Menikah Demi Balas Dendam

Menikah Demi Balas Dendam
Bab 10 Siasat kedua Arga


__ADS_3

Siang hari, Pangeran Aslan berjalan-jalan di taman dengan ibunya. Ada Benazir juga di belakang mereka mengikuti kemanapun Pangeran berjalan.


Tiba-tiba, Ratu Safiya melihat Benazir tidak ada di belakang mereka. Rupanya tadi Benazir melihat Arga masuk ke dalam tembok yang bisa digeser didekat taman diantara pohon besar.


"Tembok ini bergerak? Aku melihat Arga menghilang disini...." Benazir lama terpaku ditembok dimana Arga menghilang baru saja.


tok tok tok!


Benazir memukul tembok itu perlahan. Dan tiba-tiba ada gerakan. Tembok itu benar-benar bisa digeser. Benazir segera menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu menyelinap masuk ketika tembok itu terbuka.


Tangga.


Begitu masuk ada tangga ke ruang bawah tanah yang lebih dalam.


Suara....ada suara disana. Aku harus segera kesana. Aku ingin melihatnya.


Arga sedang bersama dua orang pria dan wanita nampak berbicara juga tertawa.


"Jadi kau berbohong pada gadis itu jika orang tuanya masih hidup?" kata seorang pria.


"Ya. Aku berbohong padanya. Sebenarnya orang tuanya sudah meninggal di tangan sang Ratu Safiya," kata Arga.


Benazir kaget dan gemetar ketika mendengar jika orang tuanya ternyata telah tiada. Dan yang membunuh adalah Ratu Safiya.


Tidak! Aku tidak percaya! Ini pasti tidak benar!


Ratu yang sudah menghabisi kedua orang tuaku? Jadi mereka memang sudah tidak ada?


Tiba-tiba, Arga mendengar suara Isak tangis. Arga segera menoleh dan tersenyum.


Sudah ku duga kau akan mengikutiku, batin Arga.


Benazir lalu keluar dari tempat itu dan kembali ke kamarnya. Didalam kamar, Benazir menangis dan tidak keluar untuk makan ataupun menemui pangeran Aslan.


Dia benar-benar bingung dengan keadaan ini. Apalagi setelah tahu jika orang yang telah menghabisi kedua orang tuanya adalah Ratu Safiya. Ratu yang dia anggap telah memberinya kehidupan kedua.

__ADS_1


Tiba-tiba...ada ular dari jendela yang masuk dan mendekati Benazir. Namun, Benazir tidak melihatnya karena dia terus saja menangis dan menutup mukanya dengan bantal.


Ular itu melingkar dikakinya dan menggigitnya.


"Aaaaaaa Ulaaaarrrr!" Teriakan Benazir membuat Pangeran Aslan yang baru akan masuk kedalam kamarnya urung. Sang pangeran lalu masuk ke kamar benazir.


Dia melihat ular itu baru saja menggigit kaki Benazir dan sekarang akan pergi ke jendela lagi.


Pangeran segera mengambil pedang dan membunuh ular itu. Benazir menahan sakit di kakinya akibat gigitan ular.


Dadanya kembali bergetar melihat ketampanan Pangeran Aslan. Sang Pangeran juga merasakan hal yang sama.


Pangeran Aslan lalu mendekati Benazir dan menyedot racun itu untuk mengeluarkan bisanya.


"Aaaooooo"


Benazir meringis ketika melihat Sang Pangeran melakukan hal itu untuk menyelamatkan hidupnya.


Pangeran mendongak dan saling beradu pandang dengan Benazir. Matanya yang indah, wajahnya yang seperti rembulan, untuk sesaat menghipnotis Pangeran Aslan.


"Lain kali, tutup jendelanya. Banyak ular dari hutan yang berkeliaran. Mereka bisa datang lagi," Pangeran Aslan lalu berjalan ke jendela dan menutup jendela di kamar Benazir.


Sebuah foto tanpa sengaja terlihat oleh Pangeran Aslan. Pangeran lalu mengambil foto yang jatuh ke lantai itu.


"Ini...darimana kau mendapatkan foto ini?"


"Itu....itu dari laci. Ya...dari sana," kata Benazir menunjuk laci yang bekas di pakai oleh Almira.


"Aku harus menyimpan foto ini kembali. Ini tidak boleh dilihat oleh ibu. Untung saja aku melihatnya..." Pangeran Aslan segera mengambil foto itu dari kamar Benazir. Dia akan mengembalikan ke perpustakaan dimana foto itu berada.


Apakah Pangeran juga tahu hubungan foto itu dengan masa lalu Ratu Safiya? Jika tidak, kenapa dia mengatakan jika Ratu tidak boleh melihat foto ini?


Pasti Pangeran juga tahu hal itu. Tapi, jika benar Ratu Safiya yang telah membunuh kedua orang tuaku. Maka, aku akan menuntut balas. Aku adalah putri Benazir. Aku datang untuk membalas kematian ayah dan ibuku.


Sang Ratu sedang memikirkan suatu hal yang beberapa hari ini mengusik dirinya. Pangeran Aslan sudah dewasa, sudah seharusnya dia menikah dan memberinya keturunan.

__ADS_1


Siapa gadis yang layak untuk menjadi istrinya?


Sang Ratu mengingat satu persatu pelayan yang ada di istana itu. Dan meruncing pada satu nama. Benazir.


Dia adalah gadis yang cantik dan pemberani. Aku akan membuat menikahkan mereka. Dia yang paling memenuhi syarat diantara yang lainnya.


Ratu Safiya memanggil Pangeran Aslan ke kamarnya. Tidak lama kemudian Pangeran Aslan datang dan menemui ibunya.


"Tidak! Aku tidak mau menikah," nampak pangeran Aslan belum mau melepas masa lajangnya.


"Ini perintah dari Ratu dikerajaan ini. Kau tidak bisa menolaknya,"


"Tapi ibu...."


"Dengar Pangeran...kau harus punya keturunan. Kau harus menikah dan punya anak. Saat kau menjadi raja nanti, kau akan lebih kuat jika mempunyai pendamping hidup,"


Pangeran Aslan tidak bisa menolak keinginan ibunya.


"Baiklah....jika itu yang ibu inginkan...."


Sima yang mendengar hal itu segera ke kamar benazir dan mengabarkan jika dia akan menjadi menantu Ratu Safiya.


"Apa!?" Benazir nampak terkejut.


Tidak. Aku tidak mau menjadi menantu Ratu yang sudah menghabisi kedua orang tuaku. Aku tidak mau, batin Benazir.


"Bagaimana jika aku tidak setuju?"


"Putri, setelah kau tinggal di istana ini, pendapatmu tidaklah begitu penting. Kau setuju atau tidak. Kau tetap harus patuh pada perintah dari Ratu Safiya," kata Sima menasehati.


"Sima...apakah kau tahu bagaimana caranya keluar dari istana ini?"


"Apa!? Apakah putri berniat melarikan diri?" Sima sangat terkejut.


Orang tuaku tidak ada di istana ini. Mereka sudah tiada. Untuk apa aku ada disini? Dan menjadi menantu pembunuh kedua orang tuaku?

__ADS_1


__ADS_2