
Aku melihat kostum yang ada di depanku dengan seksama.
"Lalu kamu?"
"Pakai saja, aku lagi nggak pengen olahraga."
"Nanti pak Erik menghukummu gimana?"
"Nggak usah pedulikan aku, aku kan nggak takut sama siapapun."
"Ya sudah, terima kasih." Aku mengambil pakaian Leo dan beranjak dari tempat dudukku. Saat aku akan berjalan mengarah ke pintu, Leo menghentikan aku.
"Mau kemana?"
"Aku mau ke toilet, ganti pakaian ini." Sambil menunjukkan pakaian yang kupegang.
"Ganti di sini saja!"
"Apa, kamu mau ngintip ya?" aku meninggikan suaraku karena tidak terima akan perkataan Leo barusan.
Leo segera mendekati ku, menutup mulutku takut aku berteriak lagi. Leo bebisik di tepi telinga ku.
"Kamu ganti di sini saja, aku akan jaga di luar."
"wauwah bebabhin bhuwutku." Leo tidak mengerti maksud ku apa. Ia menatapku bingung. Aku menarik tangannya yang membekap mulutku dengan sekuat tenaga. Leo yang menyadari nya, akhirnya segera melepaskan tangannya dengan cepat.
"Kamu bermaksud membunuh ku ya?"
"Maaf, maaf aku nggak sengaja." Leo melihat kondisiku berharap aku baik-baik saja.
"Kamu nggak kenapa-kenapa kan. Sekali lagi maafkan aku."
__ADS_1
"Iya, sudah nggak apa-apa. Tadi kalau terjadi sesuatu sama aku, kamu harus bertanggung jawab."
Aku melihat wajah bodoh Leo yang terlihat sedikit menyesal.
"Ngapain masih berdiri di sini, sana keluar! Aku mau ganti dulu. Atau kamu mau ngintip ya, " aku sedikit menggoda Leo. Leo yang mendengar perkataan ku segera keluar dan menutup pintunya dengan wajah yang memerah karena malu. Huh, aku kok dilawan. Malu kan dia.
Aku membuka bajuku dan memakai baju Leo meskipun dari yang kulihat baju itu lebih besar dari tubuhku. Kaca jendela kami meskipun sangat besar tetapi anak-anak dari luar tidak akan bisa melihat apapun ke dalam kelas. Kecuali dari dalam kelas baru bisa lihat ke luar.
"Leooooo" Leo yang terkejut mendengar suara teriakan ku, segera masuk ke dalam.
"Ada apa?" Leo yang awalnya khawatir padaku kini menertawakan diri ku saat dia melihat tubuhku yang tenggelam di dalam pakaian itu.
"Hahahah...."
"Ini pakaian manusia apa pakaian raksasa sih?" Aku begitu kesal sampai-sampai ingin merobek kostum yang saat ini menutup tubuhku.
"Kamunya saja yang kekecilan." Ternyata masih ada orang yang ngeselin selain kak Dino.
"Aku cuma berniat membantu kok, nggak punya maksud lain." Kata Leo yang menatap ku sambil tersenyum. Aku mengangkat baju itu ke atas berusaha membukanya. Leo yang terkejut dengan tindakan ku segera memalingkan mukanya membelakangi ku.
"Apa yang kamu lakukan?" Aku yang baru menyadari kalau Leo masih berada di situ segera menarik turun kembali baju kostum yang ku pakai. Aku mendorong kuat tubuh Leo agar keluar dari dalam kelas. Dan dengan cepat menutup pintunya kembali.
"Dasar tukang intip."
"Kamu juga mau buka nggak bilang-bilang. Aku kan nggak tahu."
Wajahku kini memerah padam, jantung ku juga bedetak dengan cepatnya. Mungkin merasa malu karena Leo sempat melihat tubuhku.
"Nanti aku laporan kamu ke pak guru."
"Kok jadi aku yang salah. Kan kamu yang membukanya tanpa bilang-bilang. Mataku kan jadi berdosa."
__ADS_1
Heh, dasar manusia sudah mendapat tontonan gratis malah bilang aku yang menodai matanya.
Aku secepat kilat mengganti pakaian ku, dan kembali membuka pintu. Leo ternyata masih menunggu di depan pintu. Tapi ia berusaha mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Nih, pakaian mu." Aku menyerahkan kostumnya setelah itu berjalan kembali ke kursiku dan duduk dengan tenang. Leo juga kembali ke kursinya, memasukkan bajunya ke dalam laci lalu mengambil posisi tidur.
"Kamu nggak olahraga?"
"Aku kan sudah bilang kalau aku malas." Jawab Leo sambil menatap wajahku. Saat mata kami berdua bertemu, wajah kami masing-masing mulai memerah mengingat kejadian barusan. Aku segera memalingkan pandanganku begitu pun dengan nya.
Loly muncul dari luar kelas dengan napas yang terengah-engah. Sepertinya dia berlari dari lapangan menuju kelas.
"Maaf Dinda, kami sudah menanyakan pada anak-anak tetapi mereka nggak punya kostum lebih." Kata Loly sambil mengatur napasnya.
"Nggak apa-apa kok, makasih ya. Maaf juga karena merepotkan kalian berdua."
"Nggak ngerepotin kok. Itu, aku ke sini karena di suruh pak Erik manggil kalian buat ke lapangan."
Aduh mampus lah sudah, tanda-tanda akan mendapatkan hukuman nih.
Saat di lapangan aku dan Leo berbaris sejajar menghadap pak Erik.
"Apa alasan kalian tidak keluar dari kelas saat jam pelajaran saya? Dan dimana baju kostum kalian? Kenapa belum ganti?"
"Itu pak saya lupa membawa baju kostum saya." Aku memberanikan diri menjawab dengan jujur.
"Kenapa bisa lupa? Kamu tahu nggak ini jam pelajaran saya?" Aku menjawab pertanyaan pak Erik dengan sebuah anggukan karena saat ini aku nggak berani mengeluarkan kata-kata karena wajah pak Erik keliatan kesal.
"Kamu Leo?" Leo hanya berdiam mematung tanpa mempedulikan pertanyaan pak Erik.
"Saya pusing menghadapi kalian. Kalian tidak akan mendapatkan nilai dari saya untuk hari ini. Dan saya juga akan memberikan kalian berdua hukuman."
__ADS_1