah lewat lima belas menit aku menunggu nya. Ruangan itu kan nggak terlalu jauh. Apa aku susul saja dia? Siapa tau dia mengulur-ulur waktu karena ingin bermalas-malasan dan membiarkan aku mengerjakan ini semua sendirian." Aku segera pergi ke ruangan tersebut yang hanya melewati tiga kelas saja.


"Ada kah orang di luar?"


Itu suara Leo, sebentar apa yang terjadi padanya?


"Leo...."


"Oh syukurlah kamu datang, Dinda tolong bukakan pintu. Aku terkunci. Dari tadi aku berusaha membukanya tetapi tidak bisa."


"Bagaimana kamu bisa terkunci?"


"Aku juga nggak tahu."


Aku segera mengayun-ayunkan gagang pintu dengan sekuat tenaga tetapi tetap saja tidak terbuka.


"Sepertinya pintu ini rusak. Tunggu di sini aku akan mencari bantuan."


"Jangan lama-lama."


Aku melihat ke setiap lorong berharap ada siswa atau guru yang belum pulang.


"Kayaknya memang sudah tidak ada orang. Apa aku coba cari kuncinya di ruangan guru ya? Tapi kelamaan sih kalau aku cari satu persatu. Gimana ya cara membuka pintu nya."


"Kenapa kamu belum pulang?" Suara seseorang dari belakang ku sungguh membuat aku kaget.


"Pak Hendra," Pak Hendra sendiri adalah Hansip sekolah, ia akan mengunci pagar sekolah saat semua siswa sudah pulang.


"Itu pak saya memerlukan bantuan bapak."

__ADS_1


"Bantuan apa?"


"Teman saya terkunci di ruangan perlengkapan pembersihan."


"Benarkah? Mari kita periksa."


Pak Hendra dan aku berjalan menuju tempat Leo terkunci.


"Bagaimana bisa?" Pak Hendra membuka pintu tersebut dengan kunci cadangan.


"Saya juga nggak tau pak." Jawab Leo setelah ia berhasil keluar.


"Apa yang kalian berdua lakukan di sekolah. Ini sudah waktunya pulang. Jangan berbuat yang macam-macam nanti saya laporkan ke kepala sekolah."


"Jangan salah paham pak, kita ada tugas piket jadi belum pulang." Kenapa hari ini orang-orang pada mikir yang aneh-aneh sih.


"Oh begitu, saya kira kalian pacaran di sekolah."


"Nggak pak," aku menentang keras perkataan pak Hendra.


"Makasih pak sebelumya."


"Iya, pintu ini memang rusak jadi sebelum mau mengambil sesuatu di dalam kamu harus menahannya pintunya terlebih dahulu." Jelas pak Hendra.


"Sepertinya saya harus menulis peringatan dan menempelkan nya di depan pintu, takutnya nanti anak-anak lain yang nggak tahu mendapat masalah juga seperti kamu." Tambah pak Hendra.


Pak Hendra meninggalkan kami berdua karena ia masih harus memeriksa kelas lain.


Aku dan Leo berjalan bersama ke kelas dengan Leo yang memegang tongkat pel di tangannya. Kami dengan cepatnya melakukan tugas masing-masing. Setelah selesai kami pulang bersama-sama.


"Kamu di jemput nggak?"


"Nggak tahu juga, tapi pasti di jemput."


"Ummm.... Bagaimana kalau aku anterin kamu." Aku berpikir sejenak. Apa aku terima saja ajakan Leo. Kalau Leo pergi lebih dulu mungkin aku akan menunggu sendirian di sini. Kasihan juga pak Jodi harus bolak-balik jemput aku lalu papa.

__ADS_1


"Baiklah, tapi aku menelpon supir ku dulu, takutnya kalau aku pergi dia malah ke sini dan mencariku."


Leo mengangguk setuju.


"Halo pak," Kataku saat suara pak Jodi mulai terdengar.


"Iya nona ada apa?"


"Pak Jodi di mana sekarang?"


"Pak Jodi lagi di kantor nona, mau OTW ke situ."


"Nggak usah pak, saya sudah dalam perjalanan pulang."


"Baiklah nona, nanti saya bilang sama tuan."


Aku segera mematikan panggilan tersebut.


"Ayo berangkat," aku segera naik ke atas motor gede merah milik Leo.


"Pegangan ya," kata Leo.


"Aku sudah pegangan kok." Jawab ku sambil meremas kuat punggung jaket Leo.


"Kamu yakin pegang di situ bakal aman?"


"Aman kok." Leo menarik kedua tanganku dan mengatur melingkari pinggangnya. Aku sedikit terkejut dengan tindakan Leo.


Aku rasa saat ini entah kenapa jantungku tiba-tiba saja berdebar. Mungkin karena aku takut Leo membawa motornya dengan kencang. Tetapi aku berharap Leo tidak mendengarnya.


Benar saja, Leo membawa motornya dengan sangat laju melebihi saat aku dibonceng Loly.


"Pelan- pelan." Aku memintanya berulang kali tetapi tidak di dengar. Apa mungkin karena dia bawanya terlalu cepat jadi suara ku jadi nggak terdengar jelas di telinganya.


Ah ya sudah aku pasrah saja, lebih baik aku menutup kedua mataku menunggu nya membangunkan aku.

__ADS_1


__ADS_2