
Kami berempat kembali ke kelas bersama-sama.
"Tumben Leo kamu mau ke kantin?" Sasa penasaran. Ia ingin menanyakan di kantin tapi semua anak memperhatikan kami. Jadinya malah makan nggak nyaman bicara pun juga sama.
"Kan yang ngajakin aku kalian."
"Bukan kita yang mau, tapi Dinda yang nggak tegaan." Kata Loly dengan nada jengkel.
"Tapi anak-anak itu pada kenapa sih, kerjaan mereka cuma liatin meja kita terus. Hilang deh nafsu makanku. Mereka tahu nggak sih kalau kita risih di lihatin begitu."
"Lebih tepatnya Leo." Loly menekan kata-katanya itu. Aku melihat Leo yang hanya diam. Segitu tidak sukanya mereka sama Leo.
Selang beberapa menit kami tiba di kelas, dan sungguh sangat pas karena lonceng berakhirnya istirahat berbunyi.
Bu guru masuk ke kelas, kami mengumpulkan tugas bahasa Inggris. Dan siswa yang tidak mengerjakan nya mendapatkan hukuman berdiri di depan kelas dengan satu kaki selama jam pelajaran. Leo juga berdiri di depan kelas dengan satu kaki. Baru kali ini Leo mengikuti perkataan ibu guru, biasanya dia akan selalu membantah mereka. Namun di saat bu guru menjelaskan materi di depan aku merasa seperti sedang diperhatikan Leo. Matanya berkaca-kaca seakan-akan ingin menangis. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa hari ini dia bertingkah aneh.
Saat istirahat ketiga, aku mengikuti Leo yang berjalan ke taman belakang yang jarang sekali di datangi anak-anak. Namun saat tiba di taman aku tidak dapat menemukan Leo. Aku mencarinya di sekitar berharap menemukan jejaknya. Aku terkejut saat seseorang menarik tubuhku ke samping dan memelukku dengan erat. Aku berusaha melepaskan pelukan itu, namun tenaganya lebih besar dari ku.
"Maaf... maaf... Aku minta maaf." Suara Leo bergetar. Aku dapat merasakan air matanya yang membasahi pundakku. Aku nggak mengerti sebenarnya apa yang terjadi padanya. Apa yang membuatnya begitu sedih. Aku merasa bertanggung jawab akan hal itu. Aku mengelus punggungnya memberikan hiburan serta menenangkan diri nya.
"Kamu kenapa?" Tanyaku dengan hati-hati.
Leo seolah-olah terkejut dan segera melepaskan pelukkannya.
"Aku nggak sengaja, maaf."
"Oh nggak apa-apa kok. Jika kamu ada masalah kamu boleh cerita."
"Bukan apa-apa, aku hanya merindukan seseorang. Aku minta maaf karena membuatmu nggak nyaman." Leo menyeka air mata di pipinya. Ia mengatur napasnya agar kembali normal.
__ADS_1
"Aku yakin kamu pasti punya masalah. Hanya saja kamu nggak mau cerita kan."
"Beneran, aku nggak bohong kok. Ini karena aku merindukan seseorang dan tanpa sengaja aku melampiaskan nya ke kamu."
"Kamu nggak perlu sungkan sama aku. Kita kan teman."
"Memangnya kamu mau berteman dengan orang seperti ku?"
"Apa masalahnya? Jangan pernah meremehkan dirimu, oke. Kamu juga berhak untuk berteman dengan semua orang. Buat orang-orang yang selalu menghina mu, mereka itu hanyalah sampah yang nggak selevel sama kamu."
Leo tertawa mendengar perkataanku.
"Nggak ada yang lucu dengan perkataan ku ya." Aku sedikit kesal.
"Maaf... maaf. Ini spontan saja. Aku nggak bermaksud kok. Tapi terima kasih untuk kata-kata penghiburnya."
"Iya... "
"Kalau aku butuh bantuan mu."
"Apapun itu akan ku bantu. Asal jangan yang aneh-aneh."
"Baiklah. Ngomong-ngomong kamu ada perlu apa sama aku?"
"Nggak ada, aku tadi hanya ikutin kamu doang, tapi nggak tahu juga sih tujuanku apa."
"Makasih ya karena sudah peduli sama aku."
Aku membalas perkataan nya dengan sebuah senyuman.
__ADS_1
"Eh kalau gitu aku balik duluan ya, nanti dicariin sama Loly dan Sita."
Aku menemui Sita dan Loly yang sedang asik rumpi dengan anak-anak cewek.
"Kamu dari mana?" Tanya Sita
"Aku ada urusan sebentar di luar."
"Pasti ketemuan sama cowok." Semua anak cewek yang mendengar perkataan Loly bersorak padaku dengan serentak.
"Ciecieeeeee"
"Nggak kalian salah paham. Aku hanya ada urusan di luar nggak ketemu sama siapa-siapa."
"Eh Dinda, kamu sedang apa sama Leo di taman belakang?" Tanya Damar yang baru saja masuk ke kelas.
"Leo?"
"Jangan-jangan kamu sama Leo..." Loly menatapku dengan wajah yang menyimpan segudang pertanyaan.
"Jangan mikir yang aneh-aneh." Aku mematikan api semangatnya itu.
"Tadi aku ada urusan sedikit sama dia."
"Kami nggak percaya."
"Terserah kalian mau percaya apa nggak."
"Benar kata Dinda, kami nggak ada hubungan apa-apa, jadi kalian jangan berasumsi yang tidak-tidak." Kata Leo yang mungkin mendengar pembicaraan kami. Leo berjalan ke mejanya dengan wajah merenggut. Seperti biasa, mengambil posisi tidur. Berkat kedatangan Leo anak-anak jadi berhenti membicarakan hal tadi. Tapi saat Leo bilang kami nggak punya hubungan apa-apa entah kenapa aku merasa sakit ya? Padahal kami kan sudah berteman. Kan dia tinggal mengatakan hal itu.
__ADS_1